Dua Sisi Wajah 15

LAIN Suparti, lain pula Suparni dalam mengarungi dunia anak mudanya – meskipun keduanya adalah saudara kembar. Keduanya terpisah karena takdir dan mempunyai dua sisi kehidupan yang sangat berbeda. Demikian pula dengan sekolahnya.

Siang itu, setelah bubaran kelas, Arni dan Albert berjalan di lorong sekolah.

“Nanti malam ada acara?” tanya Albert.

“Nggak…, kenapa?”

“Nonton, yuk…?”

“Mmmm….?”

“Kenapa? Nggak mau?”

“Nggak sih,.. tapi…ntar aku telpon deh….”

Ketika mereka sampai di mobil Audi milik Albert, seperti biasanya Albert membukakan pintu untuk Arni. Sekejap kemudian mereka suidah berada di jalanan menuju kawasan Pondok Indah.

Sambil menyetir mobil, Albert mengelarkan sebungkus rokok dari sakunya. Ia menawarkan ke Arni dan Arni tanpa ragu mengambil sebatang. Sejak ulang tahun Cindy beberapa minggu yang lalu, sejak itu ia mulai merokok. Kini Arni tampak sudah terbiasa bahkan tampaknya bisa menikmati kebiasaan merokok meskipun tidak sampai kecanduan

“Semalaman ortuku lagi tengkar…,” kata Albert, sambil mmenghembuskan asap rokoknya, membuka pembicaraan. “Ntar malam pasti berlanjut…, makanya aku ngajak kamu keluar.”

“Tengkar soal apa?” Arni juga menghembuskan asap rokoknya.

“Nggak tahu…,”

“Ya, deh… ntar malam aku usahakan bisa keluar…”

“Thank’s…”

Sejak pacaran dengan Albert, beberapa kali Albert curhat kepada Arni soal orang tuanya yang sering bertengkar – entah soal apa. Pelampiasan Albert sering mengajak keluar Arni untuk meredakan stres jika di rumah melihat orang tuanya bertengkar. Biasanya mereka pergi jalan-jalan ke mal, lihat pameran, makan atau nonton film di Pondok Indah Mal atau di Plaza Senayan.

Begitu pula Arni. Jika gadis itu jenuh atau stres, ia lebih sering curhat ke Albert daripada ke Edi dan Nia sebagai orang tua angkatnya. Tidak jarang bagi Arni terbayang-bayang wajah saudara kembarnya Suparti atau wajah-wajah anggota keluarganya. Kalau sudah begitu ia mulai merasa stress. Untuk meninggalkan Edi dan Nia sebagai orang tua angkatnya juga terasa sangat berat. Hampir setahun ia ikut keluarga pasangan yang belum dikaruniai anak itu. Ia sendiri dianggap sebagai anak kandung bahkan sangat dimanjakan.

Albert dan Arni, dua anak muda yang masih dalam masa pubertas, serba tidak menentu karena belum mempunyai pegangan. Jika mereka merasa stres selalu keluar rumah cari suasana baru di mal, makan atau nonton. Duit tidak masalah bagi mereka.

Lain halnya dengan pasangan Lutfi dan Arti yang sederhana bahkan pas-pasan – jika tidak boleh dibilang melarat. Keduanya memang sering curhat, itu pun biasa dilakukan selesai maghriban di mushalla. Jika Arti – sapaan Lutfi pada Suparti – merasa jenuh atau stress sendirian di rumah, Lutfi mengajarkan langsung curhat saja pada Allah. Caranya? “Ya habis sholat, duduk bersimpuh sambil memutar tasbih… Terus memutar tasbih. Kalo sudah capek ya diam… Diam saja, ngomong dalam hati kepada Allah. Biarkan pikiran ke mana-mana… tetapi hati tetap pada Allah. Ntar pikiran yang kacau itu akan mengendap dengan sendirinya… selama hati istiqomah kepada Allah.” Begitu nasihat Lutfi pada Arti.

Malam itu, giliran Albert yang lagi stress berat, muka Albert tampak kusut. Arni melihat perubahan muka Albert yang tidak seperti biasanya. Maka keluarlah mereka menghamburkan duit untuk mengobati stress Albert.

“Ma, Arni pergi dulu, Arni pamitan pada mamanya. “Pa, Arni pergi dulu, ” Arni pamitan pada papanya.

“Ya, Sayang. Hati-hati…,” kata mamanya.

“Jangan pulang malam-malam, Arni…” pesan papanya.

“Ya, Ma. Ya, Pa…”

“Om.., Tante,… kami pergi dulu.”

Kemudian mereka sudah berada dalam mobil Albert, meluncur di keramaian malam Kota Jakarta. Malam itu bukan malam minggu, tetapi keramaian tetap mewarnai malam-malam hari di Jakarta, apalagi di mal atau plaza di Jakarta.

“Mukamu tambah kusut aja, Albert…?” tanya Arni di tengah perjalanan.

“Mamaku ngambek pada Papa,” jawab Albert. “Mama tadi siang pulang ke orang tuanya, ke nenek di Solo…”

Arni hanya terdiam, tapi masih sempat mengamati muka Albert yang kusut.

Mobil Albert memasuki parkiran di Plaza Senayan. Suasana plaza membuat Albert bisa sedikit cooling-down. Mereka melihat-lihat model baju-celana terkini. Banyak orang-orang berduit mungkin bermaksud sama, tidak mau ketinggalan mode.

“Kita makan dulu, Arni…?” kata Albert sesampainya di food-court.

“Boleh…”

Mereka menesan steak hot-plate dan fruit juice, lalu duduk di salah satu meja di food court yang selalu dipadati banyak orang.itu.

“Mama-papamu nggak pernah tengkar…?” tanya Albert.

“Nggak, tuh…” jawab Arni sambil menikmati makanannya. Baik orang tua angkatnya maupun orang tua kandungnya memang jarang terlihat bertengkar serius, apalagi sampai separah orang tua Albert. Tetapi kepada Albert, Arni tidak pernah cerita soal orang tua kandungnya atau asal-muasal Arni. Albert pun mengira Arni adalah anak kandung pasangan Edi dan Nia.

“Syukurlah kalau begitu…,” kata Albert yang tampak mulai kusut lagi. “Aku kuatir orang tuaku akan bercerai…”

“Jangan berkata begitu… Semoga semuanya akan segera normal kembali…”

“Ah, persetan dengan mereka,” kata Albert cuek. “Aku toh punya kehidupan dan masa depan sendiri…”

“Jangan begitu… Mereka adalah orang tua kita.”

“Kamu nggak pernah merasakan sih… Bagaimana telinga ini mendengar pertengkaran mereka…”

Selesai makan di food-court, mereka beranjak menuju Cineplek 21 yang letaknya memang tidak jauh dari food-court. Berbagai poster film dipasang di sekitar ruang lobinya. Begitu masuk ruang lobi cineplek, Albert dan Arni langsung menuju kantinnya dan membeli pop-corn kesukaan Arni.

Beberapa puluh pasangan muda-mudi memadati Cineplek 21. Mereka tampak modern dengan baju yang mengikuti mode. Para gadisnya banyak mengenakan kaos atau T-Shirt ketat yang menunjukkan puser mereka. Tidak jauh di luar lobi, banyak dari mereka – para gadis itu – yang merokok, karena dalam lobi tidak boleh merokok.

“Kita nonton apa…?” tanya Albert.

“Terserah…”

Albert segera membeli tiket masuk. Jam main ternyata tidak lama setelah Albert membeli tiket, sehingga mereka langsung masuk ke salah satu studio.

Penonton tidak begitu banyak malam itu. Separoh kursi masih tampak kosong ketika film utama sudah dimulai. Arni masih tampak asyik menikmati pop-corn sambil menonton film

Lain halnya dengan Albert. Ia kurang bisa menikmati film yang diputar. Ia lalu menggenggam tangan Arni. Semula Arni memahami Albert yang sedang stres. Ia membiarkan Albert memegang tangannya. Tetapi ketika Albert mencium tangan Arni dengan agak mesra – bahkan cenderung bernafsu, Arni mulai curiga. Apalagi Albert tidak berhenti sampai di situ. Dari sudut matanya, Arni melihat wajah Albert mendekati wajahnya. Sebentar kemudian, terdengar nafas Alber di telinganya dan mulut Albert sudah mencium pipi Arni.

“Jangan, Albert…,” perlahan tangan Arni mendorong mulut Albert agar tidak meneruskan niatnya. Arni memang pernah dicium pipinya oleh Albert, tetapi sekedar salam perpisahan ketika mengantar Arni pulang dari suatu acara.

Tangan Albert justru menggenggam erat tangan Arni yang tadi mendorong mulutnya. Albert semakin bernafsu mencium pipi Arni hingga mendekati mulut Arni. Betapa pun Arni merasa takut dengan Albert yang saat itu sedang kesetanan. Kini ia mendorong Albert dengan keras bahkan menampar muka Albert…PPLAKK!

“Jangan, Albert…!!”

Jauh dari Cineplek 21, di sebuah mushalla di sebuah perkampungan, Arti selesai sholat isya’ berjamaah dan kini sedang mengaji bersama Lutfi. Secara insting tiba-tiba ia menampar pipi Lutfi… PPLAKK! Tentu saja Luytfi sangat tekejut.

“Ada apa, Arti?” tanya Lutfi terheran-heran sambil mengusap-usap pipinya yang agak sakit tentunya.

“Eh, tidak tahu… Eh, mungkin nyamuk… Eh, maaf…”

Sementara itu, di Cineplek 21, Arni segera meninggalkan Albert dan berlari keluar studio, keluar dari Cineplek 21, keluar dari plaza. Ia segera masuk di taxi terdepan di antara taxi-taxi yang berbaris menunggu penumpang.

“Pondok Indah, Pak…” kata Arni pada sopir taxi yang segera melajukan taxinya meninggalkan plaza.

Di mushalla, Arti juga berpamitan kepada Lutfi.

“Aku harus pulang, Bang,” kata Arti seraya mengemasi sajadah, al-Qur’an dan mukena. Lutfi hanya bengong melihat kelakuan Arti yang tampak aneh malam itu.

Di dalam kamar, Arti melihat cermin dan melihat dirinya sendiri di depan cermin itu. Ia memegang-megang mukanya sendiri, mencubit-cubit pipinya…

“Ada apa dengan aku…,” tanyanya pada diri sendiri. Tiba-tiba ia ingat saudara kembarnya yang kini entah di mana. “Ada apa dengan… Suparni? Ia masih hidup…? Ia masih ada di Jakarta? Tapi ada apa dengannya….?”

Di bawah kaca ada meja rias sederhana. Di atasnya ada pigora kayu yang membingkai sebuah foto agak usang, foto Suparti dan Suparni ketika masih di MTs. Keduanya sedang berangkulan sambil tertawa ceria. Foto itu dulu diambil di depan rumahnya yang ada di desa, yang kini entah ke mana karena hanyut diterpa banjir bandang… bersama ibunya. Di dalam foto itu keduanya masih berjilbab, tetapi wajah lugunya menampakkan cahaya keayuan gadis desa yang masih polos.

Suparti menatap foto kenangan itu lama-lama, lalu diusapnya dengan ujung jemarinya yang lentik. Ia tidak merasa air matanya menetes jatuh ke atas meja…

Suparti lalu menggelar kembali sajadah di kamarnya. Ia meneruskan membaca al-Qur’annya. Kali ini ia ingin membaca Surat ar-Rahmaan, karena ia sangat menyukai puluhan ayat berulang pada surat itu, yakni ayat yang menyebutkan:

Setelah membaca Surat ar-Rahmaan, Suparti berdoa kepada Allah khusus untuk saudara kembarnya – Suparni – agar semuanya baik-baik saja. Ia mendzikirkan al-Asmaul Husna terutama pada al-Waliyyu – Yang Maha Melindungi, agar Allah melindungi Suparni dan keluarganya; al-Jamii’u – Yng Maha Mengumpulkan, agar Allah mengumpulkan kembali Suparti dengan Suparni; al-Haadi – Yang Maha Pemberi Petunjuk, agar Allah menunjukkan di mana Suparni berada…

Suparti terus memutar tasbih dengan khusyu’. Yaa Waliyyu… Yaa Jamii’u … Yaa Haadi…. Yaa Waliyyu… Yaa Jamii’u … Yaa Haadi….

Sementara itu, Arni sudah tiba di rumahnya – rumah orang tua angkatnya – yang ada di Kawasan Pondok Indah. Bi Imah membuka pintu gerbang, dan Arni langsung nyelonong masuk sambil menyembunyikan wajahnya yang terlihat sembab menahan tangis.

Arni langsung masuk ke kamarnya dan melompat ke kasur, tertelungkup dan membenamkan mukanya ke bantal… dan menangis tersedu-sedu…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: