Dua Sisi Wajah 20 – Habis

HARI Minggu yang ditunggu-tunggu Arti telah tiba. Begitu sholat subuh, Arti minta segera dijemput Lutfi. Ia pamit kepada orang rumah mau ke Senayan untuk olah raga dan orang rumah pun tidak curiga.

Sepeda motor butut Lutfi meraung-raung memecahkan suasana di kampung, pada pagi hari yang masih gelap dan senyap itu. Setengah jam kemudian mereka telah memasuki Kawasan Pondok Indah.

“Mana rumahnya, Bang?”

“Tuh, yang berwarna hijau,” kata Lutfi sambil menunjuk dan menghentikan sepeda motornya beberapa puluh meter dari rumah tersebut. “Dah, kita tunggu di sini. Tunggu sampai dia keluar.”

“Semoga dia keluar…”

Menit demi menit berlalu… Jam demi jam berlalu. Mata Suparti tidak mau lepas dari pintu gerbang dari rumah yang ditunjuk Lutfi. Sedangkan Lutfi sendiri seringkali jongkok di balik sepeda motornya.

Setelah beberapa jam kemudian, tiba-tiba pintu gerbang rumah yang berwarna hijau itu terbuka. Bi Imah mendorong ke samping hingga pintu terbuka semuanya. Tidak lama setelah itu, sebuah mobil BMW keluar dari pintu gerbang itu.

“Sstt… Bang, ada yang keluar…” bisik Suparti menarik-narik baju Lutfi. Mata Suparti berusaha melihat ke dalam kaca ray-ban mobil. Samar-samar hanya terlihat dua orang yang duduk di jok depan.

Mobil BMW hendak meninggalkan rumah ke arah yang menjauhi di mana Lutfi dan Suparti menunggu.

“Bang, mereka akan pergi ke sana… Gimana ini??” tanya Suparti gugup.

“Ayo, cepat naik!!”

Lutfi sudah berada di atas jok sepeda motornya, lalu Suparti segera duduk membonceng. Lutfi mulai berusaha menstarter sepeda motornya. Tapi karena umur sepeda motornya sudah butut, berkali-kali dipaksa distrater justru semakin ngadat.

“Ah, tidak bisa distarter…!” keluh Lutfi. Tetapi ia langsung beralih ke plan B. “Ayo, cepat, kamu berlari ke ibu itu sebelum dia menutup gerbangnya…”

Tanpa berpikir panjang lagi, Suparti berlari menuju Bi Imah yang hampir menutup rapat pintu gerbang rumah.

“Heh-heh-heh…,” napas Suparti terengah-engah begitu mendekati Bi Imah. “Selamat pagi, Bu…”

Bi Imah mengetahui ada seseorang yang berlari mendekatinya. Wanita tua itu lebih kaget dan bengong ketika melihat siapa yang datang.

“Eh-eh…Non… Non Arni???”

“Ya, Bu, Suparni… Eh, Non Arni ada…?”

“Non… Non Arni,… pakai… jilbab?”

“Eh, saya bukan Non Arni, Bu. Saya saudaranya…”

Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar seseorang berteriak memanggil Bi Imah, suara yang sangat dikenal Suparti. Suara itu…

“Bu Imaah!!” terdengar suara Arni dari dalam ruang tamu. “Ada apa di luar?”

Suparti merasa tegang mendengar suara yang masih sangat dikenalnya itu. Bahkan bulu kuduknya terasa berdiri menunggu apa yang akan terjadi.

Dari balik pintu ruang tamu yang tebal dan terbuat dari kayu jati ukiran Jepara, muncullah seseorang. Suparti semakin tegang melihat gadis yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Demikian pula Bi Imah juga semakin bengong melihatnya.

“Ada apa, Bi?”

Sebelum Bi Imah menjawab pertanyaannya, Arni sudah melihat seseorang yang berdiri di depannya. Seseorang gadis sebaya yang sedang berdiri menatapnya… Seorang gadis yang tampak sederhana dan berjilbab. Mata mereka saling bertatapan…

Mulut Arni menganga lebar sebelum mengeluarkan suaranya…

“Suparti?”

“Suparni?”

“Suparti!?”

“Suparni!?” Suparti tidak tahan lagi dan segera memeluk saudara kembarnya.

“Suparti!” Suparni pun tidak kuasa menahan perasaannya dan memeluk erat, erat sekali, saudara kembarnya yang kini tiba-tiba ada di depannya.

“Yaa Allah,… Allahu Akbar…! Engkau… Engkau pertemukan kami… lagi, Yaa Allah!!!” isak tangis tak tertahankan lagi sehingga ucapan Suparti terpatah-patah.

“Supartiiii…!!” kini Arni melampiaskan tangis rindunya sepuas-puasnya.

Bi Imah yang melihat suasana haru itu menjadi ikut meneteskan air mata. Lutfi yang sudah berada tidak jauh dari peristiwa itu juga tidak kuasa menahan lagi matanya yang sembab, seraya hanya bisa berucap, “Allahu Akbar…!”

Suparti menangis haru… Suparni menangis rindu… Keduanya menangis, berpelukan erat, lalu saling memandang, menangis, berpelukan lagi… dengan erat, erat sekali seakan tak mau dipisahkan lagi.

Sambil masih terisak-isak dan membersihkan wajahnya dari air mata, Suparni merangkul Suparti sambil mengajaknya masuk rumah.

“Ayo… ayo,… masuk…, masuk…,”

Setelah berada di ruang tamu, Suparni dan Suparti duduk di sofa panjang dan Lutfi mengambil tempat di depannya. Kedua kelopak mata Suparni dan Suparti masih terlihat sembab, hidung masih terisak-isak menahan tangis dan rindu.

“Suparti…,” kara Suparni kemudian. “Alhamdulillah,… ternyata kita bisa masih berkumpul. Jadi semuanya ada di Paklik Sugeng…?” Suparni memandang sekujur tubuh Suparti seakan tidak percaya yang di depannya itu saudara kembarnya.

“Ya…, tapi…. Ibu…,” Suparti tidak kuasa lagi menahan kesedihannya untuk menceritakan ibunya. Suparti memeluk erat tubuh Suparni sambil menangis keras.

“Ada apa, Arti…?” Suparni yang sudah berusaha menguasai emosinya itu, kini tak tertahan melihat pertanda yang ditunjukkan oleh Suparti. “Ibu… ibu kita… ibu kenapa, Arti…?”

“Banjir bandang malam itu….!”

“Banjir… ibu… Ooh, tidak!! Ibu!!!!” Suparni pun menangis dengan kerasnya. “Huuu… hhuuuu… huuuuu….”

Entah bagaimana perasaan kedua saudara kembar itu.

“Arti…?” kata Lutfi pelan, berusaha menyadarkan sekaligus menenangkan Arti. Tetapi Arti tidak menjawabnya, hanya tangisnya agak mereda.

“Mengapa takdir begitu kejam…” isak Suparti.

Tiba-tiba Suparti merenggangkan pelukan Suparni. Dipandangnya saudara kembarnya itu yang pipinya masih basah oleh air mata. Dibersihkannya air mata saudara kembarnya itu dengan jari-jemarinya, kemudian ia sendiri menyeka air matanya sendiri dengan punggung tangannya.

Setelah agak bisa menguasai diri, kepala Suparti menggeleng-geleng karena tidak setuju dengan pendapat Suparni.

“Tidak… takdir tidak kejam…,” katanya masih agak terpatah-patah. “Itulah … jalan hidup kita. Betapa pun kita telah dipertemukan kembali. Mari kita bersujud syukur… mana kamarmu, Ni…?”

Suparni mengantar Suparti ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Hanya Suparti yang mengambil air wudhu, karena Suparni belum bisa menguasai emosinya.

Di kamar Suparni, Suparti langsung melakukan sholat sujud syukur dengan memakai baju yang sudah berjilbab itu. Selama Suparti melakukan sholat, Suparni hanya memandanginya dari kursi yang ada di meja rias.

Sementara itu di luar ternyata ada mobil Audi Albert yang baru masuk ke halaman rumah. Albert agak terkejut melihat motor butut yang ada di depan garasi. Dilihatnya Lutfi yang sedang duduk di ruang tamu.

“Mas, tamunya tante… om…?” tanya Albert begitu masuk ruang tamu.

“Saya temannya Arti…?”

“Arti…? Arni di mana?” Albert sudah menunjukkan tanda-tanda kebingungan. Ada nama Arni pacarnya, tetapi ada juga nama Arti… Ada dua orang…

“Ada di kamarnya bersama Arti…”

“Ooohhh…,” kata Albert sambil mendesah panjang. “Kalau begitu saya tunggu di sini…” Albert sepertinya sengaja menunggu kejutan yang akan datang.

Di dalam kamar, Suparti selesai sholat sujud syukur.

“Kamarmu bagus, Ni. Rumahmu mewah….” Suparti mendekati Suparni yang sedang duduk menghadap meja rias yang ada cerminya. Lalu Suparti memandangi wajah saudaranya melalui cermin. “Tetapi, Ni… Jilbabmu mana…?”

Suparni tak bisa menjawabnya, hanya semakin memegang erat tangan Suparti yang memeluknya dari belakang. Melalui cermin mereka saling berpandangan.

“Kamu dulu sering mengingatkanku untuk selalu membetulkan jilbab, Ni,” kata Suparti mengingatkan.

Suparni kemudian perlahan beranjak berdiri dan menuju lemari bajunya. Dia membongkar-bongkar berbagai macam busana mahal miliknya, berusaha mencari-cari sesuatu. Tidak lama kemudian tangannya menggenggam sehelai kain semacam syal yang agak lebar dan berwarna hitam. Ia sengaja memberikannya pada Suparti dan ia duduk kembali menghadap cermin rias yang besar.

Suparti mengerti isyarat apa yang diberikan oleh Suparni. Segera syal yang berwarna hitam itu dipakaikan ke kepala Suparni, dipakaikan sebagai jilbab. Selama Suparti memasangnya, Suparni bisa melihatnya dari cermin besar di depannya. Ia pun merasakan kasih sayang yang luar biasa saat itu.

“Terima kasih, Ti…,” katanya setelah jilbab itu terpasang erat di kepalanya. Ia mencium dan memeluk Suparti. Kemudian mereka berdua berkaca di depan cermin. Keduanya sudah seperti semula, dengan jilbab yang menghiasi kepala. Perlahan-lahan Suparni mengambil tissue di meja rias dan diusapkannya tissue itu ke pipi dan kelopak mata Suparti hingga bersih dari air mata. “Ayo, kita keluar…”

Suparni menggandeng Suparti menuju ruang tamu di mana Lutfi menunggu. Suparni terkejut sudah ada Albert duduk tidak jauh dari Lutfi.

“Albert…?”

“Arni…?” Albert justru lebih terkejut melihat penampilan Arni yang kini berjilbab lagi, termasuk kekagetannya melihat gadis di samping Arni yang wajahnya mirip dengan Arni.

Pagi itu Nia dan Edi tidak pergi lama-lama, hanya sekitar satu jam karena Edi mengantar Nia ke salon menata rambut untuk acara nanti siang. Sepulang dari salon, Nia dan Edi pun menjumpai suasana yang sangat mengejutkan di rumahnya.

“Arni…?” Nia dan Edi berdiri tidak bergeming di ambang pintu ruang tamu.

“Mama…, Bu.. Nia…?”

Nia tak bisa menahan keharuan sekaligus ketakutannya akan kehilangan Arni.

“Arni tidak meninggalkan mama jika mama masih menghendaki Arni di sini.”

Nia memeluk Arni yang kini sudah berjilbab lagi.

“Arni sayang, Mama masih mencintaimu, Sayang…”

“Arni juga,… Mama…?”

“Jadi…,” Nia mulai menyadari ada tamu di rumahnya. “Jadi itu saudaramu?” Nia memandang Suparti dan takjub akan kesamaannya dengan Arni.

Suparti dan Lutfi berdiri memperkenalkan diri.

“Jangan-jangan kamu yang Arni dan ini yang Arti…,” Nia mencoba bergurau.

“Tidak Tante, saya Arti, saudaranya Arni…”

“Syukurlah, kalian sudah bertemu dan berkumpul kembali…” kata Edi.

“Ma…, Pa…,” kata Arni. “Bolehkah kami keluar dulu…?”

“Ya-ya-ya…, tapi kamu pulang, lho…?” gurau Nia.

“Tentu, Ma,” kata Arni sambil tersenyum. Kemudian ia melihat Albert yang berusaha meredakan kebingungannya. “Bagaimana, Albert? Masih mau dengan Arni yang sekarang?”

“Eh,… oh,… iya. Tentu, pasti!” jawab Albert agak gugup tapi berusaha tegas. “Oke, kita keluar ke mana?”

“Iya, ke mana?” Suparni melihat Suparti.

“Ancol?” kini Suparni melihat Lutfi.

Tetapi justru Suparni yang langsung menjawabnya.

“Ya, Ancol! Setuju!” kata Suparni. “Aku juga ingin membelikan sesuatu untuk bapak, Bulik Yuni, Paklik Sugeng dan Mas Pardi… Boleh ya, Ma?’

“Tentu boleh, Sayang,” jawab Nia.

Maka, minggu siang itu meluncurlah mereka berempat ke Ancol dengan menggunakan mobil Audi Albert. Sepanjang perjalanan Suparti dan Suparni yang duduk di jok belakang terus bercerita apa yang dialaminya selama ini. Mereka sengaja tidak langsung menuju ke rumah Paklik Sugeng, karena akan memberikan kejutan yang lebih besar lagi ketika mereka pulang dari Ancol sore atau malam nanti.

Sesampai di Ancol, Suparni langsung mengajak di mana ia dulu diajak Lutfi. Sedangkan Lutfi hanya tersenyum melihat pantai di mana pertama kali ia mengajak Suparti ke Ancol.

“Kita makan siang dulu di restoran di tepi pantai itu…” ajak Arni.

Mereka memilih meja restoran yang ada di tepi kaca yang menghubungkannya dengan pemandangan Pantai Ancol yang indah. Di luar memang tampak panas, tetapi di dalam restoran itu ada AC yang menyejukkan suasana.

Suparni sesekali melihat Albert yang ternyata sangat memahami keadaannya. Ia tersenyum sambil menggenggam tangan Albert yang mengisyaratkan bahwa Arni berterima kasih atas cinta Albert yang tulus dan suci itu.

Menjelang waktu ashar, Suparti pun mengajak Suparni, Lutfi dan Albert untuk sholat ashar di mushalla yang berada tidak jauh dari tepi pantai, di mana Lutfi dan Suparti pertama kali sholat di Pantai Ancol waktu itu.

“Sebentar lagi sudah senja, mari kita menikmati sun-set di sini dulu…” kata Arni setelah selesai sholat ashar. Mereka menggelar tikar plastik di atas pasir pantai. Mereka duduk menghadap matahari yang mulai masuk ke garis cakrawala timur.

Lutfi, Suparti, Suparni, Albert duduk menikmati suasana sun-set senja itu. Tetapi, yang pasti, Suparti dan Suparni yang paling berbahagia saat itu.

“Besok hari baru, cahaya baru, harapan baru… Terima kasih, Tuhan,” kata Suparti sambil memandangi Suparni seraya memeluk dan mencium saudaranya itu.

“Iya, Tuhan,… Terima kasih…”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: