Bacalah 46. Jangan Lalai!

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

 

Hai orang-orang beriman,

jangan hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah.

Barangsiapa demikian maka mereka orang-orang rugi. 9)

Dan belanjakan sebagian yang telah Kami berikan padamu

sebelum datang kematian seorang di antaramu;

lalu ia berkata: “Ya Tuhanku,

mengapa Engkau tidak tangguhkan aku sampai waktu dekat,

yang menyebabkanku dapat bersedekah dan termasuk orang-orang saleh” 10)

 

Dan Allah sekali-kali takkan tangguhkan seorang

jika datang waktu kematiannya.

Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan 11)

 

QS. 63. al-Munaafiquun 9-11

 

 

LALAI bisa diterjemahkan sebagai sifat lupa, melupakan, ceroboh dan lain-lain sifat kelemahan, keadaan negatif dan tidak sempurna. Sedangkan kekuatan hakiki dan kesempurnaan abadi dimiliki Sang Mahasempurna, karena Dia tidak pernah lalai terhadap hamba-hamba-Nya.

Firman Tuhan pada QS. 11. Huud 123,

“Dan kepunyaan Allah yang ghoib di langit dan bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan semuanya, maka sembahlah Dia dan tawakkallah pada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” 123)

Tuhan Mahakuat dan Mahasempurna, karena tidak pernah lalai terhadap hamba-hamba-Nya. Tuhan melimpahkan sifat tidak lalai pada mahluk setia bernama malaikat di dalam mengemban tugasnya. Sedangkan manusia yang diciptakan sebagai mahluk mulia ditanamkan sifat lalai. Dengan akalnya, manusia bisa mencapai maqam paling dekat dengan Tuhan. Dengan akalnya, manusia berpotensi jatuh martabatnya melebihi hewan jika ia dilalaikan oleh dunia fana yang memperdayakan dan menyesatkan.

Pada QS. 3:185 telah diingatkan bahwa tiap yang berjiwa akan mati. Dan sesungguhnya di hari kiamat disempurnakan amal perbuatan manusia. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga maka ia beruntung. Kehidupan dunia tak lain hanya kesenangan memperdayakan.

Firman Tuhan pada QS. 29. al-‘Ankabuut (Laba-Laba) 64,

“Tiadalah kehidupan dunia selain senda gurau dan main-main saja. Dan sesungguhnya akhirat itulah sebenarnya kehidupan, jika mereka mengetahui.” 64)

Pada QS. 57:20 dijelaskan pula; sesungguhnya kehidupan dunia hanya permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegahan antara manusia serta berbangga-bangga tentang banyak harta dan anak, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; lalu tanaman itu kering dan terlihat warnanya kuning lalu hancur. Dan di akhirat ada azab keras dan ampunan dari Tuhan serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Pada QS. 57:21 dilanjutkan: Manusia hendaknya berlomba-lomba untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan dan surga seluas langit dan bumi yang disediakan bagi yang beriman pada Tuhan dan Rasul-Nya. Itu karunia Tuhan diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Tuhan mempunyai karunia yang besar.

Firman Tuhan pada QS. 30. ar-Ruum (Bangsa Rumawi) 7,

“Mereka hanya tahu yang lahir dari kehidupan dunia; sedang tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” 7)

Kemudian diingatkan beberapa kejadian hingga QS. 30:08-10: Dan mengapa manusia tidak memikirkan tentang kejadian diri mereka? Tuhan tidak menjadikan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya selain dengan tujuan benar dan waktu ditentukan, sesungguhnya banyak manusia ingkar akan pertemuan dengan Tuhan. Dan apa manusia tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat orang-orang sebelum mereka. Orang-orang itu lebih kuat dan telah mengolah bumi serta memakmurkan lebih banyak dari yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang pada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti nyata. Maka, Tuhan sekali-kali tidak zalim pada mereka, tetapi mereka zalim pada diri sendiri. Lalu, akibat orang-orang yang jahat adalah (azab) lebih buruk, karena mereka dustakan ayat-ayat Tuhan dan selalu memperolok-oloknya.

 

Macam-Macam Kelalaian

“Hai orang-orang beriman, jangan harta dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Siapa demikian maka mereka orang-orang rugi. 9)…”

Manusia lalai karena akalnya hanya untuk pengetahuan materialisme, melalaikan yang lain seperti adanya hari kiamat (QS. 6:31), dan lalai akan pengetahuan immaterialisme yang tersurat maupun yang tersirat (QS. 7:136).

Pada QS. 63:9-11, terutama ayat 9, disebutkan yang potensi melalaikan manusia dari mengingat Tuhan, yaitu harta dan anak-anak. Pada Kajian 14, sub kajian Macam-Macam Rejeki, bahwa segala rejeki yang diberikan Tuhan pada manusia jika tidak disikapi dengan bijak, akan berpotensi melalaikan manusia dari mengingat Tuhan. Macam-macam rejeki itu adalah:

(1) Hikmah atau ilmu,

(2) Kesehatan (termasuk juga kecantikan fisiknya),

(3) Keturunan,

(4) Saudara, Teman atau Sahabat, dan

(5) Hasil Bumi atau Kekayaan Alam.

Harta dan anak-anak, secara langsung maupun tidak, sudah termasuk kelima macam rejeki di atas. Harta misalnya, adalah bentuk kekayaan yang diturunkan karena adanya ilmu. Sehingga tiada harta diperoleh tanpa ilmu, kecuali perolehan yang dilaknati yaitu mencuri. Bahkan secara joke, bisa dikatakan bahwa mencuri pun perlu ilmu agar misinya “sukses”

Jadi, macam-macam kelalaian diakibatkan karena kurang arif dan bijak menyikapi berbagai nikmat rejeki yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Ketika orang bertanya kepada orang yang saleh, beriman dan bertaqwa soal apa yang mereka nafkahkan, maka dijawabnya bahwa harta yang dinafkahkan diberikan kepada ibu-bapak, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang diperbuatnya, maka sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahuinya. (QS. 2:215)

Bagi mereka yang telah ma’rifat, maka semua rejeki apa pun yang ada padanya hanyalah transit yang akan segera dibelanjakan atau disalurkannya kepada mereka yang jauh lebih membutuhkan dan jumlah mereka yang lebih membtuhkan itu pun jauh lebih banyak. Lain halnya mereka yang ingkar dan kikir yang menggenggam erat harta bendanya seakan ia takut kehilangan dan seakan ia takkan mati meninggalkannya. Sulit sekali menyadarkan mereka, karena telah diumpamakan oleh Tuhan yaitu telinganya tuli (shummum), mulutnya bisu (bukmun) dan matanya buta (‘ummyun) maka tidaklah mereka sadar kembali ke jalan yang benar (QS. 2:18).

“…Dan belanjakan sebagian yang telah Kami berikan padamu sebelum datang kematian di antaramu; ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak tangguhkan sampai waktu dekat, agar aku bisa bersedekah dan termasuk orang-orang saleh” 10) Dan Allah sekali-kali takkan tangguhkan seorang jika datang kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal yang kamu kerjakan 11)

 

Keterasingan Manusia

Kata “keterasingan” diilhami oleh ide-ide marxis soal alienasi manusia terhadap pekerjaan, uang dan agama. Eksistensi pekerjaan adalah naluri bagi manusia untuk berkembang dan menghidupi diri dan keluarganya, kaum dan komunitas lingkungan sosialnya. Eksistensi uang adalah alat tukar transaksi kegiatan ekonomi yang modern menggantikan barter. Eksistensi agama adalah pesan suci atau tata nilai suci dari Ilahi yang harus ditempatkan pada porsi dan posisi yang suci, bukan dikemas menjadi bentuk tradisi di dalam kodifikasi dan komoditi agama sebagai institusi.

Penempatan atau perlakuan benar akan menghasilkan suatu yang benar. The right man, on the right place with the right job, produces the right thing. Di dalam sejarah manusia, sejak mengenal sistem perladangan atau berburu binatang dengan sangat sederhana, “pekerjaan” tersebut telah memberikan titik terang sebagai awal pembentukan peradaban. Akal manusia mulai bekerja ketika satu kelompok membutuhkan sesuatu dari kelompok lain sehingga timbullah sistem perdagangan sederhana melalui barter.

Kemajuan peradaban sedikit demi sedikit diperoleh manusia. Dari sisi pekerjaan dan uang, umat manusia pada zaman sekarang telah memasuki modernitas yang kompleks. Pekerjaan dan uang, meskipun tidak berupa hal yang kongkrit lagi, tetapi ujung-ujungnya masih terkait erat antara pekerjaan dan uang secara kongkrit.

Manusia dengan kehebatan akal-pikirannya seakan-akan telah mencapai puncak peradaban dengan sesuatu yang serba canggih, otomatis apalagi ditunjang dengan information technology dan e-commerce via internet. Tetapi perlakuan terhadap pekerjaan dan uang bukan lagi sekedar memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ambisi manusia telah merambah dunia melalui pekerjaan dan uang untuk menguasai manusia lainnya. Maka terjadilah musibah homo homini lupus (manusia menjadi serigala bagi manusia lain), exploatation de’l homme par homme (eksploitasi manusia atas manusia).

Pada saat mencapai puncak peradaban menurut manusia, ironisnya ia pun mencapai puncak keterasingan. Demikian pula agama, yang semula suci, ternyata pada titik jenuh kemanusiaan telah dinodai dan dikebiri, tidak lebih sebagai komoditi yang diperjual-belikan untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan yang lain, merasa dirinya lebih suci serta merta mengutuk dan melaknat yang lain. Pola-pola seperti itu tidak lebih dari homo homini lupus.

 

Agama: Simbol Keterasingan?

Melanjutkan uraian soal keterasingan manusia, malapetaka keterasingan hanya berlaku pada orang atau kaum teraniaya. Makna “teraniaya” bukanlah mengarah hanya pada kaum miskin yang buta ilmu dan miskin materi. Tetapi, teraniaya tersebut juga menimpa kaum berdasi, naik mobil mercy dan para intelektual post-graduate lulusan luar negeri. Mereka menganiaya diri tetapi tidak sadar karena tidak mengetahui ilmu hikmah Ilahi.

Ada 3 keterasingan yang menempati tiga sudut triangle of alienation, yang sifatnya sangat mendasar, yang dipengaruhi oleh penghayatan manusia terhadap ilmu yang dimilikinya, yaitu keterasingan terhadap:

(1)
Ideologi; direpresentasikan ideologi sosialisme/komunisme,

(2)
Kapital; direpresentasikan ambisi kapitalisme/imperialisme,

(3)
Agama; direpresentasikan nafsu sebagian aliran ekstrim/sesat.

Kaum komunis yang sangat radikal memperjuangkan ideologi dengan cara kekerasan. Dari sisi humanisme, sebagian kecil ada nilai benarnya karena “mengaku” membela kaum buruh, kaum tertindas, petani dan kaum miskin papa lainnya dari eksploitasi kaum kapital. Tetapi pola gerakan yang menghalalkan segala cara akan membentur fitrah manusia, walaupun ide komunisme menentang adanya fitrah manusia tersebut. Dari sisi karakter pribadi kaum komunis, terlihat dari raut mukanya yang mencerminkan karakter yang keras, ambisius dan tak pernah tenang.

Demikian pula kaum kapitalis dan sebagian kelompok agama yang fanatik sempit dan radikal yang mengklaim dirinya paling benar. Mereka mengaku mempunyai tujuan menyejahterakan umat manusia, tetapi ternyata berbenturan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Dengan beragama secara benar, maka konsep-konsep kapitalisme dan sosialisme telah diatur dalam agama. Hanya bisikan setan yang melahirkan ambition dan passion yang membuatnya berantakan.

Vladimir Lenin (1905) menulis artikel Sosialisme dan Agama. Dikatakannya bahwa “…Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimana pun ia berada teramat membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi. Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta sejenisnya, sebagaimana ia dengan tidak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan bekerja keras di dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk patuh dan sopan ketika di bumi dan menikmati harapan akan berbagai ganjaran surgawi. Tetapi bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada orang lain diajarkan oleh agama untuk mempraktekkan karitas selama ada di dunia, sehingga menawarkan jalan mudah bagi mereka untuk membenarkan seluruh keberadaannya sebagai penghisap dan menjual diri mereka sendiri dengan tiket murah untuk menuju surga. Agama adalah candu bagi masyarakat. Agama adalah suatu minuman keras spiritualisme, di mana budak kapital menenggelamkan bayangan manusianya dan tuntutan mereka untuk hidup yang sedikit banyak berguna untuk manusia.” ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: