Pengantar

Para Blogger tercinta,…

Bertemu di dunia maya sebagaimana jiwa yang maya tetapi ada. Jadi, dunia maya mengandung hikmah, yaitu bukanlah siapa yang bicara tetapi yang penting “dia” atau “DIA” itu ada!. Biarlah siapa pun berbicara dan mendengarkan – menulis dan membaca – di antara jiwa yang melalang buana di semesta raya mencari hakikat “diri”, “siapa atau apa” dia sebenarnya. Perlu perjalanan untuk itu – walaupun sepanjang apa pun itu bersifat relatif – untuk menghayati dan menemukannya, serta merta pada akhirnya harus dicita-citakan agar bersemayam pada nafsul muthma’inah (jiwa yang tenang)

Segala macam kemampuan dan profesi kita, pengalaman lahir dan batin, perasaan suka maupun duka, reward and punishment, dosa dan pahala… semuanya telah kita lalui berkenaan dengan pribadi kita masing-masing. Berbagai macam dan model yang tidak terhitung jumlahnya dari tipe pribadi dan profesi kita, yang terbungkus jasad dan status sosial. Tetapi jika kita bercengkerama di antara kita sebagai jiwa – yang maya tadi – maka ternyata hanya ada tiga macam jiwa kita yang selalu berproses, yaitu:

1 Nafsul Amarrah (tak tenang, stress, temperamental, pemarah…);

2 Nafsul Lawwamah (pemurung, tidak berpendirian, bingung,…);

3 Nafsul Muthma’inah (selalu tenang, gembira dan bahagia…)

Terlalu buanyak jika mengulas masing-masing jiwa tersebut. Semuanya telah diupayakan diperjelas – menurut batas pengetahuan dan pengalaman saya – melalui blog ini. Pada satu bahasan, Anda akan menemukan “sesuatu” yang memang tidak bisa dijelaskan lagi tetapi hanya bisa dirasakan – misalnya pada Kajian Bacalah 07. Merasakan Zikirullah. Untuk itulah membutuhkan wadah ajang diskusi bahkan “latihan batin” di dalam dunia maya yang ternyata ada!

Blog ini saya namakan “Bacalah…” mengacu Firman Tuhan pada Nabi terakhir pada wahyu pertama. Jadi, tahapan awal proses belajar setelah nalar dan logika bekerja adalah “Bacalah…” untuk menyerap (absorbsi) segala ilmu sebanyak-banyaknya. Setelah jiwa berproses dan telah bersemayam pada tatanan nafsul muthma’inah, maka tugasnya adalah menyampaikannya tetapi “tidak dengan harga murah”, maka tahap selanjutnya “Tulislah…” untuk memancarkan (iluminasi) cahaya kebenaran, ketenangan, kebahagiaan… Hidupnya pun telah “selesai”…

Maka, agama apapun yang Anda yakini saat ini, siapapun status sosial dan intelektual Anda, maka kita sebenarnya adalah “apa” di dunia ini? Hanya tulang-belulang yang kelak pasti rapuh dan terbungkus daging yang nantinya pasti membusuk, rebah kaku terbujur menjadi mangsa binatang tanah, dan pada akhirnya menyatu kembali dengan bumi. Sedangkan “siapa” sebenarnya kita adalah “jiwa” yang satu, yang senantiasa mendambakan ketenangan dan kebahagiaan untuk bisa bercengkarama kembali dengan-NYA, “menyatu” dengan-NYA. Kebenaran Tuhan tetap tunggal dan hakiki.

Selamat membaca, menikmati dan berdiskusi…

================================================è

 

 

 

 


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: