Dua Sisi Wajah 10

SUDAH beberapa minggu ini Arni bersekolah di SMU International. Pergaulannya dengan teman-temanya ternyata masih ada jarak dengan logatnya yang masih kelihatan ndeso-nya.

“Aku harus gimana, Ma?” tanyanya suatu ketika pada Nia.

“Ya, pelan-pelan. Tidak mudah memang merubah kebiasaan. Makanya banyak melihat teve dan sering jalan ke mal melihat perkembangan model. Biasakan gaul,” kata Nia mnjelaskan. “Sudahlah… itu masalah kecil, kok. Jangan terlalu dipikirin…,”

“Eh Ma,… tapi ada seseorang yang berusaha mendekatiku, lho…,” kata Arni agak berbisik.

Nia tersenyum.

“Siapa?” tanyanya pendek.

“Albert…,”

“Dari namanya…, apakah ia anak indo…?”

Arni mengangguk.

“Tapi aku takut, Ma… Sementara yang lain menjaga jarak denganku, tapi Albert kok justru mendekatiku…”

“Ya mungkin ada sesuatu darimu yang sangat menarik baginya…,”

“Apanya yang menarik…??”

“Ya mungkin matamu,… hidungmu…, bibirmu,…,” Nia tersenyum melihat pubersitas ‘anak’nya. Kemudian ia memeluk Arni. “Sudahlah,… anggap semuanya itu biasa saja… biarlah berlalul apa adanya…”

Pagi hari keesokan harinya, terdengar suara bel menggema. Ada seseorang yang memencet bel di pintu gerbang depan.

“Non, ada yang mencari Non Arni…,” Bi Imah berlari-lari kecil menuju ke ruang tengah, di mana Arni, Nia dan Edi hampir menyelesaikan sarapannya.

“Siapa, Bu Imah?”

“Nggak tahu, tuh. Tapi ia memakai seragam seperti Non Arni….”

Arni memandangi Nia dan Edi silih berganti. Ia melihat mamanya tersenyum.

“Itu pasti Albert…,” kata Nia. “Lumayan buat Papa, karena Pak Parno bisa mengantar Papa ke kantor. Suruh ia masuk, Bi!”

“Baik Nyonya…,” Bi Imah kembali ke depan mempersilahkan Albert masuk.

“Ayo temui temanmu itu…,” ujar Edi kepada Arni.

“Ya, Pa…,” Arni menyerbet mulutnya dengan lap.

Di ruang tamu, Arni sudah menjumpai Albert sedang duduk di salah satu kursi di ruang tamu. Ia berdiri ketika melihat Arni datang.

“Kita berangkat ke sekolah sekarang…?”

“Kok gak janjian dulu…,”

“Biar surprise…,” jawab Albert singkat sambil tersenyum.

“Aku ta’ ambil tas dulu ya…?”

“He-eh…,”

Kaki Arni yang sudah sembuh, berjalan seperti biasa. Bahkan ia berlari kecil menuju kamarnya untuk mengambil tas sekolahnya. Begitu keluar dari kamar sambil menjinjing tasnya, ia menghampiri Nia dan Edi.

“Arni berangkat, Ma…,” diciumnya pipi mamanya. “Arni berangkat, Pa,” diciumnya pipi papanya.

“Ya, hati-hati…,”

“Om, Tante, kami berangkat dulu,” kata Albert pamitan.

Arni berjalan di belakang Albert. Sementara itu, di depan rumah ternyata sudah menunggu mobil sedan Audi milik Albert – atau milik orang tuanya Albert tetapi buat Albert. Agak romantis ketika Albert membukakan pintu buat Arni, lalu Albert sendiri masuk melalui pintu diseberangnya dan duduk di belakang setir.

“Oke, kita berangkat…,”

Dan mobil Audi itu melaju meninggalkan rumah di kawasan Pondok Indah menuju SMU International. Nia dan Edi ternyata mengintip dari balik kaca rumah.

“Anak kita sudah pacaran…,” kata Nia sambil melirik suaminya.

“Anak kita langsung besar…,” kata Edi sambil tersenyum. “Aku berangkat ke kantor dulu, Ma. Kamu tidak pesan apa-apa?”

“Tidak, Pa. Aku sudah bahagia selama ada Arni…,” jawab Nia seraya merebahkan kepalanya di dada suaminya dan merangkul suaminya yang penuh pengertian itu.

Edi mencium kening Nia.

“Aku berangkat dulu, Ma,” pamit Edi.

“Hati-hati di jalan, Pa…”

“Ayo, Pak Parno, kita berangkat,” kata Edi pada Pak Parno yang saat itu sedang menyelesaikan usapan terakhir membersihkan Jaguar Silver yang biasa dipakai Edi ke kantor. “Tasku nggak lupa, Pak Parno?”

“Tidak, Pak,” kata Pak Parno seraya membukakan pintu untuk juragannya itu. “Saya berangkat dulu, Bu Nia…” kata Pak Parno berpamitan kepada Nia yang bediri tidak jauh dari mobil.

“Hati-hati, Pak Parno.”

Jaguar Silver itu mundur perlahan, keluar dari gerbang dan segera melaju meninggalkan rumah. Nia masih sempat melihat suaminya dari dalam mobil yang memberinya salam kiss-bye dan segera dibalasnya dengan salam kiss-bye dan senyum yang masih terlihat manis.

Bi Imah menutup pintu gerbang.

Sepanjang perjalanan menuju SMU International, Albert tampak asyik mengobrol dengan Arni.

“Setiap hari kita berangkat dan pulang sekolah sama-sama, ya?”

Gak
ah, merepotkan kamu saja… Terima kasih.”

“Nggak apa kok, aku senang ada teman ngobrol.”

Arni terdiam…

“Gimana…?”

“Eh…anu, aku tanya Mama dulu, deh?”

“Tanya Mama? Aduuuh dasar anak Mama, gitu aja tanya Mama…”

“Ya abis, kalo tanya kamu pasti jawabannya ya…”

“He-he-he…, pintar juga kamu,” kata Albert tersenyum.

Ketika mobil Albert masuk gerbang SMU International, ia berpapasan dengan teman-temannya. Sebagian teman wanitanya ada yang tampak sirik. Ada yang mencibir, membuang muka atau ngedumel tidak tahu apa yang diumpatnya…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: