Bacalah 47. Pelihara Diri dan Keluarga

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Hai orang-orang beriman,

peliharalah dirimu dan keluargamu

dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu;

penjaganya malaikat-malaikat kasar, keras,

tidak mendurhakai Allah terhadap yang diperintahkan-Nya pada mereka

dan selalu mengerjakan apa-apa yang diperintahkan. 6)

 

QS. 66. at-Tahrim (Mengharamkan) 6

 

INTI kajian ini adalah pada “peliharalah dirimu dan keluargamu”, sedangkan pengertian neraka termasuk “bahan bakar”nya dan seterusnya telah dibahas pada Kajian 37: Surga dan Neraka.

Keluarga Sakinah

Quu ‘anfusakum wa ahliykum, pelihara dirimu dan keluargamu. Kata “quu” yang menjadi fokus kajian ini adalah “peliharalah”. Kata “quu” ini yang menjadi ruhnya huruf “qaf” pada kata “taqwa” dan kata “istiqomah”. Dengan pengertian lain dapat dikatakan bahwa taqwa merupakan terminal transit dan akhir dari istiqomah.

Keluarga adalah kesatuan terkecil dari sistem sosial masyarakat. Jika keluarga terpelihara, lingkungan tetangga (neighbourhood) juga terpelihara di dalam suasana kekerabatan (brotherhood). Jika meningkat pada sistem kenegaraan, sosial politik yang mengemuka di tengah pergaulan masyarakat, instansi pemerintah, partai politik dan seluruh segmentasi masyarakat, akan menciptakan ketenangan dan kesejahteraan rakyat (welfare state).

Inti terbentuknya keluarga sakinah adalah figur kepala keluarga, yaitu seorang bapak yang dituntut kemampuannya memimpin keluarganya. Pada umumnya suatu keluarga dipimpin seorang bapak atau seorang suami yang nota bene laki-laki; karena suami atau laki-laki mempunyai satu tingkatan yang lebih dari isterinya atau perempuan (QS. 2:228). Satu tingkatan yang dimaksud minimal suami tidak mengalami halangan haidh sehingga terjaga ibadah ritualnya secara konsisten.

Pada kondisi khusus dan banyak dialami keluarga modern, soal gender atau tuntutan emansipasi wanita ‘agak’ menyimpang dari kaidah agama. Posisi suami sebagai kepala keluarga mengalami pergeseran jika isterinya seorang wanita karir. Pada kondisi tertentu seorang isteri yang merasa berpenghasilan lebih besar dari suaminya, akan relatif merubah kendali keluarga.

Untuk itu, laki-laki yang satu tingkatan lebih daripada wanita, misalnya di dalam hal thingking, harus bisa membina, memimpin dan memelihara keluarganya. Suami harus mampu memberi nafkah lahir-batin pada anak dan isterinya. Sedang seorang wanita sesuai kodrat sebagai isteri bagi suami dan ibu bagi anak telah banyak diatur di dalam al-Qur’an, misalnya QS. 2:233.

Meskipun laki-laki mempunyai satu tingkatan lebih dari wanita, tetapi seorang wanita juga mempunyai kelebihan secara personal yaitu feeling. Ini merupakan keadilan Tuhan.

Keseimbangan antara laki-laki dan wanita dalam saling mengisi dan membantu mewujudkan keluarga sakinah merupakan syarat mutlak untuk menjadikan anak dan keturunannya menjadi lebih baik. Memelihara diri dan keluarga dari api neraka, selain tugas utama dari seorang suami, juga butuh kerjasama seluruh anggota keluarga. Sehingga dengan demikian, rumah bagi mereka adalah rumahku surgaku, home-sweet-home atau baiti jannati, bukan baiti naari.

“Musuh” dalam Keluarga

Pada ayat lain (QS. 64:14-18) disebutkan bahwa di antara isteri dan anak ada yang menjadi musuh bagi seorang suami. Pemahaman ayat tersebut membutuhkan penafsiran lebih lanjut, terutama mendefinisikan “musuh” yang dimaksud.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka hati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan, tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 64:14)”

Makna ‘musuh’ (enemy) yang sebenarnya adalah kembali mengacu kepada kedudukan setan sebagai musuh nyata (real enemy) bagi manusia. Pada Kajian 20, terutama kajian soal Setan, maka ia mengarahkan definisi “musuh” pada segala suatu yang dibisikkan oleh setan, yang menyesatkan manusia dari kebenaran (haqq).

Isteri sebagai musuh tidak harus karena isteri jelek, tidak patuh bahkan memusuhi suami; anak sebagai musuh tidak harus yang nakal, bandel, suka membantah bahkan memusuhi ayahnya. Tetapi pada isteri cantik, patuh dan setia; dan anak yang cantik, pandai, patuh; bisa juga menjadi musuh suami. Jika setan membisikkan kebanggaan berlebihan pada suami yang memiliki isteri dan anak ideal seperti itu, kemudian suami pun lalai mengingat Tuhan; maka isteri dan anak ideal itu bisa menjadi musuh baginya.

Tetapi pada ayat di atas, yang dimaksudkan adalah suami beriman, dan isteri dan anaknya tidak patuh pada suami/ayah. Sikap sebagai suami/ayah harus berhati-hati dan bijaksana membina isteri dan anak yang belum tahu. Dengan memaafkan, tidak memarahi dan mengampuni mereka – serta merta memberi teladan perilaku yang baik – maka sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Jadi, mengapa seorang suami/ayah tidak bisa mengampuni-menyayangi isteri dan anaknya jika mereka bersalah atau khilaf, karena Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penyayang pada semua mahluknya di alam semesta.

Bagaimana pun keadaan isteri, anak, harta, jabatan, kekuasaan dan status yang lainnya, jika hawa nafsu manusia tidak terkendali, lalai dalam mengingat Tuhannya, maka keadaan lalai karena hawa nafsu itu bisa menjadi musuh terbesar dalam dirinya sendiri.

Cobaan berupa Harta dan Anak

“…Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanya cobaan (fitnatun); dan di sisi Allah pahala besar. (QS. 64:15)”

Pada ayat lain dikatakan: Hai orang-orang beriman, janganlah engkau mengkhianati Tuhan dan Rasul (Muhammad) dan janganlah engkau mengkhianati amanat yang dipercayakan padamu sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, hartamu dan anak-anakmu itu hanya cobaan (fitnatun) dan di sisi Tuhan pahala besar.” (QS. 8:27-28)

Diulanginya lagi
bahwa harta dan anak sebagai cobaan bagi manusia, baik bagi laki-laki/suami atau wanita/isteri, merupakan indikasi seringnya harta dan anak sebagai sumber penyebab kelalaian manusia dari mengingat Tuhannya. Harta dan anak pada hakikatnya adalah cobaan, apakah dengan cobaan itu keimanannya akan bertambah atau berkurang.

Cobaan demi cobaan dialami oleh setiap manusia untuk mendapatkan kesempurnaan perhitungan di akhir zaman; apakah ia menjadi lebih beriman dan bertaqwa atau sebaliknya. Beberapa cobaan lainnya di dalam al-Qur’an, di antaranya: (1) Cobaan pada Bani Israil di zaman Fir’aun ketika lahir anak laki-laki harus dibunuh (QS. 2:47-52; QS. 7:141; QS. 14:6), (2) Cobaan masa perang dengan lapar, takut, kurang harta, jiwa (gundah), makanan dll (QS. 2:154-157), (3) Sebagian manusia menjadi cobaan bagi yang lain (QS. 25:20),

Pada setiap ayat yang menjelaskan soal cobaan, selalu disertai siapa yang sabar, sholat dan tawakal pada Tuhan, sesungguhnya pertolongan Tuhan itu sangat dekat. Di dalam sabar, sholat dan tawakal disertai doa. Misalnya doa Nabi Musa As: “…”Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentu Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau binasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami. Itu hanya cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk siapa yang Engkau kehendaki. Engkau yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau pemberi ampun sebaik-baiknya. 155) Dan tetapkanlah untuk kami, kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) pada Engkau…156) QS. 7:155-156)

Di dalam sejarah Nabi Musa As terdapat banyak hikmah yang terkandung di dalamnya, termasuk kisahnya dengan Nabi Khidir dan percakapannya langsung dengan Tuhannya. Ketika Nabi Musa dan kaumnya diberi cobaan, maka teladan bagi umat adalah Nabi Musa langsung bermunajat pada Tuhan, termasuk pada QS. 7:155-156. Demikian pula suri teladan dari para nabi dan rasul lainnya seperti Nabi Ibrahim As sebagai father of prophets, Nabi Isa As hingga Nabi Muhammad sebagai the latest of the prophets.

Firman Tuhan pada QS. 33. al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu) 21,

“Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu suri teladan baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” 21)

Taqwa sesuai Kemampuan

Pada QS. 64 selanjutnya:
“…bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengar serta taatlah; dan nafkahkan yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka orang-orang beruntung.16) Jika kamu meminjami Allah dengan pinjaman baik, niscaya Allah lipat-gandakan kepadamu dan mengampunimu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa dan Maha Penyantun.17) Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.18)

Ada sedikit perbedaan antara kesanggupan yang diturunkan dari niat-kemauan dengan kemampuan yang didasarkan pada kapasitas diri seseorang yang tergantung dari pemahaman ilmunya. Makna “bertaqwalah kamu pada Tuhan menurut kesanggupanmu” bukan dititik-beratkan pada kesanggupan atau kemauan, karena akan berimbas pada semau-maunya. Tetapi jika kalimat tersebut dititik-beratkan pada kata bertaqwalah, maka kemauan itu selalu mengarah pada ketaqwaan berdasarkan kemampuan yang ada.

Pada pesan Tuhan berikutnya di akhir ayat 16 ditegaskan lagi tentang pemeliharaan dari Tuhan yang berawal dari aktifitasnya memelihara diri dan keluarga, termasuk dari sifat kekikiran sebagai tumor yang bisa berkembang pada sifat-sifat setan lainnya, sehingga menggerogoti seluruh diri dalam kebinasaan di dalam hidupnya.

Pada ayat 17, Tuhan secara santun menyebutkan jika manusia meminjami Tuhan dengan pinjaman yang baik – padahal hakikatnya manusia yang meminjam milik Tuhan – niscaya Tuhan melipat-gandakan pinjaman segala amal saleh manusia. Di sini terdapat circle bahwa segala suatu termasuk rejeki dari Tuhan, mampir pada manusia dan selayaknya manusia mengembalikan kepemilikan Tuhan itu kepada mereka yang jauh lebih membutuhkan.

Tuhan telah berbuat baik pada manusia, sehingga manusia dituntut berbuat baik pada-Nya, memelihara hubungan dengan-Nya, memelihara alam-Nya, memelihara diri dan keluarga sebagai amanat yang diberikan-Nya (Tuhan) kepadanya (manusia). ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: