Bacalah 42. Lambung Jauh dr Kasur

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami

adalah orang-orang yang jika diingatkan dengan ayat-ayat (Kami)

mereka menyungkur sujud, bertasbih serta memuji Tuhannya,

sedang mereka tidak menyombongkan diri. 15)

 

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,

sedang mereka berdo’a pada Tuhannya dengan rasa takut dan harap

dan mereka menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan pada mereka. 16)

 

Seorangpun tidak tahu

apa yang disembunyikan untuk mereka (bermacam nikmat)

yang menyedapkan pandangan mata

sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. 17)

 

Maka apa orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)?

Mereka tidak sama. 18)

 

QS. 32. Sajdah 15-18

 

 

Makna Ayat-Ayat Tuhan

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang jika diingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta merta memuji Tuhannya, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. 15)

Manusia termasuk “ayat Tuhan” bagi manusia lainnya. Mereka yang beriman terhadap ayat-ayat-Nya, jika diingatkan dengan ayat-ayat-Nya itu – apa pun wujudnya – maka jika mereka menyungkur bersujud, bertasbih, memuji Tuhan dan tidak sombong, ia akan menjadi “ayat-ayat Tuhan” yang lebih baik dan lebih sempurna.

Manusia sebagai “ayat Tuhan” adalah wujud Kebesaran Tuhan di dalam upaya “mewujudkan” Diri-Nya agar dikenali hamba-hamba-Nya. Sebagai ayat Tuhan, bagi dan dalam dunia manusia, juga berlaku hukum alam atau Hukum Tuhan yang “tersembunyi” di balik alam.

Jika manusia melihat dirinya sebagai “ayat Tuhan”, dari sisi materi-jasmani atau sisi immateri-rohani, akan dijumpainya ayat lain yang menghantarkannya pada Wujud Azali, jika dan hanya jika cara pendekatannya benar.

Mereka yang beriman terhadap ayat-ayat Tuhan adalah mereka yang meyakini adanya Sang Maha Pencipta di balik segala ciptaan yang “ada” dan “tiada”. Mereka meyakini pula adanya kebenaran hakiki dari Kitab Tersurat (al-Qur’an) dan Kitab Tersirat (Lauh Mahfuzh). Dengan memahami adanya kebenaran demi kebenaran dan berakhir pada Sang Mahabenar, maka akan semakin berimanlah mereka.

Diingatkannya dengan ayat-ayat Tuhan merupakan manifestasi dan konsekuensi manusia yang mempunyai panca-indera, logika, rasio dan khususnya hati nurani. Bagi mereka yang berakal dan beriman akan diyakini bahwa seluruh yang ada di langit dan di bumi, tiada ciptaan atau ayat yang tercipta sia-sia. Semua ada tujuannya, ada hikmahnya (QS. 3:189-194).

Menjadi “ayat Tuhan” yang lebih baik dan lebih sempurna merupakan tujuan yang diberikan pada manusia. Sedangkan ayat Tuhan lainnya tetap “apa adanya”, tetapi senantiasa bertasbih dan memuji nama-Nya. Semakin bijaksana manusia beriman di dalam bersikap, bertindak, teliti dan adil mengambil keputusan, ia akan menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Beruntunglah bagi orang yang hari ini lebih baik dari kemarin, dan hari esok baginya harus lebih baik dari hari ini.

 

Sedikit Tidur atau Tidak Sama Sekali

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a pada Tuhannya dengan rasa takut dan harap dan mereka nafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan pada mereka. 16)

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya” adalah indikasi mereka sedikit tidur di waktu malam karena mencari karunia Tuhan, baik beribadat secara harfiah seperti sholat hajjat, tahajjud, mengaji, i’tikaf dan lain-lain; atau kontemplasi, semadi, meditasi, konsentrasi, merenung, mawas diri dan lain-lain; atau “melanglang buana” di malam hari karena nuansa alam malam terasa lain dibandingkan siang.

Lambung mereka jauh dari tempat tidur berarti menyedikitkan waktu tidur di malam hari. Menyedikitkan tidur ini akan menjadi pertanyaan jika sedikitnya limit mendekati nol. Dengan kata lain, ia tidak tidur sama sekali di malam hari. Lalu bagaimana dengan sholat tahajud yang sebagian ulama mengharuskan tidur dulu?

Kedua-duanya sama berat, dan kedua-duanya ada faedahnya. Pertama, tidur sedikit lalu bangun pada sepertiga malam untuk sholat tahajud terasa berat karena tidurnya bisa terus hingga pagi dan tahajudnya tidak jadi. Kedua, tidak tidur semalam karena menjaga agar tidak ketiduran juga berat. Tetapi justru yang berat mempunyai faedah yang besar. Baik kedua-duanya, mana pun yang bisa dilakukan, yang penting menegakkan sholat malam, mengaji dan menghidupkan malam dengan melakukan ibadat sepenuh hati.

Di dalam kesunyian eksternal lingkungan sekitarnya maupun kesunyian internal dalam batin; maka yang terdengar hanya suara hati nurani. Kondisi seperti itu sangat afdol dimanfaatkan berzikir, misalnya mengulang-ulang atau wirid ayat-ayat al-Qur’an terpilih yang diresapi-dihayati; salah satunya melalui shalat tahajjud, sholat hajat atau sholat sunnah lainnya. Setelah itu dilanjutkan zikir mendekatkan diri kepada-Nya hingga subuh. Firman Tuhan pada QS. 17:78-79, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (malaikat)78). Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajud-lah kamu sebagai ibadat tambahan bagi kamu; semoga Tuhan mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”79).

Kata “sebagian malam hari” mengesankan ibadat malam dipisahkan dengan tidur sejenak. Tetapi Tuhan tidak membebani di luar kemampuan hamba-Nya jika ia memilih tidak tidur semalaman dan tetap menegakkan sholat sunnah, mengaji, zikir dan kontemplasi menghayati “kehadiran”-Nya di malam hari itu.

Dengan tidak tidur akan menjaga keawasan mata-kepala, ketajaman mata-hati, kewaspadaan diri karena ia konsentrasi menghindari mengantuk. Beberapa ulama sufi bahkan ada yang menghidupkan malam hingga waktu subuh, bahkan sampai sholat sunnah dhuha; lalu ia istirahat antara dhuha hingga dhuhur yaitu kira-kira antara jam 10.00 hingga 12.00.

Pada QS. 17:80-81 melanjutkan QS. 17:78-79, bisa dijadikan wirid yang sangat mendalam maknanya, yaitu:

Katakan: “Ya Tuhan-ku, masukkan aku secara yang benar dan keluarkan aku secara yang benar. Dan berikanlah padaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. 80) Katakan: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah suatu yang pasti lenyap. 81)

“Masuk secara benar dan keluar secara benar,” mempunyai filosofi yang sangat tinggi. Dengan doa ini pula akan menggugurkan aroganisme manusia yang konon intelektual, dan merasa serba tahu. Sebenarnya, manusia itu tidak tahu sama sekali. Yang membuat tahu adalah Tuhan yang Mahatahu. Itu pun pemberitahuannya tidak semua. Sehingga tidak layak jika manusia mengaku dirinya paling tahu akan suatu di bidangnya dan merasa sombong di dalamnya. Apalagi menyangkut kebenaran dan kesalahan. Jika masalah sudah bersifat halus, non-teknis, psikis apalagi religis, maka manusia pasti mulai ragu apakah telah-sedang-akan berbuat benar atau salah.

 

Manusia: Tak Tahu Apa-apa, Tak Punya Apa-apa

“Seorangpun tidak tahu apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. 17) Maka apa orang beriman seperti orang fasik (kafir)? Mereka tidak sama. 18)

Menyambung QS. 17:80-81 di atas soal ketidak-tahuan manusia, maka QS. 32:17-18 lebih menguatkannya, tidak saja fenomena eksternal yang tersembunyi bagi manusia. Bahkan nikmat yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap yang mereka kerjakan, juga masih “misterius” bagi mereka. Menyadari hal ini, maka semakin mafhum manusia sebenarnya tidak tahu hakikat kebenaran yang sebenarnya.

Sikap tawadhu’ ini selain menguatkan status ketidak-tahuannya, ia juga merasa tidak memiliki apa-apa, tidak mempunyai apa-apa. Apakah dengan pernyataan “manusia serba tidak tahu apa-apa dan tidak punya apa-apa”, haruskah terjebak pada sikap pesimis dan apatis sehingga harus frustasi dan menyingkirkan agama dan Tuhan dari kehidupannya? Agar ia merasa kaya dan memiliki dunia serta bisa menikmati kehidupan fana?

Ungkapan pesimis, apatis dan sinisme terhadap nilai agama muncul dari filosof atheis, di antaranya: Dostoyevsky: “Jika kita singkirkan Tuhan dari alam, maka semua tindakan orang diperbolehkan”; Heidegger: “Manusia bagaikan sepotong batu yang dilempar jauh tanpa arah ke padang pasir.”; Lenin: “Semua prinsip moral adalah kebohongan.”; Sartre: “Dunia seperti rumah idiot yang dihuni oleh orang idiot tanpa fikiran tanpa perasaan.” Semua ungkapan itu mencerminkan jiwa yang frustasi, kesepian dan terasing pada ideologi yang diciptakannya sendiri. Secara tak sadar mereka terjebak oleh “kebodohan” intelektualnya.

Dapat dibayangkan bagaimana jiwa lawwamah mereka yang berusaha mengemukakan pernyataannya. Pernyataan (statement) yang timbul sebagai konklusi pertanyaan-pertanyaan (questions) belum mampu terjawab logika. Itu berasal dari bisikan setan yang menghembuskan bahwa di dalam agama tak ada sesuatu yang logis, berputar-putar tidak jelas arah asal dan tujuannya. Mereka – para filosof dan praktisi atheis – justru mengolok-olokkan diri. Mereka tergolong orang-orang fasik, sesat bersama pengetahuannya karena tidak dilandasi tauhid.

Maka apa orang iman seperti orang fasik (kafir)? Mereka tidak sama.

Lalu, apa tujuan agama jika hakikatnya manusia tak tahu dan tak punya apa-apa? Tujuannya tidak lain mencari pengetahuan tentang “hakikat diri” sehingga manusia “tahu diri”, menyadari bahwa segalanya milik Tuhan dan ia hanya ingin “memiliki Tuhan yang Maha Memiliki”. Dengan demikian, sampailah ia pada puncak kesadaran diri, ma’rifat sebagai tujuan hidup.

Sabda Nabi Muhammad, “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu – Barangsiapa mengenal dirinya, maka kenallah ia akan Tuhannya”. Ini yang mungkin mengilhami ungkapan para ulama sufi yang berujar: “Biarlah aku memikirkan Tuhanku, karena dengan demikian Tuhanku akan memikirkan aku. Biarlah aku mengingat Tuhanku, karena dengan demikian Tuhanku akan mengingatku.”

Ada hubungan imbal-balik, sebab-akibat atau causality, kemanunggalan dan keseimbangan bahwa Tuhan seperti perkiraan manusia. Seperti juga kata Bimbo, “aku jauh Engkau jauh; aku dekat Engkau dekat.”

Kelompok spiritual-agamis menghadapi kelompok kapital-materialis yang sebagian atheis-komunis. Kedua kubu itu saling bertentangan. Cara menilai kelompok mana yang paling benar adalah sangat mudah, yaitu hanya dilihat dari pandangan mata dan kata lisannya. Kelompok mana yang pandangan matanya teduh, damai dan percaya diri? Kelompok mana yang pandangan matanya nanar, emosi dan tidak tenang? Kelompok mana yang berpesan cinta kasih, ikhlas dan melazimkan diam? Kelompok mana yang penuh propaganda, provokasi dan tidak bisa diam?

 

Beberapa Ayat Penunjang

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam taman-taman (surga) dan mata-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir malam memohon ampun. (QS. 51:15-18).

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah di malam hari kecuali sedikit, (yaitu) ½ atau kurangi dari ½ itu sedikit, atau lebih dari ½ itu dan bacalah al-Qur’an perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan turunkan padamu perkataan berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam lebih tepat dan bacaannya waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu di siang hari mempunya urusan yang panjang. Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadatlah pada-Nya dengan penuh ketekunan. Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Ilah selain Dia, maka ambillah Dia sebagai Pelindung. (QS. 73:1-9)

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui kamu berdiri (sholat) kurang dari 2/3 malam, ½ malam atau 1/3 malam dan segolongan orang-orang yang bersamamu. Dan Tuhan menetapkan ukuran malam dan siang. Tuhan mengetahui kamu sekali-sekali tidak dapat menentukan batas waktu-waktu, maka Dia memberi keringanan padamu, karenanya bacalah yang mudah dari al-Qur’an. Dia mengetahui akan ada di antaramu orang-orang sakit dan berjalan di bumi mencari sebagian karunia Tuhan dan orang-orang berperang di jalan Tuhan, maka bacalah yang mudah dari al-Qur’an dan dirikan sholat, tunaikan zakat dan berikan pada Tuhan pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu perolehnya di sisi Tuhan sebagai balasan paling baik dan besar pahalanya. Dan mohonlah ampun; sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 73:20).

Disebutkan ukurannya 2/3 (4/6), ½ (3/6), atau 1/3 (2/6) malam. Orang menganggap ringan bukan hanya lebih kecil dari 1/3 (2/6), misalkan 1/6. Tetapi bisa saja orang memilih yang ringan justru lebih besar dari 2/3 (4/6), misalkan 5/6 atau 6/6 atau dengan kata lain semalam suntuk.

Perhitungan waktu siang dan malam pun manusia tidak dapat dengan pasti menentukan batasnya. Apakah waktu malam hari itu mulai ditentukan setelah maghrib, setelah isya’ atau setelah tengah malam? Dan diakhiri setelah imsak, subuh atau setelah fajar? Tuhan memberi keringanan untuk itu karena ada yang terpenting yaitu: menegakkan sholat dan khusyu beribadat di malam hari sebagai ibadat tambahan untuk semakin meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt, Tuhan Semesta Alam.

Pada QS. 73:20 dianjurkan membaca yang mudah dari al-Qur’an. Ini bisa diartikan membacanya dalam sholat atau mengaji atau untuk “lantunan” wirid dan zikir. Dijelaskan pula kemungkinan kondisi yang sakit, sehat, sedang berperang atau kesibukan lainnya, sehingga ibadat malam hari jangan memberatkan atau mengurangi tugas utama yang sedang diemban malam itu yang bisa membawa celaka pada keesokan harinya. Sekali lagi ditegaskan “bacalah yang mudah dari al-Qur’an”. Tuhan tidak memberatkan manusia, Tuhan sangat menyayangi manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak sadar.

Ibadat malam tidak dianjurkan ditegakkan eksklusif yang melarikan diri dari realita. Ada kewajiban lain untuk mencari karunia Tuhan, menunaikan zakat atas hasil rejeki atau karunia tersebut. Dengan rejeki yang diperoleh dan sebagian diamalkan, maka ia akan memberikan “pinjaman yang baik” pada Tuhan untuk kepentingan sesamanya.

“…Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu perolehnya di sisi Allah sebagai balasan paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampun pada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Malam Kemuliaan

Firman Tuhan pada QS. 97. al-Qadar (Kemuliaan) 1-5,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Qur’an) di malam kemuliaan.1) Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? 2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan. 3) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” 5)

Banyak orang menerjemahkan malam kemuliaan lailatul qadr itu hanya di bulan Ramadhan. Ada yang lebih khusus lagi menafsirkan datangnya lailatul qadr ada di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ada benarnya memasukkan pada bulan Ramadhan, karena bulan itu bulan mulia bagi umat Islam. Tetapi ada pertanyaan yang belum bisa dijawab secara jelas yaitu apa yang diturunkan itu? Apakah salah satu dari ayat al-Qur’an?

Dengan melakukan ibadat malam seperti dijelaskan sub kajian di atas, maka hikmah dari Tuhan akan turun kepadanya. Orang yang mempraktikkan ibadat malam secara khusyu’, ia pun telah mendapatkan hikmah khusus yang mampu memahami makna ayat dengan menerjemahkan atau menafsirkannya sebagai berikut:

Menegakkan kegiatan ibadat malam dengan berzikirk ayat al-Qur’an yang mulia dan sangat tinggi nilainya merupakan proses pemagnetan diri dan ia akan terimbas nilai-nilai kemuliaan al-Qur’an. Pada malam itu, Tuhan menurunkan nilai-nilai mulia al-Qur’an ke dalam diri para ahli ibadat yang menghidupkan malam dengan ibadat. Itulah malam kemuliaaan.

Menghitung-hitung angka kebaikan malam kemuliaan secara matematis disebutkan satu malam kemuliaan lebih baik dari 1000 bulan malam normal. Sedangkan nilai malam normal juga mempunyai kebaikan, yaitu aktifitas malaikat yang menurunkan rahmat Tuhan ke bumi dan seisinya. Adapun angka 1000 bulan bukanlah berarti angka mati, tetapi “nilai” banyaknya itu tergantung dan bersesuaian dengan niat dan khusyu’ ibadatnya.

Pada malam kemuliaan, para malaikat Jibril turun kepadanya melalui lantunan bacaan ayat al-Qur’an, melalui jemarinya yang memutar tasbih, melalui jutaan pori-porinya yang mulai berkeringat, melalui diamnya ketika ia meditasi dan kontemplasi, melalui aliran darahnya menuju otak dan hati. Malaikat Jibril menyampaikan wahyu-Nya dan disemayamkan di pusat-pusat potensi manusia yaitu intelektual, emosional dan spiritual. Malaikat lainnya mengatur urusan lain yang menyehatkan tubuh dan jiwa; tekanan darah, pencernaan, ritme bisikan hatinya…

Malam itu terasa kesejahteraan lahir-batin hingga terbit fajar. ***

 

Puisi 24:

Nikmatilah Kenikmatanmu

 

Ketika senja rebah di peraduan temaram…

Kumandang maghrib mengantarkan malam;

Ada yang pergi ke surau mengaji hingga khatam,

Ada yang bercanda bersama keluarga dan menjadi tenteram,

Ada yang belajar untuk ujian esok hari dengan sistem kebut semalam,

Ada yang menyiapkan dagangan di pasar-pasar malam,

Ada yang justru memulai kerja malam,

Ada yang halal, ada yang haram.

 

Dan di lokalisasi itu…

Ada etalase-etalase seronok… menjual tubuh manusia untuk nafsu manusia

Menjual kenikmatan sesaat, selama 2-3 jam untuk short time

Atau semalam suntuk untuk long time

Dengan asap rokok dan aroma minuman keras

Dengan agak mabuk dan langkah-langkah gontai

Transaksi pun dilakukan

dan masuklah pasangan haram itu di sebuah kamar

 

Dan di lokalisasi itu…ternyata

Ada langgar kecil… di salah satu sudut agak kumuh

Sehabis isya’, seorang salik menggelar sajadah… ia entah siapa dari mana…

Ia ingin membeli kenikmatan lain, selama 2-3 jam untuk short time

Atau semalam suntuk untuk long time

Gerakan kepalanya mengikuti ritme tasbih dan zikir mulutnya

Transaksi pun terjadi dan masuklah ia dan Kekasihnya di “kamar pribadi”

 

Semua kenikmatan itu tergugah dengan seruak adzan subuh

 

Bandung, 15/3/2004, pkl 22.55 WIB

23 Muharram 1425 H

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: