Dua Sisi Wajah 08

SIANG itu Arni duduk di atas kursi rodanya di kebun belakang. Ada air mancur kecil dan kolam ikan tepat di bawah air mancur. Dilihatnya ikan-ikan emas yang bercanda, berenang berkejaran sambil menikmati gemericik air mancur.

“Arni sayang…,” terdengar suara Nia yang baru datang dari usahanya mencari sekolah buat Arni. Ia masih membawa tas dan segulungan kertas berbagai informasi dari berbagai macam sekolah SMU. “Ini, Mama telah menemukan SMU yang cocok buat kamu, Sayang…”

Semua promosi SMU swasta yang disodorkan Nia adalah SMU swasta yang favorit di Jakarta. Di dalamnya dijelaskan berbagai kurikulum yang sekuler dengan biaya yang tidak terbayangkan oleh Arni.

“Tidak di Madrasah Aliyah…?” tanya Arni.

“Madrasah Aliyah…?” ganti Nia balik bertanya. “Begini, Arni,… Mama berusaha mencarikan yang terbaik bagimu. Dan sekolah ini sudah terbukti banyak diminati kalangan yang berpendidikan dan lulusannya juga diakui oleh masyarakat dan dunia usaha…”

Arni tidak bisa berbuat banyak dengan segala kemanjaan yang diberikan oleh Nia dan Edi. Ia hanya bisa menurut dan menurut. Bahkan untuk masalah jilbab, ia pun mendapatkan penjelasan yang lain dari Nia.

“Begini, Sayang…,” Nia memulai penjelasannya, pada suatu malam di atas kasur di dalam kamar Arni. “Jilbab itu hanya sarana, bukan tujuan. Begitu pula sholat dan ibadah lainnya, semuanya itu hanya sarana dan bukan tujuan. Yang penting adalah hati dan berbuat baik kepada orang lain, tidak benci orang, tidak dendam…”

Di rumah Nia dan Edi memang tidak tampak hiasan, ornamen atau kaligrafi yang bernafaskan Islam, meskipun mereka mengaku beragama Islam. Bahkan mereka pun jarang kelihatan sholat. Tetapi hati Nia dan Edi diakui Arni sangat baik, bahkan tidak hanya kepadanya tetapi juga kepada Bi Imah, Bi Yati dan Pak Parno.

Penjelasan Nia sangat logis. “Tapi bisakah aku?” tanya Arni pada diri sendiri.

“Sekarang tidurlah… besok pagi kita mendaftar di SMU International,” kata Nia seraya mencium kening Arni dengan penuh kasih sayang.

“Selamat tidur, Ma, assalamu ‘alaikum…,” kata Arni yang mengagetkan Nia ketika akan meninggalkan kamar Arni.

“Eh,..ya,… wa’alaikum salam…” jawab Nia agak gagap.

Arni sudah mulai terbiasa di rumah barunya sejak ia tinggal di sana selama sekitar dua minggu. Keadaannya pun sudah agak membaik meskipun masih harus dibantu dengan tongkat penopang untuk berjalan.

Pagi itu Arni sudah bisa mandi sendiri, berjalan tertatih-tatih dengan dibantu tongkat penopang menuju kamar mandi. Ia pun menyiapkan diri untuk bersama Nia hari itu akan mendaftarkan diri ke SMU International.

Nia dan Edi agak terkejut melihat penampilan Arni pagi itu. Rambutnya yang hitam sebahu tergerai ke bawah. Dengan tanpa jilbab, ia tampak lebih cantik karena keindahan rambutnya melengkapi kecantikan wajahnya.

“Kamu kelihatan sangat cantik, Sayang…,” puji Nia. “Ayo kita sarapan dulu. Pa, hari ini aku dan Arni akan mendaftar di SMU International sekalian langsung membayar semua administrasi, seragam, buku dan lain-lain.”

“Semuanya berapa, Ma?”

Nia menyebut angka yang sangat fantastis. Mata Arni hanya bisa melotot dan mulutnya melongo mendengar angka sebesar itu. Di desa Arni, uang sebesar itu bisa untuk membeli rumah!

“Ada apa, Sayang?” tanya Nia melihat mimik wajah Arni bengong.

“Ah…, tidak apa-apa, Ma…”

Pagi itu Edi berangkat ke kantor sendiri dengan mengendarai Jaguarnya. Sedangkan Pak Parno memakai BMW untuk mengantar Nia dan Arni mendaftar ke SMU International.

Sepanjang perjalanan Arni masih banyak melamun. Di sela-sela pemandangan meropolitan yang banyak diwarnai dengan tingginya gedung-gedung pencakar langit, padatnya lalu lintas di jalan-jalan protokol dan sibukmya orang yang berlalu-lalang, tetapi di dalam benak Arni masih terbayang-bayang keluarganya.

Arni sudah berada pada posisi yang sangat sulit. Di satu sisi ia menginginkan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya yang sangat sederhana dan bersahaja. Tetapi pada saat yang sama, di sisi lain ia pun harus tahu berterima-kasih kepada pasangan suami istri Nia dan Edi yang telah menyelamatkan nyawanya, merawat dan memelihara bahkan kini menyekolahkan di SMU swasta favorit. Jika dihitung-hitung dengan uang, pasti Arni dan keluarganya tak mampu menggantinya.

Di antara berkecamuknya pikirannya itu, masih ada kesempatan bagi Arni berkumpul kembali dengan keluarganya, karena Nia dan Edi telah berjanji untuk mencari keberadaan saudararnya dan bapaknya. Ia berharap Suparti dan bapaknya sudah berada di rumah pakliknya yang ada di Jakarta. Ia sendiri tidak tahu alamat apalagi rumah pakliknya itu. Seumur-umur baru kali ini Arni menginjakkan kakinya di Jakarta, bahkan langsung diambil anak oleh keluarga kaya.

Di sebuah gedung sekolah yang berhalaman luas, dilengkapi lapangan tenis dan lapangan basket, BMW yang dikendarai Pak Parno memasuki gerbang yang dijaga oleh beberapa orang satpam.

“Selamat pagi, Ibu Nia…,” kata seorang wanita pengajar dengan ramah. Ia tampaknya merangkap sebagai kepala sekolah SMU International. “Dan… ini pasti Arni yang diceritakan Ibu Nia yang akan sekolah di sini. Selamat datang Arni. Bagaimana kesehatanmu? Semoga kamu cepat pulih, belajar dan bermain dengan teman-temanmu di sini…” Wanita itu menyalami Nia dan Arni.

“Selamat pagi, Bu Anastasia…,” sapa Nia tidak kalah ramah.

“Mari…mari, silakan duduk,” wanita yang seumuran dengan Nia itu mengajak tamunya duduk di ruang tamu. Di sudut ruang tamu itu ada sofa yang mengesankan kemewahan, karena dialasi karpet dan mejanya dihiasi vas bunga yang indah.

“Kami ingin segera menyelesaikan administrasi di sini, Bu,” kata Nia.

“Sementara kita menyelesaikan administrasi, mungkin Arni ingin melihat-lihat fasilitas yang ada di sini…? Bu, Betty…, tolong antar Arni berkeliling sekolah. O iya, Bu Betty, kita khan punya persediaan kursi roda. Tolong, Pak Mamat, ambilkan kursi rodanya buat Arni, biar ia bisa menikmati berkeliling melihat-lihat sekolah barunya.”

Ternyata fasilitas sekolah SMU itu sangat lengkap, bahkan sampai kursi roda yang diperuntukkan siswa-siswa yang mendapat musibah seperti Arni. UKS – atau Unit Kesehatan Sekolah – di SMU International cukup lengkap dengan mempunyai dokter dan tenaga medis untuk P3K.

Setelah Pak Mamat mengantarkan kursi roda dari UKS, Bu Betty mendorong kursi roda di mana Arni telah duduk di atasnya. Ia diantar berkeliling melihat fasilitas sekolah yang serba lengkap dan…wah! Tidak bisa dibandingkan dengan MTs Arni yang ada di desanya. Jauh… sangat jauh berbeda.

Hampir setengah jam Arni dan Bu Betty berkeliling melihat-lihat seluruh fasilitas SMU International. Mereka kembali ke ruang tamu di mana Nia dan Bu Anastasia masih kelihatan asik mengobrol.

“Bagaimana, Arni? Selamat datang di sekolah barumu…”

“Kamu menyukainya, Sayang?” tanya Nia, sambil membantu Arni berdiri dari kursi rodanya dan meletakkan tongkat penopang di antara kedua tangannya.

Arni menganggak sambil tersenyum.

“Baiklah, kami pulang dulu, Bu Anas…”

“Baiklah, Bu Nia, terima kasih. Sampai Senin depan, Arni,” kata Bu Anastasia mengantarkan kedua tamunya itu hingga ke mobil. Seorang satpam membukakan pintu untuk Nia, sedangkan Pak Parno membantu Arni duduk di jok belakang.

Nia melambaikan tangan kepada Bu Anastasia, Bu Betty dan Pak Mamat yang dibalas dengan ramah oleh mereka.

“Nah, Sayang…,” kata Nia sambil menoleh ke arah Arni, sementara Pak Parno mulai melajukan BMW dan meninggalkan gerbang sekolah SMU International. “Kita sekarang ke mana? Kita keliling Jakarta aja, ya…?”

“Terserah, Mama, aja deh…”

Akhirnya Arni mulai bisa menikmati keceriaannya dengan segala fasilitas dari Nia yang sangat mewah bagi Arni. Apa pun yang melekat di tubuh Arni pun terbilang sebagai barang mahal, mulai sepatu, baju, perhiasan, jam tangan dan lain-lain. Bahkan ia pun sekarang mulai diperkenalkan dengan HP.

“Mana HP-mu, Sayang…?” tanya Nia.

“Ada di tas, Ma…”

“Eee jangan di tas, taruh di saku baju atau celana,”kata Nia. “Coba aku bel…”

Tidak lama kemudian terdengar tone HP Arni berbunyi. Dengan segera Arni menjawab telpon percobaan dari Nia.

“Ya, halo, Mama…?”

“Halo, Sayang….” Nia tersenyum melihat banyak kemajuan yang dialami oleh Arni selama ini. Ia lalu menutup HP-nya seraya mengusap-usap rambut Arni.

BMW yang dikemudikan Pak Parno terus melaju di jalanan Kota Jakarta. Nia sibuk menunjuk gedung dan monumen yang terkenal di Jakarta, mengenalkannya kepada Arni.

“Itu namanya Monas, Monumen Nasional… dan itu Istana Negara…”

Mobil melewati Jalan Sudirman hingga Thamrin…

“Ini jalan protokal di Jakarta… Itu-tuh Jembatan Semanggi…,”

Arni hanya bisa terkagum-kagum melihat hi-rise buildings yang padat berjajar sepanjang jalan protokol di Jakarta, gedung-gedung tinggi seakan menggapai langit!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: