Dua Sisi Wajah 01

DESA Ledok Kulon, Kabupaten Bojonegoro, berada di tepi sungai Bengawan Solo. Seperti kebanyakan desa yang berada di sepanjang tepi Sungai Bengawan Solo, maka desa itu juga tidak lepas dari musibah tahunan yaitu banjir. Jika musim panas datang, tanah sawah retak merekah karena panas memanggang. Tetapi musim hujan, banjir pun segera menggenang…

Adalah sebuah rumah agak kecil terbuat dari anyaman bambu, yang dibangun tidak jauh dari tepi Sungai Bengawan Solo. Penghuninya terdiri dari lima orang; yaitu sepasang suami istri yang sudah setengah umur, anak pertamanya lelaki berusia sekitar 18 tahun dan dua putri kembarnya yang berusia sekitar 15 tahun.

Pak Bedjo, kepala rumah tangga itu, nasibnya tidak se-bejo namanya. Sudah berkeluarga lebih 20 tahun tetapi tetap bekerja sebagai petani penggarap sawah orang. Upahnya sebulan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sebulan.

Mbok Widji, istrinya, membuka warung kecil di pasar untuk bisa menunjang kebutuhan hidup keluarganya. Warung kecilnya itu berjualan makanan yang banyak dibutuhkan orang-orang pasar dan juga terminal yang ada di samping pasar.

    Supardi, anak mbarep-nya, beruntung bisa menamatkan sekolah hingga STM. Tetapi ia tidak bisa bekerja, karena pekerjaan memang sangat sulit. Ia membantu bapaknya secara serabutan sebagai petani penggarap sawah. Kadang ia juga menjadi buruh angkat di terminal yang ada di dekat pasar – sehingga kalau lapar ia langsung mampir ke warung mboknya yang tidak jauh dari terminal. Postur tubuhnya kekar, dan kulit hitamnya yang legam membuktikan bahwa ia memang kuli yang kuat.

Suparti dan Suparni, dua anak gadis kembarnya, yang diharapkan membantu dan mengangkat masa depan keluarganya. Seluruh hasil jerih payah bapak, mbok dan kakaknya diperuntukkan membiayai sekolah kedua anak gadis itu yang kini sedang menempuh sekolah di MTs. Ketika hendak membantu mboknya di warung, tetapi pada saat bersamaan besoknya ada ujian, mboknya selalu melarang mereka di warung dan langsung menyuruhnya pulang dan belajar untuk ujian besok.

Kowe besok ulangan, abis pulang sekolah langsung ke rumah. Belajar!” hardik mboknya serius. Meski tidak pernah mengenyam bangku sekolah, mboknya ternyata mempunyai pandangan jauh ke depan untuk anak gadisnya. Ini bertentangan dengan suaminya yang ingin segera mengawinkannya selepas lulus MTs.

Kalo keduanya cepat kawin, minimal beban kita berkurang karena mereka sudah menjadi tanggung jawab suami mereka. Lagian, mungkin suami mereka adalah orang yang mampu dan bisa membantu kebutuhan kita,” begitu alasan suaminya.

“Anak kita kalo lulusan MTs, paling dapat suami lulusan MA. Tetapi kalo mereka bisa lulus MA, harapan kita, suami mereka itu sarjana atau diploma dan kerja di kantoran, Pak. Apa mau sampeyan punya mantu
nggak lebih jauh dari kita?”

“Piye, Nduk?”

Yah, gimana bapak dan ibu wae,” jawab Parti seadanya.

Pak Bedjo melihat dua anak gadisnya dan istrinya silih berganti. Mbok Widji malam itu sibuk memasak, menyiapkan makanan untuk warungnya pada esok hari. Setelah beberapa detik berdiam diri, akhirnya Pak Bedjo mengangkat bahunya, dan “Ya-ya-ya…, yo wis, lebih baik mengalah untuk tujuan yang lebih baik…”

Begitulah, dengan perhatian yang agak lebih terhadap kedua anak gadisnya yang kembar, keluarga Pak Bedjo menaruh harapan besar pada Suparti dan Suparni. Kakaknya, Supardi, sepertinya juga tahu diri akan posisinya dan ia pun tidak banyak menuntut macam-macam. Bahkan tanggung-jawab melindungi kedua adiknya, oleh banyak orang dinilainya terlalu protektif, sehingga teman laki-laki adiknya agak takut bermain atau belajar di rumah Suparti dan Suparni.

Rutinitas keseharian Suparti dan Suparni dijalani dengan sekolah dan belajar, dan sedikit-sedikit membantu mboknya jika ada waktu luang. Dengan jatah waktu belajar yang agak lebih, Suparti dan Suparni juga agak menonjol pelajarannya.

Sebagaimana umumnya siswi MTs, seragam sekolah mereka pasti dilengkapi dengan jilbab selain baju lengan panjang dan rok yang menjuntai hingga mata kaki. Tetapi ada perbedaan sedikit antara Suparti dan Suparni dengan masalah jilbab, yaitu bahwa Suparti agak ceroboh mengenakan jilbab dibandingkan Suparni. Suparti kalau di rumah tidak memakai jilbab bahkan jika ada tamu. Lain halnya dengan Suparni yang lebih hati-hati memakai jilbab. Benar kalau di rumah tidak apa tidak berjilbab. Tetapi jika ada tamu, maka Suparni lekas-lekas mengenakan jilbabnya dengan rapat.

Untuk masalah sholat pun demikian. Suparni lebih khusyu’ dibandingkan dengan Suparti. Tetapi dari keduanya masih lebih mendingan dibandingkan dengan bapak, mbok dan kakaknya yang sholatnya masih bolong-bolong.

Suparti dan Suparni, dua gadis kembar yang lumayan cantiknya untuk ukuran pedesaan di Ledok Kulon. Praktis tanpa kosmetik dan dandanan berlebih selayaknya pelajar SMP di kota-kota besar. Hanya Suparti agak lebih maju yang memiliki celana jeans dibanding Suparni yang hanya memiliki rok panjang dan daster.

“Pak, Suparti dan Suparni wajahnya memang amat mirip. Mungkin cuma kita yang tahu persis mana yang Parti dan mana yang Parni,” ungkap Mbok Widji pada suatu malam. “Tetapi ada sedikit perbedaan watak di antara mereka. Lihatlah si Parni yang lebih anggun dari si Parti.”

Yah, biarlah, Bu, lha wong namanya masih anak-anak.”

“Eee… piye si bapak, sebentar lagi mereka sudah dewasa lho.”

“Ya mau diapain. Aku lebih memikirkan musim hujan mendatang. Kalo banjir datang lagi, aku kerja apa? Mau jadi buruh angkat seperti Pardi, badanku sudah tua.”

Mbok Widji agak kurang memperhatikan kata-kata suaminya yang terakhir. Dari ruang tengah, melalui pintu kamar yang sedang terbuka, ia hanya memperhatikan kedua anaknya yang sedang berbaring, tertidur lelap di kamarnya. Mbok Widji tampak asyik sedang menikmati buah keturunannya itu.

“Cantik…” katanya manja. “Mereka cantik ya, Pak. Untung tidak seperti kita.”

Kalo masalah cantik, aku cuma mikirin bakal mantu kita yang tidak boleh sembarang orang. Kita sepakat menyekolahkan anak kita minimal MA. Jadi, mantu kita minimal diploma atau sarjana. Atau paling tidak, anak orang kaya, he-he-he…” Pak Bedjo terkekeh-kekeh seraya menyruput secangkir kopinya.

“Eee… Bapak iki pikirannya untung-rugi melulu.”

“Ya, harus. Masak kita seumur hidup rugi terus bahkan hingga anak cucu kita. Apa salahnya kita berharap sesuatu yang lebih baik…”

Begitulah keseharian keluarga Pak Bedjo. Hidup pas-pasan di lingkungan Desa Ledok Kulon, Kabupaten Bojonegoro. Sungai Bengawan Solo meliuk-liuk membelah desanya. Indah, namun sekaligus mengancam musibah banjir tahunan jika musim hujan tiba. Tetapi, betapa pun matahari selalu terbit dari timur memancarkan sinar kuningnya yang cerah. Jadi, selalu ada harapan optimis di masa depan yang lebih cerah dari sekarang.

Dan harapan itu ada pada kedua anak kembarnya, Suparti dan Suparni…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: