Dua Sisi Wajah 07

EDI bergegas menyusuri lorong rumah sakit, masih mengenakan dasi selayaknya eksekutif muda. Pak Parno membuntuti agak berlari di belakang Edi sambil menjijing tas kulit majikannya.

Sesampai di kamar tempat Suparni dirawat, tiba-tiba istrinya langsung menghampiri Edi, memeluknya dan membawanya kembali ke luar kamar. Edi merasa terheran-heran. Pak Parno hanya bengong melihat keduanya.

“Ada apa nih, Ma?”

“Ssstt…sini dulu, Pa,” bisik Nia. “Pak Parno, tolong masuk ke kamar dulu.”

Begitu Pak Parno masuk ke dalam kamar tempat Suparni dirawat, Nia dengan antusias membujuk suaminya agar melobi rumah sakit.

“Pa, bagaimana caranya mengadopsi anak??”

“Hahh???”

“Katakan saja keluarganya tidak tertolong lagi, dan kita mengadopsinya sebagai anak,” kata Nia memohon. “Dan lagi, melihat kecelakaan tadi, kecil sekali kemungkinannya ada yang selamat.”

“Kok bisa jadi begini, sih,” Edi masih terheran-heran.

“Sudahlah, Pa. kamu tahu kan persaanku sebagai perempuan… sebagai ibu…”

Akhirnya Edi memahami perasaan dan keinginan Nia. Dengan berbagai upaya dan maksud niat baik mereka, Edi melobi rumah sakit. Entah bagaimana caranya, tetapi pada akhinya keinginan Nia berhasil untuk membawa Suparti ke rumahnya.

Selang dua hari kemudian, Suparti baru diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Entah berapa juta yang dihabiskan pasangan Edi-Nia untuk merawat Suparni selama di rumah sakit itu, ditambah lagi usaha untuk mengadopsinya.

Bagi Edi dan Nia, uang bukan masalah yang sulit. Dengan mobil BMW dan penampilannya yang mencerminkan orang kaya, uang 10-20 juta bukan masalah.

“Kita akan ke mana?” tanya Suparni ketika dibopong dan didudukan di atas kursi roda dan hendak di bawa keluar kamar oleh suster yang didampingi oleh Edi, Nia dan Pak Parno. Kepalanya menoleh kepada orang di sekitarnya, bertanya-tanya.

“Kita akan pulang ke rumah kami dulu. Nanti kalau kamu sudah sehat benar, kita cari saudara dan bapakmu ya, Nak,” kata Nia.

Suparni memahami niat baik pasangan suami istri yang baru dikenalnya itu. Kondisi tubuhnya sendiri yang lemah tidak memungkinkan baginya untuk berlari dan meloloskan diri. Tetapi niat baik pasangan suami-istri itu meluluhkan niatnya untuk meloloskan diri. Apa salahnya menerima niat baik seseorang.

“Kamu masih lemah, rebahlah di sini,” kata Nia yang telah duduk di jok belakang mobil. Suparni yang duduk di sebelahnya berusaha direbahkan kepalanya ke pangkuan Nia. “Kepalamu masih pusing, Nak?”

“Sedikit…”

“Sudah…? Nggak ada lagi yang tertinggal?” tanya Edi yang duduk di samping sopirnya. “Kalau nggak ada, ayo Pak Parno, kita pulang.”

BMW type terbaru itu pun sebentar kemudian melesat dan melaju di antara keramaian lalu-lintas Kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi menjulang ke langit. Pemandangan itu masih bisa dilihat oleh Suparni yang sedang rebahan di atas pangkuan Nia. Ia tidak menyangka kalau Kota Jakarta sebesar itu, jauh dibandingkan dengan Kota Bojonegoro, tempat kelahirannya, tempat ia dibesarkan hingga lulus Madrasah Tsanawiyah.

Keluar dari pintu tol Fatmawati, mobil berbelok menuju kompeks perumahan elite Ponfok Indah. Dan sesampainya di salah satu rumah, mobil mulai berhenti. Klakson terdengar sebagai tanda agar pintu gerbang dibuka.

Begitu mobil memasuki halaman rumah, perlahan-lahan Suparni bangkit dari pangkuan Nia. Gadis desa itu hanya bisa terbengong-bengong melihat rumah sebesar dan semewah yang kini sudah ada di hadapannya.

“Nah, ini rumahmu yang baru,” kata Nia sambil memapah Suparni keluar mobil. Kursi roda telah disiapkan Pak Parno. Dua orang pembantu mengambil bagasi.

Suparti lebih terheran-heran begitu memasuki rumah besar dan mewah itu. Ruang tamunya saja sebesar rumah Suparni di desa beserta halamannya. Tampak lantai dua yang tidak kalah luasnya yang dihubungkan dengan tangga memutar yang dilapisi karpet merah bergaris tepi berwarna kuning keemasan. Di ruang tengah, sepertinya ruang keluarga, terletak seperangkat home theatre dengan teve 32 inci. Suparti hampir pingsan melihat semua itu, bagaikan di surga baginya…

“Nah, ini kamarmu…,” kata Nia sambil mendorong kursi roda Suparni memasuki sebuah kamar yang berhadapan langsung ke ruang tengah. Di kamar itu juga terdapat sebuah televisi berukuran 20 inci, perangkat audio, meja rias dan simbol-simbol borjuis lainnya.

“Bu Nia…?”

“Panggil saya Mama,” pinta Nia.

“Ma..ma…?” tanya Suparni kagok.

“Ya, panggil saya Mama dan ini Papa…”

Edi tersenyum ramah kepada Suparni. Ia berusaha membuat Suparni agar make herself at home.

“Dan kami akan memanggilmu dengan nama… A-r-n-i …,” kata Nia sambil memapah Suparni menuju ke tempat tidur yang berselimut tebal. “Untuk sementara kamu akan tinggal di sini, dan kami akan berusaha sekuat tenaga mencari keluargamu. Jakarta ini sangat luas, jadi membutuhkan waktu untuk mencari seseorang…”

“Tapi…bu…ma…”

“Sudahlah, nanti kamu akan terbiasa. Yang penting sekarang istirahat dulu,” kata Nia ketika Suparni – yang kini disapa Arni – merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk itu. Diselimutinya tubuh mungil gadis itu dengan selimut beludru.

Edi dan Nia segera meninggalkan Arni istirahat.

“Pa, kita harus mengurus surat kependudukan bagi Arni…,” kata Nia sambil menutup pintu kamar Arni. “Apalagi sebentar lagi juga ada pendaftaran murid baru, pasti kita memerlukan surat-surat itu. Kita carikan SMU yang baik buat Arni.”

“Bagaimana kalau Arni tanya saudara dan bapaknya?”

“Yaa… kan bisa kita bilang bahwa kita sudah mencarinya tetapi masih belum ketemu juga. Dan niat baik kita menolong orang khan nggak ada salahnya…?”

“Sampai kapan? Bagi Arni yang terbaik adalah berkumpul kembali dengan keluarganya, bertemu kembali dengan saudara dan bapaknya.”

“Tapi, Pa, kita juga bisa merawat Arni jauh lebih baik. Coba bayangkan…, kita sudah tidak mempunyai anak. Lalu Tuhan seakan mempertemukan kita dengan Arni betapa pun caranya. Terus kita mencari nafkah buat siapa lagi… untuk siapa duit dan harta kita? Dan lagi… berilah kesempatan aku sebagai…… ibu.”

Edi tidak bisa apa-apa lagi jika naluri Nia sebagai wanita, sebagai ibu, selalu dijadikan alasan. Edi pun merasa bersalah juga karena tidak bisa memberi keturunan, meskipun itu tidak mutlak kesalahannya.

Sementara itu, selama siang hari berada di dalam kamar yang masih asing baginya, Arni tidak bisa tidur atauy istirahat. Pikirannya masih terus menerawang membayangkan keberadaan Suparti dan bapaknya. Demikian juga keberadaan kakaknya dan ibunya yang berada jauh di desa. Bagaimana keadaan mereka?

Hingga sore hari Arni tidak bisa memejamkan matanya. Pandangannya hanya menatap langit-langit kamar.

Tok.. tok…tok…

“Ya… silakan masuk…,”

“Non, air panas sudah siap. Ibu Nia menyuruh saya agar bisa membantu Non untuk mandi.”

Seorang bibi berumur 50-an tahun memasuki kamar Arni. Perlahan-lahan Arni dibantu untuk bisa duduk di kursi roda.

“Ibu siapa?”

“Saya adalah salah seorang pembantu di sini, Non. Nama saya Imah…, panggil saja Bi Imah.”

“Bu Imah…?”

“Bi Imah, Non…”

“Bu Imah…,” kata Arni bersikeras.

Kamar mandi itu berukuran cukup besar. Ada bath-up dan westafel beserta kaca cermin dan kotak-kotak tempat perabotan mandi seperti sabun, shampo, odol, sikat, conditioner dan lain-lain. Di dalam bath-up ternyata telah dituangkan air panas yang mengepulkan uap panasnya.

Selesai mandi, terdengar adzan maghrib berkumandang dari televisi di kamar. Arni menyempatkan mengambil air wudhu ketika mandi tadi, sehingga kini ia bisa menunaikan sholat maghrib di kamar, dengan rebahan, karena untuk berdiri kondisi kakinya masih belum memungkinkan.

Sholatnya kali ini terasa sangat khusyu’, lain dari biasanya. Bahkan sehabis shoilat pun ia sempat mencucurkan air matanya mengenang keluarganya yang entah kini di mana dan bagaimana keadaannya.

“Ya…, Allah, segerakanlah kami bisa berkumpul kembali… Ya Allah, perkenan doa hamba…,”

Kedua telapak tangan Arni menengadah memohon kepada Tuhan. Ia tidak mengerti mengapa Tuhan memisahkan dirinya dengan keluarganya? Mengapa Tuhan begitu tega…

Tok.. tok… tok…

Bi Imah muncul dari balik pintu.

“Non, Bu Nia mengajak Non untuk makan malam…”

Bi Imah membantu Arni mendorong kursi roda, mengantarkannya ke ruang makan yang menjadi satu dengan ruang tengah yang luas itu. Di sana telah menunggu Edi dan Nia yang tersenyum menyambut Arni. Edi menyingkirkan sebuah kuri untuk digantikan dengan kursi roda Arni.

“Terima kasih, Bu Imah…” kata Arni ketika sudah di hadapan meja makan.

“Arni…,” sapa Nia dengan lembut, sambil mengambilkan nasi dari bakul dan menuangkan ke piring Arni. “Mulai sekarang, biasakan dirimu di rumah ini… sebagai anak kami… Untuk sementara, sampai kami berhasil menemukan keluargamu.”

“Sampai kapan, Bu…?”

“Mama…” kata Nia mengingatkan.

“Sampai kapan, Ma-ma…?”

“Ya… sampai ketemu,” jawab Nia. “Tetapi kami akan merawatmu dengan baik. Bahkan kami pun telah memikirkan sekolahmu. Selama dalam masa penantian, pendidikanmu tidak boleh terbengkalai…”

“Ya, Arni,…” lanjut Edi. “Besok Mama akan mencari informasi tentang SMU yang baik di Jakarta. Sekarang makanlah… sehatkan badanmu…”

Bagi Arni, kedua pasangan suami-istri itu sangat baik… terlalu sangat baik. Hal ini cukup beralasan karena mereka mendambakan seorang anak untuk mengisi keceriaan rumahnya yang begitu besar dan luas tetapi hampa dari canda-tawa dan teriakan seorang anak.

Anak… padahal Arni sudah bukan anak-anak lagi. Ia sebentar lagi menginjak remaja atau dewasa karena sudah sekolah di Madrasah Aliyah atau SMU. Ia sangat mempercayai kebaikan pasangan suami-istri Edi dan Nia, walaupun ada pamrihnya agar ia bisa menjadi anaknya.

Malam hari pada hari pertama memasuki rumah besar dan mewah itu, Arni masih belum bisa tidur. Selain masih asing dengan suasana kemewahan serta AC yang sangat dingin menyengat, pikirannya juga masih menerawang jauh ke desanya hingga terjadinya musibah kecelakaan beberapa hari yang lalu.

Sambil rebahan di atas kasur dan berselimut beludru, Arni membuka-buka Kitab al-Qur’an yang ada terjemahannya. Kitab Suci itu masih bagus dan bersih, tampaknya jarang dibuka. Mungkin al-Qur’an itu sebagai maskawin ketika Bu Nia dan Pak Edi menikah 15 tahun yang lalu, tidak pernah dibuka apalagi dibaca, sehingga kondisinya masih bagus dan bersih.

“Begitulah kondisi masyarakat modern yang sekuler,” pikir Arni.

Arni membuka halaman al-Qur’an secara acak. Tetapi ia agak terkejut ketika halaman yang dibukanya menunjukkan ke Surat Yaa Siin. Ada apa dengan Yaa Siin? Ya sudah, dibacanya surat itu… hingga menjelang ayat terakhir. Pikirannya agak merasa aneh ketika sampai pada ayat ke-82,

“Innamaa ‘amruhu, idzaa ‘aradza syai’an ‘an yaquula lahu, kun fayakuunu… Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, Jadilah, maka terjadilah ia.”

Arni tercenung sejenak. Setelah menyelesaikan bacaannya, ditutupnya dengan perlahan Kitab Suci yang penuh makna itu, lalu didekapkan ke dadanya.

“Yaa Allah, inikah yang Engkau kehendaki…??” kata Arni dalam hati. “Tiada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. Semuanya telah Engkau atur dengan sempurna. Oleh karena itu, berilah kemampuan pada hamba-Mu yang sangat lemah ini untuk memahami skenario besar-Mu, Yaa Allah…”

Setelah itu Arni merasa lebih tenang. Sambil terus berdoa sambil mendekap al-Qur’an itu, perlahan-lahan mata Arni mulai terpejam… tertidur dengan nyenyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: