Dua Sisi Wajah 19

MALAM itu Lutfi berusaha menahan keinginannya untuk memberitahukan kejadian yang sangat mengejutkan semalam kepada Arti. Tetapi malam itu ia tidak bisa tidur, dan terus memikirkannya hampir sepanjang malam.

Ketika adzan subuh berkumandang dari mushalla, Lutfi segera terbangun dan berkemas mengambil air wudhu di belakang. Ia berharap Arti juga bisa sholat subuh di mushalla seperti biasanya. Tetapi harapannya tidak terkabulkan karena subuh itu Arti tidak sholat di mushalla. Sehingga, begitu setelah mengimami sholat subuh, Lutfi segera bergegas menuju rumah pakliknya Arti.

Pagi itu masih gelap.

Tok..tok…tok…

“Assalamu ‘alaikum…” salam Lutfi sambil mengetok-ngetok pintu rumah paklik Arti yang masih tertutup rapat. “Assalamu ‘alaikum…”

“Wa’alaikum salam…,” terdengar jawaban dari dalam, suara Supardi. Ketika pintu dibuka, Supardi masih mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk. “Lutfi, ada apa..? Pagi-pagi sekali…?”

“Arti ada, Mas…?”

“Ada, masih sembahyang subuh… Masuk,” kata Supardi sambil beranjak masuk kembali. Ia menjenguk ke kamar Arti yang sudah selesai sholat subuh. “Ti, tuh ada abangmu…”

Suparti pun merasa sangat heran mengapa Bang Lutfi sepagi itu mendatangi ke rumah Arti. Pasti ada sesuatu yang teramat sangat penting.

“Ada apa, Bang?” tanya Arti seperti orang kebingungan. “Pagi-pagi sekali.”

Lutfi mendekatkan kepalanya ke Suparti, sambil berbisik.

“Arti, kamu punya saudara kembar, ya???” bisiknya.

Suparti langsung mengundurkan dirinya dengan cepat begitu mendengar apa yang dibisikkan Lutfi. Ia hanya bisa diam sambil memandang Lutfi dengan tajam.

“Di mana Abang melihatnya? Di mana, Bang!?” wajah Arti tiba-tiba mulai menunjukkan ketidak-sabaran. Diguncang-guncangkannya pundak Lutfi.

“Jadi benar, kamu mempunyai saudara kembar?”

Suparti mengangguk-angguk.

“Aku melihatnya semalaman di tempatku bekerja, di Carefour…”

“Terus…???”

“Aku juga sangat terheran-heran. Hampir tidak bisa dipercaya,” kata Lutfi mulai menjelaskan. “Semula aku tidak memperhatikannya karena ia tidak berjilbab. Tetapi ketika kutatap mukanya, matanya, mulutnya…”

“Tidak berjilbab…???” Suparti bertambah heran.

“Jangan bilang pada bapak dan masmu,” bisik Lutfi. “Kita harus mengecek lebih dulu kebenarannya.”

“Kita berangkat sekarang, Bang!?” Suparti semakin tidak sabar.

“Ssstt…” Lutfi meletakkan jari telunjuk ke mulutnya. “Sabar dulu. Pagi ini kamu ada sekolah, dan aku pun masih ada kuliah…”

“Terus bagaimana, Bang???”

“Kita harus bersabar….,” kata Lutfi menenangkan. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan., “Bagaimana kalau hari minggu lusa? Mulai pagi kita tungguin sampai ia keluar rumah…”

“Lusa…???”

“Ya…” Lutfi mengangguk. “Sambil menunggu lusa, kamu berdoa terus agar diberi kebenaran yang nyata…”

Dengan terpaksa Suparti menuruti kata-kata Lutfi. Tetapi sepanjang mengikuti pelajaran di sekolah, ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Di dalam pikirannya hanya terbayang wajah Suparni, saudara kembarnya, yang katanya Bang Lutfi kini Suparni sudah tidak berjilbab lagi. Mengapa? Apakah Suparni sudah terpengaruh pola pergaulan remaja Jakarta yang serba bebas…?

Pagi itu Albert menjemput Arni untuk berangkat sekolah sama-sama.

“Kamu masih marah, Arni?” tanya Albert setelah mobilnya meluncur di antara kepadatan lalu lintas Jakarta menuju SMU International. “Khan kejadiannya sudah lama sekali dan aku janji tidak akan mengulanginya…”

“Aku juga tidak tahu mengapa akhir-akhir ini aku agak murung,” kata Arni

“Aku sangat membutuhkanmu…,” kata Albert berharap. “Kalo di rumahku aku lagi jenuh atau stress, kamulah yang bisa menenangkanku…”

“Dengan pegang-pegang tangan dan cium-cium pipi…!?”

“Maaf, aku minta maaf banget….” kata Albert dengan serius. “Aku janji takkan mengulangi. Kamu tahu niat baikku itu selama ini, aku sama sekali tidak memegangmu…, aku tahu kamu sangat terhormat bagiku… Aku menyesal waktu itu. Maafkan aku…”

“Bagaimana orang tuamu…?” tanya Arni menyinggung orang tua Albert.

“Sudah baikan, tapi tidak menjamin nggak ada tengkaran lagi,” jawab Albert. “Papaku memberikan segalanya padaku. Uang, mobil… Dikiranya semua itu bisa menyenangkan aku, ternyata keliru…”

“Aku juga merasakan hal itu…,” kata Arni mendukung pendapat Albert.

“Ya, tapi papa dan mamamu memberikan kasih sayang yang tulus, tidak sekedar memanjakanmu dengan harta…”

“Tapi…,” Arni tidak bisa melanjutkan perkataanya bahwa papa dan mamanya bukanlah orang tua kandungnya. Mama Nia dan Papa Edi memang sangat baik dan tulus memberikan kasih sayangnya pada Arni, tetapi betapa pun ia ingin berkumpul dengan keluarganya sendiri.

“Tapi kenapa, Arni?” tanya Albert ketika Arni tidak meneruskan kata-katanya.

“Eh, tidak apa-apa…,” Arni mencoba menutupi cerita yang sebenarnya mengenai dirinya, mengenai saudara kembarnya atau mengenai keluarganya yang berasal dari desa. Arni mempertahankan kondisinya sekarang bahwa ia adalah anak Mama Nia dan Papa Edi. “Tapi…, kamu benar-benar…”

“Benar-benar apa?” tanya Albert.

“Eh, tidak usah…”

“Kamu akhir-akhir ini memang tampak aneh…. Kamu sehat-sehat saja?”

“He-eh…”

“Kamu sebentar lagi ulang tahun. Kamu minta hadiah apa…?”

“Hadiah?”

“Iya, kamu minta hadiah apa?”

“Hadiah dari kamu…. Sebagai apa?”

“Sebagai apa?” tanya Albert semakin bingung.

Arni hanya terdiam sambil mengamati mobil-mobil berlalu-lalang di depan mobil Audi Albert. Keduanya terdiam…

“Ooo aku mengerti,” kata Albert kemudian.

“Apa…?”

“Tadi… yang sebagai apa…?”

“Ya, sebagai apa?”

“Sebagai… pacar???” kata Albert mencoba menebak.

“Jawaban yang meragukan…” kata Arni cuek.

“Apalagi yang kamu ragukan??” kata Albert jengkel karena tidak dipercaya. “Aku sudah minta maaf atas kelancanganku waktu itu. Aku takkan mengulangi lagi. Kamu tahu aku setelah itu tidak lagi menyentuhmu. Aku mencintaimu… aku takut kehilanganmu karena kamulah tempat berteduh bagiku…”

“Mencintaiku karena apa?”

“Ya karena kamu?”

“Karena orang tuaku yang…”

“Orang tuaku lebih kaya Arni…!!” tegas Albert agak emosi karena perkataan Arni sangat menyinggung perasaannya, bernada menuduhnya materialistis. “Buat apa aku mencintamu karena kekayaan orang tuamu!”

“Jadi, karena aku? Memangnya kenapa aku?”

“Kamu punya prinsip,” kata Albert agak tenang. “Sejak malam kejadian itu, justru kamu menyadarkan aku akan hakikat cinta.”

“Hakikat cinta…?”

“Ya, hakikat cinta bukanlah dihamburkan bersama nafsu!” tegas Albert.

Arni terdiam kembali. Ia tidak mengira Albert bisa mengambil hikmah atas kejadian malam itu. Hikmah yang diucapkan Albert justru tidak pernah terpikirkan olehnya selama ini.

“Terima kasih, Albert…” kata Arni pelan.

Dua malam menjelang hari minggu, Suparti masih belum bisa merasa tenang. Pikirannya hanya tertumpu pada cerita Bang Lutfi yang bertemu dengan seseorang yang mirip bahkan sama dengan dirinya.

Dua malam menjelang hari minggu ia habiskan dengan berdoa kepada Tuhan. Khusyu’ sekali ia berdoa. Makna doanya dihujamkan ke dalam hati sehingga ia pun tak kuasa menahan tangis.

“Yaa Allah, akhirilah semua ini dengan pertemuan kami kembali, ya Allah…. Sebetulmnya hamba sudah pasrah berpisah dengan saudara kembar hamba…. Tetapi, karena kehendak-Mu telah mengatur Bang Lutfi untuk bertemu dengan Suparni…. Ya, Allah, pertemukanlah kami kembali,…” Suparti membiarkan air mata semakin membasahi pipinya. “Yaa Allah… Yaa Rabbi, Engkau yang telah memisahkan kami, Engkau pula yang akan menyatukan, Yaa Allah…”

Ia pun membaca al-Fatihah berulang-ulang hingga suntuk…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: