Bacalah 43. Perilaku Mulia

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Sesungguhnya

laki-laki dan perempuan muslim,

laki-laki dan perempuan mu’min,

laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atan,

laki-laki dan perempuan yang benar,

laki-laki dan perempuan yang sabar,

laki-laki dan perempuan khusyu’,

laki-laki dan perempuan yang bersedekah,

laki-laki dan perempuan yang berpuasa,

laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatan,

laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut Allah,

Allah telah sediakan untuk mereka ampunan dan pahala besar. 35)

 

QS. 33. al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu) 35

status sosial yang disandangnya. Untuk itu, konsekuensi logisnya adalah berperilaku mulia pula. Ada berbagai kemuliaan di antara umat manusia; mulai dari yang harfiah yang mampu dipahami panca-indera, maupun yang penuh penafsiran yang hanya mampu dihayati hati-nurani yang telah terlatih melihat kebenaran hakiki – di balik kenyataan nisbi. Kemuliaan demi kemuliaan, kemuliaan di atas kemuliaan.

Lagi, Soal Keseimbangan

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang berserah diri (muslim), yang beriman (mu’min), tetap dalam ketaatan, benar, sabar, khusyu’, sedekah, berpuasa, memelihara kehormatan, menyebut Tuhan, maka Tuhan pun akan menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala. Perilaku mulia itu jika diperinci satu persatu akan menjadi sangat banyak bahkan tak terhitung. Tetapi pada dasarnya, perilaku mulia itu pasti berawal mulai penyerapan hikmah dari unsur-unsur materi-duniawi panca indera. Dari sana, keinginan paling awal untuk berperilaku mulia adalah juga berawal dari panca indera dan kehendak hati yang fitrah kepada tauhid.

Firman Tuhan pada QS. 17. al-Israa’ (Perjalanan Malam Hari) 36,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungan jawabnya.” 36)

Fungsi panca indera ini berkaitan dengan tahap awal perolehan ilmu seperti Kajian 32: Tentang Ilmu dan tahap kedua, yakni pelatihan puasa, seperti Kajian 36: Tentang Puasa. Ketika secara teoritis panca indera menyerap kebenaran-demi-kebenaran, lalu melatih diri dengan berpuasa menjaga dan mengendalikan kelima inderanya itu; maka kebenaran hakiki sedikit demi sedikit akan menyentuh hati-nurani.

Setelah kebenaran bersemayam di hati, muncul perintah dari hati untuk mengajak ke jalan kebenaran, jalan Tuhan, jalan mulia meraih ridha-Nya dalam berperilaku. Sehingga perilaku mulia tersebut tampak dari sikap dan perbuatan; tidak sekedar lisan yang terdengar bertutur lemah lembut tetapi hatinya kalut. Jika keadaannya seperti itu, secara sadar maupun tidak sadar, perilaku tersebut menunjukkan kemunafikan atau memunafikkan diri sendiri.

Hati yang tenang dan mantap akan memberikan keseimbangan lahir, batin, jujur dan berwibawa. Laki-laki dan perempuan yang muslim, mu’min, tetap dalam keta’atan, benar, sabar, khusyu’, sedekah, berpuasa, memelihara kehormatan, menyebut atau mengabdi dan berbakti kepada Tuhan, maka Tuhan akan menyediakan ampunan dan pahala besar.

Itulah beberapa perilaku mulia yang tersurat pada QS. 33:35.

Perilaku mulia tersebut di atas memberikan keseimbangan hidup bagi yang bersangkutan. Keseimbangan identik dengan keadilan dan kenetralan. Pada fenomena alam misalnya air yang tenang, dalam keadaan seimbang. Pada kondisi demikian tidak ada riak gelombang, permukaannya pasti tegak lurus dengan gravitasi bumi. Contoh lagi dari air yang murni belum tercemar adalah sifat keseimbangan asam-basa yang secara kualitatif ber-pH = 7, yaitu tidak asam dan tidak basa.

Berperilaku mulia bisa bercermin dan mempelajari hikmah yang ada pada keseimbangan air.

Kemuliaan untuk Kemuliaan

Sifat-sifat mulia tersebut disandangkan kepada orang yang bertaqwa. Sedangkan mereka telah berstatus mulia justru akan semakin memicu dan memacu kecintaannya pada Tuhannya.

Firman Tuhan pada QS. 49. al-Hujurat (Kamar-Kamar) 13,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakanmu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” 13)

Tuhan konsisten dengan firman-Nya yang memberikan konsekuensi baginya yaitu wujud keseimbangan dalam bentuk lain, yaitu dipasangkan yang baik untuk yang baik dan yang tidak baik untuk yang tidak baik. Atau, dengan kata lain, kemulian untuk kemuliaan dan kehinaan untuk kehinaan.

Firman Tuhan pada QS. 24. an-Nuur (Cahaya) 26,

“Wanita-wanita tak baik untuk laki-laki tak baik, dan laki-laki tak baik untuk wanita-wanita tak baik; dan wanita-wanita baik untuk laki-laki baik dan laki-laki baik untuk wanita-wanita baik. Mereka (yang dituduh) bersih dari yang dituduhkan mereka. Bagi mereka ampunan dan rejeki mulia (surga).” 26)

Orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa; dengan mempunyai pasangan mulia, balasan tempat dan rejeki yang mulia, malaikat pendamping yang mulia, teman-kerabat yang mulia dan segala sesuatu yang serba mulia. Itulah kenikmatan yang dirasakan bagi mereka yang bertaqwa secara benar. Tetapi apakah mereka berhenti sampai di situ? Tidak, ternyata mereka masih terus melangkah meraih Keridhaan Tuhan, karena…

Kemuliaan Hanya Milik Tuhan

Maqam mulia bagi orang-orang yang bertaqwa bukanlah tujuannya, karena tujuannya hanyalah Tuhan sebagai Maha Pemilik Segala Kemuliaan. Kemuliaan sejati bagi orang bertaqwa adalah mengembalikan hak kemuliaan seutuhnya milik Tuhannya.

Firman Tuhan pada QS. 4. an-Nisaa’ (Wanita) 139,

“…maka sesungguhnya semua kemuliaan punya Allah.” 139)

Firman Tuhan pada QS. 35. Faathir (Pencipta) 10,

“Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. Pada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik dan amal saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan, bagi mereka azab keras dan rencana jahat mereka akan hancur.” 10)

Firman Tuhan pada QS. 55. ar-Rahmaan (Yang Maha Pemurah) 26-28,

“Semua yang di bumi akan binasa. 26) Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. 27) Maka, nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?” 28)

Beberapa perilaku mulia tersurat pada QS. 33:35, dan semua perilaku mulia lainnya yang tersurat di al-Qur’an sebagai Kitab Mulia (QS. 41:41); serta seluruh kemuliaan yang terhampar dan tersirat di Lauhul Mahfuzh… semua pasti akan sirna di hadapan Kemuliaan Tuhan yang Mahaperkasa lagi Mahamulia (al-jalaali wal ‘ikrami). Karenanya, keimanan orang bertaqwa atau ketaqwaan orang beriman, ia senantiasa tidak akan berpaling sedikit pun dari Wajah Tuhan yang kekal, penuh keperkasaan dan kemuliaan abadi.

Teladan Nabi-Rasul

Firman Tuhan pada QS. 7. al-A’raaf (Tempat Tertinggi) 199-200,

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.199) Dan jika kamu ditimpa godaan setan, maka berlindunglah pada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. 200)

Ketika Tuhan menurunkan ayat mulia yang tersurat dalam Kitab Suci, maka Tuhan pun memberikan suri teladan seorang hamba utusan-Nya yang mulia pula. Bagi umat yang tidak sezaman dengan nabi dan rasul, mereka bisa merasakan dari para pewaris nabi dan rasul, yaitu para alim ‘ulama yang beriman dan bertaqwa.

Firman Tuhan pada QS. 33. al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu) 21,

“Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu suri teladan baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” 21)

Teladan para nabi dan rasul yang paling dekat bisa dirasakan umat manusia di zaman akhir ini adalah mereka para waliyullah yang tampak pada “bekas sujud” mereka. Makna “bekas sujud” harus dipahami dan dihayati secara menyeluruh sebagai manusia. Siapa pun mereka, “agama” apa pun yang dijalaninya, yang penting adalah eksistensinya bisa menyejukkan serta berkasih sayang terhadap sesamanya.

Ayat berikut menjelaskan lebih detail soal tersebut di atas;

Tuhan mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama (buatan manusia). Dan cukup Tuhan sebagai saksi. Muhammad adalah utusan Tuhan, dan orang-orang bersama dia keras terhadap orang-orang yang ingkar tapi berkasih sayang sesama mereka: Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Tuhan dan keridhaan-Nya, tanda-tandanya tampak pada muka mereka dari “bekas sujud”. Demikianlah sifat mereka di dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman kuat lalu besar dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanamnya sebab Tuhan hendak menjengkelkan hati orang-orang ingkar (dengan kekuatan orang mu’min). Tuhan menjanjikan pada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 48:28-29)

Beberapa Doa

Doa adalah salah satu zikir yang biasa dilakukan setelah sholat. Isi doa bervariasi tergantung yang melakukannya. Pada kajian sebelumnya, tepatnya Kajian 2: Dekatnya Tuhan, masalah doa,. tata-cara dan seluk-beluknya telah sedikit-banyak dijelaskan.

Firman Tuhan pada QS. 40. al-Mu’min (Orang yang Beriman) 60,

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. 60)

Orang awam akan memanfaatkan ayat ini, tetapi ia tidak akan bertanya lebih lanjut; apakah ia telah memenuhi perintah-Nya dan mendirikan sholat serta menegakkan kewajiban ibadat yang lainnya? Jika ia telah menunaikan kewajibannya, barulah ia patut memanjatkan permohonannya atau doanya. Sedangkan doa sendiri pun ada batasannya.

Firman Tuhan pada sebagian QS. 13. ar-Ra’d (Guruh) 14,

“Hanya bagi Allah (hak mengabulkan) doa yang benar.” 14)

Kemudian disambung pada ayat berikutnya bahwa, “…dan doa (ibadat) orang-orang ingkar itu sia-sia belaka.”

Batasan inilah yang membuat orang saleh berhati-hati, tidak saja dari sisi muamalah tetapi juga dari cara berdoanya. Untuk berusaha memohon doa yang benar, maka sebagai suri teladan yang berperilaku mulia, berikut adalah beberapa doa terkait dengan perilaku mulia nabi dan rasul:

Nabi Ibrahim: Pada saat Ibrahim meninggikan dasar Rumah Tuhan beserta Ismail, ia bedoa: “Ya Tuhan, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan, jadikan kami berdua orang tunduk patuh pada-Mu dan jadikan anak-cucu kami umat tunduk patuh pada-Mu dan tunjukkan pada kami cara dan tempat ibadat haji dan terima taubat kami. Sesungguhnya Engkau yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangannya yang membacakan pada mereka ayat-Mu dan mengajarkan pada mereka al-Kitab dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. 2:127-129).

Nabi Ibrahim: Doanya, “Ya Tuhanku, berikan padaku hikmah dan masukkan aku ke golongan orang-orang saleh. Dan jadikan aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) lalu, dan jadikan aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampuni bapakku karena sesungguhnya ia termasuk golongan sesat, dan jangan Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan” (QS. 26:83-87).

Nabi Ibrahim: Dan lembaran Ibrahim yang selalu sempurnakan janji, bahwa seorang berdosa takkan pikul dosa orang lain, dan bahwa seorang manusia tiada peroleh selain yang telah diusahakannya, dan bahwa usahanya kelak diperlihatkan padanya. Lalu diberi balasan padanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwa pada Tuhanmu kesudahan segala suatu, dan Dia menjadikan orang tertawa dan menangis, Dia mematikan dan menghidupkan, Dia menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani, jika dipancarkan. Dia menetapkan kejadian lain (kebangkitan sesudah mati), dan Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. Dia, Tuhan (yang memiliki) bintang syi’ra (QS. 53:37-49).

Nabi Ibrahim: Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi manusia pada Ibrahim dan orang-orang bersama dia; ketika mereka berkata pada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri darimu dan dari yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (keingkaran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu iman pada Tuhan saja. Kecuali kata Ibrahim pada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan mohonkan ampunan bagimu dan aku tiada dapat menolak suatupun darimu (siksaan) Tuhan”. Ibrahim berkata… (QS. 60: 4-5)

Firman Tuhan QS. 60. al-Mumtahanah (Perempuan yang Diuji) 4-5,

“…Yaa Tuhan kami, hanya pada-Mu kami tawakal, hanya pada-Mu kami taubat dan hanya-Mu kami kembali, 4) “Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau menjadikan kami fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampuni kami, Yaa Tuhan kami. Sesungguhnya, Engkau yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. 5)

Nabi Luth: Firman Tuhan pada QS. 29. al-Ankabuut (laba-Laba) 30,

Luth berdoa: “Yaa Tuhanku, tolonglah aku atas kaum yang berbuat kerusakan itu” 30)

Firman Tuhan pada QS. 60. al-Mumtahanah (Perempuan yang Diuji) 7,

Semoga Allah timbulkan kasih sayang di antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.7)

Nabi Musa: Firman Tuhan pada QS. 20. Thaahaa 25-35,

Berkata Musa: “Ya Tuhanku lapangkanlah untukku dadaku 25) dan mudahkanlah untukku urusanku,26) dan lepaskanlah kekakuan lidahku, 27) supaya mereka mengerti perkataanku,28) dan jadikan aku seorang pembantu dari keluargaku,29) (yaitu) Harun saudaraku,30) teguhkanlah dengan dia kekuatanku, 31) dan jadikan dia sekutu dalam urusanku,32) supaya kami banyak bertasbih pada Engkau,33) dan banyak mengingat Engkau.34) Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami 35)“.

Nabi Sulaiman: Firman Tuhan pada QS. 27. an-Naml (Semut) 19,

Maka ia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena perkataan semut. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, beri aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan padaku dan pada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-2-Mu yang saleh” 19).

Nabi Zakaria: Firman Tuhan pada QS. 3. Ali ‘Imran 38,

Di sana doa Zakariya pada Tuhannya: “Ya Tuhanku, beri aku dari sisi-Mu anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a” 38).

Hakikat doa nabi dan rasul adalah permintaan “lugas sesuai kebutuhan”, bukan kemauan belebihan seperti ingin kaya, ingin jabatan dan lain-lain. Doa yang benar sulit dirasakan bagi yang kurang terlatih batinnya untuk merasakan bisikan kebenaran yang sangat halus. Contoh doa lainnya,

Firman Tuhan pada QS. 3. Ali ‘Imran 26-27,

Katakan: “Wahai Tuhan Yang punya kerajaan, Engkau berikan kerajaan pada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala bentuk kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala suatu. 26) Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rejeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)” 27).

Doa tersebut di dalamnya tidak secara tersurat berisi permintaan yang kongkrit dan “hanya” menyebutkan beberapa sifat Tuhan. Tetapi dengan mengendapkan esensinya ke dalam kalbu, “kekuatannya” akan mendorong pada perilaku mulia yang kelak membuahkan hasil kongkrit.

Firman Tuhan pada QS. 16. an-Nahl (Lebah) 96-97,

“Apa yang di sisimu akan lenyap dan di sisi Allah adalah kekal. dan sesungguhnya Kami beri balasan orang-orang sabar dengan pahala lebih baik dari yang telah mereka kerjakan.96) Barangsiapa kerjakan amal saleh, laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan iman maka sesungguhnya akan Kami beri padanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan pada mereka dengan pahala lebih baik dari yang telah mereka kerjakan.”
97)

Salah satu perilaku mulia lainnya adalah berbakti kepada orang tua – terutama ibu – sebagai suatu kewajiban utama (QS. 17:22-23), betapa pun keadaannya. “Dan rendahkan dirimu pada mereka dengan penuh sayang dan ucapkan “Wahai Tuhanku, kasihanilah keduanya, seperti mereka mendidikku waktu kecil”. Tuhanmu lebih mengetahui yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun bagi orang-orang yang taubat.” (QS. 17:24-25)

Sedangkan “doa permintaan” ingin anak: “Kepunyaan Tuhan kerajaan langit dan bumi, Dia ciptakan yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan pada siapa yang Dia kehendaki dan anak-anak lelaki pada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia anugerahkan kedua jenis dari laki-laki dan perempuan dan Dia jadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatahu lagi Mahakuasa. Dan tidak ada bagi seorang manusia bahwa Tuhan berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana.” (QS. 42:49-51)

Doa bagi sesama umat manusia: “Maka ketahuilah, tiada Ilah selain Allah dan mohonlah ampun bagi dosamu dan bagi orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS. 47:19)

Senada ayat di atas: Dan orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa “Ya Tuhan kami, beri ampun kami dan saudara-saudara kami yang telah iman lebih dulu dari kami dan jangan Engkau biarkan dengki di hati kami pada orang-orang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS. 59:10)

Mengenal orang-orang yang hatinya ada penyakitnya, “Jika Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenali mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan perkataan mereka dan Tuhan mengetahui perbuatanmu.” (QS. 47:30)

Dengan berdoa dan menzikirkan ayat-ayat tersebut dan ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah hati dan jiwa lainnya, seorang yang saleh dan beriman yang notabene mulia hati dan perilakunya, Insya Allah, akan bisa mengenali orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit hati-jiwa, misalnya secara lisan melalui kata-katanya atau secara halus melalui pandangan mata serta tarikan dan hembusan nafasnya.

Ayat yang berisi doa di dalam Kitab Suci, pada hakikatnya mempunyai dua makna, yaitu: (1) ayat yang menerangkan perilaku para nabi, rasul dan orang saleh atau suatu fenomena alam, kemanusiaan dan ketuhanan agar manusia bersikap mulia seperti tuntunan ayat tersebut, (2) ayat yang “harus” dizikirkan secara kontinyu dan konsiten, baik di dalam bacaan sholat, wirid sehabis sholat maupun kegiatan sehari-hari sebagai energi batin yang juga mempengaruhi lahir untuk “mengolah diri”. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: