Dua Sisi Wajah 17

SUDAH sekitar setahun berlalu. Suparti naik kelas 2 dan Lutfi lulus dari MA. Lutfi diterima di IAIN – kini Universitas Islam Negeri – Syarif Hidayatullah di Ciputat. Akan semakin jauh loasi tempat sekolah – atau kampusnya – dengan rumahnya.

Malam itu, seperti biasanya, Lutfi dan Arti sholat isya’ jamaah. Selesai sholat, Lutfi mengantar pulang Arti ke rumah pakliknya.

“Selamat ya, Bang,” kata Arni menyalami Lutfi.

“Terima kasih…,” jawab Lutfi. “Kini aku sudah mahasiswa, he-he-he…

“Makin jauh aja sekolahnya, Bang…”

“Mungkin aku naik angkot aja, biar nggak capek…”

“Bang…?” tanya Arti.

“Ada apa…?” balik Lutfi bertanya.

“Bang,… teman mahasiswinya pasti banyak yang cantik-cantik…, ya?”

“Kamu ngomong apaan…?”

“Ya… namanya jaga-jaga, he-he-he…

“Kalau mahasiswinya cantik-cantik, memangnya kenapa…?” Lutfi tersenyum.

“Ntar Abang jatuh cinta…?”

He-he-he…,” kini Lutfi malah tertawa. “Jodoh itu ada di tangan Tuhan, Arti. Kalo memang belum jodohnya, diikat bagaimana pun ya akan lepas. Tetapi kalo sudah jodoh, digoda cewek cantik mana pun ya tetap tidak akan lepas.” Kata Lutfi seraya merangkul Arti sambil terus berjalan. “Semoga kita jodoh, Arti. Insya Allah.”

“Amin…,” kata Arti mengamini. Mereka sudah sampai di rumah paklik Arni. “Bang, mau ngopi dulu …?”

“Boleh…”

Lutfi duduk di ruang tamu, sementara Arti langsung masuk ke dapur membuat secangkir kopi untuk abangnya. Untung di termos masih ada air yang mendidih, sehingga Arti tidak lama-lama membuat kopinya.

“Ini, Bang, kopinya…,”

“Terima kasih…,”

“Besok kuliah hari pertama ya, Bang?”

“Iya…,” jawab Lutfi. “Tapi kayaknya aku harus kuliah sambil kerja, Arti. Kalo kuhitung-hitung, biaya transport aja sudah lumayan banyak. Apalagi biaya buku, foto copy dan lain-lain.”

“Kerja apaan…?”

“Belum tahu…,” Lutfi mencoba mencicipi kopi yang agak panas. “Tapi sambil jalan, Insya Allah, nanti ketemu juga…”

Pagi keesokan harinya, Arti dan Lutfi berjalan bersama menuju sekolah Arti. Bedanya kini Lutfi tidak lagi naik motor dan berseragam MA. Ia mengenakan hem kotak-kotak sedangkan Arti masih berseragam putih-putih. Pada hari-hari tertentu, jadwal kuliah Lutfi masih bisa berangkat bersama Arti searah sekolah Arti. Sesampai di depan sekolah Arti, Lutfi bisa naik angkot untuk transit di terminal Lebak Bulus dan meneruskan ganti angkot ke Ciputat.

“Selamat kuliah, Bang…,”

“Selamat belajar, Arni…,” kata Lutfi sambil menepuk pundak Arti.

Pagi itu, dua sampai tiga angkot yang ke arah Lebak Bulus selalu penuh terus. Untungnya ada Kopaja yang melewati Arteri Selatan, itu pun Lutfi tidak dapat kursi sehingga berdiri. Lutfi turun di Arteri Selatan dan ganti Metro Mini ke Lebak Bulus.

Hari demi hari berlangsung lancar bagi Lutfi. Kuliahnya dijalani tanpa ada hambatan berarti, selain ia masih harus mencari pekerjaan untuk memenuhi berbagai kekurangan finansial. Baru beberapa bulan kemudian, melalui teman kuliahnya yang bekerja di Carefour Lebak Bulus, Lutfi mendapat pekerjaan sebagai cleaning service di paserba tersebut.

“Lumayan…,” katanya pada Arti suatu malam, sepulang ia kuliah dan bekerja. “Waktu shift juga bisa diatur sama teman, sehingga kuliah dan kerja tidak akan saling mengganggu… Alhamdulillah…”

“Capek ya, Bang…?” tanya Arti sambil menyuguhkan teh hangat.

“Ya capek,” jawab Lutfi. “Tapi lumayan ada yang bikinin teh hangat…”

Lutfi tertawa menggoda Arti, sementara Arti hanya tersenyum mendengarkan gurauan Lutfi. Dari karakter Lutfi yang tampaknya mulai dewasa dan matang itu, Arti mendapatkan kepercayaan diri, keteguhan dan optimisme menghadapi kehidupan. Orangnya memang sederhana dan sangat pas-pasan – jika tidak boleh disebut melarat. Orang tuanya pensiunan pegawai negeri yang jujur. Ia adalah anak semata wayang, anak tunggal, sehingga menjadi tumpuan bagi orang tuanya. Dan juga, tentu menjadi tumpuan bagi … Arti.

Paklik Sugeng, Bulik Yuni, Mas Supardi dan bapaknya sudah mengetahui hubungan Arti dengan Lutfi. Begitu juga tetangga kanan kiri di kampung itu. Bahkan mereka dikenal sebagai guru mengaji di mushalla. Tetapi karena Lutfi sering bekerja shift malam sehabis kuliah, Arti menggantikan Lutfi mengajar mengaji di mushalla.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: