Dua Sisi Wajah 03

SUDAH beberapa hari ini Pak Bedjo tidak turun ke sawah. Bahkan ada sawah dari seorang juragan yang akan siap panen dan giling padi ternyata gagal total. Musibah banjir menggagalkan semua panen penduduk Desa Ledok Kulon. Sebagian besar rumah penduduk tergenang banjir.

“Aku di rumah terus menerus merasa sumpek juga,” umpat Pak Bedjo pada dirinya sendiri malam itu.

Mbok Widji sibuk menghitung keuntungan warung sepanjang hari itu.

“Lima-puluh-ribu, lima-puluh-tiga-ribu.” Mbok Widji menata lembar demi lembar uang dari hasil warung. “Ditambah lima-belas-ribu dari Pardi, jadi semua ada enam-puluh-delapan-ribu. Iki, Pakne, lima-ribu buat rokok.”

DUARRR….!!!

Terdengar petir memecahkan keheningan malam disertai kilat menyambar menerangi Desa Ledok Kulon selama seper-sekian detik. Dari balik ambang jendela, Pak Bedjo mengamati hujan deras di luar dan banjir yang menggenang makin tinggi.

Bune, ke sini sebentar,” kata Pak Bedjo datar memanggil istrinya.

“Ada apa, Pak?” tanya Mbok Widji. “Kayaknya ada yang serius?”

“Aku kok tiba-tiba ingat adikku yang ada di Jakarta.”

“Si Sugeng?” tanya Mbok Widji lagi. “Memangnya kenapa?”

“Ada hubungannya dengan kedua anak gadis kita,” kata Pak Bedjo mulai menerangkan. “Aku merasa ada firasat buruk soal banjir ini. Kalo setiap tahun begini, bagaimana anak kita bisa maju?”

“Lalu?”

“Aku akan menawari Parti dan Parni ikut pakliknya di Jakarta.”

“Sudah Pakne pikirkan?”

“Selama aku hampir seminggu di rumah terus, melihat hujan yang tak henti dan banjir yang semakin tinggi…,” kemudian Pak Bedjo menunjuk ke perabot rumah yang diamankan ke tempat yang lebih tinggi. “Lihatlah barang-barang yang di atas meja dan kursi itu; kompor, kayu-kayu bakar, perabot dapur, sepatu-sandal dan semua seperti persiapan akan mengungsi karena akan ada banjir bandang.”

Khan setiap tahun memang sudah begitu?”

“Nggak tahu, kok aku tiba-tiba ingin mengirim Parti dan Parni ke Jakarta.”

“Berat Pakne,” kata Mbok Widji tidak setuju. “Bayangkan Jakarta yang juauh dari Bojonegoro. Belum lagi kehidupan Jakarta yang sangat mengerikan. Ih, ancaman bom, pemerkosaan, kekerasan di jalan…waduh, aku nggak tega melihat anakku hidup terhimpit pergaulan metropolitan yang memprihatinkan itu.”

“Mumpung aku tidak turun ke sawah. Anak-anak sudah ujian. Khan sudah pas kalo waktunya aku mengantar mereka ke Jakarta. Kamu sementara sama Pardi.”

Lagian si Sugeng apa bisa menerima kedatangan Parti dan Parni.”

“Biar seluruh tabungan untuk Parti dan Parni dibawa ke Jakarta. Mereka bisa sekolah atau kursus apa saja sambil membantu bibinya dagang, sementara si Sugeng tetap dengan bengkel sepeda motor dan tambal bannya. Aku rasa tidak merepotkan, bahkan sedikit banyak bisa membantu mereka.”

OalahPaknePakne, apa bisa juga aku pisah dengan mereka?”

“Ya gimana lagi kalo itu pilihan yang lebih baik dan lebih punya harapan?”

Mbok Widji terdiam mempertimbangkan usulan suaminya, sambil sesekali ia memandangi sebagian dari perabot rumahnya yang sudah dinaikkan ke meja untuk menghindari banjir. Sesekali kepalanya melongok melihat keluar rumah.

Suasana rumah hening di antara derasnya air hujan. Suparti dan Suparni berada di dalam kamar, santai sehabis ujian MTs. Sedangkan Supardi juga ada dalam kamarnya, entah sedang apa.

“Ternyata ada hikmahnya aku ada di rumah beberapa hari ini,” kata Pak Bedjo memecah kebisuan sejenak. “Aku jadi banyak melamun dan berpikir masa depan anak-anak kita… Terutama Suparti dan Suparni”

Glduk…gldukkk…..DUARRR!!! Terdengar suara petir memekakkan telinga.

“Kamu yang sibuk masak dan jualan warung di pasar mungkin kehilangan kepekaanmu sebagai perempuan, sebagai ibu,” Pak Bedjo menyambung kata-katanya yang terputus oleh petir. “Usulmu menyekolahkan Parti dan Parni hingga MA memang baik dan aku bisa menerima. Tetapi aku kok berpikir lebih jauh bahkan sampai ke Jakarta segala karena cita-citamu itu, Bune.”

“Malam sudah larut, Pakne,” kata Mbok Widji datar. “Mungkin akan aku pertimbangkan dalam beberapa hari ini. Sekarang aku akan menyiapkan untuk esok.”

Pak Bedjo yang sedang di ambang keputus-asaan hanya terdiam menatap dengan pandangan kosong. Sesekali ia pun menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asap yang mengepul dari mulutnya. Hanya kenikmatan rokok itu yang bisa menghibur hatinya akhir-akhir ini.

Sementara itu di dalam kamar, Suparti dan Suparni sedang asyik mengobrol merencanakan liburan setelah ujian akhir MTs.

“Liburan kita kemana, Ni?” tanya Suparti dari tempat tidur kepada Suparni yang menyisir rambut di depan kaca. “Enak ya kalo kita ke budhe di Surabaya?”

“Libur ya membantu ibu di pasar. Cari duit,” seloroh Suparni sambil beranjak ke tempat tidur. “Eh, Ti, kita ini cantik ya? Nggak terasa kita akan masuk MA dan umur kita sebentar lagi sweet-seventeenth…”

“Baru sadar kalo kita cantik?” gurau Suparti. “Makanya, beli baju dan celana yang mengikuti perkembangan jaman. Biar modis…”

Ih, jaman sekarang ngikuti perkembangan jaman malah kayak orang nggak punya baju. Tuh, banyak sinetron yang artisnya pakai kaos mini yang kelihatan puser dan celana jeans yang sobek-sobek…”

“Itulah kemajuan jaman,” kata Suparti menjelaskan. “Jilbaban ya jilbaban, tapi ngikutin mode, sedikit demi sedikit boleh khan…?”

Ih, aku kok nggak bisa ya… Mau nyopot jilbab ae kok rasanya risih…” kata Suparni agak bergidik. “Kamu jangan terlalu ngikutin mode, Ti. Lama-lama bisa terhanyut kayak orang kota.”

“Eh, dengar…, semua orang desa kebanyakan ingin ke kota cari duit. Jadi, orang kota itu panutan orang desa, lho…”

“Hhuuaaahhhh…” Suparni menguap. “Ngantuk, tidur dulu, ah.”

Sekali lagi malam itu diwarnai dengan hujan deras, petir memecah kesunyian malam dan kilat pun menyambar-nyambar bagaikan lidah naga-naga raksasa yang merobek-robek langit. Resapan tanah sepertinya sudah mencapai taraf jenuh karena banjir susah untuk surut lagi.

Pagi itu seperti biasa Mbok Widji dan Supardi menyiapkan segala sesuatunya untuk dibawa ke warung. Tapi hari ini mereka akan ditemani oleh Suparti dan Suparni yang sudah memasuki masa liburan, sehingga persiapannya menjadi agak lebih cepat. Sementara Supardi, Suparti dan Suparni masih sibuk di belakang, Mbok Widji menghampiri suaminya di beranda rumah yang sedang menyaksikan kesibukan orang dan dokar berlalu-lalu di jalan yang digenangi banjir.

Jika kemarin pagi hanya mendung saja, tetapi pagi itu tidak saja mendung. Hujan masih turun rintik-rintik.

“Pakne,…” kata Mbok Widji menyapa. “Setelah semalaman aku berpikir dan mencoba menggali naluri kepekaan perempuanku, aku bisa terima usulan sampeyan. Memang berat pisah dengan mereka. Tetapi demi kebaikan merka sendiri, yah… harus bagaimana lagi.”

“Dua hari ini hujan terus menerus,” kata Pak Bedjo.

“Tapi Pakne harus mengantar Parti dan Parni hingga ke rumah si Sugeng,” kata Mbok Widji yang tidak menghiraukan keluhan suaminya soal hujan.

“Bagaimana denganmu?” tanya Pak Bedjo menanggapi istrinya.

Khan ada Pardi yang menemaniku di sini. Kalo ada apa-apa, dia masih bisa membantu aku di sini.”

“Ada apa-apa?” tanya Pak Bedjo.

“Ya semoga nggak ada apa-apa.”

“Kapan Parti dan Parni bisa berangkat?”

    “Secepatnya… besok pun bisa.”

Malamnya, masih hujan dan banjir semakin tinggi hampir selutut, Suparti dan Suparni dipanggil oleh kedua orang tuanya. Supardi tidak mau ketinggalan, ia pun ikut bergabung walaupun tidak dipanggil dan segera duduk mengelilingi meja makan yang di atasnya ada sepiring pisang goreng sisa jualan tadi siang.

“Ti, Ni,…” kata Pak Bedjo mengawali pembicaraan.

“Ya, Pak,” jawab Suparti dan Suparni hampir bersamaan.

“Bapak dan ibumu sudah berpikir dua malam ini,” Pak Bedjo melanjutkan. “Kamu akan meneruskan sekolah, kursus atau bekerja di Jakarta ikut paklikmu yang ada di Jakarta…”

“Lik Sugeng?”

“Ya…,” jawab Pak Bedjo. “Di Jakarta lebih banyak sekolah, kursus dan pekerjaan. Sambil sekolah atau kursus atau menunggu kerja, kalian bisa membantu paklikmu di Jakarta…”

“Paklik kan buka bengkel dan tambal ban?” tanya Suparti.

“Bulikmu membuka kios rokok. Kalian bantu bulik di dapur atau jual rokok. Tetapi tujuan utama di Jakarta itu kalian sekolah dulu dengan uang tabungan yang ada selama ini. Mana uangnya, Bune?”

Mbok Widji bangkit dari duduk dan berjalan menuju kamarnya. Dari balik kasur diambilnya sebuah kantong terbuat dari kain agak kumal dan berisi segebok uang puluhan ribu. Diberikannya kantong kain berisi uang itu kepada suaminya.

“Ini ada uang sejuta lebih sedikit untuk bekal sekolah atau kursus di Jakarta,” kata Pak Bedjo sambil mengeluarkan uang dari kantongnya.

Mbok Widji yang sedari tadi menahan perasaannya, kini mulai ingin bicara walau agak tergagap.

Nduk,…” katanya lirih. “Kami sudah pertimbangkan matang-matang akan masa depanmu antara di sini dan di Jakarta. Desa kita yang selalu banjir kelihatannya kurang baik untuk masa depan kalian. Jika ke budhemu di Surabaya, anaknya sudah tiga dan dengan adanya kalian akan merepotkan budhemu. Bapakmu mikir ke Jakarta karena si Sugeng baru kawin setahun yang lalu dan belum punya anak.”

“Ke Jakarta ninggalin ibu dan bapak di sini?” tanya Suparti.

Khan ada aku,” sela Supardi sambil mengunyah pisang goreng. “Sudahlah, kalian pergilah ke Jakarta.”

“Jadi pisah dengan ibu dan bapak?” tanya Suparni.

“Hanya sementara…” kata Mbok Widji menghibur dirinya sendiri, sementara dadanya mulai agak sesak menahan tangis yang ingin keluar karena akan berpisah dengan anaknya. Berkali-kali ia mulai mengusap hidungnya dengan sapu tangan.

“Besok siang bapak akan mengantar kalian ke Jakarta. Kita naik bis, sehingga malam ini kalian harus menyiapkan bekal yang kalian butuhkan,” kata Pak Bedjo.

“Tetapi, Bu…?” ucap Suparni agak tertahan oleh rasa haru hendak berpisah dengan orang tuanya, terutama dengan ibunya.

“Sudahlah, Nduk…” kini Mbok Widji tidak dapat lagi menahan air matanya yang sudah lama berlinang. Maka, dengan segera basahlah pipi keriput Mbok Widji. “Ke sinilah, Nduk… Ibu ingin memeluk kalian…”

Ketiga wanita itu, antara ibu dan kedua anak kembarnya, berangkulan sambil melepaskan tangis mereka. Sementara Pak Bedjo dan Supardi hanya melihat merek dengan perasaan harap-harap cemas.

Gldukk…gllddukk…DUEERR!!!

Pancaran kilat yang menyilaukan mata, suara petir yang memekakkan telinga dan derasnya air hujan yang tercurah deras dari langit, mewarnai pekatnya malam itu, terutama bagi keluarga Pak Bedjo yang rumah gubuknya ada di sepanjang tepi Sungai Bengawan Solo yang mulai meluap…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: