Dua Sisi Wajah 12

HAMPIR setiap malam Suparti membaca al-Qur’an dan berdoa untuk arwah ibunya. Seringkali pula air matanya menetes membasahi pipinya. Dulu ia yang lebih ceria dan modis dibanding Suparni, kini ia menjadi lebih berperasaan dan naluri wanitanya tumbuh sejalan berbagai peristiwa yang dialaminya. Jilbabnya juga semakin rapat dan perilakunya sebagai muslimah sangat dijaga. Untungnya ada Bang Lutfi, seorang kakak kelasnya yang duduk di kelas 3, yang mensupport bahkan membimbing secara pribadi pemahamannya tentang hakikat agama.

Sementara itu, di malam yang sama tetapi di tempat yang berbeda, Suparni juga membaca al-Qur’an tetapi tidak mendoakan ibunya karena ia belum mengetahui kalau ibunya sudah meninggal akibat bencana banjir bandang. Malam itu, di dalam kamarnya yang sejuk ber-AC, Suparni sedang membaca al-Qur’an. Ia sudah tidak berjilbab lagi. Pergaulannya yang sangat modern dan lingkungan yang borjuis menuntutnya melepas jilbabnya. Dulu Suparni yang lebih sopan, santun dan ketat akan jilbabnya daripada Suparti, kini justru melepas jilbabnya. Tetapi untungnya ia masih lengkap sholatnya dan masih rajin mambaca al-Qur’an.

Halaman demi halaman dibuka dan dibaca oleh Suparti dan Suparni, pada malam yang sama di tempat yang berbeda. Sebagai saudara kembar, mereka pun sedikit banyak mempunyai insting yang sama. Begitu juga pada malam itu. Meskipun dimulai dengan bacaan yang tidak sama, tetapi tiba-tiba menjelang akhir bacaan mereka membaca surat dan ayat yang sama, yaitu:

“Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang ghaib; tiada yang tahu kecuali Dia sendiri dan Dia tahu yang di darat dan di laut dan tiada sehelai daunpun gugur selain Dia mengetahuinya dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak suatu basah atau kering, selain tertulis dalam kitab nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. 6. Al-An-‘am 59)

Keduanya tercenung membaca kandungan isi ayat al-Qur’an itu. Inikah suatu keghaiban itu? Yang menuntun Suparti dan Suparni membaca ayat yang sama, pada kegelapan malam yang sama, tetapi di tempat yang berbeda?

Suparti mencium al-Qurannya yang sudah kumal dan kecoklatan kertasnya. Suparni pun mencium al-Qur’annya yang masih putih kertasnya. Suparti melipat mukena dan sajadahnya yang sudah agak dekil dan bau. Suparni pun melipat mukena dan sajadahnya yang masih bersih dan wangi. Suparti berjalan menuju ke tempat tidur di mana bapaknya sudah lama terlelap. Suparni pun berjalan menuju ke tempat tidur yang masih tertata rapi dengan selimut tebal itu atasnya.

Mata Suparti menerawang ke langit-langit kamar yang langsung kelihatan genting dan kuda-kuada atap yang melengkung karena konstruksi yang tidak kuat dan tidak sempurna. Mata Suparni juga menerawang ke langit-kangit kamarnya yang bersih dengan ornamen yang indah serta lampu kristal kecil yang redup menerangi kamarnya. Suparti membayangkan wajah saudara kembarnya, demikian pula Suparni.

Malam semakin larut, Jakarta pun diterangi lampu-lampu berwarna-warni, baik di jalan-jalan maupun di gedung-gedung pencakar langitnya. Sebagian penduduk mulai terlelap, sebagian lain memulai dunianya… dunia malam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: