Dua Sisi Wajah 18

SORE itu, sepulang kuliah jam 13.00-15.00, Lutfi langsung bergegas meninggalkan ruang kuliah, berlari ke depan kampus dan mencegat angkot tujuan Lebak Bulus. Untung pada angkot yang pertama Lutfi mendapat tempat. Dari jam weker yang ada di dashboard sopir angkot, jam sudah menunjukkan sekitar 15.15. Ia tidak ingin terlambat kerja karena kepercayaan baginya adalah segala-galanya.

Menjelang jam empat sore, angkot yang ditumpangi oleh Lutfi sudah sampai di Lebak Bulus. Ia segera berlari ke Paserba Carefour Lebak Bulus yang jaraknya sekitar 200 meter dari terminal Lebak Bulus.

“Kenapa buru-buru… Kayak dikejar polisi,” kata seorang temannya setelah Lutfi tiba di kamar ganti Carefour.

“Ah, jam empat kurang sedikit…,” kata Lutfi sangat lega, sambil menutup pintu kamar ganti. Ia mengambil kartu absen dan memasukkannya ke check-clock.

“Hebat bener, Lu,… Datang tepat waktu…”:celetuk temannya yang lain.

“Yaahh… sudah terbiasa…,” kata Lutfi sambil melepas baju kuliahnya dan mengambil seragam cleaning-service.

Lutfi mengambil tongkat pel dan ember, setelah itu ia bergegas ke lantai dua di mana paserba berada dan ia segera mengepel salah sudut Paserba Carefour itu.

Sementara itu, di rumah Edi dan Nia, acara makan malam berlangsung seperti biasanya. Arni tentunya juga ikut makan malam sebagai anak kesayangan – meskipun anak angkat. Kasih sayang Nia masih seperti ketika Arni untuk pertama kalinya saat masuk rumah itu. Arni sendiri tahu diri dan bersikap hormat kepada orang tua angkatnya. Karena rasa hormat itu, kasih sayang Nia sebagai ibu angkat, sebagai mamanya, masih belum luntur meski waktu telah berjalan sekitar satu tahun.

“Pa, aku mau belanja sama Arni,” kata Nia pada suaminya, ketika mereka selesai makan malam. “Papa nitip apa?”

“Nggak, Ma…” jawab Edi sambil membersihkan mulutnya dengan serbet.

“Ayo, Sayang, kita belanja…” kata Nia sambil bangkit dari tempat duduknya. “Bi Imah! Tolong mejanya diberesin…!”

“Arni pergi dulu, Pa…,” kata Arni pamitan pada papanya. Setelah minum air putih dan membersihkan mulutnya dengan serbet, Arni bangkit dari tempat duduknya mengikuti mamanya.

“Ya, jangan malam-malam ya…” pesan papanya.

Pak Parno malam itu sudah dipesan agar tidak pulang lebih dulu karena akan mengantar Nia dan Arni belanja mingguan.

“Ayo, Pak Parno, berangkat…” kata Nia setelah ia dan Arni sudah siap di jok belakang mobil BMW.

Ketika mobil di luar rumah, Pak Parno menghentikan mobil sejenak dan keluar lagi untuk menutup pintu gerbang. Setelah itu Pak parno kembali ke mobil dan mengemudikannya.

“Sayang…,” kata Nia pada Arni. “Kamu sebentar lagi khan ulang tahun… Kamu mau gaun pesta…?”

“Ah, nggak usah, Ma…,” Arni menggeleng. Ia merasa watak lugunya mulai kembali setelah kejadian di Cineplek 21 dengan Albert beberapa waktu yang lalu. Kejadian itu membuatnya trauma, apalagi wajah Suparti yang akhir-akhir ini selalu membayanginya. “Nggak usah dirayain, Ma. Nggak usah kado…”

“Kenapa??” tanya Nia agak terheran-heran. “Sudah dapat kado dari Albert?”

Arni menggeleng.

“Sudah lama Albert nggak ke rumah. Kalian ada masalah?” tanya mamanya.

“Nggak kok. Kemarin dia masih ngantar Arni. Duitnya ditabung aja, Ma…”

“Khan kamu sudah punya tabungan?”

“Ya nggak pa-pa…”

Mobil yang dikemudikan Pak Parno sudah sampai di tempat belanjaan yang tidak jauh dari Pondok Indah.

Arni mengambil troly dan mendorongnya di antara rak-rak berbagai produk. Mamanya mengambil beberapa produk yang diperlukan. Minyak, kecap, roti, tissue dan masih banyak lagi produk keperluan Nia.

Arni yang mendorong troly terasa semakin berat dengan semakin banyaknya barang belanjaan yang masuk ke dalamnya. Ia hanya melihat-lihat berbagai pajangan produk beraneka ragam yang ditata rapi di rak-rak. Tiba-tiba troly yang didorong Arni menubruk pantat seorang cleaning-service yang sedang membelakanginya karena sedang mengepel lantai, Arni merasa bersalah karena tidak memperhatikan jalan.

“Oh, maaf…” kata Arni dengan ramah kepada cleaning-service itu.

“Ah tidak apa… Saya juga minta… maaf…”

Seorang cleaning-service yang mengepel lantai itu memang agak terkejut ketika troly Arni menubruk pantatnya. Tetapi ia lebih terkejut lagi ketika matanya memandang wajah Arni meskipun selama sekian detik karena Arni segera berlalu.

“Arti…?” cleaning-service yang ternyata Lutfi itu bergumam terheran-heran. Ia menggaruk-garuk kepalanya. “Tidak mungkin…!”

Mau tak mau Lutfi harus membuntuti gadis yang mirip dengan Arti, pacarnya. Siapa dia? Penampilannya jauh berbeda karena busananya mencerminkan ia seorang yang kaya raya. Lutfi benar-benar tidak mau kehilangan gadis yang menubrukkan troly-nya itu. Ia mengendap-endap dari rak ke rak sambil mengamati Arni dan Nia, sambil berpura-pura mengepel.

Ketika Nia dan Arni selesai dengan belanjaan yang menggunung dalam troly, mereka hendak menuju counter untuk membayar. Lutfi yang masih diliputi rasa keheranannya, masih mengendap membuntuti Nia dan Arni. Ketika meninggalkan counter dengan belanjaan yang sudah dibungkus tas-tas plastik, Nia dan Arni turun melalui elevator dan berhenti di car-call service.

“Tolong dipanggilkan Pak Parno, Pak,” pinta Nia pada operator.

“Baik, Bu…”

“Terima kasih…”

Tidak lama kemudian terdengar suara melalui pengeras suara yang diletakkan di berbagai sudut di halaman Paserba Carefour memanggil-manggil nama Pak Parno.

“Kepada Bapak Parno dimohon membawa mobilnya ke depan…”

Dengan segera mobil BMW yang dikemudikan Pak Parno sudah ada di depan pintu keluar. Pak Parno membantu memasukkan belanjaan ke dalam bagasi belakang.

Begitu Nia dan Arni sudah masuk ke dalam mobil dan Pak Parno segera mengemudikan BMW meninggalkan pintu keluar menuju pos pemeriksaan kacis, Lutfi segera berlari menyusul dari belakang.

“Permisi… maaf-maaf…,” Lutfi berlarian di antara pengunjung paserba. Ia tidak mau kehilangan gadis yang mirip Arti itu.

BMW yang dikemudikan Pak Parno sudah meninggalkan halaman Paserba Carefour ketika Lutfi sudah sampai di pos pemeriksaan. Kebetulan di sana ada seorang satpam yang dikenalnya.

“Bang Jamal…!” kata Lutfi dengan nada meminta tetapi agak mendesak, dan memaksa. “Tolong pinjam motornya, ada yang penting…”

“Untuk apa?” tanya satpam yang bernama Jamal itu terheran-heran.

“Pokoknya pinjam dulu, Bang. Ini penting sekali. Pokoknya nanti aku ceritakan masalahnya…”

Akhirnya Jamal memberikan kunci motornya yang diparkir tidak jauh dari pos pemeriksaan karcis parkir. Lutfi berlari kencang, bahkan ia hingga hampir terjatuh. Ketika menstarter pun ia kelihatan sangat terburu-buru. Ketika masuk gigi satu, Lutfi juga menarik gas kuat-kuat seakan mau ikut balapan. Jamal yang melihatnya dari pos pemeriksaan karcis parkir hanya terbengong-bengong.

“Ngapain tuh anak…?” tanyanya pada temannya yang petugas parkir.

Mobil BMW yang dibuntuti oleh Lutfi sudah berada sekitar lima ratus meter di depannya. Kepalanya melongok-longok ke atas berusaha melihat di antara sela-sela banyak mobil yang menghalanginya.

Ketika mobil BMW sampai di rumah Nia dan Arni, Lutfi pun menghentikan motornya beberapa puluh meter di belakangnya. Ia mengamati ketika Pak Parno membuka pintu gerbang, mobil BMW masuk ke halaman rumah hingga Pak Parno menutup kembali rapat-rapat pintu gerbang depan.

Lutfi mendekati rumah mewah itu…

“Ya Tuhan, siapa dia?” tanya Lutfi pada diri sendiri. “Arti tidak pernah cerita kalau ia mempunyai saudara kembar…”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: