Dua Sisi Wajah 02

MALAM masih gerimis setelah siang tadi hujan deras mengguyur Desa Ledok Kulon. Dari balik rumah gedheg yang hanya diterangi beberapa lampu teplok, Pak Bedjo dan istrinya duduk di balai-balai tengah. Supardi sedang sibuk mencari atap genteng yang bocor dan menadahinya dengan ember plastik. Suparti dan Suparni berada di kamar menyiapkan pelajarana buat esok hari.

“Besok Parti dan Parni ujian akhir MTs. Sebentar lagi MA. Untung masih ada tabungan kita yang sengaja kita siapkan buat mereka berdua,” kata Mbok Widji membuka percakapan dengan suaminya.

DUARRR….!!!

Terdengar petir yang memecahkan keheningan malam disertai kilat yang menyambar menerangi Desa Ledok Kulon selama seper-sekian detik.

“Sudah berapa tabungannya?” tanya suaminya seraya menghisap rokok.

“Ada sekitar satu jutaan.”

“Hujan yang selama dua hari ini memberikan firasat buruk,” kata Pak Bedjo mengalihkan persoalan. “Sebentar lagi pasti banjir lagi.”

Khan sudah langganan setahun sekali,” kata Mbok Widji sambil mengelap daun-daun pisang yang disiapkan untuk bungkus nasi di warungnya esok hari.

“Kayaknya hujan tahun ini akan lebih besar, Bune.”

Yah, sudah takdir kita menerima banjir tahunan. Tapi untungnya banjir yang masuk rumah cuma beberapa senti saja.”

“Aku curiga hujan tahun ini akan lebih besar…”

“Pardi!” Mbok Widji memanggil anak mbarep-nya. “Tolong ambilkan kain taplak yang bersih di dapur, Le. Untuk membungkus daun-daun pisang ini…”

“Lihatlah, genangan air hujan sudah mulai masuk di pintu depan.”

“Nih, Bu, taplaknya,” kata Pardi sambil duduk di sisi mboknya. “Pak, Bu, gimana
kalo banjir besar menenggelamkan rumah kita?”

“Kamu ngomong jangan sembarangan!” tegur bapaknya melotot.

“Semoga saja tidak. Selama ini alhamdulillah banjirnya paling tinggi tidak sampai setengah meter,” ujar mboknya sambil membungkus gulungan daun-daun pisang dengan kain taplak.

Tiba-tiba Suparni keluar dari kamarnya sambil membawa buku-bukunya. Ia duduk berbaur dengan bapak, mbok dan kakak laki-lakinya.

“Makanya, Mas banyak berdoa, biar Allah melindungi kita,” celetuk Suparni “Mas sih, sembahyangnya bolong-bolong. Bapak dan ibu juga, sembahyang…”

Ketiganya hanya terdiam ketika selalu diingatkan untuk sholat.

DUARRR…!!!

Sekali lagi petir besar menggelegar diikuti kilat menyambar-nyambar. Hujan yang tadinya agak reda ternyata kembali mulai deras. Tetesan air yang jatuh dari atap genting juga semakin kencang dan deras.

“Ujianmu sampai kapan, Ni?” tanya Mbok Widji pada Parni.

“Besok terakhir, Mbok.”

“Setelah itu?”

“Ya mempersiapkan diri untuk pendaftaran ke MA.”

“Kalo keadaan begini terus…,” keluh Mbok Widji. “Kasihan kau, Nduk.”

Malam semakin kelam dan keluarga Pak Bedjo akhirnya terlelap di tengah guyuran hujan deras sepanjang malam itu. Untunglah menjelang pagi, hujan akhirnya berhenti juga walaupun meninggalkan banjir setinggi setengah lutut.

Subuh itu Suparni sholat subuh mendahului saudara kembarnya.

“Ti, bangun, sembahyang subuh,” Suparni mengguncang-guncangkan tubuh saudara kembarnya agar bangun. Ia sendiri lalu ke belakang membangunkan bapak, ibu dan kakak laki-lakinya. Setelah itu ia menimba ke sumur untuk mandi.

Sampai selesai mandi, Suparni ternyata masih melihat saudara kembarnya itu masih mendengkur. Dibangunkan susah, bahkan semakin erat memeluk selimut.

Eee, dasar pemalas, ayo bangun…”

Dengan sangat enggan sekali akhirnya Suparti bangkit dari tempat tidurnya.

Suparni menyisir rambut di depan kaca yang mulai agak buram. Rambutnya yang sedikit basah dikeringkan dengan mengusap-usap handuk. Lalu disisirnya lagi rambut hitam panjangnya yang sebahu itu. Perlahan-lahan ia tersenyum kecil melihat wajahnya sendiri di cermin.

“Ternyata aku cantik juga, ya?” katanya dalam hati.

Matahari muncul dari ufuk timur dengan dikelilingi mendung kelabu. Pada setiap musim hujan, hampir setiap hari hujan terus. Langit yang mendung, sebentar kemudian gerimis datang dan menyusul hujan deras dan… banjir.

“Bu, Pak, kami berangkat,” kata Suparti dan Suparti hampir bersamaan. “Doakan ujian kami sukses ya?”

Keduanya berjalan berjinjit-jinjit, berhati-hati agar permukaan banjir yang menggenangi rumahnya itu tidak membasahi roknya. Sepatu dimasukkan plastik lalu dimasukkan ke dalam tas. Roknya yang panjang dicincing sedikit di atas mata kaki.

“Ya, Nduk, ati-ati di jalan,” kata mboknya sambil mempersiapkan dagangan yang akan dibawa ke warung. “Eh, khan kalian nanti sudah selesai ujian akhir. Jadi, nanti siang mampir ke warung. Bantu ibu, ya?”

“Ya, Bu.”

Banyak dokar yang berlalu-lalang di depan rumah. Suparti dan Suparni naik salah satu dokar yang lewat. Aktifitas pagi itu di Desa Ledok Kulon kebanyakan diwarnai oleh pelajar, karyawan dan pedagang. Para petani tidak bisa berccok tanam karena banjir sudah mulai menggenang.

“Di, kamu sudah siap!?” teriak Mbok Widji memanggil Supardi yang sedang di dapur, lalu Mbok Widji melihat suaminya yang duduk terpekur memandangi banjir yang menggenangi desanya. Mata tuanya seakan kosong pasrah, dagunya bertumpu pada bahu tangannya yang tertelungkup di ambang jendela. “Sudahlah, Pakne. Karena sampeyan tidak ke sawah, ya tunggu rumah saja.”

Supardi muncul dari dapur sambil membawa segala perabotan dan bahan makanan yang diperlukan di warung.

“Ayo, Bu, kita berangkat,” kata Supardi.

“Pakne, aku berangkat,” kata Mbok Widji

“Pak, aku berangkat,” kata Supardi.

Pak Bedjo terdiam seakan tidak mendengar suara pamitan itu.

“Pakne, aku berangkat!” Mbok Widji mengulanginya dengan agak keras. Suaminya terhentak sejenak. “Sudahlah, jangan terlalu banyak dipikirkan, nggak bisa merubah keadaan. Pasrah ae… aku berangkat, Pakne.”

“Ya-ya… ati-ati,” jawab Pak Bedjo setelah sadar dari lamunannya. Kemudian ia ngedumel kepada dirinya sendiri. “Ya memang harus pasrah. Piye maneh lagi kalo
nggak pasrah…”

Suasana pasar dan terminal yang berdekatan itu seperti hari-hari sebelumnya. Bedanya beberapa hari ini sedang banjir setinggi setengah lutut. Ada sebagian orang bersikap hati-hati dengan dagangannya yang digelar di atas bangku pendek.

Supardi membantu menyiapkan dagangan mboknya di warung. Setelah semua tampak beres, ia lalu pamit ke terminal.

“Bu, aku ke terminal dulu,”

“Ya, ati-ati, Le.”

Satu demi satu orang masuk ke warung Mbok Widji yang kecil itu.

“Mbok kopi.”

“Sarapan, Mbok”

“Pisangnya berapa, Mbok?”

Mbok Widji melayani makan orang-orang yang sarapan di warungnya pagi itu dengan ramah. Kadang ia tampak kerepotan meladeni banyak permintaan. Untunglah siang itu Suparti dan Suparti datang ke warung dan membantu mboknya.

“Gimana ujiannya, Nduk?”

“Insya Allah bisa, Bu,” jawab Suparni sambil menaruh tasnya di atas meja yang ada di samping rak piring dan gelas.

“Tolong, Ti, kamu cuci piring. Ni, kamu bantu meladeni bapak-bapak ini,” kata Mbok Widji pada kedua anaknya.

“Parni ae yang cuci piring, aku yang bantu ibu di sini,” kata Suparti.

Itulah perbedaan antara saudara kembar anaknya Mbok Widji. Suparti yang lebih modis memilih pekerjaan ringan. Suparni yang lebih feminin memilih mengalah. Mboknya menganggap itu hanya sifat kekanak-kanakan mereka.

Siang itu mendung semakin menebal. Tidak lama kemudian gerimis pun turun membasahi bumi Desa Ledok Kulon yang sudah digenangi banjir itu. Lama kelamaan hujan semakin deras, banjir semakin meninggi. Orang-orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Sebagian orang juga berteduh di warung Mbok Widji.

“Ti, Mas-mu sampai siang ini kok belum makan siang ke warung, ya,” kata Mbok Widji menanyakan Supardi.

“Ya biar, Bu. Mungkin banyak kerjaan di terminal.”

Sesaat kemudian Supardi nongol masuk warung Mbok Widji. Bajunya basah kuyup oleh air hujan dan tubuhnya tampak menggigil kedinginan.

Le, kamu kok tidak berteduh. Lihat tubuhmu kedinginan,” kata Mbok Widji menguatirkan anak lanang-nya itu. “Lagian tidak ada baju ganti di warung.”

“Bbrrr…,” Supardi meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Tadi waktu mau ke sini ada penumpang bis banyak membawa barang bawaan. Jadi aku ya tidak melepas rejeki begitu saja. Lihat, Bu, hari ini aku mendapat lima-belas-ribu.” Tangan Supardi merogoh kantong celana dan menunjukkan uang kertas seribuan dan lima ribuan yang kucel dan basah karena air hujan.

“Syukurlah,” kata Mbok Widji. “Tapi kamu segera makan siang, biar nggak masuk angin.”

Dagangan di warung Mbak Widji ternyata sudah habis pada sore hari itu, menjelang senja. Mbok Widji bersama anak-anaknya – Supardi, Suparti dan Suparni – pulang ke rumah naik naik dokar, di bawah guyuran hujan yang deras.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: