Dua Sisi Wajah 06

SEORANG suster menghampiri Nia, sementara jam dinding di ruang tunggu UGD itu menunjukkan jam 7 pagi.

“Bu…,” suster itu menggoyang-goyang pundak Nia. “Bu…”

Dengan agak berat, kelopak mata Nia terbuka perlahan. Dikucek-kuceknya mata yang masih mengantuk itu dengan kedua tangannya, lalu ia membetulkan posisi duduknya dengan bersandar agak tegak.

“Ya, ada apa?”

“Ibu yang membawa pasien kecelakaan tadi?”

“Ya, apa apa memangnya?”

“Tidak ada apa-apa. Kami sudah tangani, lukanya hanya luka sobek di paha dan lengan. Sudah kami jahit. Hanya luka di kaki yang agak parah. Sekarang anaknya masih belum sadar, tapi mungkin sebentar lagi sadar. Ibu bisa menemaninya di kamar jika ibu mau.”

“Ya-ya…”

Dengan masih agak terkantuk-kantuk, Nia mengikuti suster itu dari belakang.

Tuuutt….tuuutttt…..

Terdengar suara tone HP dari balik saku baju Nia.

“Ya, halo? Ada apa, Pa?”

“Mama butuh apa dari rumah? Papa bawain baju dan sarapan ya? Nanti sekalian dibawa Pak Parno.”

“Ya-ya…, terima kasih…”

Sesampai di sebuah pintu kamar perawatan, suster yang mengantar Nia berhenti. Ia mengintip melalui kaca tembus yang ada di pintu itu.

“Dia masih terbaring tak sadarkan diri,” kata suster itu. “Ibu bisa langsung masuk saja sementara saya masih ada pekerjaan lain. Kalo ada keperluan, ibu tinggal pencet bel yang ada di samping tempat tidur.”

“Baik, terima kasih…”

Nia perlahan mendorong pintu. Yang pertama terasa adalah hawa dingin AC yang menyeruak dari dalam kamar. Ada dua pasien yang terbaring di kamar. Kelas rumah sakit ini memang eksklusif. Hal itu tampak dari tata ruang lorong-lorongnya yang mirip hotel. Kamar-kamarnya pun tertata rapi, bersih dan sejuk AC-nya. Perlengkapan medis yang canggih ada di sekitar tempat tidur pasien.

Nia berjalan pelan menghampiri tempat tidur di mana Suparni berbaring. Pandangan matanya sedikit-demi-sedikit melihat muka Suparni yang sudah bersih, sangat lain ketika Nia menemukannya tergeletak di pinggir jalan di mana wajahnya masih bercampur darah yang tampak mengerikan. Waktu itu, selain tertutupi darah, Nia juga belum melihat jelas wajah Suparni karena hari memang masih gelap.

Tetapi pagi ini jam dinding menunjukkan jam tujuh. Suasana di luar, yang kelihatan dari jendela kamar, sudah nampak mulai terang. Nia hanya bisa mengamati wajah Suparni yang ternyata sangat cantik meskipun kulitnya berwarna sawo matang.

Nia duduk di kursi di samping tempat tidur Suparni. Dari posisi duduknya yang lebih rendah daripada berdiri, tampak wajah Suparni dari samping. Nia hanya bisa mengamati dan mengamati. Ia mulai terkagum-kagum dengan wajah gadis yang sebetulnya tidak dikenalnya itu.

Lama-lama ia mengamati wajah ayu Suparni, tiba-tiba dari dalam benaknya muncul berbagai angan-angan yang sangat pribadi tentang… anak! Sudah 15 tahun lebih Edi dan Nia menikah tetapi belum dikaruniai anak. Sudah berkali-kali mereka memeriksakan diri ke dokter tetapi hasilnya nihil. Ia membayangkan jika begitu nikah umur 25 tahun langsung dikaruniai anak, pasti anaknya itu seumur dengan Suparti. Kini di usianya yang telah menginjak 40 tahun, sudah terlalu terlambat untuk mempunyai anak. Edi dan Nia sudah pasrah.

Tiba-tiba tangan Nia rasanya tergerak berusaha meraih kening Suparni. Diusapnya rambut hitam Suparni dengan penuh kasih sayang. “Anak ini memang sudah besar, bahkan seumur anak SMU…” katanya dalam hati.

Tersadar bahwa Suparni tidak ada hubungan apa-apa dengannnya, Nia segera menarik tangannya kembali. Ia lalu berdiri dan berjalan menghampiri kaca kamar yang menampakkan suasana Jakarta di pagi hari.

“Jakarta…,” desah Nia tanpa arti.

Dilihatnya mobil-mobil sudah mulai banyak memenuhi jalan-jalan di Jakarta. Kesibukan Jakarta membuat suaminya kerja ekstra keras sejak mereka menikah lebih dari lima belas tahun yang lalu.

Bosan memandangi suasana Jakarta dari balik kaca kamar rumah sakit, Nia lebih memilih menghampiri Suparni yang terbaring masih belum sadar. Ia kembali menikmati wajah anak yang masih puber itu. Kembali tangannya tergerak mengusap rambut Suparni, bahkan kini wajahnya mendekati wajah Suparni dan diciumnya kening Suparni dengan penuh kasih sayang.

Saat-saat yang mengharukan itu tiba-tiba saja dikagetkan dengan suara yang menyapa Nia.

“Selamat pagi, Bu.”

“Eh, Pak Parno…,” sapa Nia berusaha bersikap biasa, setelah tadi hanyut bersama emosinya membayangkan Suparni sebagai anaknya. “Sudah bawa baju dan makanan, Pak?”

“Sudah, Bu,” kata Pak Parno sambil menaruh bawaannya di atas meja yang ada di samping tempat tidur Suparni. “Itu siapa, Bu?” tanyanya melihat Suparni.

“Ah, aku nggak tahu juga. Kami kebetulan menemukannya kecelakaan di jalan tol tadi. Kasihan, ia butuh perawatan segera,” jawab Nia acuh-tak-acuh, tetapi Pak Parno mengangguk-angguk saja. Nia lalu membuka rantang plastik yang dibawa oleh sopirnya dari rumah. Perutnya sudah lapar. “Pak Parno udah sarapan?”

“Begitu sampai di kantor Bapak, saya langsung ke sini. Biasanya saya sarapan di warung di kantor bapak, Bu.”

“Ya sudah, cari warung di sekitar rumah sakit ini, cari sarapan,” kata Nia sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribu..

“Terima kasih, Bu.”

Sambil makan di samping tempat tidur Suparni, Nia sesekali mengamati wajah Suparni dalam-dalam. Kadang wajah Nia menampakkan keharuan.

Sehabis sarapan, Nia membongkar bawaan baju yang dibawa oleh Pak Parno dari rumah. Ternyata tidak saja baju yang dibawa, tetapi perlengkapan riasnya juga, termasuk sabun, sikat gigi, odol dan perlengkapan mandi. Nia pun masuk kamar mandi yang ada di kamar. Begitu air mengguyur tubuhnya yang masih awet muda itu, semangatnya mulai bergairah lagi. Rasanya segar sekali setelah mandi, berbedak dan lain-lain.

Selain fasilitas kamar mandi, di kamar itu juga dilengkapi dengan televisi yang ditaruh di atas. Posisinya sedemikian rupa sehingga bisa dilihat oleh dua pasien yang dibatasi dengan kelambu.

Ketika sedang menyisir rambutnya, dari sudut matanya, Nia melihat gerakan pelan kepala Suparni. Ia langsung menghampiri anak itu.

“Acch…ak..aku.., di.. mana?” tangan Suparni memegang kepalanya yang terasa agak pusing. “Di..mana…aku? Ti, Suparti…Pak, Bapak…???”

“Jangan banyak gerak dulu, Dik. Kamu masih lemah, istirahat saja dulu,” kata Nia berusaha menenangkan.

Melihat orang yang masih asing di sampingnya, Suparni pun terkejut. Ia berusaha menjaga jarak…

“Siapa…siapa… Anda?”

“Kami yang menolongmu dari kecelakaan bis dini hari tadi. Nama saya Nia.”

“Kecelakaan…???”

Pandangan Suparni menyisir ke segala penjuru ruangan kamar rumah sakit yang tampak mewah baginya.

“Lalu…, Suparti…. Bapak… di mana mereka??”

“Siapa mereka?” tanya Nia.

“Saudaraku dan bapakku. Di mana mereka…?” Suparni berusaha bangkit tetapi dengan segera dicegah oleh Nia.

“Adik masih dalam perawatan intensif. Jangan banyak bergerak,” kata Nia.

“Ya Allah… di mana aku? Di mana Suparti? Bapak?” tangannya lalu mulai meraba-raba kepalanya yang pusing. Ia baru menyadari sudah tidak berjilbab lagi. “Jilbabku mana?”

“Jilbab?” tanya Nia terheran-heran. “Oh… tadi kami menemukanmu dalam keadaan baju terkoyak-koyak dan… nggak pakai jilbab tuh. Mungkin tersangkut di bis ketika kamu terlembar dari bis itu?”

“Ya Allah, tolonglah saudaraku dan bapakku….,” Suparni mulai terisak-isak mengingat saudaranya dan bapaknya.

“Sudahlah, yang penting adik selamat dan sehat kembali. Nanti kita cari saudara dan bapakmu…”ujar Nia sambil mengusap-usap air mata Suparni selayaknya seorang… ibu.

Suatu pemandangan yang sangat mengharukan. Di satu sisi seorang anak yang kehilangan saudara dan bapaknya akibat kecelakaan. Ia tidak tahu bagaimana nasib keluarganya itu. Di sisi lain, seorang yang tidak dikaruniai anak memeluk anak lain seakan sebagai anaknya.

Siang itu suara tone HP Nia berbunyi lagi.

“Ya, Pa? Ada apa?”

“Pak Parno masih di sana, Ma?”

“Ya, masih. Memangnya kenapa?”

“Suruh jemput aku, Ma. Aku kok kepikiran dengan anak tadi, bagaimana dia? Dan ini kebetulan kerjaanku bisa aku delegasikan ke temanku, dan aku sudah minta ijin sama bosku untuk ke rumah sakit. Tolong deh, Pak Parno suruh jemput aku.”

“Baik, Pa.”

Nia memencet bel yang ada di samping tempat tidur. Ia minta tolong suster untuk menyampaikan ke car call centre yang ada di rumah sakit itu untuk memanggil Pak Parno.

“Pak Parno, tolong jemput Bapak di kantor.”

“Baik, Bu.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: