Dua Sisi Wajah 13

SABTU malam minggu merupakan surga bagi kaum remaja. Kebetulan malam itu ada seorang teman cewek Arni yang sedang berulang tahun. Arni pun segera berdandan secantik mungkin. Ia dibantu mamanya di depan cermin. Tadi sore ia sudah ke salon diantar mamanya untuk menata rambutnya yang kini tampak mengembang, dihiasi bunga anggrek yang diselipkan di telinga.

“Ma, aku cantik, ya…?”

“Cantik sekali, Sayang…” kata Nia, mamanya, sambil merapikan baju Arni.

Model baju Arni selayaknya model terbaru bagi anak remaja. Berwarna hitam dihiasi renda hitam dan pernak-pernik yang serasi. Bahu dan setengah dadanya agak terbuka menampakkan sedikit kemontokan keremajaannya.

Arni berputar-putar di depan cermin, berlenggak-lenggok memastikan bahwa ia memang cantik sekali dengan dandanan moderat dan borju itu.

“Ayo, Sayang,… kita tunjukkan ke Papa bahwa anak mama cantik sekali.”

Edi, papanya, yang sedang menonton teve di ruang tengah sangat terkejut melihat anak angkatnya itu ternyata sangat cantik sekali dengan dandanan rambut dan baju pestanya.

“Gimana, Pa?” tanya Nia yang berdiri di samping Arni.

“Ck-ck-ck…,” Edi menggeleng-geleng sambil menyunggingkan senyuman. “Ini anak mama atau anak papa, ya? Atau bidadari yang turun dari kahyangan…?

“Ah…, Papa,” Arni tersipu mendengar pujian papanya.

Ting… tong….

“Nah, tuh,… Albert sudah datang menjemput,” kata Nia.

Sebelum keluar, Arni menghampiri papanya dan mencium pipinya, “Arni berangkat dulu, Pa.” Lalu ia menghampiri mamanya dan melakukan hal yang sama, “Arni berangkat dulu, Ma.”

“Hati-hati, Sayang…,”

“Hati-hati, Arni…,”

Di teras sudah menunggu Albert yang malam itu berpenampilan berbeda. Memakai jas hitam dan dasi kupu-kupu dan sepatu hitam yang mengkilap. Keduanya saling memandang mengagumi penampilan mereka malam itu.

“Kamu cantik sekali, Arni,” puji Albert.

Keduanya melangkah menuju mobil Audi Albert yang sedang parkir di depan garasi rumah. Seperti biasanya, Albert membukakan pintu buat Arni. Mobil mundur melewati pintu gerbang yang dibuka oleh Bi Imah.

“Bu Imah, aku berangkat dulu, ya…” Arni membuka kaca pintu mobil dan melambaikan tangan ke Bi Imah.

“Hati-hati, Non…,” Bi Imah membalas lambaian tangan Arni, seraya mendorong pintu gerbang, menutup dan menguncinya kembali.

Mobil Audi Albert meluncur menuju pusat kota Jakarta, menuju ke sebuah hotel berbintang lima di kawasan Senayan. Salah satu ruangan pesta di hotel itu telah di-booking oleh teman Arni yang sedang ulang tahun. Seorang petugas parkir valet menggantikan Albert dan memarkirkan mobil itu ke tempat yang disediakan.

Di tangga menuju ruang lobbi, Alber menggandeng tangan Arni. Mereka menuju resepsionis menanyakan ruang pesta temannya.

“Ruang Café Dahlia di mana ya?”

“Di lantai dua, mari saya antar…” jawab gadis resepsionis itu dengan sopan.

Mereka kemudian berjalan menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Selayaknya nuansa hotel berbintang lima, maka suasana di semua ruangan hotel bisa dipastikan sangat mewah. Demikian juga Ruang Café Dahlia.

“Ini Ruang Café Dahlia…” kata gadis resepsionis tadi.

“Terima kasih…” jawab Albert sopan.

Di depan pintu Café Dahlia yang tertutup itu ada dua panitia penerima tamu dengan buku tamu yang terbuka. Albert segera mengisi namanya dan nama Arni.

Seorang pelayan kemudian membukakan pintu Café Dahlia yang besar dan tampak kokoh itu. Begitu pintu terbuka, langsung terdengar lantunan musik instrumental dari dalam café. Suasana remang-remang mengesankan café itu sangat romantis bagi pasangan muda-mudi.

Albert dan Arni disambut oleh seorang gadis cantik yang berdandan lebih menyolok dibandingkan yang lainnya. Dialah yang sedang berulang-tahun malam itu.

“Selamat ulang tahu, Cindy…,” kata Arni sambil mencium pipi gadis itu.

“Selamat ulang tahun, Cindy,” kata Albert menyalami tangan Cindy.

“Terima kasih, terima kasih…,” kata Cindy dengan ceria. “Sebagian teman sudah datang. Kalian cari aja tempat duduk yang masih kosong…”

Cindy kemudian berbaur dengan teman-temannya yang lain.

“Kita cari tempat duduk, Arni…” ajak Albert.

Ternyata Albert dan Arni mendapat tempat duduk semacam sofa kecil berbentuk ‘U’ yang agak memojok di Ruang Café Dahlia. Di depannya ada meja yang dihiasi lilin redup seperti meja-meja lainnya.

Sebentar kemudian Albert dan Arni tampak asyik mengobrol santai sambil menunggu acara dimulai. Musik instrumentalia yang terdengar lembut di telinga dan lilin-lilin yang ada di meja tampak redup menambah suasa menjadi lebih romantis. Sesekali terdengar suara ceria, gurau-canda teman-teman Cindy lainnya.

“Mohon perhatian….,:” dari panggung kecil yang ada di depan berdiri seorang MC wanita meminta perhatian teman-teman Cindy. “Mohon perhatian,… acara akan dimulai sebentar lagi… mohon semuanya berdiri. Mbak Cindy, mohon ke depan…”

Cindy dengan anggunnya melangkah menuju panggung kecil.

“Mari kita berdoa untuk kesehatan, kebahagiaan dan kecantikan Mbak Cindy di ulang tahunnya pada malam yang sangat ceria ini…,” kata MC wanita itu sambil mengangkat tangan kanannya memberi aba-aba. “Berdoa mulai….,”

Suasananya menjadi hening ketika semua undangan menundukkan kepala, berdoa untuk Cindy.

“Selesai…,” kata MC setelah beberapa detik kemudian. “Nah, sebelum memasuki acara ulang tahun, mari kita menyanyikan lagu Happy Birthday to You untuk Mbak Cindy….!”

Secara serempak lagu Happy Birthday to You mulai dikumandangkan, termasuk Albert dan Arni yang berdiri berdampingan. Cindy tampak sangat ceria berdiri di atas panggung kecil yang diterangi lampu sorot dari atas, yang cahayanya lebih terang dari lainnya.

“Terima kasih…,” kata MC. “Nah, sebelum makanan dihidangkan, Cindy minta permainan pertama dilakukan. Permainan apa itu, Cindy?”

Cindy mengambil alih mike yang tadinya dipegang MC.

“Teman-teman, aku punya permainan yang mengasyikkan…,” kata Cindy. “Ada permainan estafet gelang karet…”

Ada sebagian yang ribut sorak-sorai bersuit…

“Kalian sudah tahu, khan….?” Kata Cindy

“Sudah….”

Terdengar suara teriakan-teriakan ceria yang menanggapi permainan estafet gelang karet yang menggunakan tusuk gigi yang digigit mulut. Semua teman Cindy sudah siap dengan tusuk gigi yang telah digigit di masing-masing mulutnya. Gelang karet akan berpindah dari tusuk gigi ke tusuk gigi lain Pemindahannya tidak dengan tangan, tetapi dengan kepala yang didekatkan.

“Ya-ya,… karetnya khusus dari aku, jangan pakai karet sendiri,” kata Cindy dikuti tawa teman-temannya. “Dan perpindahan gelang karet antar pasangan harus sejenis. Artinya dari cowok pasangan yang satu ke cowok pasangan yang lain…”

Hhuuuu….

“Ketika gelang karet aku kasihkan ke pasangn pertama, aku akan memutar kaset lagu. Kalau tiba-tiba kaset aku matikan, di mana gelang karet itu berada, dia kena hukuman dari aku…. Begitu seterusnya…, Oke!?”

Hhuuu….

Cindy melangkah menuju meja yang ada di depan. Seorang teman cewek sudah menggigit tusuk gigi. Cindy menggantungkan gelang karet ke tusuk gigi itu, kemudian ia kembali ke panggung kecil di mana sudah ada tape-compo yang akan disetel untuk melengkapi dan meramaikan permainan itu.

“Siap…?” kata Cindy sampil telunjuknya menempel knop play tape-compo. “Satu…dua…tiga!!!”. Tape pun melantunkan lagu pop yang sedang trend.

Gelang karet berpindah dari satu tusuk gigi ke tusuk gigi yang lain, dengan kepala berdekatan ke pasangannya, dengan kedua tangan di belakang pantat. Suara sorak-sorak dan teriakan-teriakan ceria mewarnai permainan itu.

Suatu saat Cindy mematikan tape, dan gelang karet itu berada pada seorang temannya. Cindy memberi hukuman deklamasi di atas panggung kecil. Permainan dilanjutkan dan ketika tape dimatikan lagi, seorang temannya dihukum menari. Begitu seterusnya musik berlanjut dan perpindahan karet dsari tusuk gigi ke tusuk gigi yang digigit mulut itu semakin seru.

Perjalanan gelang karet yang diiringi suara riuh-rendah teman-teman Cindy, pada akhirnya mendekati pasangan Albert dan Arni. Tubuh Arni merasa gemetaran, entah mengapa. Ketika seorang teman lelaki Cindy memindahkan gelang karet kepada Albert, tubuh Arni semakin berkeringat.

“Ayo…ayo…ayo….!!!” teriak teman-temannya.

Karet yang menggantung di tusuk gigi Albert akan dipindahkan ke tusuk gigi yang digigit Arni. Kepala mereka berdekatan, bahkan mata Albert menatap wajah Arni dalam-dalam. Albert tidak melihat karetnya, tetapi ia memandangi mata Arni yang tampak gugup.

Semula Arni melihat karet yang akan berpindah itu. Tetapi ketika melihat mata Albert sedang menatapnya, kini mata Arni balik memandanginya. Mata mereka saling berpandangan… selama sekian detik.

Akibatnya karet yang akan dipindahkan itu terjatuh!

Huuuu…..

“Karet terjatuh…. harus dihukum…!” kata Cindy.

Kedua pasangan Albert dan Cindy tersadar dari romantikanya. Mereka pun tersenyum dan tersipu malu.

“Apa hukumannya, Teman-teman?”

Berbagai usulan diteriakkan oleh teman-temannya. Ada yang menyarankan agar dihukum menari, menyanyi, berpuisi, deklamasi dan seterusnya…

“Begini, begini..,” kata Cindy memenangkan. “Bagaimana kalau hukumannya … dansa!? Bagaimana…?”

“Setujuuuu…!”

“Ayo, Albert dan Arni, naik ke atas panggung….,” pinta Cindy.

“Ayo-ayo-ayo….!!!”

Albert akhirnya menggandeng tangan Arni dan segera mereka beranjak, berjalan menuju panggung kecil di mana Cindy sedang menunggunya.

“Kalian harus berdansa ya…?” pinta Cindy.

Arni berusaha memprotes tetapi suaranya kalah dengan riuh rendah teman-temannya dan suara Cindy yang dfiperkeras dengan mikrofon. Seakan tidak mempedulikan protes Arni, Cindy berjalan menuju tape-compo, mengganti kasetnya dengan kaset lain. Tidak lama kemudian terdengar suara piano yang melantukan lagu instrumental “Love Story”.

Albert akhirnya dengan percaya diri melaksanakan hukuman dari Cindy. Diraihnya tangan kiri Arni dengan tangan kanannya. Tangan kanan Albert meletakkan tangan kanan Arni ke pundak Albert sebelah kiri. Setelah itu, tangan kiri Albert meraih pinggang Arni. Mereka berdekatan… sangat berdekatan… hampir berimpit.

Arni masih merasa gugup dengan semuanya yang sedang terjadi saat itu. Apalagi ketika tubuh Albert seakan mendekapnya dan mengajaknya berdansa mengikuti alunan musik instrumentalia “Love Story”.

Teman-teman Cindy menyaksikan kedua pasangan Albert dan Arni sedang berdansa dengan mesranya. Mereka tidak bisa merasakan gejolak hati Arni yang sedang gugup, risau, gundah-gulana. Teman-temannya hanya bisa melihat seakan keduanya berdansa dengan romantis.

Albert kelihatannya cukup mahir berdansa dengan gemulai. Suara teriakan dan sorai-sorai teman-temanya seakan tidak terdengar di telinganya. Ia terus menikmati gerakan dansanya sambil membimbing gerakan Arni mengikuti iramanya.

Begitu alunan instrumentaslia “Love Story” selesai, pasangan Albert dan Arni pun selesai dan berhenti berdansa. Tetapi pegangan dan pelukan Albert belum bisa lepas, bahkan matanya kembali memandangi mata Arni dalam-dalam.

“Sudah-sudah…!!!” teriak teman-temannya.

“Oi…sudah oi…,” kata Cindy sambil bertepuk tangan menyadarkan Albert. “Tepuk tangan buat Albert dan Arni….”

Albert dan Arni kembali ke tempat duduknya.

“Terima kasih, Arni,” kata Albert membisik di dekat telinga Arni.

“Apanya…?”

“Terima kasih mau berdansa denganku…”

Permainan kembali dilanjutkan. Acara demi acara yang semarak memeriahkan ulang tahun Cindy. Wajah-wajah ceria anak-anak SMU International mencerminkan pergaulan masa kini yang serba hedonistis.

Di salah satu sudut Ruang Café Dahlia, Albert menyulut rokoknya. Sebagian teman lain sudah sedari tadi menikmati rokok mereka masing-masing. Bahkan ada sebagian teman cewek juga asyik menikmati kepulan asap rokok yang dihembuskan dari mulutnya yang masih mungil itu.

“Mencoba rokok…?” tanya Albert menawarkan rokoknya pada Arni.

Arni menggeleng agak takut-takut.

“Tidak apa… biasa saja… tuh teman-teman kita juga merokok,” kata Albert berusaha membujuk Arni. “Bahkan mereka ada yang minum minuman beralkohol… Itu-tuh lihat yang di sana itu… Yah, beginilah Jakarta…”

Arni tetap menggeleng.

“Coba satu aja dulu, rasakan… Kalo tidak enak ya dibuang aja…”

Albert berusaha menyeli1pkan sebatang rokok ke mulut Arni. Kepala Arni berusaha mundur-mundur untuk menghindarinya. Tetapi rokok yang diselipkan Albert ke mulut Arni sudah menancap di bibirnya. Albert segera menyulutkan korek api ke rokok yang sudah di mulut Arni.

“Hisap rokoknya… hisap pelan-pelan…,” kata Albert.

Arni berusaha menghisapnya.

“Ugh-ugh-ugh….,” Arni tiba-tiba terbatuk.

“Masih pertama kali, tidak apa-apa…,” kata Albert sambil terus membujuk Arni untuk menghisap rokok itu pelan-pelan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: