Dua Sisi Wajah 05

MENJELANG dini hari, sekitar jam 3 pagi, bis itu memasuki pintu tol Cikampek. Sebagian besar penumpang masih terlelap. Kenek bis juga berusaha menahan kantuk dengan duduk di sebelah sopir dan mengajak ngobrol agar sopir tidak mengantuk.

“Jo, tolong rokoknya, Jo…,” sopir minta rokok pada keneknya.

Kenek merogoh salah satu kotak di dashboard bis lalu mengambil sebungkus rokok Dji-Sam-Soe dan memberikannya pada sopir. Sambil memegang kemudi, diambilnya sebatang rokok dan langsung disulutnya.

Speedometer menunjukkan angka berkisar 90 km/jam. Bis itu melaju kencang di antara beberapa kendaraan yang melintas di jalan tol. Permukaan jalan tampak agak basah karena hujan semalam yang juga mengguyur daerah Cikampek.

Sopir bis sesekali meraup wajahnya yang kucel dengan tangannya, berusaha menghilangkan kantuk. Sedangkan kenek yang duduk di lantai bis di samping sopir sudah tertunduk, terpekur tidak bisa menahan kantuknya.

Beberapa mobil penumpang menyalip dari belakang bis. Lampu sorotnya, yang memberi tanda hendak menyalip dan memantul dari kaca spion bis, membuat sopir bis merasa sangat silau meskipun sejenak.

Tidak jauh di depan bis ada sebuah mobil BMW yang melaju agak pelan. Sopir bis hendak menyalipnya karena tidak tahan dengan laju BMW yang pelan itu. Ketika hendak mengambil lajur kanan, sopir kurang memperhatikan spion. Tiba-tiba dari spion kanan terpancar lampu sorot yang tajam disertai bunyi klakson yang memekakkan telinga. Sopir bis langsung membanting kembali kemudi ke kiri yang menyebabkan bis menjadi oleng.

Laju bis yang oleng itu menyebabkan Suparni terbangun.

“Astaghfirullah, ada apa ini?” tanyanya pada dirinya sendiri sambil menoleh ke kiri dan kanan. Sebagian penumpang lainnya juga terbangun dan sontak tersentak, kaget dan takut merasakan bis yang oleng.

Lebih parah lagi ternyata sopir bis tidak menguasai kendaraannya. Bis itu selip ke kiri, menyalip BMW yang ada di depannya. Dari arah kiri dan tidak stabil!

Suparti seperti digerakkan oleh instingnya. Ia segera membuka kaca jendela berusaha melompat melalui jendela.

“Yaa Allah…, Tolonglah kami ya, Allah…” teriak Suparni. Sebagian orang penumpang juga berusaha menyelamatkan diri dengan memecah kaca jendela atau berlarian menuju pintu. Gang di antara kursi mulai berdesakan penumpang berebut ingin keluar. Mereka berpacu dengan waktu yang begitu singkat. “Bapak! Parti,…!!”

“Astaghfirullah…!” Suparti juga mulai tersadar.

“Ada apa ini…!!???” tanya Pak Bedjo panik.

Ketika bis melewati bahu jalan yang miring, bis ekonomi itu mulai terjungkal dan… terbalik-balik.

Pada saat terjungkal, dengan gaya sentrifugal, Suparni terlempar dari kaca bis yang sudah terbuka dan separoh tubuhnya sudah berusaha keluar. Suparni terlempar keluar dari bis bersama beberapa penumpang lain yang terlempar juga melalui jendela maupun pintu bis. Kepanikan penumpang membuat suasana hiruk pikuk. Terdengar teriakan minta tolong, memanggil bapak, ibu atau anaknya…

Secara insting, Pak Bedjo berusaha menelungkupi Suparti, karena akhirnya – dengan waktu sekian detik – bis menyusup ke semak-semak dengan kecepatan tinggi!

BBBRRUUSSSKK….

Bis terbalik dengan roda masih berputar kencang di sisi atas. Beberapa mobil – termasuk BMW tadi yang ada di depan bis – mendadak menginjak pedal rem, menghentikan kendaraannya dan berusaha menolong penumpang bis.

Seorang wanita berusia sekitar 40 tahun keluar dari BMW, disusul oleh seorang laki-laki yang sebelumnya duduk di belakang kemudi BMW. Ada tiga mobil berhenti tidak jauh dari bis yang terjungkal itu. Beberapa orang keluar dari mobilnya, membantu penumpang bis yang mungkin masih selamat.

“Pa, anak ini pingsan…” wanita penumpang BMW itu menemukan Suparni.

Suami wanita itu tampak sibuk dengan HP-nya menghubungi rumah sakit atau minta bantuan pos polisi terdekat. Suasana di sekitar situ sangat panik dan mencekam.

Suparni memang pingsan begitu terlempar dari bis. Bajunya robek di sana-sini bahkan jilbabnya terlepas tersangkut bingkai besi jendela bis. Rok panjangnya sobek hampir separoh, menampakkan pahanya yang sobek pula mengeluarkan darah segar.

“Pa, anak ini harus dibawa ke rumah sakit segera!”

Suami wanita itu sempat melihat beberapa orang penolong lainnya mulai mengeluarkan penumpang dan membaringkan sejajar di tepi jalan tol, agak jauh dari bangkai bis yang terbalik itu. Karena mesin bis sangat panas dan akibat gesekan dengan aspal, tanah dan benturan keras dengan semak dan pohon, menyebabkan terjadinya sulutan kecil dekat tangki bensin.

Setelah beberapa korban dikeluarkan dari bis, terlihat percikan api dari tangki bensin yang bocor.

“Awas, bis akan terbakar!!” teriak salah seorang penolong.

“Cepat-cepat keluar dari bis!!!” kata penolong lainnya.

Tepat sebelum bis itu terbakar dan meledak, korban terakhir yang berhasil dikeluarkan dari bis adalah Pak Bedjo dan Suparti, tetapi dengan keadaan fisik yang sangat memprihatinkan. Darah banyak membasahi tubuhnya. Bahkan sebagian tulang rusuk dan kaki Pak Bedjo patah. Ia tadi berusaha memeluk dan menelungkupi Suparti serta berusaha melindunginya. Insting seorang bapak terhadap anaknya.

BBRRR…BBOOMMMM…DUARRR….

Suara ledakan dasyat disusul dengan kobaran api yang menyala-nyala.

“Pak,…” kata lelaki pemilik BMW kepada penolong lainnya yang tampak sangat sibuk. “Saya sudah hubungi rumah sakit dan polisi. Saya bawa satu korban yang sangat parah ke rumah sakit. Nanti akan saya laporkan ke polisi juga…!”

“Ayo, Pa, darahnya banyak keluar,” teriak istrinya di samping tubuh Suparni yang tergeletak tak sadarkan diri. Wanita yang ada di sampingnya itu agak bergidik melihat darah di mana-mana.

Dengan cekatan, suami wanita itu membalut luka di paha Suparni dengan sebagian kain rok yang sobek. Tak lama kemudian ia mengangkat tubuh Suparni dan membaringkannya di jok belakang mobil BMW-nya.

Dengan sangat terburu-buru, kedua suami-istri penumpang BMW itu segera memacu mobilnya, sekencang-kencangnya menembus dinginnya udara dan gelapnya suasana dini hari menjelang jam lima pagi…

Begitu keluar dari pintu tol Semanggi, BMW itu segera melaju menuju ke arah rumah sakit yang terdekat. Begitu sampai, mereka langsung menghentikan mobilnya di depan UGD dan berlari menghampiri dokter jaga.

“Dok, tolong… ada korban kecelakaan…!” kata pemilik BMW itu dengan napas terengah-engah.

“Nama bapak?” tanya dokter jaga.

“Saya Edi dan istri saya Nia,” pemilik BMW itu seraya mengeluarkan KTP untuk keperluan identitas keluarga pasien bagi dokter jaga.

Secara naluriah, para tenaga medis langsung mengambil kasur dorong dan menghampiri mobil BMW yang membawa tubuh Suparni yang tergeletak tidak sadar. Dengan segera tubuh Suparni dibopong dan dibaringkan ke kasur dorong. Muka dan tubuhnya penuh darah. Sebentar kemudian Suparni sudah dibawa ke ruang intensif.

“Hubungan bapak dengan korban?” tanya dokter jaga sambil menuliskan identitas Edi yang ada di KTP.

“Tidak ada. Mobil kami tadi kebetulan tidak jauh dari bis yang kecelakaan itu. Karena korban ini saya pikir membutuhkan penanganan medis segera, kami langsung membawanya ke sini. Yang penting ia selamat dulu, Dok.”

“Baik, silakan bapak dan ibu menunggu di ruang tunggu. Korban sudah kami tangani di ruang intensif.”

“Terima kasih, Dok.”

Nia memeluk tangan suaminya dengan perasaan was-was.

“Bagaimana keadaan anak itu, Pa?”

“Sudahlah, dokter sudah menanganinya. Semoga lukanya tidak parah.”

Keduanya duduk di ruang tunggu yang pada saat itu ada dua orang lain yang mungkin juga menunggu pasien lainnya.

“Ma…,” kata Edi pada istrinya. “Ini sudah hampir jam enam pagi. Gimana kalo kamu Mama di sini dulu. Aku mau pulang sebentar. Kebetulan kantor hari ini banyak urusan. Setelah Pak Parno mengantarkan aku ke kantor, nanti dia saya suruh ke sini menemani Mama.”

“Tapi, Pa…?”

“Ya gimana lagi? Masa kita biarkan anak itu sendiri.”

“Bukan begitu…tapi kalo ada apa-apa…,”

“Jangan pikiran macam-macam. Kita sudah berusaha,” kata Edi menenangkan istrinya yang tampak gugup itu. “Sudah ya? Aku mau pulang, lalu ke kantor. Nanti Pak Parno sekitar jam sembilan pagi sudah ada di sini.”

“Yah…, baiklah…”

Setelah menjelaskan ke dokter jaga, Edi meninggalkan UGD rumah sakit untuk pulang ke rumahnya dulu yang berlokasi di wilayah selatan Jakarta.

Nia hanya bisa duduk terpekur di ruang tunggu. Sesekali membaca majalah yang disediakan di rak di sudut ruangan, atau mengambil air minum dari dispenser untuk mengurangi rasa gugupnya. Tetapi rasa sisa kantuknya masih menggelayuti kelopak matanya yang akhirnya membuatnya benar-benar tertidur di ruang tunggu. Kepalanya terkulai di atas punggung kursi dan matanya terpejam pulas…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: