Dua Sisi Wajah 16

SUASANA kantin di SMU International terlihat ekslusif untuk ukuran sebuah SMU. Ruangannya cukup luas dan pelayanannya memakai sistem fast-food agar praktis karena menghemat waktu dan tenaga.

Arni duduk di salah satu meja kantin sambil menikmati juice orange. Ia duduk sendiri di antara empat kursi yang mengelilingi meja itu. Ya, sendiri – tidak ada yang menemani seorang pun. Tetapi kemudian dari pintu kantin muncul sosok Albert, dengan agak sedikit tergesa-gesa dan seakan mencari seseorang yang pada akhirnya pandangannya menatap ke arah Arni. Albert segera menghampirinya.

Albert menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah Arni.

“Arni…,” kata Albert dengan napas agak terengah-engah. “Aku minta maaf atas kejadian semalam… Aku janji tidak akan terulang lagi…”

Arni hanya diam.

“Aku tahu kamu marah…,” kata Albert lagi. “Aku tidak mengira sejauh itu… Maklum aku lagi stress… Kamu tahu khan, biasanya aku nggak seperti itu…”

“Sudahlah…” kata Arni akhirnya. “Lupakan semuanya… Untuk sementara aku ingin sendiri… Aku lebih senang jika kamu meninggalkanku saat ini, please…”

Dengan sangat enggan Albert terpaksa meninggalkan meja Arni.

Selama perubahan yang menimpa diri Arni, sejak diadopsi oleh keluarga kaya tetapi sekuler, sejak ia melepas jilbabnya, sejak sholatnya bolong-bolong,… ia merasa selalu menuruti dan dituruti keinginannya. Apa pun keinginannya… seakan rumah yang ada di Pondok Indah itu dijelmakan menjadi surga oleh Edi dan Nia. Apa pun tersedia mulai dari uang, materi, hiburan, bahkan kasih sayang orang tua angkatnya sangat memanjakan dirinya.

Meskipun sekuler, pola hidup Edi dan Nia sebagai orang tua angkat Arni tampak harmonis dan jarang terlihat berkelahi secara serius. Sekulerisme yang juga melanda keluarga Albert, ternyata tidak seharmonis keluarga Edi dan Nia. Puncaknya kejadian semalam yang membawa dampak pada Albert yang hampir lepas kendali.

Sejak melepas jilbabnya, Arni merasa tidak ada batasan lagi dalam bersikap. Semuanya boleh-boleh saja, nikmati saja… Benar kata mamanya bahwa memakai jilbab bukan tujuan, hanya sarana. Begitu juga ibadah bukan tujuan, hanya sarana. Tetapi Arni merasa ada sesuatu yang kurang di dalam jiwanya yang merasa hampa.

Semalaman Arni banyak merenung di kamarnya, mengapa kejadian yang hampir merenggut kehormatannya itu menimpa dirinya. Mungkin bagi gadis-gadis metropolis yang sebaya lainnya – sebagaimana banyak diberitakan mass-media – nilai kehormatan pada zaman modern di kota metrpolitan bukan lagi masalah yang penting. Tetapi bagi Arni, terasa masih ada kekuatan yang melindungi kehormatannya itu.

Dalam kegalauan itu, Arni juga tidak jarang terkenang saudara kembarnya – Suparti – di antara gelimang kemewahan yang ada di rumah orang tua angkatnya yang ada di Pondok Indah. Tetapi Arni tidak berani menyampaikannya kepada mama dan papanya karena takut mereka tersinggung, karena pernah disampaikan kepada Arni bahwa mereka sudah berusaha mencari keluarganya tetapi belum ketemu atau mungkin sudah… tidak ada.

“Non… bel masuk sudah berbunyi, tuh…” lamunan Arni tersentak oleh tangan pelayan yang menyentuh pundaknya.

“Oh, eh,.. iya, terima… kasih…” kata Arni agak gugup dan segera ia berlari menuju ke kelas.

Siang itu Arni pulang dijemput Pak Parno. Sepanjang perjalanan Arni lebih banyak melamun. Bahkan ketika melewati Jalan Thamrin yang sedang macet, Arni tidak bergeming dan tidak mengeluh dengan kemacetan di jalan protikol itu. Ia hanyut dalam lamunannya.

Sesampai di rumah, di dalam kamar, Arni masih termenung lama. Ia tidak tahu mengapa beberapa hari terakhir ini selalu terbayang wajah saudara kembarnya. Ketika ia menatap wajahnya sendiri di kaca meja rias di kamarnya, seakan ia menatap wajah Suparni yang ia nilai pasti masih lugu. Tidak ada satu barang atau foto kenangan yang sempat dibawanya, yang memberikan kenangan manis dengan saudaranya. Di rumah yang mewah itu, Arni seakan dibentuk sebagai orang lain… melupakan masa lalunya. Tetapi bagaimana pun ia mempunyai saudara kembar dan keluarga kandung.

Arni masih menatap wajahnya di cermin… Ia membayangkan jika ia masih berjilbab dan dilihatnya wajah Suparti dengan jilbab itu. Perlahan diusapnya wajah yang ada dicermin itu seakan ia mengusap wajah Suparti yang dirindukannya selama hampir setahun ini.

Tanpa disadarinya, Arni melihat wajahnya yang ada di cermin dengan pipinya yang sudah basah oleh air mata…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: