Dua Sisi Wajah 04

SUASANA terminal siang itu agak sepi karena hujan dua hari beturut-turut yang sangat mengurangi aktifitas penuduk Desa Ledok Kulon. Tidak jauh dari loket bis tampak keluarga Pak Bedjo dengan beberapa tas besar dan kecil, siap akan berangkat ke Jakarta siang itu.

Pak Bedjo antri di belakang dua orang di loket bis tujuan Jakarta.

“Ke Jakarta untuk tiga orang, Mbak,” katanya setelah tepat di depan loket.

Maka, Pak Bedjo, Suparti dan Suparni bersiap-siap hendak masuk ke dalam bis yang akan berangkat ke Jakarta. Tas besar dipanggul oleh Supardi, dan tas-tas yang kecil dibagi antara Pak Bedjo, Suparti dan Suparni.

Mbok Widji memegang payung melindungi anak-anaknya dari guyuran deras air hujan. Mereka masuk ke dalam sebuah bis ekonomi yang hendak menuju Jakarta. Sesampai di tempat duduk yang berderet tiga sesuai nomornya, Suparni menyalami tangan mboknya, lalu memeluk dan mencium wanita itu.

“Bu,… doakan… kami,… ya?” kata Suparni terpatah-patah.

“Selamat…tinggal,… Bu,” ucap Suparti yang segera juga memeluk mboknya.

Ati-ati kalian..di Jakarta, ya…?” kata Mbok Widji sambil mengusap air mata dan hidungnya juga basah.

“Di,…” kata Pak Bedjo kepada Supardi. “Jaga ibumu baik-baik, ya?” lalu Pak Bedjo menepuk-nepuk pundak istrinya. “Aku berangkat, Bune.”

“Mas, aku berangkat. Doakan kami ya,” kata Suparni pada kakaknya.

“Kami berangkat, Mas,” kata Suparti.

Ati-ati kalian di Jakarta. Kapan-kapan Mas akan menjenguk kalian,” kata Suparadi sambil menepuk pundak adik-adiknya dan mengusap-usap jilbabnya.

Setelah memastikan semua barang bawaannya tidak ada yang ketinggalan, Mbok Widji dan Supardi meninggalkan bis dan menunggu bis berangkat dari tempat yang tidak jauh dari loket-loket. Dalam sisa waktu yang tidak banyak itu, Mbok Widji mengamati dalam-dalam kedua anak kembarnya di balik kaca bis. Demikian pula Suparti dan Suparni mencoba melongok melihat wajah mboknya untuk saat terakhir.

Begitu bis bergerak maju, tangan Mbok Widji terangkat perlahan-lahan dan melambaikannya kepada kedua anak kembarnya. Lambaian tangan itu dibalas oleh Suparti dan Suparni disertai isak tangis yang mendalam. Dari balik kaca bis, kedua anak kembar itu juga bisa melihat mata mboknya yang dipenuhi dengan air mata yang deras bercucuran, walaupun sesekali Mbok Widji berusaha menyekanya dengan lengan bajunya yang agak kumal.

“Ayo, Bu, kita ke warung,” kata Supardi sambil merangkul mboknya.

Hujan semakin deras ketika bis yang ditumpangi Pak Bedjo dan kedua anak kembarnya meninggalkan terminal Bojonegoro…

Selama di warung, wajah Mbok Widji tampak selalu murung. Seorang langganan melihat perubahan wajah Mbok Widji itu.

“Sakit, Mbok?”

Mbok Widji hanya bisa menggeleng pelan. Siang atau sore itu, Mbok Widji ditemani Supardi yang membantunya di warung. Sesekali tampak tangan Mbok Widji menyeka air mata yang bercampur keringat dan air hujan.

“Ya sudah, Mbok. Berapa semua?” tanya seorang pelanggang setelah selesai makan siang. “Kalo sakit ya jangan jualan. Istirahat ae,” kata pelanggan tadi sambil merogoh saku belakang celananya. “Nasi, bandeng, tempe dan es teh…”

“Empat ribu lima ratus,” jawab Mbok Widji setelah menghitung-hitung.

Supardi membereskan piring dan gelas bekas pelanggan tadi, lalu dibawanya ke belakang dan dicuci di bawah pancuran kecil air hujan yang jatuh dari tudung plastik warung. Hari itu Mbok Widji sengaja tidak masak banyak-banyak seperti pada hari-hari biasanya, sehingga warung Mbok Widji tutup lebih cepat dari biasanya.

“Nasi dan lauk-pauk masih banyak, apa nggak nunggung sebentar lagi?” tanya Supardi sambil memandangi mboknya yang menggelengkan kepala dengan lesu.

Akhirnya mereka membereskan sisa dagangan dan dibawa pulang…

Sementara itu di dalam bis, Suparni yang duduk tepat di samping jendela bis, lebih banyak diam daripada Suparti yang duduk di tengah. Begitu pun Pak Bedjo yang lebih menikmati rokoknya.

Mata Suparni menatap keluar bis, di antara kucuran air hujan yang menerpa kaca jendela bis. Pantulan wajahnya yang masih lugu terlihat di kaca jendela bis.

Sore mulai memasuki senja. Hujan masih turun dengan derasnya. Bis sudah memasuki daerah Pati. Mulut Suparti dan Suparni mulai tampak sesekali menguap. Matanya juga setengah terbuka. Kemudian terkatup. Terbuka lagi. Mulutnya lalu menguap lebar-lebar yang ditutupinya dengan tangan kanannya. Matanya dikucek menahan rasa kantuk. Tetapi tampaknya mereka masih ingin bersama lamunannya mengenang mboknya dan kakaknya yang kini tentu sudah di rumah membereskan perobot dan menampung air hujan yang bocor menembus genting yang pecah.

Benarlah senja itu Supardi sibuk menampung bocoran air hujan ke dalam bak atau timba plastik. Mbok Widji ada di dalam kamarnya sedang sholat maghrib di atas kasur, karena banjir menggenangi rumah dan kamarnya. Wanita setengah baya itu duduk bersimpuh lebih lama memutar tasbih. Dari balik mukena tampak wajahnya yang sembab sudah mulai berkeriput dibasahi air mata.

Mbok Widji kembali pada masa lalu ketika Suparti dan Suparni masih bocah dan sekolah di MI hingga MTs. Telinganya sayup-sayup mendengar Suparni yang tampak lebih dewasa mengingatkannya untuk selalu sholat. Pak Bedjo dan Mbok Widji memang orang yang kurang berpendidikan, kurang pula ilmu agamanya. Bagi mereka, satu-satunya pekerjaan adalah bekerja keras menyambung hidup dan menyekolahkan anak-anaknya.

Mbok Widjji yang sedang duduk bersimpuh, berzikir di atas sajadah yang terhampar di atas kasur, sekali waktu mengamati banjir yang menggenangi rumahnya. Bahkan lantai plesteran di kamarnya juga mulai digenangi banjir semakin lama semakin meninggi.

Glduk…gglddukkk…DUEERRRR…DUAARRRR…..

Cahaya kilat yang menyilaukan diikuti geledek dan petir yang memekakkan. Mbok Widji terhenyak kaget.

“Di,…!!” Mbok Widji memanggil Supardi.

“Ya, Bu…” Supardi nongol di pintu kamar mboknya.

“Sudah kamu tutup semua pintu jendela?”

“Sudah.”

“Lagi ngapain kamu sekarang?”

“Menadahi bocor di kasur Parti dan Parni.”

“Sudah tiga hari berturut-turut hujan terus tanpa henti. Banjirnya semakin naik hampir setengah meter. Kalo terus naik dan sampai melebihi lutut, kita akan ngungsi ke Balai Desa, Di.” Mbok Widji melepas mukenanya lalu pelan-pelan turun dari kasur sambil mencincing dasternya.

“Anginnya juga kencang, Bu.”

“Baju-baju dan barang penting lainnya kamu taruh di atas lemari.”

“Sudah, Bu.”

Wwsss…wwssss….gldk..gldek…DDUUARRRR…..

Angin makin kencang bertiup membisingkan malam yang seharusnya hening. Suara gesekan dedaunan beradu dengan derasnya air hujan menyatu seakan badai akan datang. Bahkan tiba-tiba terdengar suara pohon tumbang di belakang rumah.

“Bu, pohon pisang kita ambruk!!” teriak Supardi.

Musim hujan tahun ini benar-benar menjadi malapetaka bagi penduduk Desa Ledok Kulon. Banjir yang biasanya setinggi lutut, malam itu makin naik. Belum lagi angin kencang yang berhembus menerpa rumah dan pohon-pohonan. Sebagian pohon malah sudah ada yang tumbang.

“Di, tolong ambilkan kantong plastik…!!!” pinta Mbok Widji sambil merogoh ke dalam tumpukan pakaian di dalam lemari. Diambilnya kantong kain berisi uang simpanan untuk keperluan darurat. :Kita ngungsi ke Balai Desa…, Di!!!”

“Nih plastiknya, Bu…!!”

Krrkk…kkrrkkk….GROBBYYACCKKK!!!

“Suara apa itu, Di!!??”

“Dapur kita roboh, Bu!!!” Supardi mulai panik.

Gldkk..gldekk…DUARRR!!!!

Hujan, kilat, geledek, petir, angin sudah campur aduk tidak karuan. Malam itu benar-benar terjadi badai. Penduduk Desa Ledok Kulon, terutama yang berada dekat sepanjang Sungai Bengawan Solo mulai panik.

“Di! Ayo keluar,…kita ngungsi…!!!”

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara hiruk-pikuk dan ribut-ribut. Bukan suara angin ribut, tetapi suara orang-orang yang panik dan berteriak-teriak ketakutan. Di sela-sela suara hiruk pikuk itu terdengar suara tangis bayi, bahkan suara kambing mengembik dan sapi melenguh, juga ayam-ayam yang seakan-akan berteriak-teriak ikut panik menyelamatkan diri.

“Ada apa, Pak Karto!!??” tanya Mbok Widji yang sudah ada di ambang pintu depan rumah, melongok keluar melihat Pak Karto dan banyak orang lain berlarian. Mereka membawa barang seadanya. Ada yang menggendong anaknya, membawa radio, teve, menuntun ternaknya. “Di, ayo keluar…!!!”

“Banjir bandang, Mbookk….!!!” seru Pak Karto sambil berusaha berlari menerpa banjir yang sudah setinggi lutut. Sebagian wanita, anak-anak dan orang tua yang tak bisa berlari, terselimpet, tersandung dan akhirnya menyusup tercebur ke air. Mereka bangkit lagi dan berusaha keras untuk berlari sekencang-kencangnya.

“HAHH…!?” Mbok Widji hanya bisa terkejut setengah mati.

Di antara kegelapan malam, riuh rendah suara badai angin dan hujan, sesekali diterangi dengan cahaya kilat yang menyilaukan selama seper-sekian detik. Terlihat permukaan Sungai Begawan Solo mulai meluap dasyat. Bahkan tiba-tiba dari jarak sekian puluh meter dari belakang rumah Mbok Widji tampak jelas adanya gulungan raksasa air bah yang melibas apa-apa yang ada di depannya, setinggi 2-3 meter. Kecepatan air bah begitu dasyat, sehingga energinya segera saja melumatkan rumah Mbok Widji dan Supardi yang masih ada di dalam rumah itu……

Bbrrr…byyuurrrr…kkrrkkk…BBRUACK!!!!

Gldkk…gldekk….DUARRR!!!!!!!!!

Orang-orang semakin berhamburan, panik, takut,…

“Toloong….” – “Anakku…!!!” – “Pakneee…, tolonggg….!!?” – “Buneee…!!”

Mmbeekkk…..mbeekk….ko-kok-kok..petookkk…nggghhhh

Wssshhhh….wswssshhhh…. Gldekk..gleddkk….DDUUAAARRRR!!!!!

Pada saat yang sama, keadaan di bis yang ditumpangi Pak Bedjo, Suparti dan Suparni, masih bergerak menuju Semarang. Tiba-tiba Suparni tersentak dari tidurnya.

“Ada apa, Ni?” tanya Pak Bedjo.

Suparni terdiam, lalu tampak gugup. Ia menoleh ke kiri, berusaha melihat ke luar jendela bis, lalu menoleh ke belakang, berusaha berdiri dari tempat duduknya.

“Ni,.. ada apa!?” tanya Pak Bedjo.

“Bu…? Mas…?”

Suparti, yang sebelumnya juga pulas, menjadi terbangun karena terguncang oleh gerakan Suparni yang seperti kesurupan itu. “Kamu mimpi, ya?” tanyanya.

“Banjir…banjir itu….?”

“Sudahlah, kamu banyak pikiran. Jadinya terbawa ke mimpi,” kata Pak Bedjo menenangkan. “Di luar sudah reda hujannya. Lihat, tuh…”

“Tapi… Ibu? Mas Pardi?” Suparni mulai berusaha menguasai diri.

“Ya, barangkali di Bojonegoro masih hujan. Tapi kata ibumu, ya seperti pada tahun-tahun kemarin. Biasa…paling banjirnya cuma sampai lutut,” kata Pak Bedjo.

Suparni menarik napas dalam-dalam dan menghembuskanya supaya lega. Ia sudah mulai bisa menguasai dirinya.

“Oh,… aku lupa belum sembahyang ‘isya,” kata Suparni kemudian. “Ti, kamu sudah sembahyang belum? Pak, sembahyang?”

Suparni mengusapkan telapak tangannya ke punggung kursi di depannya. Ia bertayamum, lalu sembahyang isya’ dengan duduk. Dibetulkannya posisi duduknya, letak baju dan jilbabnya yang mulai sedikit acak-acakan.

Selesai tayamum dan posisinya sudah pas untuk sholat sambil duduk, maka Suparni pun memulai sholat isya’ di dalam bis itu…

“Allahu akbar…..”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: