Bacalah 44. Jangan Munafik

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

 

Bertasbih pada Allah apa saja yang di langit dan di bumi,

dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. 1)

Hai orang-orang beriman,

kenapa kau katakan yang tidak kamu perbuat 2)

Amat besar kebencian di sisi Allah

kamu mengatakan yang tiada kamu kerjakan. 3)

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya

dalam barisan teratur seakan seperti bangunan kokoh. 4)

 

QS. 61. ash-Shaff 1-4

 

JANGAN munafik! Larangan itu sudah jelas, tidak perlu tafsir lagi. Semua orang, agama mana pun, pernah mendengarnya dari pemuka agama. Tetapi ironi, hampir semua orang pernah munafik dan masih melakukannya, baik sembunyi-sembunyi, malu-malu atau terang-terangan. Bahkan mereka yang hatinya terkunci-mati (dead-locked) terhadap kebenaran dan diselimuti kemunafikan abadi, justru “menikmatinya” dengan memakan harta orang, mematikan rejeki kaum miskin, menebarkan fitnah dan berita bohong, berbuat maksiat dan berbagai kemungkaran lainnya. Ia konsisten mengabdi pada setan yang telah bersenyawa di alam pikirannya dan menyatu di dalam darahnya yang mengalir di sekujur tubuhnya.

Pada QS. 61. ash-Shaff 1-4, “mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat” dikaitkan soal perang. Tetapi hakikatnya “mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat” bisa meliputi seluruh masalah yang dihadapi manusia, antara perkataan dan perbuatan. Konsistensi yang dikatakan dengan yang diperbuat tentu menyangkut nilai kebaikan dan kebenaran hakiki.

 

Definisi Munafik

Pada QS. 49. al-Hujurat 13 sub-bab 43.2 Kemuliaan untuk Kemuliaan, Tuhan menjadikan manusia dalam berbagai bangsa, suku, termasuk ragam bahasa, agama, politik, adat istiadat, warna kulit, seni-budaya dan lain-lain. Tujuan keberagaman itu adalah untuk saling mengenali yang ditindak-lanjuti dengan saling mengetahui, saling mengerti, saling memahami dan akhirnya saling mencintai dan mengasihi. Karena pada akhir ayat Tuhan berfirman, “Inna akromakum ‘indallahi atqookum. Innallaha ‘aliimun khabiirun – Sesungguhnya orang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antaramu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Orang yang paling mulia tidak harus “beragama” Islam. Tetapi mereka disebutkan sebagai orang paling bertaqwa yaitu pemikiran, sikap, perilaku, perbuatan dan amal saleh. Tuhan Mahatahu apa yang ada dan dibisikkan hati dan juga Tuhan Maha Mengenal mereka yang benar-benar mengabdi dan berbakti kepada-Nya. Mengenai definisi taqwa dan penjelasannya lengkap bisa dilihat pada Kajian 49: Iman dan Taqwa.

Hubungannya dengan tidak munafik, ayat ini menekankan keberagaman umat manusia beserta budayanya yang mencerminkan Kemahakayaan Tuhan akan kreasi ciptaan-Nya. Banyaknya nabi dan rasul, baik yang tercatat dalam kitab atau tidak, dari Arab atau dari luar Arab, membuktikan keberagaman utusan Tuhan dari masing-masing kelompok manusia di muka bumi.

“…Kami tidak membedakan di antara seorangpun (dengan yang lainnya) dari rasul-rasul-Nya…” (QS. 2:285) dan pada, “…Tiadalah berselisih orang yang telah diberi Kitab…” (QS. 2:19). Ini bukti keberagaman manusia yang tidak bisa diingkari. Orang yang menolak keberagaman dan memaksakan kehendak menyeragamkan ke kelompoknya bisa dikategorikan munafik.

Berikut definisi munafik secara utuh, mengacu ayat al-Qur’an;

Yaitu yang mengambil orang ingkar jadi penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min, yaitu yang menunggu peristiwa yang akan terjadi pada orang mu’min. Jika terjadi kemenangan dari Tuhan, kata mereka: “Bukankah kami besertamu” Dan jika orang-orang ingkar dapat keuntungan, kata mereka: “Bukankah kami turut memenangkanmu dan membelamu dari orang mu’min”. Orang-orang munafik menipu Tuhan, mereka melakukan shalat dengan malas, mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia dan tidaklah mereka menyebut nama Tuhan kecuali sedikit sekali, mereka ragu antara iman dan ingkar; tidak masuk pada golongan ini dan tidak pada golongan itu (QS. 4:138-143).

Mereka menyuruh berbuat munkar, melarang ma’ruf dan mengenggam tangan atau kikir, mereka telah lupa Tuhan, maka Tuhan melupakan mereka. Orang-orang munafik itu fasik, menganiaya diri sendiri (QS. 9:67-70).

Orang munafik laki-laki dan perempuan; dan orang musyrik laki-laki dan perempuan, mereka berprasangka buruk terhadap Tuhan (QS. 48:6).

Orang-orang munafik yaitu pendusta, mereka menjadikan sumpah sebagai perisai, mereka menghalangi dari jalan Tuhan, mereka telah beriman lalu ingkar lalu hatinya dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Melihat mereka, tubuh mereka menjadikanmu kagum. Mereka seakan kayu yang tersandar, jika dikatakan pada mereka, “Mari (beriman), agar Rasulullah memintakan ampun bagimu,”. Mereka membuang muka dan kamu lihat mereka berpaling dan sombong. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan atau tidak, Tuhan sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Tuhan tidak memberi petunjuk pada orang fasik (QS. 63:1-8).

 

Macam-macam Kemunafikan

Firman Tuhan pada QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 44,

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir”44)

Dari berbagai definisi di atas, secara umum bisa disimpulkan bahwa kemunafikan adalah
ketidak-sesuaian antara suara hati yang membisikkan kejujuran-kebenaran dengan out-put atau product pribadi yang bersangkutan, baik melalui panca indera maupun hasil karya prestasi lainnya. Pengetahuan kemunafikan bisa membuat status kemunafikan menjadi tidak sengaja atau jelas-jelas suatu kesengajaan dan kebiasaan.

Mereka yang sholat tetapi melakukan dengan malas dan mereka yang “menyebut” Tuhan hanya sedikit, juga dikategorikan munafik (QS. 4:142). Seberapa banyak mereka yang sekedar melakukan sholat, belum meningkat menegakkan sholat, serta menyebut Tuhan dengan malas, kuantitatif di bibir tidak diendapkan di hati yang tercermin dari lisan dan perilaku sehari-hari? Apakah mereka yang masih demikian mau terus menyandang status munafik dengan tidak meningkatkan kualitas sholat dan ibadahnya serta menghayati secara benar akan zikirnya?

Sebelum memahami berbagai macam kemunafikan, akan dijelaskan berbagai hubungan antara orang dengan pengetahuannya yang menyangkut suara hati (SH) dan panca indera (PI), yaitu:

Atau secara narasi dijabarkan sebagai berikut: Status orang pertama adalah tidak tahu di dalam ketidak-tahuannya. Status orang kedua adalah tahu di dalam ketidak-tahuannya. Status orang ketiga adalah tidak tahu di dalam tahunya. Status orang keempat adalah tahu di dalam tahunya.

Kemunafikan yang memang benar-benar tidak sengaja biasanya berlaku bagi, (1) Orang yang tidak tahu di dalam ketidak-tahuannya, dan (2) Orang yang tahu di dalam ketidak-tahuannya.

Orang bodoh yang tidak tahu kebodohannya adalah yang benar-benar bebal dan sulit disadarkan untuk bisa menjadi tahu bahwa ia salah, bahwa itu munafik, bahwa itu dosa. Sedangkan orang bodoh yang tahu kebodohannya mulai menginjak kesadaran akan ketidak-tahuannya. Orang seperti yang ini relatif lebih mudah dituntun ke jalan yang benar.

Sedangkan kemunafikan yang sengaja biasanya berlaku bagi orang yang tidak tahu di dalam tahunya. Mereka yang tergolong kelompok ini hanya menggunakan akal dan tidak memakai nurani. Banyak orang atheis yang cerdas menganalisa teori revolusi dan pertentangan kelas. Mereka sangat tahu dan paham teori tesis dan antitesis. Tetapi mereka tidak tahu, di dalam tahunya akan teori sosialnya, bahwa mereka menganiaya diri (QS. 9:70). Demikian pula dengan orang-orang kapitalis yang sekuler, hedonis dan tidak sedikit yang atheis. Mereka menganiaya diri di atas kemegahan kapital yang dibangunnya, tetapi mereka tidak sadar.

Sementara itu, orang yang tahu di dalam tahunya adalah orang yang benar-benar mengetahui hakikat dirinya dan pengetahuan yang diperolehnya. Perolehan pengetahuannya tidak saja melibatkan intelectual dan emotional, tetapi juga spiritual quotient. Bahkan pengetahuannya sudah meningkat menjadi penghayatan atau perilaku. Kebijakannya sudah mencapai puncak ma’rifatullah.

Firman Tuhan pada QS. 5. al-Maa-idah (Hidangan) 8,

“Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan jangan sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum mendorongmu tidak adil. Berlaku adillah karena adil lebih dekat pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahatahu apa yang kamu kerjakan.” 8)

Keadilan melandasi Tuhan menciptakan seluruh alam semesta. Tetapi, ketika berada di tangan manusia, ilmu mulai terlihat baik-buruknya menurut manusia itu sendiri. Orang-orang beriman dan bertaqwa yang memegang kekuasaan menyadari bahwa kekuasaan adalah amanat yang berat sehingga ia harus mampu berbuat adil dengan kekuasaannya.

Firman Tuhan pada QS. 49. al-Hujurat (Kamar-Kamar) 9,

“…Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berlaku adil.” 9)

Pada ayat selanjutnya disebutkan, “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikan antara kedua saudaramu dan taqwalah pada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. 49:10). Pengertian iman hendaknya tidak dipersempit dengan pemahaman iman “agama” tertentu, tetapi harus universal yaitu penghayatan iman dalam ‘aslama, apa pun agama (samawi) yang dianutnya.

Sulit mencari pemimpin politik pasca Nabi Muhammad yang jujur serta merta mengemban amanat penderitaan rakyat dan kemaslahatan umat. Kemunafikan politik lebih mengedepankan preman-preman politik yang zalim dan kufur. Rakyat dikhianati melalui janji-janji politiknya. Inilah kemunafikan politik yang banyak menimpa para elite.

 

Menilai Baik, Betul dan Benar

Bagi orang awam agak sulit membedakan kata baik, betul dan benar. Tetapi yang jelas ketiga kata itu masuk dalam wilayah yang positif. Dalam kamus Bahasa Indonesia penjelasannya belum memuaskan karena ketiganya disamakan artinya.

Memahami kata baik (good), betul (right), benar (truth) akan membantu membedakan makna lawan katanya yaitu buruk (bad), salah (wrong) dan lawan “benar” di dalam Bahasa Indonesia belum ada padanannya selama ini, selain dilawan-katakan dengan “tidak benar” (untruth) atau mengadop Bahasa Arab yaitu bathil. Ketiganya memiliki pengertian masing-masing yang mewakili keadaan. Dengan mengetahui, memahami dan menghayati ketiga kata itu akan mengetahui, memahami dan menghayati pula hakikat kemunafikan sebagai cikal bakal kezaliman, kekufuran dan kemusryikan.

Kata baik mewakili keadaan meng-enak-kan menurut panca indera. Dan kebaikan adalah produk dari sifat baik. Menurut pepatah umum, baik belum tentu benar dan benar belum tentu baik. Lawan kata baik adalah buruk, sesuatu negatif bagi panca indera. Dan keburukan sebagai produknya juga lebih diukur visual menurut panca indera. Kata bagus bagian dari baik. Kata betul lebih tepat jika ditempatkan mengukur proses yang sesuai prosedur. Dan kebetulan sebagai produk sifat betul adalah hasil pencapaian suatu proses yang telah melalui prosedur sesuai kesepakatan. Lawan kata betul adalah salah, yaitu suatu yang menyimpang dari prosedur, dan kesalahan sebagai produknya adalah hasil dari sifat salah. Kata benar adalah puncak nilai positif yang sifatnya haq, mutlak dan tidak diragukan lagi. Kata haq dalam kamus Bahasa Indonesia diterjemahkan benar, bukan baik atau betul. Sifat baik dan betul masih ada keraguan di dalamnya walaupun sangat sedikit dan lembut sekali karena sifatnya situasional dan personal.

Firman Tuhan QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 147,

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekalipun kamu termasuk orang-orang yang ragu.” 147)

Dengan memahami kebenaran haq, seseorang akan memahami pula perbedaan sangat halus antara kemunafikan dan kejujuran. Orang yang paham kebenaran hakiki tercermin sikapnya yang mantap dan tidak ragu berkehendak dan memutuskan sesuatu. Contohnya Nabi Khidir (QS. 18:74) yang tidak ragu-ragu memenggal kepala anak kecil yang menurut Nabi Musa sebagai sesuatu yang munkar, tidak baik dan tidak betul.

“Maka jika kamu (Muhammad) berada di dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakan kepada orang-orang yang membaca kitab sebelummu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu
(QS. 10:94).

Hakikat kebenaran adalah sifat Ilmu Tuhan. Sedangkan kebetulan adalah sifat ilmu manusia. Dan kebaikan adalah sifat yang diraih manusia yang diharapkan mengarah pada kebenaran. Sebagai deskripsi akan dikemukakan contoh realistis yang relatif mudah dijumpai dan dipahami:

Contoh kesatu; pelukis dengan idenya. Ia memakai prosedur yang betul yaitu ada ide, menyiapkan kanvas, alat lukis lalu menggoreskan cat minyak sebagai kerangka utama ide lukisannya. Tahap selanjutnya ia menghaluskan goresan dan memantapkan warna secara kontras. Setelah jadi, ia ternyata melukis gadis telanjang cantik, goresan catnya sempurna menggambarkan lekuk tubuhnya. Jika dikatakan bahwa ia melukis sesuatu yang haram dilihat, ia menjawab, “Masyarakat primitif telanjang. Tuhan menciptakan manusia, menghidup-matikan juga telanjang.” Orang yang bertanya berargumen, “Kamu membuat orang yang melihatnya menjadi nafsu.” Jawab pelukis, “Jangan munafik. Melihat wanita telanjang menjadi nafsu itu wajar. Jika disalah-gunakan, itu yang kurang ajar.” Jadi, ide baik seniman telah melalui prosedur yang betul. Ketika dinilai mulai dari ide baik muncul, prosedur betul hingga pemanfaatan yang benar atau tidak, masih belum jelas.

Contoh kedua; anak yang hendak minum obat. Baginya, obat tidak baik karena pahit. Ibunya memaksa minum sesuai aturan resep, secara betul. Ketika sembuh, kata ibunya, “Benar khan, obat itu baik kalau meminumnya betul sesuai resepnya?”

Contoh terakhir; seorang ilmuwan jenius yang mengamati alam. Ide-ide ilmiahnya sangat baik untuk kemajuan peradaban melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Methodologi ilmiah disusun. Tahap demi tahap penelitian dilakukan sesuai prosedur. Ia melakukan kebaikan, kebetulan dan sebagian kebenaran. Mengapa kebetulan dan sebagian kebenaran? Kebaikan karena ia berbuat untuk kemanusiaan dan peradaban. Kebetulan karena memenuhi posedur yang betul. Dan sebagian kebenaran, mengacu pendapat ilmuwan Isaac Newton yang banyak berhasil penemuannya diibaratkan menemukan batu koral indah di pantai tapi kebenaran di balik samudera luas di depannya tidak terungkap. Newton sangat bijaksana, jujur, tidak munafik.

 

Tuhan Mahatahu, Memang

Dengan benar-benar memahami Tuhan adalah Dzat yang Mahatahu, baik yang tampak dan yang tersembunyi, yang lalu dan yang akan datang, yang nyata dan yang ghoib; akan mempunyai konsekuensi “ketakutan” manusia untuk bertindak munafik. Pernyataan ini bukan klise yang hanya diceramahkan di temapt-tempat ibadah. Tetapi, bagi seorang profesional, para pelaku bisnis, pemimpin organisasi hingga pemimpin pemerintahan, kejujuran adalah satu sikap mutlak jika mereka menghendaki kepercayaan dari rakyat atau bawahannya.

Pendidikan sekuler mengesampingkan Tuhan hanya sebagai wacana. Untuk menjadi manajer, seseorang harus kursus manajemen yang mahal. Banyak teori bisnis dikemukakan, walaupun ujung-ujungnya tetap pada upaya pemantapan, optimaliasi dan pemberdayaan diri dan organisasi. Mereka merasa lebih prestise mengikuti seminar di hotel mewah mahal hanya untuk mengetahui “kejujuran potensi diri” daripada gratis membuka Kitab Suci Tuhan yang mengajarkan manajemen universal tak tertandingi.

Firman Tuhan pada QS. 28. al-Qashash (Cerita-Cerita) 69-70,

“Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan yang mereka nyatakan.69) Dan Dia Allah, tiada Ilah selain Dia, Bagi-Nya segala puji di dunia dan akhirat dan bagi-Nya segala penentuan dan hanya pada-Nya kamu dikembalikan.” 70)

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh akan Kami masukkan ke dalam (golongan) orang saleh. Dan di antara manusia ada yang berkata: “Kami beriman pada Tuhan”, maka jika ia disakiti (karena beriman) kepada Tuhan, ia anggap fitnah manusia sebagai azab Tuhan. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu”. Bukankah Tuhan lebih tahu dalam dada manusia? Dan sesungguhnya Tuhan mengetahui orang-orang beriman, sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang munafik. (QS. 29:9-11)

Hai orang-orang beriman, taatlah kepada Tuhan dan Rasul-Nya, jangan kamu berpaling dari-Nya, sedangkan kamu mendengar, dan jangan menjadi orang (munafik) yang berkata: “Kami dengarkan”, padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (mahluk) seburuk-buruknya di sisi Tuhan ialah orang pekak dan tuli tidak mengerti apa-apa. Kiranya Tuhan mengetahui kebaikan mereka, tentu Tuhan jadikan mereka mendengar. Dan jika Tuhan jadikan dapat mendengar, mereka pasti berpaling, sedang mereka memalingkan diri (dari yang mereka dengar). Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Tuhan dan Rasul jika Rasul menyerumu pada suatu yang memberi kehidupan padamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Tuhan membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya pada-Nya kamu akan dikumpulkan. (QS. 8:20-24). ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: