Dua Sisi Wajah 09

SALAH satu sudut lain di Kota Jakarta masih terdapat kampung-kampung yang terbilang agak kumuh. Masih ada gang-gang sempit untuk menuju ke suatu rumah. Dan di salah satu mulut gang yang menghubungkannya ke suatu jalan raya, terdapat bengkel sepeda motor dan tambal ban yang di depannya ada kios rokok.

“Mas Sugeng! Ada yang mau tambal ban…,” teriak seorang perempuan dari kios rokok memanggil suaminya yang sedang memberpaiki sesuatu di dalam bengkel. “Mas, ada yang mau tambal ban!!”

“Ya-ya…”

Seorang lelaki berperawakan agak muda, berumur sekitar 30-an tahun, keluar dari bengkel. Kedua tangannya tampak bekas olesan hitam seperti oli.

“Pak, tolong tambal ban, Pak,” kata seorang lelaki dari atas sepeda motor.

“Baik, Pak, silakan menunggu di dalam…”

Dengan sigap Sugeng mengeluarkan peralatan tambal ban. Tidak lama setelah Sugeng mengeluarkan peralatan tambal ban, Suparti muncul dari mulut gang sambil membawa segelas kopi untuk pakliknya.

“Lik Sugeng, ini kopinya…” Suparti berjalan agak terpincang-pincang Kepalanya masih tertutup jilbab. Dari tangannya yang memegang baki tampak beberapa luka jahitan. “Bulik Yuni nggak ke pasar?”

Kowe tunggu kios rokok ae, Ti,” kata Buliknya.

“Ya, Bulik.”

“Ti, bapakmu piye?” tanya Sugeng sambil mengecek bocornya ban dalam yang dimasukkan ke bak yang berisi air. “Jangan banyak kerja macam-macam lho….”

“Nggak kok, Paklik…,” jawab Suparti. “Gimana bisa macam-macam, lha
wong jalan ae masih susah…”

Pak Bedjo, bapaknya Suparti, memang tidak seperti dulu lagi. Kini kakinya tinggal satu, sebelah kanan saja. Sejak kecelakaan dulu, Pak Bedjo yang berusaha melindungi Suparti mengalami patah tulang di beberapa tulang rusuk. Kaki kirinya patah tertindih bongkahan besi kursi di depannya. Akibat beberapa tulang rusuk yang patah, posisi badannya kalau berjalan jadi miring. Kaki kirinya diamputasi dan ia berjalan dibantu dengan tongkat penyangga.

“Belum ada kabar dari Masmu, Nduk?” tanya Sugeng lagi.

“Belum, Paklik.”

Sudah hampir sebulan, sejak musibah kecelakaan itu terjadi, Pak Bedjo dan Suparti akhirnya bisa sampai ke rumah Sugeng berkat bantuan semua phak, baik polisi maupun rumah sakit yang menolong mereka.

“Ada kabar dari Parni?”

“Belum…”

Dari banyaknya orang yang hilir mudik di jalan raya itu, sebagian ada yang membeli rokok atau air minum kemasan botol atau gelas plastik di kios yang dijaga Suparti, sedang beberapa orang memompa sepeda dan sepeda motornya.

Kowe jam piro sekolah, Nduk?”

“Jam dua belas…”

Setelah Bulik Yuni berbelanja di pasar dan memasak di rumah, Bulik Yuni kembali ke kios dan Suparti mempersiapkan diri ke sekolah di MA Aisyiah yang berlokasi tidak jauh dari rumah kontrakan pakliknya.

Madrasah Aliyah Aisyiah, tempat sekolah Suparti, berada di perkampungan yang masih kental adat Betawinya, bahkan beberapa sepertinya keturuan Arab. Tetapi dari pola perkampungannya tidak jauh beda dibandingkan di desanya dulu. Di Jakarta ternyata masih ada beberapa sudut yang seakan tersisihkan dari hiruk-pikuknya modernitas metropolitan.

Pulang dari sekolah sekitar jam 5 sore, Suparti suatu hari diantar oleh seorang pria temannya yang mengendarai motor agak butut.

“Siapa itu?” tanya bapaknya ketika melihat Suparti diantar seseorang pria temannya. “Ati-ati dengan orang yang baru kamu kenal…”

“Teman sekolah, Pak,” jawab Suparti.

“Nggak usah terlalu dikuatirkan, Kang, biasa anak muda,” kata Sugeng membela keponakannya.

Lha ini Jakarta, lain dengan di desa,” tukas Pak Bedjo tidak mau kalah. Kemudian ia mendesah panjang sambil menghembuskan asap rokoknya yang mengepul ke atas. “Suparti….,” desahnya pelan kepada dirinya sendiri, “Bagaimana keadaan saudara kembarmu Suparni, ya? Di mana dia sekarang…? Bagaimana keadaannya…?”

“Orang desa yang hilang di Jakarta ini susah ketemunya. Kita doakan saja ia selamat ditolong orang…,” kata Sugeng penuh optimisme.

“Iya kalo ditolong orang…, iya kalo orang yang menolongnya itu masih orang yang baik-baik…, lha kalo orang yang menolongnya itu orang nggak baik, gimana?”

“Ya kita doakan semoga ia baik-baik saja.”

“Iya…, tapi kalo nggak lihat langsung ya gimana bisa tenang. Lha
wong yang punya anak itu aku… bukan kamu,” kata Pak Bedjo agak kesal.

Sugeng terdiam mendengar ucapan kakaknya itu. Ia menyadari dirinya yang belum punya anak sehingga tidak bisa merasakan bagaimana kalau kehilangan anak. Ia terdiam beberapa saat sambil memainkan batang rokoknya yang masih berasap.

“Maaf, aku nggak bermaksud menyinggung perasanmu…”

“Ya, Mas, aku ngerti, kok…,”

Ketika terdengar suara adzan maghrib berkumandang dari mushala yang berada tidak jauh dari kampung rumah kontrakan Sugeng, Suparti telah menyiapkan mukena dan sajadahnya.

“Mau ke mana, Nduk…,” tanya bapaknya terheran-heran.

“Mau ke mushala, Pak,” jawab Suparti.

“Dungaren…,”

“Berangkat dulu, Pak…” kata Suparti sambil melesat keluar rumah walaupun dengan terpincang-pincang sedikit.

Jarak mushala dengan rumah kontrakan Sugeng sekitar 20 meter. Suparti tiba di mushala tepat ketika iqamat dikumandangkan. Seorang pemuda mengenakan baju koko, berkopiah dan bersarung mengambil posisi sebagai imam. Pemuda itu ternyata lelaki yang pulang bersama Suparti.

Suara takbir yang keluar dari mulut pemuda itu kemudian dilanjutkan dengan al-Fatihah. Bacaannya sangat merdu dan fasih. Rekaat demi rekaat tampak dilakukan dengan khusyu’ yang diikuti oleh beberapa puluh jemaah dari kampung-kampung yang ada di sekeliling mushala itu.

“Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh…..,” imam muda itu menolehkan kepalanya ke kanan, “Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh,” lalu menolehkan kepalanya ke kiri. “Astaghfirullahal aziim…,” diusapkannya kedua telapak tangannya ke muka.

Setelah bersalaman dengan beberapa jemaah yang ada di belakangnya, imam muda itu meraih tasbih yang dikantonginya. Kemudian ia tampak asyik khusyu’ memutar tasbih, bertahlil, bertahmid, bertakbir dan seterusnya. Selesai memutar tasbih, imam muda itu menengadahkan kedua tangannya dan berdoa pada Tuhan.

Tidak berapa lama kemudian, tampak beberapa anak kecil laki dan perempuan – berumur sekitar 7-10 tahun – mengerumuni imam muda tadi.

“Assalamu ‘alaikum, Kak Ustadz…,” sapa mereka hampir bersamaan, seraya satu persatu mereka menyalami dan mencium tangan ustadz muda itu.

“Wa ‘alaikum salam…,” jawabnya. Ia kemudian memandang Suparti dan memanggilnya, “Arti, sini sebentar…”

Suparti, yang masih mengenakan mukena, kemudian berbaur dengan sekitar 20 anak-anak kecil yang tampak lugu dan lucu-lucu itu.

“Nah, Adik-adik sekalian, terutama yang perempuan, kini kalian mendapat guru baru. Namanya Kak Ustadzah Arti…,” katanya memperkenalkan.

“Terima kasih, Kak Ustadz Lutfi… Assalamu ‘alaikum, Adik-adik…,”

“Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh….!!” jawabnya serempak.

“Baiklah, mulai sekarang kita dibagi dua antara santri laki-laki yang ikut saya dan santriwati yang ikut Kak Arti di sebelah sana…,”

Terdengar suara riuh-rendah suara mengaji anak-anak yang sepertinya saling bersaut-sautan… seakan-akan berlomba-lomba siapa yang paling keras suaranya…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: