Dua Sisi Wajah 11

SUDAH sekitar enam bulan Suparni dan Suparni sudah tinggal di Jakarta, dengan kehidupan yang dipisahkan oleh takdir melalui kecelakaan bis yang ditumpanginya. Musibah demi musibah seakan beruntun menimpa keluarganya. Kedua anak kembar – yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik – belum mengtahui nasib kakak dan mboknya yang menerima musibah pula di desanya, musibah banjir tahunan yang kali ini ternyata jauh lebih dasyat, melumatkan rumahnya yang berada tidak jauh dari tepian Sungai Bengawan Solo.

Selama enam bulan pula gadis kembar itu terpisah di kamar masing-masing. Suparni – yang kini dipanggil Arni – takdirnya diadopsi keluarga kaya yang tidak dikaruniai anak. Rumahnya sangat mewah di bilangan kawasan elite Pondok Indah. Kamarnya selayaknya hotel berbintang 5 dengan AC dan perabot mewah, dilengkapi dengan TV dan perangkat audio lainnya. Sedangkan Suparti – yang kini dipanggil oleh pacarnya dengan nama Arti – tidur di sepetak kamar yang kecil bersama ayahnya di rumah kontrakan pakliknya di kawasan kampung yang agak-agak kumuh.

Pada hari minggu itu, sementara orang kantoran sedang menikmati liburan akhir pekannya, tetapi Sugeng tetap harus sibuk dengan bengkel sepeda motor dan tambal bannya. Demikian pula istrinya yang menunggui kios rokoknya yang berada tepat di depan bengkel suaminya. Suatu fenomena sosial dari keluarga kecil yang serba tidak menentu mengais hidup di Jakarta.

Tiba-tiba dari salah satu ujung jalan raya, tampak Suparti berlarian sambil menjinjing keranjang belanjaan. Larinya yang masih pincang dan tergopoh-gopoh membuat barang bawaannya hampir terjatuh.

“Paklik…!! Buliikk..!!!” teriak Suparti ketika sudah mendekati bengkel paklik dan kios buliknya. “Mas Pardi datang…!!!!”

Tidak jauh di belakang Suparti memang tampak seorang lelaki agak kumuh dengan membawa bangkelan yang disampirkan di pundak dengan ujung dipegang erat tangan kanannya. Lelaki itu memang Supardi, kakaknya Suparti.

Paklik dan buliknya Suparti keluar bengkel melihat apa yang terjadi. Mengapa Suparti berlari-lari sambil teriak-teriak.

“Supardi????” mulut Sugeng tampak bergerak tanpa mengeluarkan suara.

“Paklik, Mas Pardi datang!!!” teriak Suparti sambil menabrak lalu memeluk pakliknya yang masih terbengong.

“Di, mana mbokmu?” tanya Sugeng.

Supardi tiba-tiba terduduk di hadapan pakliknya, mungkin saking lelahnya atau stress yang menimpa dirinya selama ini.

“Paklik…. Bulik….,”

Pakliknya jadi ikut jongkok. Tangannya memegang wajah Supardi yang tampak kusut dan tubuh yang lemas.

“Ada apa, Di?” tanya Sugeng sambil menatap wajah keponakannya itu dengan dalam-dalam.

Bulik Yuni mengambil teh botol dalam kotak di samping kios rokoknya, lalu kembali menuju Supardi yang masih terduduk di tanah.

“Minum dulu, Di,” kata Bulik Yuni sambil menyodorkan teh botol dingin.

Supardi menyedot teh botol itu. Ia sangat haus.

“Ayo, masuk dulu….,” Sugeng memapah Supardi masuk ke dalam bengkel. Di dalamnya terdapat meja kursi reyot yang sengaja disediakan untuk orang-orang yang sedang menunggu sepeda motornya diperbaiki di bengkel. “Tenang Di,… tenangkan pikiranmu….”

Supardi mengatur napasnya yang masih terengah-engah. Tangannya mengusap wajahnya berusaha menenangkan diri. Perlahan napasnya mulai teratur…

Ono
opo, Mas…? Ibu nggak ikut…???” tanya Suparti pelan.

“Ibu… ibu sudah……,” Supardi tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Ada apa dengan mbokmu, Di?” tanya Sugeng.

“Bagaimana ibu, Mas?” tanya Suparti.

Supardi menyandarkan punggungnya ke punggung kursi. Pandangannya menerawang ke atas. “Ibu sudah tidak ada….”

“Tidak…! Tidaaak…!!” Suparti menggeleng-geleng tak percaya. “Ibuuu!!!!!”

“Yu Widji…???” Sugeng pun merasa tidak percaya.

“Mbakyu Widji….???” demikian pula Bulik Yuni tiba-tiba menjadi lemas.

Suparti menangis sekeras-kerasnya, Sugeng berusaha menenangkannya.

“Sudah-sudah…. kita ke rumah saja,” kata Sugeng yang berusaha untuk tabah. “Dik Yuni, kita tutup bengkelnya…”

Bulik Yuni mengemasi kios dan memasukkannya ke bengkel. Dengan suami, mereka bergegas menutup bengkel dan segera pulang ke rumah kontrakannya.

Wajah Pak Bedjo tampak kosong, tetapi dari kedua kelopak matanya mulai berkaca-kaca oleh air mata.

“Widji…” bisiknya perlahan. Ia merasa menyesal meninggalkan istrinya dan pergi ke Jakarta. Tetapi harus bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Mengapa musibah begitu beruntun. Kecelakaan yang memisahkan Suparni dengan mereka, dan kaki kirinya terpaksa diamputasi. Sementara itu, pada saat yang sama di malam yang naas itu, di desanya dilanda badai hebat. Banjir melibas rumahnya dan… istrinya.

Sejak banjir bandang menyapu desanya, Supardi kehilangan ibunya yang diseret banjir. Ia sudah bersusah payah mencari ibunya, bahkan hampir nyawanya ikut terseret banjir jika tidak ada seorang tetangga yang menggamit tangannya.

Baru dua hari kemudian Supardi menemukan mayat ibunya yang tersangkut sebuah pohon besar yang tumbang, 50 meter dari rumahnya yang roboh hancur berkekeping-keping. Perasaannya pun juga hancur melihat mayat ibunya yang mulai membusuk. Seorang ibu yang sangat dicintainya… dicintai anak-anaknya dicintai keluarganya… yang membantu suaminya dengan kerja keras di warung….

Setelah kematian ibunya dan hancurnya rumahnya akibat banjir bandang pada malam itu, Supardi praktis tidak mempunyai apa-apa. Ia memutuskan pergi ke Jakarta dengan naik truk sambil membantu sopir dan keneknya untuk bongkar-muat barang.

Di Jakarta, Supardi tidak mengetahui alamat pakliknya. Ia terpaksa bertahan hidup di terminal bongkar-muat. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan Supardi bekerja di terminal bongkar-muat di salah satu kawasan industri di Jakarta. Berbagai jenis barang bongkar-muat yang ada di terminal itu. Dari sana lantas didistribusikan lagi ke pasar-pasar yang tersebar di Jakarta. Setelah berbulan-bulan lamanya, ketika ia membongkar barang pecah-belah di suatu pasar, di sanalah ia akhirnya dengan tak sengaja bertemu dengan Suparti yang sedang belanja di pasar itu.

Mereka berkumpul kembali di rumah kontrakan Sugeng – kecuali Suparni – dengan suasana yang mengharukan. Suparti masih terisak disamping bapaknya.

Malam harinya, selesai makan malam, mereka berembug membicarakan rencana selanjutnya, terutama masa depan anak-anak Pak Bedjo.

“Sudahlah, Kang…,” kata Sugeng. “Biar Parti dan Pardi di sini dulu. Biar Pardi membantu aku dan Parti membantu buliknya. Mas Bedjo di sini juga…”

“Aku sudah merepotkanmu, Geng,” kata Pak Bedjo.

“Sudahlah, Kang,… Namanya juga takdir…” kata Sugeng.

Dari pintu depan tiba-tiba terdengar pintu diketuk “Tok-tok-tok…” dan suara “Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh…,”

Suara itu sangat dikenal Suparti, sehingga ia beranjak menuju pintu depan sambil membersihkan pipi dari air mata.

“Eh.., Bang Lutfi…” kata Suparti setelah membuka pintu dan melihat seseorang yang berdiri di depannya. “Silakan masuk…”

“Kamu tadi nggak maghriban di mushalla…?” Lutfi tiba-tiba melihat mata Suparti yang agak memerah. “Ada apa, Arti?”

Suparti hanya bisa terdiam, tetapi ia masih sempat menyilakan Lutfi untuk duduk di ruang tamu.

“Kamu baru menangis, ya…?”

“Ibuku sudah meninggal…”

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun…” Lutfi hanya bisa tertunduk dan terdiam begitu saja…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: