Bacalah 49. Iman & Taqwa

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

 

Alif laam miim. 1)

 

Kitab (al-Qur’an) ini

tiada keraguan padanya;

petunjuk bagi mereka yang taqwa 2)

 

(yaitu) mereka yang iman

pada yang gaib, mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rejeki

yang Kami anugerahkan padanya, 3)

 

dan mereka yang iman pada Kitab (Qur’an) yang telah diturunkan padamu

dan Kitab-kitab yang diturunkan sebelummu,

serta mereka yakin adanya akhirat. 4)

 

Mereka yang tetap dapat petunjuk dari Tuhannya

dan mereka orang-orang beruntung. 5)

 

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka,

kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak juga akan iman. 6)

 

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka

dan penglihatan mereka ditutup.

Dan bagi mereka siksa amat berat. 7)

 

Di antara manusia ada yang berkata:

“Kami iman pada Allah dan Hari Akhir”,

padahal mereka sesungguhnya bukan orang-orang iman. 8)

 

Mereka hendak tipu Allah dan orang-orang beriman,

padahal mereka tipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. 9)

 

Di dalam hati mereka ada penyakit,

lalu ditambah oleh Allah penyakitnya

bagi mereka siksa yang pedih,

disebabkan mereka berdusta. 10)

 

QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 1-10

 

 

(al-Qur’an) ini penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran orang-orang yang bertaqwa.138) Jangan kamu bersikap lemah dan jangan sedih hati, padahal kamu orang-orang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang beriman.139) (QS. 3:138-139)

MENJELANG akhir suluk kitab ini, mulai terarah pada realita iman dan taqwa sebenarnya; bukan lagi teori yang mudah dihafal, yang terbatas pada sekat-sekat doktrin kaku institusi keagamaan dan yang ditafsir-salahkan. Ketika akan mencapai akhir pada Kajian 50: Nikmatilah Kitab Tuhan, ditekankan pada pengembalian pembelajaran kepada al-Qur’an sebagai Kitab Suci terakhir yang menuntun manusia berjalan di jalur yang benar seperti pada Kajian 01: Samudera al-Fatihah khususnya sub kajian Meniti di atas Jalan yang Benar. Perjalanan dari Kajian 01 hingga Kajian 48 banyak penjelasan logis-realistis-religis tentang Tuhan, alam semesta, manusia dan seterusnya. Kini sampai ada bahasan bagaimana hati yang iman dan taqwa.

 

Dwitunggal: Iman dan Taqwa

“Alif laam miim.1) Kitab (al-Qur’an) ini tiada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa2) (yaitu) mereka yang beriman pada yang ghaib, mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami anugerahkan pada mereka,3) dan mereka yang beriman pada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan padamu dan Kitab-kitab yang diturunkan sebelummu, serta mereka yakin adanya akhirat.4) Mereka yang tetap dapat petunjuk dari Tuhan-nya dan mereka orang-orang beruntung.5)

Kitab al-Qur’an, sebagai Kitab Samawi, sebagai Kitab Tuhan, memang tidak diragukan lagi kemurniannya sebagai Firman Tuhan. Isinya sarat dengan nilai-nilai universal, pokok paling sederhana dan tidak memerlukan tafsir lebih lanjut (muhkamat) hingga paling kompleks yang membutuhkan tafsir lebih lanjut (mutasyaabihaat) yang melibatkan potensi intelectual, emotional dan spiritual yang dimiliki ‘ulama di bidangnya masing-masing – meskipun akhirnya terbentur keterbatasannya dan ketidakterbatasan-Nya. Pada saat itu sikap yang berlaku adalah iman dan taqwa.

Menurut kelima ayat pertama QS. 2. menjelaskan kriteria taqwa, yaitu:

(1)
iman kepada yang ghaib,

(2) mendirikan sholat,

(3) menafkahkan sebagian rejeki,

(4) iman kepada kitab samawi, dan

(5) yakin adanya akhirat.

Iman kepada hal-hal yang ghaib sedikit banyak telah dijelaskan pada Kajian 08: Hakikat Keghaiban. Keyakinan akan keberadaan segala sesuatu yang ghaib ada di dalam Genggaman Sang Mahaghaib, sehingga akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya, karena: “Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang ghoib; tiada yang tahu kecuali Dia, dan Dia mengetahui yang di darat dan di laut, dan tiada sehelai daunpun gugur selain Dia mengetahui dan tidak jatuh sebutir biji dalam kegelapan bumi dan tidak ada yang basah atau yang kering selain tertulis di dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (QS. 6:59)

Mendirikan sholat sebagai konsekuensi dari tauhid, iman dan taqwa menjadikannya sebagai hamba yang saleh. “Bacalah yang telah diwahyukan padamu yaitu al-Kitab. Dan dirikan sholat. Sesungguhnya sholat mencegah dari keji dan mungkar. Dan sesungguhnya ingat Allah (sholat) lebih besar (dari ibadat lain). Dan Allah mengetahui yang kamu kerjakan.” (QS. 29:45)

Menafkahkan sebagian rejeki akan menyadarkan keberadaaan manusia yang beriman dan bertaqwa untuk memfungsikan dirinya sebagai saluran Tuhan yang membantu kekurangan manusia lainnya yang belum beruntung. Selengkapnya soal rejeki telah dibahas secara terperinci pada Kajian 14: Jangan Kuatir Soal Rejeki. “Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Tuhan mengetahuinya.” (QS. 3:92)

Iman kepada Kitab Samawi yang berfungsi sebagai bacaan pegangan hidup yang pasti akan memberikan pencerahan jiwa dan pikiran baginya, jika cara pembelajaran dan penerapannya secara benar. Kitab-Kitab tersebut adalah al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad dan Kitab-Kitab sebelumnya pada zaman sebelum Nabi Muhammad.

(al-Qur’an) ini penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran orang-orang bertaqwa.” (QS. 3:138). Begitu pula dengan adanya Kitab Nyata Lauh Mahfuzh yang meliputi seluruh Kitab-Kitab Samawi. “Demi Kitab (al-Qur’an) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami telah menjadikan al-Qur’an di dalam bahasa Arab agar kamu paham. Dan sesungguhnya al-Qur’an di dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah. Maka apa Kami akan berhenti menurunkan al-Qur’an padamu, karena kamu kaum yang melampaui batas?” (QS. 43:1-5)

Yakin adanya akhir suatu kejadian adalah wujud keseimbangan, karena telah didahului adanya awal suatu kejadian. Segala suatu ada awal dan akhir, baik kehancuran, kematian, kelenyapan – yang dihimpun di alam akhirat. “Semua yang di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan” (QS. 55:27-28)

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak juga beriman.6) Allah telah kunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa amat berat.7) Di antara manusia ada yang berkata: “Kami beriman pada Allah dan Hari Akhir”, padahal mereka sesungguhnya bukan orang-orang iman.8) Mereka hendak tipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka tipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar.9) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.10)

Orang-orang yang ingkar (sifatnya = kufur, orangnya = kafir), adalah kebalikan dari orang-orang beriman dan bertaqwa. Pengertian esensial islam, iman dan ingkar sebagai intuisi, sikap dan perilaku hendaknya dibedakan dengan kodifikasi agama islam sebagai institusi, sebagai manifestasi ‘produk kemasan’ yang beradaptasi dengan nilai-nilai sosio-kultural peradaban lokal serta pengaruh pemikiran manusia. Sehingga nilai-nilai islami dipengaruhi oleh pernik-pernik pemahaman yang berkembang secara dinamis dan variatif walaupun ‘mengaku’ tidak meninggalkan al-Qur’an dan al-Hadits. Tetapi perkembangan tafsir terus membuahkan banyak mahzab, kelompok dan organisasi yang mengaku ‘paling’ islam.

 

Multitunggal: ‘Aslama

Islam sebagai “roh” berserah diri sepenuhnya (‘aslama) kepada Tuhan, sebenarnya juga meliputi orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin dan lain-lain yang konsekuen melaksanakan tuntunan ajaran keimanannya, tidak ingkar (kufur) terhadap fitrahnya, menyebarkan keselamatan bagi semua mahluk, bersikap santun dan lain-lain sikap ‘aslama yang terwakili iman dan taqwa yang diuraikan rinci di bawah ini.

Iman dan taqwa merupakan dwi-tunggal. Bahkan iman, sabar, puasa, zakat dan taqwa juga merupakan panca-tunggal. Semuanya terkait di dalam satu sikap dan perilaku. Masing-masing membawa konsekuensi kebersamaan yang tidak bisa berdiri sendiri. Ini adalah jalinan totalitas, instalasi spiritual bagi mereka yang mengaku islam atau berserah diri sepenuhnya pada Tuhan, taubat dan ibadat secara murni.

Berikut banyak ayat menggambarkan jalinan antara iman, sholat, sabar, puasa, zakat, taqwa dan perilaku terpadu menjadi multi-tunggal ‘aslama;

 

Tabel 15. Kriteria Orang Beriman

  1. Sholat, zakat, (2:104-110);
  2. Sabar, sholat, dapat musibah berucap, “Innalillahi…” (2:153-157);
  3. Makan rejeki yang baik-2, banyak bersyukur (2:172);
  4. Kewajiban qishaash supaya bertaqwa (2:178-179);
  5. Puasa, mengagungkan Tuhan, banyak bersyukur (2:183-185);
  6. Masuklah ke dalam Islam keseluruhan (2:208);
  7. Ikhlas bersedekah (2:264);
  8. Menafkahkan hasil usaha yang baik-baik (2:267);
  9. Bertaqwa pada Tuhan dan tinggalkan (sisa) riba (2:278);
  10. Taqwa sebenar-2 taqwa, jangan mati selain dalam Islam (3:102)
  11. Tidak mengambil teman di luar Islam, sabar dan taqwa (3:118-120);
  12. Tdk riba, taqwa, nafkahkan harta, menahan marah, pemaaf (3:130-134);
  13. Sabar, siap siaga, taqwa (3:200);
  14. (konsentrasi dlm) sholat (4:43);
  15. taat pada Tuhan, Rasul, ‘ulil amri (4:59);
  16. teliti (kasus perang) (4:94);
  17. selesai sholat, ingat Tuhan wkt berdiri, duduk, berbaring (perang) (4:103);
  18. penegak keadilan (4:135);
  19. iman pada Tuhan, malaikat-2, kitab-2, rasul-2, hari akhir (4:136-137);
  20. tak berwali org ingkar, tobat, adakan perbaikan, ikhlas beragm (4:144-147);
  21. ingat perjanjian tauhid (5:7);
  22. berlaku adil karena adil lbh dkt pada taqwa, tawakkal (5:8-11);
  23. taqwa pd Tuhan, mencari jl untuk mendekatkan diri pd-Nya, jihad (5:35);
  24. tidak mengada-adakan hukum, tidak melampaui batas (5:87-88);\
  25. taqwa pada Tuhan, berkata benar (jujur) (33:70);
  26. tak mengolokkan kaum lain, tdk prasangka, tdk cari-2 kesalahan (49:11-12);
  27. berbicara tentang kebajikan dan ketaqwaan (58:9);
  28. beriman pd Tuhan, Rasul & jihad di jl Tuhan dg harta & jiwa (61:11)

 

Dari tabel di atas sangat jelas bahwa iman dan taqwa saling meliputi dan memiliki. Demikian juga perilaku mulia lainnya seperti sholat, zakat, puasa, banyak bersyukur, santun, ikhlas, bersedekah, menafkahkan yang baik, meninggalkan riba’, sabar, menahan marah, pemaaf, sigap, teliti, adil, taat pada Tuhan dan utusan-Nya, ingat Tuhan pada situasi-kondisi apapun, tidak berwali orang ingkar, taubat dan mengadakan perbaikan, selalu ingat perjanjian tauhid, mencari jalan mendekatkan diri pada-Nya, berjihad harta dan jiwa, tidak menjungkir-balikkan hukum, tidak melampaui batas, jujur, tidak berolok-olok, tidak berprasangka, tidak mencari-cari kesalahan orang atau kaum lain, berbicara kebajikan dan ketaqwaan, dst-dst…

Sehingga dapat disimpulkan sementara bahwa konsep iman tidak saja mengaku (apalagi sekedar pada lisan dan eksklusif) yaitu iman pada Tuhan, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir dan takdir seperti yang diterima masyarakat umum selama ini. Tetapi dwi-tunggal iman dan taqwa meliputi sikap-perilaku mulia multi-tunggal seperti diuraikan di atas.

 

Konsekuensi Iman dan Taqwa

Tabel 16. Konsekuensi Keimanan dan Ketaqwaan

Sedemikian kompleks ternyata mengejawantahkan iman dan taqwa. Semuanya harus terjaga mulai dari hati, pikiran, panca indera dan perilaku. Karena inti dari ketaqwaan adalah “quu” yang artinya “peliharalah” atau “terpelihara” dari segala suatu yang menyesatkan dan yang tercela sebagai lawan ketaqwaan seperti keingkaran, kefasikan dan kedurhakaan.

“…Tuhan menjadikanmu cinta pada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci pada keingkaran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itu yang mengikuti jalan lurus, ” (QS. 49:7)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, tidak mendurhakai Tuhan terhadap yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. 66:6)

Konsekuensi iman dan taqwa sangat berat. Tetapi bagi mereka yang senantiasa mengikatkan diri kepada Tuhan, memohon petunjuk-Nya dan pertolongan-Nya, bersyukur dan bertaubat, istiqomah di dalam beribadat dan selalu berupaya mencari jalan lrus yang menuju kepada-Nya; Tuhan pasti akan memperhatikan hamba-hamba-Nya yang demikian.

Hijab demi hijab terkuak bagi yang melakukan perjalanan batin (suluk) meniti jalan Illahi menuju kepada-Nya. Kenikmatan demi kenikmatan serta keindahan demi keindahan iman dan taqwa pasti akan dirasakannya. Untuk berpegangan pada agama Tuhan, maka sudah semestinya pelaku perjalanan batin tersebut (salik) berpegang pada Kitab Tuhan yang di dalamnya berisi penerangan jalan, petunjuk dan pelajaran untuk menuju kepada-Nya.

“(al-Qur’an) ini penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang bertaqwa.138) Jangan kamu bersikap lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah orang-orang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.139)

Kitab al-Qur’an sebagai salah satu Kitab Suci yang paripurna, sebagai penerangan bagi seluruh manusia belum tentu sama dengan fungsi sebagai petunjuk bagi kaum muttaqiin, karena penerangan bersifat relatif pasif daripada sebagai petunjuk. Orang bertaqwa akan menggunakan Kitab Tuhan sebagai (bagaikan) senter untuk membantu suluk menembus gelapnya malam atau ketika memasuki rimba belantara yang gelap. Lain halnya dengan manusia pada umumnya yang ketika gelap ia memilih berhenti dan beristirahat karena takut atau malas; tidak mau menerima tantangan untuk memasuki rimba belantara dan memilih jalan memutar.

Orang-orang yang bertaqwa, yang memelihara ketekunan belajar dan mengkaji al-Qur’an sebagai petunjuk dengan seijin Tuhan, ia akan menemukan rahasia atau hijab yang dibukakan Tuhan baginya. Pada saat itu ia semakin yakin dan imannya semakin meningkat menuju inti-inti kebijakan atau kesejatian diri. Sehingga ia takkan bersikap lemah dan takkan pernah bersedih hati, karena ia termasuk orang-orang paling tinggi (derajatnya) dan karena ia termasuk orang-orang beriman. Kembali lagi pada ujung ma’rifat, yaitu suatu keadaan laa khaufun alaihim wa laahum yahzanuun…

Firman Tuhan pada QS. 48:4dan7,

“Dia yang telah menurunkan ketenangan di dalam hati orang-orang yang mu’min supaya keimanan mereka bertambah selain keimanan mereka (yang ada). Dan punya Allah tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,4)

“Dan kepunyaan Allah tentara langit dan bumi. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.7)

Jika mengacu pada sub kajian ini, maka sikap taqwa mendahului iman. Menarik akar taqwa dari kata quu
(peliharalah) terkait dengan sikap yang mencintai al-Qur’an dan memelihara ketekunannya belajar dan mengkaji Kitab Tuhan tersebut, keadaan taqwa akan mengantarkan pada keimanan. Pada kasus yang lain bisa sikap iman mendahului taqwa yaitu QS. 66:6 pada Kajian 47: Peliharalah Dirimu dan Keluargamu. Jadi iman dan taqwa saling menguatkan satu sama lain.

 

Maqam Bertingkat

Pada QS. 24:35 disebutkan nuruun ‘ala nuurin, cahaya demi cahaya, bertingkat-tingkat, berlapis-lapis; maka demikian pula iman dan taqwa. (Kedudukan) mereka bertingkat di sisi Tuhan dan Tuhan Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. Sesungguhnya Tuhan telah memberi karunia pada orang-orang yang beriman pada saat Tuhan mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan pada mereka ayat-ayat Tuhan, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan pada mereka al-Kitab (yang tersurat) dan al-Hikmah (yang tersirat). Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka benar-benar dalam kesesatan nyata.” (QS. 3:163-164)

Maqam manusia bertingkat-tingkat (vertikal) menunjukkan perbedaan energi kemuliaan antara orang ingkar, orang awam dan orang beriman; sedangkan berlapis-lapis (horisontal) menunjukkan keragaman pada setiap masing-masing tingkat. Demikian pula pada tingkatan orang beriman dan bertaqwa masih terdapat beragam lapisan keberbedaan amal saleh mereka tetapi mereka masih tetap pada frame tingkat maqamnya.

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Tuhan. Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakanmu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhan telah menciptakan 7 langit bertingkat-tingkat?” (QS. 71:13-15)

“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). Mengapa mereka tidak mau iman, dan jika al-Qur’an dibacakan, mereka tidak sujud, bahkan orang-orang ingkar mendustakan(nya). Padahal Tuhan mengetahui yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka beri kabar gembira mereka dengan azab pedih. Tetapi orang-orang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala tidak putus-putusnya.” (QS. 84:19-25)

 

Tuhan Beserta…

Dalam Kitab Tuhan sangat banyak disebutkan “Allah beserta…” , lalu disebutkan macam-macam type orang yang disertai Tuhan. Hubungannya dengan iman dan taqwa, adalah bahwa orang-orang yang Tuhan selalu beserta mereka adalah himpunan bagian dari orang beriman dan bertaqwa. Sehingga pastilah Tuhan juga beserta orang beriman dan bertaqwa.

Firman Tuhan pada QS. 2:153,

“Hai orang-orang beriman jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”153)

“…Oleh sebab itu barang siapa yang menyerangmu maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, Allah beserta orang-orang yang bertaqwa. Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan diri kamu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah itu menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 2:194-195)

“… dan Allah beserta orang-orang sabar”. Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka berdo’a: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kokohkan pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang ingkar”. (QS. 2:249-250)

“Hai orang-orang beriman, jika kamu memerangi pasukan (musuh), maka teguh hatilah kamu dan sebut Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan ta’atlah pada Allah dan Rasul dan jangan kamu berbantahan, yang menyebabkanmu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan sabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang sabar.” (QS. 8:45-46)

“Kini Allah telah ringankan padamu dan Dia telah ketahui padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu 100 orang sabar, niscaya mereka dapat kalahkan 200 orang jika ada 1000 orang (sabar), niscaya mereka dapat kalahkan 2000 orang. Dan Allah beserta orang-orang sabar.” (QS. 8:66)

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah 12, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi diantaranya 4 bulan haram. Itu (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri di dalam bulan yang 4 itu dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka perangi semuanya, ketahuilah Allah beserta orang-orang bertaqwa.” (QS. 9:36)

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang ingkar yang ada di sekitar kamu itu dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu dan ketahuilah, Allah beserta orang-orang taqwa.” (QS. 9:123)

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan padamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Sabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu selain dengan pertolongan Tuhan dan jangan kamu sedih hati terhadap (keingkaran) mereka dan jangan kamu bersempit dada terhadap yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. 16:126-128)

Dapat disimpulkan bahwa eksistensi sikap sabar (yang benar) seringkali mendampingi keimanan dan ketaqwaan seseorang atau suatu kaum.

 

Tuhan Menyukai…

Demikian pula dengan kata “Allah menyukai…”;

“…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan yang mensucikan diri.” (QS. 2: 222)

“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji dan bertaqwa maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taqwa.” (QS. 3:76)

“Dan bersegeralah kamu pada ampunan Tuhanmu dan pada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang taqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (harta), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang jika kerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat Allah, lalu mohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah – dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui.” (QS. 3:133-135)

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalann Allah dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (pada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tiada do’a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampuni dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihanan dalam urusan kami dan tetapkan pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang ingkar”. Karena itu Tuhan memberikan pahala di dunia dan pahala baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. 3:146-148)

 

Iman pun Seijin Tuhan

Ini adalah aktualisasi bahwa manusia tidak mengetahui apapun selain dengan ijin Tuhan, manusia takkan mampu berbuat sekecil apa pun tanpa seijin Tuhan; karena daun gugur pun Tuhan mengetahuinya, mengijinkannya – dengan kata lain atas izin-Nya. Demikian pula dengan keimanan.

Seperti dibahas kajian-kajian terdahulu bahwa kesan ayat seperti ini memberikan penilaian bahwa Tuhan sangat otoriter. Tetapi jika manusia telah mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, maka ia kenal pula skenario yang telah-sedang-akan dituliskan dalam Kitab Luhul Mahfuzh, betapa pun skenario tersebut karena ia telah ikut pula menuliskannya dengan izin Tuhan.

Firman Tuhan pada QS. 10. Yunus 100,

Dan tiada seorangpun beriman kecuali seizin Allah. Allah menimpakan kemurkaan pada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.”100)

Firman Tuhan pada QS. 9. at-Taubah (Pengampunan) 78,

“Tidakkah mereka tahu Allah mengetahu rahasia dan bisikan mereka dan Allah amat tahu segala yang ghoib?”78)

 

Hasil Ketaqwaan

Hasil atau buah ketaqwaan tidak saja diperoleh pada akhir kehidupan atau di akhirat kelak. Pada saat ia sedang berusaha dan momen-momen tertentu di dalam kehidupannya di dunia, ia pun sudah bisa merasakan hasil ketaqwaannya itu. Ayat-ayat berikut menyebutkan orang-orang bertaqwa berada di surga (Kajian 37: Surga dan Neraka), ciri mereka sedikit tidur pada waktu malam (Kajian 42: Jauhkan Lambung dari Kasur), juga tentang amal dan rejekinya (Kajian 14: Jangan Kuatir Soal Rejeki).

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa di dalam taman-taman (surga) dan mata-mata air,15) sambil mengambil apa yang diberikan pada mereka oleh Tuhan. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang berbuat baik; 16)
Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam;17) dan di akhir-akhir malam, mereka memohon ampun (pada Tuhan). 18) Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. 19) Dan di bumi terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi orang-orang yang yakin, 20) dan pada dirimu sendiri. Maka apa kamu tiada memperhatikan? 21) dan di langit terdapat rejekimu dan terdapat apa yang dijanjikan padamu. 22) Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.23)
(QS. 51:15-23)

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala suatu menurut ukuran, 49) dan perintah Kami hanya 1 perkataan seperti kejapan mata. 50) Dan sesungguhnya telah Kami membinasakan orang serupa denganmu. Maka adakah yang mau mengambil pelajaran? 51) dan segala yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.52) Dan semua (soal) kecil maupun besar adalah tertulis. 53) Sesungguhnya orang-orang taqwa di dalam taman-taman dan sungai-sungai, 54) di tempat yang disenangi di sisi yang Berkuasa 55)” (QS. 54:49-55) ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: