Dua Sisi Wajah 14

MALAM itu tiba-tiba Suparti terbangun. Kelihatannya ia baru saja bermimpi. Ia terduduk di tepi tempat tidur. Dari mimik wajahnya seakan ia baru saja mengalami mimpi buruk. Di meja kecil di samping tempat tidurnya ada segelas air putih. Suparti segera minum air putih itu untuk sedikit bisa menenangkan perasaannya.

Suparti keluar dari kamar menuju ruang makan. Ia lalu melihat jam dinding yang tergantung di salah satu dinding menunjukkan jam satu malam lebih sedikit. Tidak jauh dari situ ada balai-balai kayu beralaskan tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan. Supardi, kakaknya, sedang tidur sambil berselimut sarung. Mendengar suara derit antara lantai dan meja makan, Supardi menjadi terbangun. Ia melihat adiknya itu terduduk, seperti agak melamun.

Ono opo, Ti? Ngimpi…???” tanya Supardi masih terkantuk-kantuk.

Suparti mengangguk pelan.

“Mimpi ibu?”

Suparti menggeleng. Dihampirinya adiknya yang sedang tampak bingung. Supardi menarik kursi makan yang lain dan ia duduk disamping Suparti.

“Mimpi Suparni…?” tanya Supardi sambil melilitkan sarung ke tubuhnya.

Suparti mengangguk.

“Suparni pakai baju bagus,” kata Suparni pelan. “Apa ia juga sudah…?”

“Ngawur kamu…!” kata Supardi agak jengkel. “Jangan percaya mimpi!”

Suparti kemudian berdiri dan hendak meninggalkan meja makan.

“Ke mana kamu,” tanya Supardi.

“Mau ngambil air wudhu…,”

“Sembahyang opo bengi-bengi…?”

“Tahajud…”

“Oooo…”

Air sumur di belakang agak menyegarkan muka Suparti. Percikan-percikan air mengingatkannya akan rumahnya di desa. Ia wudhu dengan air sumur itu.

Di dalam kamar, Suparti khusyu’ melaksanakan sholat tahajud…

Pada saat yang sama, di tempat yang lain, Albert dan Arni baru tiba di rumah Arni di kawasan Pondok Indah. Arni sengaja membawa kunci sendiri, baik kunci gerbang depan maupun kunci pintu ruang tamu. Albert hanya mengantarkannya sampai di gerbang depan.

Arni mengendap-ngendap memasuki rumah. Ketika memasuki ruang tamu, dilihatnya teve di ruang tengah masih menyala meskipun lampu di ruang tengah itu agak gelap.

“Dari mana saja, Arni..!?” terdengar suara papanya dari kursi di ruang tengah.

“Eh…anu, dari ulang tahun teman, Pa…” jawab Arni gugup.

“Selarut ini…?”

“Maaf, Pa…”

“Jangan diulangi…!” kata papanya singkat tapi tegas.

“Ya, Pa…,” jawab Arni seraya masuk kamar.

Arni membanting diri ke atas kasur. Capek, tetapi pandangannya menerawang jauh entah ke mana. Kedua telapak tangannya dihadapkan di depan mulutnya. Arni lalu menghembuskan nafas melalui mulut. Bau asap rokok merebak di sekitar muka Arni. Gadis belia itu tercenung. Ia teringat kembali kata-kata mamanya soal jilbab, sehingga ia melepas jilbabnya yang telah menutupi aurat selain mukanya selama lebih dari lima tahun. Kata mamanya, tidak jilbaban tidak apa-apa, yang penting niat dan hati yang tidak menyakiti orang. Tentang sholat pun demikian. Banyak orang yang mengaku sholat tetapi perilakuknya tidak mencerminkan sholatnya. Sehingga sholat Arni pun mulai bolong-bolong. Semua nasehat sekuler mamanya melekat di benak Arni sejak ia diadopsi pasangan suami isteri Edi dan Nia yang kaya raya itu.

Bagaimana dengan seorang gadis yang merokok? Hari minggu pagi itu, secara diam-diam Arni meminta nasehat mamanya di ruang duduk dekat taman.

“Ma, banyak teman cewek Arni merokok pada pesta semalaman…”

“Ya asal tidak berlebihan, tidak apa…,” tutur mamanya.

Arni agak lega mendengar pendapat mamanya itu. Kemudian mereka berdua menikmati limun dan makanan kecil yang sudah disediakan di atas meja.

Di rumah kontrakan Sugeng, Suparti tampak mempersiapkan diri dan sedikit berdandan agak lain dari hari-hari biasanya. Bapaknya agak terheran-heran melihat anak gadfisnya yang kini tumbuh lebih dewasa.

“Mau ke mana, Nduk?” tanya Pak Bedjo.

“Bang Lutfi mau ngajak ke Ancol…,” jawab Suparti.

Ati-ati kalo pacaran…,” celetuk Supardi yang juga berkemas, tetapi hendak membantu pakliknya kerja di bengkel. “Di pantai banyak orang mesum, lho…”

Ih, Mas Pardi sirik… Bang Lutfi nggak kayak gitu orangnya…,” jawab Suparti sambil memhampiri buliknya. “Bulik Yuni, Parti minta maaf tidak bisa membantu bulik di kios …”

“Ya-ya, nggak apa. Bulik tahu kok kebutuhan anak muda…,”

“Terima kasih, Bulik…,”

Suparti berlari kecil menuju pintu keluar. Dia menoleh ke kiri, ke arah pertigaan gang kecil di mana biasanya ketika Lutfi datang menjemputnya. Pemuda itu selalu tepat waktu jika ada janji. Suara motornya yang cukup memekakkan teliga dan mengeluarkan banyak asap putih dari knalpotnya merupakan ciri khas sepeda motor bututnya yang sudah berumur berapa puluh tahun.

Tidak lama kemudian, Suparti sudah berboncengan dengan Lutfi, keluar dari mulut gang dan menuju jalan raya di depan bengkel pamannya.

Ada enaknya naik sepeda motor di antara lalu-lintas jalan-jalan di Kota Jakarta yang sering macet. Tetapi pada hari minggu itu tidak seberapa macet seperti pada waktu hari kerja Senin hingga Jum’at.

Cukup jauh jarak Ancol dari rumah Paklik Sugeng. Beberapa kali mereka berhenti di lampu merah. Pedagang asongan berlarian menawarkan jajanan, rokok atau air minum dalam kemasan gelas atau botol plastik. Tepat di sisi sepeda motor Lutfi yang sedang berhenti di bawah lampu merah, ada sebuah Metro Mini dengan beberapa penumpang. Di dalamnya ada sepasang pengamen dengan suara serak. Suparni juga melihat seorang anak perempuan kecil, anak jalanan yang mengemis.

Suparni merasa getir melihat kehidupan sosial di Jakarta. Selain ia melihat berita-berita di teve, ia menyaksikan sendiri betapa anak-anak jalanan mencari makan di ibukota ini, mulai dari mengemis, mengamen hingga mengais-ngais di sampah…

Di sisi lain, banyak pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai dagangan di sepanjang pinggir jalan, beraneka ragam. Ia pernah menjumpainya di Blok M, Tanah Abang hingga Senen. Bahkan pedagang majalah membeberkan buletin-buletin setengah porno dengan begitu bebasnya. Banyak berita pelecehan dan pemerkosaan melalui teve dan koran-koran. Tidak saja perkosaan antara laki-laki dan perempuan. Ada yang lebih mengerikan lagi yaitu perkosaan antar lelaki dewasa dengan lelaki yang masih anak-anak. Suparti kemudian mengenalnya dengan sebutan sodomi.

Pornografi dalam bentuk lain sudah mewabah di seluruh pelosok Jakarta. Selain penjual majalah dan buletin setengah porno, di sebelahnya ternyata banyak yang menjual CD-VCD bajakan yang hampir dipastikan dilengkapi dengan berjualan VCD porno. Iiihh…ngeri, Suparti agak bergidik. Tidak itu saja. Suatu malam ketika hendak melakukan sholat tahajud, Suparti sempat menyetel teve dengan merek yang tidak jelas berukuran 14 inci milik pakliknya. Sebuah teve swasta menayangkan acara talk-show yang menampilkan seorang gigolo yang wajahnya ditutupi topeng. Di sana banyak diceritakan dunia malam di Jakarta, dunia free-sex, dunia lesbian, gigolo…. Iiihh…. ngeri!!!

Lamunan Suparti tersadarkan ketika sepeda motor Lutfi sampai di gerbang masuk Ancol. Setelah membayar tiket dan ongkos parkir untuk sepeda motornya, keduanya kemudian menikmati hari minggu di Pantai Ancol.

Mereka berhenti di dekat pantai. Lutfi memarkir sepeda motornya tidak jauh dari tumpukan batu-batu karang yang dijadikan semacam dermaga untuk berlabuhnya perahu-perahu pesiar. Ada pagar besi sebagai pengaman bagi pengunjung.

“Bang, Jakarta ini sangat mengerikan, ya???” tanya Suparti sambil bersandar di pagar besi.

“Mengerikan? Mengerikan apanya…?” tanya Lutfi sambil merogoh tas yang sedang dicangklongnya. Kemudian ia mengambil air minum dalam botol plastik. “Nih, minumnya….”

“Ya ramenya, kriminalitasnya, tawuran pelajarnya, kehidupan malamnya…”

“Belum lagi ancaman bom dan teroris…?” kata Lutfi menambahkan.

“Jauh dibandingkan dengan desa ya, Bang…?”

“Ya jauh, dong…,” jawab Lutfi sambil meneguk minimannya. “Sudah lapar?”

“Ah, ya belum. Tadi baru sarapan,” jawab Suparti sambil membalikkan badan ke arah laut, mengikuti Lutfi. Mereka melihat betapa luasnya laut di utara Jakarta itu. “Dan lagi, sekarang masih jam berapa…?”

“Lautnya indah, ya…,” kata Lutfi sekan tidak mendengar perkataan Suparti yang terakhir. Ia mengambil napas dalam-dalam menikmati suasana pantai…

Suparti melihat ada kulit kerang tergeletak di atas pasir yang ada di depannya. Ia menghampirinya, meninggalkan Lutfi yang bersandar sendirian di pagar besi dekat dermaga dengan mencangklong tas yang berisi sedikit bekal.

“Mau ke mana, Arti?”

Suparti juga seakan tidak mendengar Lutfi. Setelah mengambil kulit kerang berwarna putih bersih itu, ia kembali ke tempat Lutfi. Dibersihkannya kulit kerang itu dari butir-butir pasir laut yang mengotorinya.

“Bagus, ya?” katanya pada Lutfi.

“He-eh…,”

“Allah memang Mahaindah, ya…,” kata Suparti yang tiba-tiba menyebut Nama Tuhannya. “Mulai dari pemandangan laut yang sebesar seindah itu, hingga kerang sekecil seindah ini…,”

“Hingga cinta sesuci ini…,” kata Lutfi dengan nada pelan tetapi tidak kalah mengagetkannya telinga Suparti.

Suparti tiba-tiba diam tertunduk… Cinta?

“Bang, kata orang, kalau kita sedang berduaan, berpacaran, di tempat sepi, maka yang ketiganya adalah…,” kata Suparti belum selesai.

“Setan…?” kata Lutfi meneruskan. “He-he-he…, sekarang setan tidak saja berada di tempat yang sepi. Berdua-duaan di tempat ramai, di pub, café, di diskotek, beramai-ramai… setan ada di mana-mana.”

“Eh, Abang ini malah bercanda…,”

“Iya, tergantung niat kite…,” jawab Lutfi serius. “Kita memang berduaan, berpacaran di sini, di pantai yang indah ini. Tetapi… selain kita… ya Allah, buat apa setan ngikutin
kite…” katanya berlogat Betawi. “Tuh, matahari sudah tinggi, pasti sebentar lagi dhuhur. Kita cari masjid, yuk. Abis itu kita makan siang…”

Suparti tersenyum. Ia merasa bersyukur bisa bertemu dan berkenalan… bahkan kini berpacaran dengan Bang Lutfi, kakak kelasnya di MA. Pemuda itu sangat pengertian, dewasa dan membimbingnya dalam segala hal – termasuk ibadah dan pemahamannya akan hakikat Islam. Lutfi pun sering mengingatkan Suparti akan kodratnya sebagai muslimah, sebagai calon ibu rumah tangga, calon istri yang harus bisa mendampingi suami membangun rumah tangga yang sakinah. Sehingga di waktu yang luang ia sering menghabiskan waktu untuk menjahit, memasak dan lain-lain kegiatan kewanitaan.

Berpacaran itu bagian dari ibadah… mungkin begitu motto pacaran pasangan Lutfi dan Suparti. Siang itu mereka sholat di masjid yang tidak jauh dari pantai. Air wudhu yang membasahi mukanya senantiasa menyegarkan tubuh dan pikiran…

Lutfi mengambil posisi sebagai imam. Suparti, dengan jilbabnya yang juga bisa berfungsi sebagai mukena, mengambil posisi sebagai makmum.

“Allahu Akbar…,” Lutfi mengangkat kedua tangannya dengan kusyu’…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: