Cerpen: Anakku

 

MATAKU terbelalak! Tas kulit yang diberikan oleh seorang pengusaha tadi siang, aku buka dan segera menampakkan beberapa bundel uang ratusan ribu! Satu bundel yang dililit kertas bank itu tertulis angka 10 juta rupiah! Ada lima puluh bundel! Jadi, tas itu berisi lima ratus juta rupiah!!

Seluruh isi tas kulit aku tumpahkan di atas kasur. Bundel-bundel uang lalu berjatuhan memenuhi kasurku. Dengan mata masih terbelalak, aku menjatuhkan diri menelungkup sambil merangkul bundel-bundel uang. Uang-uang-uang…

Begitulah aku menerima suap sejak pertama kali menjabat sebagai pemimpin proyek. Sesuap demi sesuap, korupsi demi korupsi… kutimbun hingga mencapai angka milyaran rupiah. Setelah aku kaya raya dari uang suap itu, aku pun berlagak punya harga diri yang tinggi. Tetapi penguasaha atau kontraktior yang ingin menyuap aku tetap harus dengan uang kontan, tidak mau transfer karena kuatir terlacak oleh inspektorat atau kejaksaan.

Dalam jangka waktu 5 tahun, aku sudah menjadi kaya raya, menjadi konglomerat! Aku sudah mempunyai rumah di real estate kelas atas, dengan kolam renang di halaman belakang, dilengkapi ruang fitness dan ruang home theatre yang mutakhir, mempunyai dua mobil mewah… semuanya aku nikmati. Sementara itu soal anak, isteri, keluarga…? Aah, sudahlah, sejak seorang pengusaha mengajakku merayakan kemenangan tendernya, aku disuguhi berbagai surga dunia yang membuatku lupa diri, lupa pula anak-isteri. Main golf, karaoke, perempuan cantik…, apapun yang aku mau dengan mudah dikabulkannya.

Zaman edan memang membuat orang harus edan jika ingin keduman. Zaman yang serba materialistis harus diawali dan diakhiri dengan materialisme pula. Dan representasi materialisme yang paling dominan adalah uang, uang dan uang. Dengan uang semuanya bisa dibeli bahkan jabatan dan kehormatan sekalipun.

Puncak karirku ketika aku menjabat direktur. Materi yang kumiliki mencapai puncaknya, walaupun bersamaan itu pula keluargaku semakin berantakan. Aku terpaksa menceraikan isteriku karena ia tidak bisa mengikuti pola hidupku. Anakku, yang sudah menginjak remaja, ikut ibunya.

Kesibukan kantor tidak terlalu menuntutku akan keluarga yang harmonis. Seminar, rapat, peresmian proyek dan lain-lain membuatku sangat sibuk. Sementara, kehangatan cinta bisa kubeli sewaktu-waktu, tinggal pilih perempuan atau bahkan gadis mana yang cantik. Enak sekali, simple. Berganti pasangan, keluar masuk restoran, panti pijat, hotel mewah…

Tetapi yang namanya manusia, tubuh ini ternyata mulai rapuh. Konsumsi lemak yang berlebihan dan hidup tidak seimbang membuat kesehatanku mulai menurun. Tensi semakin naik, asam urat tinggi… Dokter akhirnya mendiagnosa kemungkinan adanya gejala stroke dan jantung.

Aku mulai takut. Bisakah kubeli nyawa seseorang untuk menyambung hidupku. Semua orang bisa kubeli, bahkan kejaksaan dan inspektorat yang memeriksa keuangan proyek bisa kuajak kong-kali-kong dan semuanya menjadi beres. Korupsiku tak terdeteksi karena pintarnya aku bekerja sama dengan berbagai pihak.

Kini, bisakah aku membeli dokter yang bisa memperpanjang hidupku? Dokter itu pun menggeleng sambil angkat tangan. Berbagai upaya pengobatan kutempuh mulai dari alternatif, Mount Elizabeth di Singapura hingga ke Jerman. Sebelum pensiun, karena kondisi kesehatanku, aku mengajukan pengunduran diri sebagai direktur. Perpisahan pun dilakukan seakan-akan aku orang terhormat di departemen.

Usiaku sudah mencapai lima-puluh-dua tahun. Aku harus mencari orang pintar untuk menyembuhkan penyakitku. Jalanku sudah mulai pincang, tertatih-tatih dibantu dengan tongkat. Napas pun sering sesak dan terbatuk-batuk. Untung sopirku masih setia menemaniku ke sana-sini untuk mencari orang pintar – meskipun kesetiaan itu tak lepas dari gajinya yang kunaikkan.

Di antara sepinya malam, pikiranku menerawang jauh ke masa lampau. Aku ingat ketika masa mudaku yang sederhana bahkan cenderung kekurangan. Tetapi isteriku setia mendampingi di rumah kontrakan kami. Sepeda motor kumalku sering dilap bersih oleh isteriku. Kami masih bisa merasa bahagia di antara kemesraan, kesetiaan dan kesederhanaan seperti itu. Ketika anakku lahir sebagai bayi mungil, sempurnalah aku menjadi bapak. Kutimang, kucium, kupeluk mesra penuh cinta-kasih. Isteriku sering tersenyum melihatku bercanda dengan anakku.

Di antara dinginnya malam, akupun ingat ketika uang telah membutakan aku hingga isteri dan anakku tidak kuat melihat sepak terjangku. Mereka aku cerai, dan akhirnya pulang kembali ke orang tuanya di desa. Entah bagaimana nasib anakku di desa sana. Ingin aku menyekolahkannya ke luar negeri seperti anak orang kaya lainnya. Tetapi ternyata kudengar ia masuk pesantren yang ada di desanya, bahkan ketika lulus ia menjadi guru di pesantrennya itu.

Di antara gelapnya malam, ada sinar bintang yang membisikkan ke hati nurani akan spekulasi untuk menjenguk isteri dan anakku di desa. Rumah mertuaku masih seperi dulu ketika kira-kira tiga puluh tahun lalu aku melamar anak gadisnya. Rumah sangat sederhana dari anyaman bambu, dibangun oleh jerih-payah petani kecil dari sepetak sawah hasil warisan.

Ketika mobil mewahku di depan rumahnya, mantan isteriku sedang menyapu halaman yang tidak begitu luas tetapi banyak ditanami tetumbuhan. Dari dalam mobil, aku bisa melihat mantan isteriku itu menatap kedatangan mobil mewahku. Ia pasti menduga-duga dan dugaannya benar bahwa yang datang itu mantan suaminya.

Pintu mobil kubuka, kakiku menjulur keluar dan aku segera berdiri di samping mobil. Kami saling menatap. Kulihat mata isteriku berkaca-kaca dan mengalirkan air mata yang segera membasahi pipinya yang mulai keriput. Tetapi jauh di dalam sana, kulihat hatinya masih cantik. Air matanya membersitkan sejuta makna… tapi sejuta makna itu tidak ada rasa benci di matanya. Aku bisa pastikan itu. Aku merasakan bahwa ia sangat mengasihani aku saat melihatku sudah mulai renta, berjalan pincang tertatih-tatih bertopang tongkat saat itu.

Aku tidak berani melangkah memasuki halaman rumahnya. Aku tahu diri, aku malu. Melihat wajahnya saat itu sudah membuat hidupku sedikit berarti lagi. Kenangan-kenangan manis pada masa lalu bagaikan energi yang meningkatkan stamina di usia senjaku. Lama sekali kami saling menatap tak berucap tak berkata. Tiba-tiba tanpa kuduga ia menghampiriku.

“Silahkan masuk,” katanya lembut.

E-eh, mana suamimu?” aku berusaha sopan karena ia juga seorang wanita terhormat. Perkiraanku ia menikah kembali setelah aku ceraikan. Tetapi ternyata ia menggeleng. Lalu ia mengajakku masuk. Kulihat ibunya, yang sudah sangat renta, duduk di salah satu sudut rumah yang sederhana itu, tampak menyaksikan kehadiranku. Ia tidak marah, tidak pula menyapa. Dan aku pun hanya bisa tertunduk malu. Betapa hinanya aku selama ini.

“Di mana Lisa?” aku berbisik ada mantan isteriku, menanyakan anakku.

“Masih mengajar di pesantren,” jawabnya singkat.

Kemudian kami terdiam lama, cukup lama hingga makan siang tiba. Ketika mantan isteriku hendak bicara, kukira ia hendak menawarkan makan siang, ternyata tidak…

“Aku sholat dhuhur dulu,” katanya pelan. Akupun mengangguk pelan. Aku tahu bahwa kami bukan suami isteri lagi, sehingga aku harus tahu diri.

Selama mantan isteriku sholat, aku mondar-mandir di halaman rumah mantan mertua. Siang itu memang panas, tetapi masih bisa diteduhi oleh rindangnya pepohonan. Kunikmati pemandangan pedesaan yang masih asri menyejukkan hati itu. Sesekali kulihat delman melintas dan petani pulang dari sawah…

***

Aku membeli sepetak gubuk kecil di desa itu, tidak jauh dari rumah mantan mertuaku. Kiranya sudah terlambat bagiku menjalin kembali ikatan suami isteri dengan mantan isteriku. Tetapi aku masih memiliki Lisa, anakku yang kini beranjak dewasa menjadi gadis manis nan alim. Mereka pun tidak keberatan aku membeli gubuk kecil tidak jauh dari mereka.

Sudah hampir setahun aku tinggal di desa. Aku sudah tidak mau tahu lagi kekayaanku yang ada di kota dan tanah-rumah-villa yang tersebar entah di mana. Semuanya terserah adikku atau saudaraku yang lain mau dikemanakan. Aku ingin menghabiskan masa tuaku dengan anakku. Aku memahami isteriku yang sudah kuceraikan dan aku telah menyakiti hatinya. Aku dan isteriku memang sudah menjadi orang lain. Tetapi anakku tidak bisa aku ceraikan. Ia tetap anakku.

Pendidikan anakku di pesantren ternyata membuahkan akhlaq mulia baginya. Ia menjadi harta baru yang tak ternilai bagiku, karena ia masih mengakuiku sebagai bapak…

Hari-hari tuaku hanya sendirian di gubuk kecil di desa. Tetapi anakku saban kali mampir ke gubuk menemaniku. Ia pun secara rutin mengirimi makanan pagi-siang-sore. Katanya itu adalah masakannya; sederhana tetapi nikmat di lidah dan di hati.

Sebagai guru di pesantren, anakku pun merasa berkewajiban menyadarkan kembali bapaknya untuk segera bertobat kepada Tuhan. Setelah puluhan tahun aku melupakan Tuhan, tumpukan dosa-dosaku serasa tak mampu lagi menumbuhkan tobat di hati. Dosa berbunga dosa. Penyesalan demi penyesalan, apalagi ketika anakku tak mau menerima harta sepeser pun dariku karena dinilainya jelas haram hukumnya. Hartaku haram, makananku haram, tubuhku haram!

“Sudahlah, Pak. Sholat saja, banyak merenung setelah sholat, ngaji, zikir tengah malam. Insya Allah, masih ada secercah harapan. Tuhan Maha Pengampun dan Maha Mengetahui isi hati hamba-hamba-Nya yang benar-benar mau bertobat.”

Menyadari sakit yang semakin parah, aku pun menuruti nasihat anakku. Mulailah aku belajar sholat lagi dengan dibimbing anakku seperti halnya anak sekolah yang baru belajar sholat. Mengaji alif-ba’-ta’ juga terpatah-patah selain berusaha memahami tafsirnya.

Kakiku yang dulu pincang, kini semakin tidak bisa tegak. Kursi roda adalah satu-satunya alat untuk melangkah. Aku terpaksa sholat dengan duduk, setelah itu merenungi nasibku…

Di antara malam sepi, di gubuk aku sendiri, pikiranku menerawang ke masa lampau. Aku ingat ketika masa mudaku yang sederhana bahkan cenderung kekurangan. Tetapi isteriku setia mendampingi di rumah kontrakan kami. Sepeda motor kumalku sering dilap bersih oleh isteriku. Kami masih bisa merasakan kebahagiaan di antara kemesraan, kesetiaan dan kesederhanaan. Ketika anakku lahir sebagai bayi mungil, sempurnalah aku menjadi bapak. Kutimang, kucium, kupeluk mesra penuh cinta kasih. Isteriku sering tersenyum melihatku bercanda dengan anakku.

Di antara malam dingin, di gubuk aku sendiri, aku ingat ketika uang telah membutakanku hingga isteri dan anakku tidak kuat melihat sepak terjangku. Mereka aku cerai, dan akhirnya pulang kembali ke orang tuanya di desa.

Di antara malam gelap, di gubuk aku sendiri, ada sinar bintang yang membisikkan ke hati akan spekulasi untuk menjenguk isteri dan anakku di desa. Dan anakku masih menyambutku sebagai bapak! Tuhan, inikah Kasih-Sayang-Mu melalui anakku?

Di antara malam hening, di gubuk aku sendiri, air mataku menetes membasahi pipi yang semakin menua. Aku tidak tahu apakah ini tangis penyesalan, kemunafikan, kecengengan ataukah tangis yang diilhami kemuliaan hati anakku?

Di antara malam senyap, di gubuk aku sendiri, kupandang potret anak-isteriku yang masih kusimpan ketika anakku masih kecil. Cantik, lucu, lembut… kuusap foto itu dengan jemariku yang makin kaku… kudekap kedadaku yang makin kelu.

Tetapi ketika suatu malam anakku mengaji dengan tartil, merdu dan syahdu … dadaku menjadi sedikit lega. Di atas sajadah, di balik mukena putih, kuamati dalam-dalam bahwa anakku memang cantik sekali wajah dan hatinya. Dari sini sempat aku terngiang ada ayat yang berbunyi menyentuh hati yang pernah diajarkan oleh anakku, yaitu; “Maka nikmat manakah dari Tuhanmu yang kamu dustakan?” yang diulang hingga berpuluh kali dalam Kitab Suci.

***

Pesantren itu memang tidak terlalu luas. Bangunannya sederhana, tetapi dihiasi rimbunan tetumbuhan kelapa, pisang dan tanaman toga. Di salah satu sudut ada kandang ayam untuk ternak bagi santri-santri. Di sisi lain ada semacam toko koperasi atau kelontong yang menyediakan barang-barang bagi masyarakat setempat. Ada masjid di tengah-tengah halaman yang dilingkari oleh kamar-kamar santri yang jumlahnya sekitar empat-puluhan santri. Laki dan perempuan berimbang jumlahnya. Lisa mengajar para santri putri.

“Lisa, aku ingin ikut kamu ke pesantren,” kataku ketika Lisa mengantar sarapan pagi.

Kursi rodaku didorong Lisa dari belakang menuju pesantren yang tidak jauh jaraknya. Saat itu adalah saat-saat indah bersama anakku, serasa aku tidak ingin melepaskan buah hatiku itu barang sedetik pun.

Ketika Lisa mengajar di kelas, kudengar suaranya dari masjid di mana aku menunggu sambil tafakkur-tadzakkur. Lisa memberikan aku tasbih dari kayu cendana yang wangi baunya. Kuputar tasbih itu bersamaan dengan zikir apa adanya.

Begitulah hari-hariku kuhabiskan bersama anakku. Kadang ia tidur di gubuk menemaniku dan kadang ia bersama ibunya. Tetapi setiap ia mengajar di pesantren, aku pun selalu ikut menemaninya dan mendengarkannya mengajar.

***

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Akibat stroke yang menggerogoti secara perlahan tapi pasti, separoh badanku mulai lumpuh. Untuk tinggal sendirian di gubuk sudah tidak memungkinkan lagi. Tinggal bersama mantan isteri dan mertuaku apalagi. Sekali lagi, Lisa anakku, berusaha membantuku dengan mengajukan permohonan kepada pengelola pesantren untuk menitipkanku di pesantren. Tetapi aku sedih lagi ketika Lisa masih tidak mau menerima uang dariku untuk membayar pesantren yang merawatku.

Tinggal di pesantren semakin banyak waktuku untuk berdekatan dengan Tuhan. Aku tidak tahu apakah Tuhan mau menerima tobatku karena ibadahku terhitung rutin cuma tiga tahun terakhir ini, sedang puluhan tahun di awal-awal umurku, praktis aku melupakan-Nya. Tetapi keputus-asaan itu selalu mengendap dengan nasihat anakku, “Sudahlah, Pak. Sholat saja, banyak merenung setelah sholat, ngaji, zikir tengah malam. Insya Allah, masih ada secercah harapan. Tuhan Maha Pengampun dan mengetahui isi hati hamba-Nya yang benar-benar mau bertobat.”

Suatu hari, ketika firasat ajal akan tiba, para santri berlarian memanggil anakku yang sedang mengajar di kelas.

“Bu Lisa, Bu Lisa… bapak terkulai di masjid.”

Anakku segera berlari menghampiri masjid dan melihat tubuhku yang lunglai tergeletak. Tanganku masih berusaha memutar tasbih, ketika sayup-sayup terdengar suaranya; “Tolong, tolong panggilkan ibu saya di rumah…,” kata Lisa gugup kepada salah seorang santri.

Anakku berusaha merebahkan kepalaku di atas pangkuannya. Disekanya mukaku yang mulai berkeringat dingin. Kurasakan tangannya gemetar mengusap wajahnya, lalu memegang tanganku dan berusaha merangkulku.

“Anakku,… terima kasih, selama tiga tahun ini engkau menemaniku, menyadarkanku. Kebersamaan kita selama ini adalah saat terindah bagiku. Maafkan bapak, ya Nak. Teruskan doa dan tobat bapak kepada Allah, karena umur bapak sudah tidak bisa melanjutkan lagi.”

“Pak…, Bapak…,”

Pandanganku mulai suram, tetapi masih sempat terlihat anakku berlinang air mata.

“Lisa, anakku, jangan menangis. Lepaskan bapak dengan senyummu… Bapak sangat bangga kepadamu…,” tanganku yang masih memegang tasbih berusaha mengusap pipinya yang basah karena air matanya.

“Lisa…,” sayup-sayup terdengar suara wanita menyapa anakku, suara mantan isteriku.

“Pak, ibu datang…,”

Wanita itu bersimpuh mengambil jarak tidak jauh dari kami, memandang kami berdua secara bergantian. Serba salah baginya melihatku sebagai mantan suaminya yang kini menjadi orang lain, bukan muhrimnya.

“Maaf-kan, a-ku…,” kataku perlahan, terpatah-patah kepada mantan isteriku.

Tiba-tiba mataku melihat ada sinar sangat menyilaukan yang mulai merenggut jasadku dari bawah. Kakiku mulai terasa mati tidak bisa digerakkan, kemudian naik ke lutut, paha, pantat, perut dan dada semakin sesak…nafasku tersengal-sengal.

Kulihat samar-samar anakku berusaha tabah dan tersenyum kepadaku sambil menuntun melafalkan kalimat, “Laa illaha ilallah, Muhammad Rasulullah…”

Syukurlah, mulutku ternyata masih bisa digerakkan – meskipun sulit dan terbata-bata – mengikuti lafal kalimat, “Laa… illaha… ilallah,… Muham-mad….. Rasu-lullah…”

Kemudian tanganku yang memegang tasbih terkulai dari pundak anakku, dan tasbih pun terjatuh ke tikar masjid. Masih sempat kurasakan anakku memelukku dengan hangat dan erat. Dari balik punggung anakku sempat pula kulihat secara samar-samar wajah mantan isteriku untuk terakhir kalinya. Ajalku sudah sampai di leher, napas tersedak, naik ke mulut, ke hidung, mata mulai terkatup, dan… roh-ku tercabut dari jasadku…

“Innalillahi wa innailaihi raji’uun…”

***

Bandung, 2 Nopember 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: