Bacalah 40. Sholat Khusyu’

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman. 1)

(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya 2)

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari yang tiada berguna 3)

dan yang tunaikan zakat 4)

dan yang menjaga kemaluan 5)

kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki;

maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. 6)

Siapa mencari di balik itu maka mereka orang-orang melampaui batas. 7)

dan yang memelihara amanat dan janjinya 8)

dan orang-orang yang memelihara sholatnya. 9)

Mereka itu yang mewarisi 10)

(yakni) yang mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. 11)

 

QS. 23. al-Mu’minuun (Orang-Orang yang Beriman) 1-11

 

SHOLAT merupakan ibadat ritual-vertikal yang diperintahkan Tuhan kepada semua hamba-Nya. Ketika Nabi ber-mi’raj ke Sidratul Muntaha dan menerima perintah sholat secara langsung dari Tuhan, semua ulama sepakat dengan kesimpulan bahwa sholat adalah mi’raj-nya umat Muhammad.

Ada sebagian hadits yang menyebutkan bahwa awalnya sholat yang diterima Nabi Muhammad berjumlah 50 waktu. Ketika Nabi Muhammad turun dari Sidratul Muntaha ke langit di bawahnya, para nabi dan rasul yang ada di langit tersebut, menganjurkan Nabi Muhammad untuk keringanan pada Tuhan bahwa umat Muhammad tidak mampu melaksanakan sholat sebanyak 50 waktu. Kemudian terjadilah mobilisasi naik-turun langit untuk bergaining hingga sholat menjadi 5 waktu. Dari esensinya, isi hadits itu kurang bisa diterima akal.

Tuhan sangat mengetahui kemampuan hamba-Nya, seperti Firman-Nya; “laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa”. Sehingga tidak mungkin terjadi tawar-menawar yang mengesankan Tuhan tidak mengetahui kemampuan umat Nabi Muhammad untuk mengerjakan dan menegakkan sholat. Jumlah waktu sholat yang diterima Nabi pada saat mi’raj di Sidratul Muntaha sebenarnya tak perlu dipersoalkan. Tetapi meski demikian, harus hati-hati terhadap dalil lemah seperti hadits dhoif yang memberi kesan Tuhan lemah dan Nabi Muhammad tawar-menawar sebuah wahyu. Tanpa mendebatkan khilafiah itu, bagaimana pun yang baku adalah mendirikan dan menegakkan sholat sebagai kewajiban, kebutuhan, dan secara sya’riah telah ditetapkan sholat 5 waktu.

Telah dicontohkan Rasulullah Muhammad bagaimana melaksanakan, mendirikan dan menegakkan sholat. Tetapi yang perlu ditekankan adalah kosistensi dan konsekuensi dari sholat, yaitu wajahnya harus bercahaya dengan cahaya sholat “memancar” dari pandangan matanya. Sedangkan melaksanakan sholat bermakna hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Jika khilafiah terjadi pada tahap pelaksanaan sholat, ia akan terpuruk pada jahiliyah atau kebodohan dalam beragama. Tata cara sholat yang menjadi khilafiyah beberapa kalangan tak perlu didebat. Yang penting adalah bekas cahaya yang terserap (absorded) dan yang terpancar (illuminated) setelah mendirikan dan menegakkan sholat sebagai ibadah.

Bersuci Sebelum Sholat

Sholat menjadi ibadat vertikal yang ‘dinobatkan’ sebagai tiang agama. Sehingga sebelum melaksanakannya secara fisik harus bersuci terlebih dulu. Filosofinya di al-Qur’an dijelaskan secara umum, kemudian dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad dalam beberapa haditsnya.

Hai orang-orang beriman, jika kamu hendak kerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki dan jika kamu junub maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, tayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapu mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Tuhan tidak hendak menyulitkanmu, tetapi Dia hendak membersihkanmu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.6) Dan ingat karunia Tuhan padamu dan perjanjian-Nya telah diikat-Nya denganmu, saat kau katakan: “Kami dengar dan kami ta’ati”. Dan bertaqwalah pada Tuhan, sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui isi hati(mu)”.7) (QS. 5:6-7)

Pada prakteknya, bersuci atau wudhu sebelum sholat akan memberikan hikmah membersihkan atau mensucikan anggota tubuh dan panca indera yang berpotensi sebagai pintu-pintu masuk bisikan setan. Anggota tubuh itu adalah: (1) Telapak tangan sampai dengan siku disucikan agar terhindar dari pekerjaan-pekerjaan setan seperti mencuri, berkelahi, memukul, mengambil, memegang, melakukan segala suatu yang haram. Konsekuensinya harus dimanfaatkan untuk bekerja demi kebaikan dan kebenaran, membelai suatu atau seorang yang patut mendapat kasih sayang seperti anak yatim, para kaum dhuafa dan lain-lain. (2) Lobang hidung disucikan agar terhindar dari penciuman yang membangkitkan hawa nafsu yang tak diridhoi oleh Tuhan. (3) Berkumur untuk mensucikan mulut dan bibir dari makanan dan minuman yang diharamkan, terhindar dari lisan yang menyakitkan hati pendengarnya, bertutur kata lembut dan bermanfaat. (4) Wajah atau raut muka secara keseluruhan disucikan agar wajah tampak cerah dan menyejukkan bagi yang memandangnya. Agar mata sebagai jendela jiwa terhindar dari prasangka, dari amarah dan dari berbagai bentuk raut muka yang tidak mengenakkan mata, termasuk ketika berkaca melihat diri sendiri. (5) Telinga disucikan dari pendengaran yang tidak bermanfaat. (6) Kaki juga ikut disucikan agar terhindar langkah-langkah setan yang menjebaknya kepada kesesatan. Kaki harus membawa dirinya kepada kemaslahatan.

Sholat: Kewajiban Semua Umat

Tuhan memerintahkan sholat (sembahyang bagi pengertian umat lain) secara esensial sangat mendasar, bukan secara detail seperti terbaca pada rukun sholat. Sedemikian penting hakikat sholat, sehingga pada zaman sebelum Rasulullah Muhammad, perintah sholat atau sembahyang juga diterima oleh rasul-rasul sebelumnya.

Kepada Nabi Musa, “Kami mewahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa rumah di Mesir untuk kaummu dan jadikan rumah-rumahmu tempat sholat dan dirikan sholat…” (QS. 10:87). “Sesungguhnya Aku ini Allah, tiada Ilah selain Aku, maka sembah Aku dan dirikan sholat untuk mengingat-Ku.” (QS. 20:14)

Kepada Nabi Syu’aib, Kata mereka, “Hai Syu’aib, apa sholatmu menyuruh agar kami tinggalkan apa yang disembah bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat yang kami kehendaki tentang harta kami…” (QS. 11:87)

Kepada Nabi Ibrahim, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku, perkenankanlah do’aku…” (QS. 14:40)

Kepada Nabi Isa, “Dan dia jadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada dan Dia perintahkan padaku (dirikan) sholat dan (tunaikan) zakat selama aku hidup.” (QS. 19:31)

Kepada Nabi Ismail, “Dan ceritakan (hai Muhammad pada mereka) kisah Ismail dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia benar janjinya dan seorang rasul-nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk sholat dan menunaikan zakat dan ia orang yang diridhoi di sisi Tuhannya.” (QS. 19:54-55)

Kepada Nabi Ishak dan Nabi Yaqub, “Dan Kami telah memberikan padanya (Ibrahim) Ishak dan Ya’qub, sebagai anugerah. Dan masing-masing Kami menjadikan orang-orang saleh. Kami telah jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan pada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan sholat, tunaikan zakat dan hanya pada Kami mereka selalu menyembah.” (QS. 21:72-73)

Kepada seluruh isi langit dan bumi, termasuk binatang, “Tidakkah kamu mengetahui; Tuhan, kepada-Nya bertasbih apa saja yang ada di langit dan di bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing mengetahui sholat dan tasbihnya dan Tuhan Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. 24:41)

Kepada Luqman yang berpesan ke anak-anaknya, (Luqman berkata): “…… Hai anakku, dirikan sholat dan suruh (manusia) mengerjakan apa yang baik dan mencegah dari perbuatan mungkar dan sabarlah terhadap yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (Tuhan).” (QS. 31:16-17)

Sedangkan kepada Nabi Muhammad, banyak sekali perintah di al-Qur’an agar mendirikan sholat, yang biasanya diikuti zakat, di antaranya: (1) “(Yaitu) mereka yang beriman pada yang ghaib, mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian rejeki yang Kami anugerahkan kepada mereka” (QS. 2:3), (2) “Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat…” (QS. 2:110), (3) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mendirikan sholat dan tunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. 2:277), (4) “Tapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka beriman pada apa yang telah diturunkan padamu (al-Qur’an) dan yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang mendirikan sholat, menunaikan zakat dan yang beriman pada Tuhan dan Hari Akhir. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan pada mereka pahala besar” (QS. 4:162),
(5) “Sesungguhnya penolongmu hanya Tuhan, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang mendirikan sholat dan tunaikan zakat, seraya mereka tunduk (pada Tuhan)” (QS. 5:55).

Keterkaitan sholat dengan amal saleh dan menunaikan zakat; akan selalu menjadi satu kesatuan. Karena sholat tidak hanya ibadat fisik, tetapi mempunyai konsekuensi amal saleh segala sesuatu yang dimilikinya, mulai dari membantu secara fisik, ilmu hingga harta. Demikian pula dengan hitungan zakat atas hasil kerja seharian yang diperolehnya untuk mensucikan harta dan menenteramkan jiwanya.

Sedemikian pentingnya arti ibadat sholat, sehingga seluruh manusia diperintahkan untuk mendirikan dan menegakkan sholat. Bahkan mahluk selain manusia seperti binatang, tumbuhan, planet-galaksi dan seluruh isi alam semesta juga diperintahkan untuk sholat. Sedangkan pembangkangan sebagian manusia karena terjerumus oleh bisikan setan, iblis dan sebagian manusia yang telah menjadi jamaahnya golongan setan dan iblis.

Filosofi Sholat

Banyak pertanyaan menyangkut pembagian sholat lima waktu. Secara histori sangat sedikit yang bisa digali apa dan bagaimana proses penetapan sholat lima waktu. Tetapi hal terpenting, sekali lagi, adalah cahaya sholat dan pemahaman filosofinya, bukan mekanisme pelaksanaan dan pembagian jumlah rekaatnya.

Di dalam al-Qur’an tidak secara tegas disebutkan waktu-waktu sholat subuh, dhuhur, ashar, maghrib dan ‘isya. Ketidak-tegasan itu bukanlah membuktikan kelemahan al-Qur’an sebagai Kitab Suci. Tetapi al-Qur’an hanya memberikan intinya yaitu mendirikan dan menegakkan sholat yang mempunyai konsekuensi terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Untuk pembagian waktu dan tata cara disesuaikan menurut kebutuhan umat.

Secara tersirat, al-Qur’an menjelaskan waktu sholat.

“Dirikan sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (sholat) subuh (fajr – pen.). Sesungguhnya sholat subuh disaksikan. (ayat selanjutnya menjelaskan sholat tahajud – pen.)” (QS. 17:78)

Waktu-waktu menegakkan sholat ditujukan pada waktu khusus dengan memakai pedoman gerak bumi terhadap matahari. Pada ayat di atas memberikan isyarat ada sholat sesudah matahari tergelincir (terbenam) yaitu sholat maghrib hingga mulai masuk malam yaitu sholat isya’. Sedangkan fajar adalah sholat subuh.

“Peliharalah segala sholat(mu) dan (pelihara) sholat wusthaa. Berdirilah untuk Tuhan (dalam sholat) dengan khusyu’. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), sholatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Lalu jika kamu telah aman, maka sebutlah Tuhan (sholat), sebagaimana Tuhan telah mengajarkan padamu apa yang belum kau ketahui.” (QS. 2:238-239)

Sholat wusthaa sebagian tafsir menerjemahkannya sebagai sholat yang terlebih penting. Sebagian tafsir mengartikannya sebagai sholat ashar, dan tafsir lain sholat subuh.

“Dan perintahkan keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rejeki padamu, Kamilah yang memberi rejeki padamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS. 20:132)

Bertasbih sebagai bagian dari sholat senantiasa “didengungkan” pada setiap waktu. Pada siang hari dilakukanlah sholat dhuhur.

Seperti diketahui masyarakat umum, sholat lima waktu bagi umat Islam adalah subuh, dhuhur, ashar, maghrib dan isya’. Kajian ini tidak membahas asal nama sholat, pembagian waktu dan jumlah rekaatnya. Tetapi filosofi sholat lima waktu di sini adalah sebagai pilar atau tiang utama bangunan pribadi muslim, lebih ditekankan sebagai “pagar” dalam kerangka waktu. Artinya, waktu sholat wajib merupakan “pagar pengingat” pada Sang Khaliq bagi hamba-hamba-Nya yang waktunya cukup sibuk dengan pekerjaan dan berbagai aktifitas kesehariannya.

Sholat sebagai “pagar pengingat” narasinya sebagai berikut:

Sholat subuh sekitar jam 04.00-05.00 pagi merupakan awal waktu untuk memulai semua aktifitas sehari-hari. Sebelum memulai aktifitasnya, sholat subuh merupakan ibadat sholat pembuka pada pagi hari, ibadat vertikal mengharapkan Ridho-Nya atas aktifitas yang telah, sedang dan akan dilakukannya pada hari itu.

Sholat dhuhur sekitar jam 11.30-12.30 siang adalah waktu yang tepat untuk meninjau kembali hasil kerjanya di sepanjang pagi dan siang hari. Dalam sholat dhuhur, ia kembali introspeksi apakah selama pekerjaannya ia lakukan secara benar dan apakah Tuhan juga meridhoinya?

Sholat ashar sekitar jam 14.30-15.30 merupakan waktu transisi antara bekerja dengan pulang berkumpul lagi bersama keluarganya. Pada waktu ini, sholat ashar dimanfaatkan dengan doa agar rejeki yang diperoleh dari kerja diridhoi Tuhan, bisa membawa rahmat dan barokah bagi keluarganya.

Sholat maghrib sekitar jam 17.30-18.30 petang diharapkan sudah bisa berkumpul dengan keluarga. Di dalam doanya ditujukan untuk kesehatan, keselamatan dan segala sesuatu keberkahan bagi keluarga, anak dan isteri. Waktu afdol antara maghrib hingga isya’ bisa digunakan untuk mengaji bersama keluarga, terutama bagi anak-anaknya.

Sholat isya’ sekitar jam 18.30-19.30 malam sudah memasuki gelapnya malam. Doanya agar dilindungi dari kejahatan malam, nyenyak tidurnya dan mimpi indah, diberi kesehatan untuk aktifitas esok hari dan lain-lain. Hingga waktu tidur bisa dimanfaatkan untuk bercengkerama bersama keluarga, mempersiapkan bahan untuk pekerjaan esok hari atau anak-anak belajar.

Sholat lima waktu adalah standar sholat bagi umat Islam secara umum. Tetapi bagi mereka yang amat cinta Tuhannya, kelima waktu “mi’raj-nya” dengan Tuhan rasanya “belum cukup”, sehingga ia akan menambahkannya dengan sholat sunnah – seperti puasa ada wajib dan ada sunnah – misalnya sholat fajar, dhuha, qobliyahba’diyah, hajat, tahajud dan lain-lain. Tetapi ada salah satu macam sholat sunnah yang diutamakan adalah sholat tahajud.

“Dan pada sebagian malam hari sholat tahajud-lah kamu sebagai suatu ibadat tambahan bagimu; semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.79) Dan katakan: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara benar dan keluarkanlah aku secara benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.80) Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti akan lenyap”.81) (QS. 17:79-81)

Sholat Khusyu’

Banyak masyarakat awan yang mengerjakan sholatnya sekedar menggugurkan kewajiban saja. Sehingga selain tidak khusyu’, juga belum bisa merasakan manfaat dari sholat – apalagi menyerap cahaya sholat dan memancarkannya kembali untuk kemaslahatan umat dan seluruh alam.

Sholat khusyu’ adalah tujuan utama peribadatan, sekaligus kesulitan yang paling berat ketika melakukannya. Tetapi ada empat upaya keharusan yang bisa membantu kekhusyu’an sholat, yaitu: (1) Harus mengerti syarat dan rukun sholat, (2) Harus memahami filosofi gerakan sholat, (3) Harus menghayati bacaan-bacaan sholat, (4) Harus menghayati zikir sesudah sholat (termasuk shalawat Nabi; “Sesungguhnya Tuhan dan malaikat-malaikat-Nya shalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan padanya.” (QS. 33:56). Kekhusyu’an sholat sangat ditunjang pemahaman bacaan sholat, mulai takbir hingga salam. Dengan mencerna kata-per-kata yang dibacanya, maka ia pun konsentrasi sholat dan perhatiannya tertuju pada makna bacaan sholat, konsentrasi pada kekhusyu’an sholatnya.

Pertama, harus mengerti syarat dan rukun sholat. Orang yang hendak sholat harus sudah dewasa (baligh) dan mengerti yang dilakukannya, karena ia telah dikenai tanggung-jawab atas segala perbuatannya. Ia harus bersuci sebelum sholat. Pakaian dan tempat sekitar sholat juga harus suci. Jika tiada kendala apa pun (sakit atau dalam perjalanan) ia harus menghadap ke kiblat. Ia juga harus berniat sebelum takbir dilakukan. Semua itu merupakan syarat dan rukun pada permulaan ibadat ritual dalam sholat. Di dalam bersuci sebelum sholat sendiri juga terdapat nilai-nilai hikmah yang dikandung di dalamnya. Seperti, mengapa harus mengusap dengan air yang suci seluruh panca inderanya. Hikmah yang dikandungnya adalah hendaknya orang yang sholat itu menjaga lisannya, matanya, pendengarannya, langkah kaki dan gerakan tangannya.

Kedua, harus memahami filosofi gerakan. Pada saat mengangkat tangan dan bertakbir “Allahu Akbar”, maka di dalam benaknya tidak ada lagi yang lebih besar selain Tuhan. Bacaan dan makna surat al-Fatihah harus benar-benar dihayati. Demikian pula pada bacaan setelah surat al-Fatihah. Pada saat berdiri diibaratkan ketika ia masih mempunyai kedudukan strategis, menjadi pemimpin. Memusatkan pandangan ke tempat sujud diharapkan ia melihat umat dan masyarakat di bawahnya. Pada saat ruku’, tubuhnya membuat sudut di pantatnya. Posisi kaki tetap tegak seperti saat berdiri, tetapi mata memandang lebih dekat ke tempat sujud. Pada saat sujud, mukanya pun benar-benar bersentuhan dengan tempat sujud. Lalu ia duduk i’tidal – diibaratkan duduk bersama umat, tidak eksklusif sehingga ada batas dengan umat – hingga mengucapkan salam yang diharapkan ia menebar keselamatan ke segala arah, kepada siapa pun.

Ketiga, harus menghayati bacaan-bacaan sholat. Setiap bacaan sholat mulai takbir hingga salam, hingga zikir selesai sholat, semua ada maknanya, terutama bacaan surat-surat al-Qur’an yang dibaca sesudah surat al-Fatihah, sifatnya khusus tergantung pribadi masing-masing. Orang yang menyukai ayat-ayat tertentu akan dibacanya karena ia tahu artinya. Bacaan itu juga bersifat situasional, tergantung masalah yang sedang dihadapi. Masalah itu dikaitkan dengan bacaan surat-surat di dalam al-Qur’an. Dengan mengerti arti dan memahami setiap ucapan dan bacaan sholat, ia akan lebih bisa merasakan nikmatnya sholat. Biasanya kenikmatan dalam sholat dilanjutkan dengan lama berzikir. Jika sholat sendiri, ia nikmati surat-surat panjang.

Keempat, harus menghayati zikir sesudah sholat. Kadang kekhusyu’an datangnya setelah sholat, ketika duduk berzikir merasakan sholat yang baru selesai ia lakukan dan sejauh mana nilai sholatnya. Kemudian ditambahkan zikir dengan penggalan ayat-ayat al-Qur’an atau berzikir al-Asmaaul Husna. “Bertasbih kamu pada-Nya malam hari dan tiap selesai sholat” (QS. 50:40) Mengingat Tuhan dengan memutar tasbih secara urut (wirid), apa saja yang ada di dalam hati dan pikirannya, lalu dihubungkan dengan sifat-sifat Tuhan.

Zikir ini secara garis besar dibagi menjadi empat, yaitu:

Pertama, “menyebut” Tuhan misalnya subhanallah, alhamdulillah, laa illaha illallah, allahu akbar, laahaula walaaquata illabillah, astaghfirullah dan sifat Tuhan di dalam al-Asmaaul Husna diucapkan berpuluh-ratus-ribu, dihayati dan ditanamkan di dalam hati sanubari,

Kedua, membaca ayat al-Qur’an berkali-kali dan dihayati maknanya, misalnya Surat al-Fatihah, Ayat Kursi, Misykat Cahaya, Surat ar-Rahmaan, Yaa Siin dan lain-lain,

Ketiga, bershalawat pada Nabi Muhammad, para nabi-rasul sebelumnya serta para sahabat dan ‘auliya sesudahnya; dengan mengingat perilakunya, ucapan, teladan, pola hidup dan sifat-sifat mulia lainnya,

Keempat, tahap terakhir adalah posisi duduk, diam sama sekali dengan posisi rileks. Dengan posisi tersebut, konsentrasi difokuskan pada makna hidup di dalam gerak dan hingar-bingar peradaban. Setelah melakukan zikir pada point ke-1, ke-2 dan ke-3, setelah menghayati maknanya selama sekian putaran tasbih, dan sekian bacaan yang relatif memakan waktu berjam-jam, kini waktunya kontemplasi. Di balik gerak hingar bingar peradaban manusia, tetapi di dalam zikir, duduk dan diam sama sekali dengan posisi yang sempurna akan dirasakan kesenyapan dan suara hati nuraninya yang hanya membisikkan tauhid.

Ada kisah yang menggambarkan latihan zikir pada point ke-4, yaitu ada murid yang diperintahkan gurunya untuk duduk bersila di atas batu yang ada di tengah danau dikelilingi derasnya air terjun, di tengah hutan. Lalu apa yang akan diemban si murid? Apa yang diperintahkan gurunya kepadanya? Ternyata si murid harus bisa mendengarkan suara kicauan burung di tengah derasnya air terjun! Masuk akalkah perintah gurunya itu? Sekian lama ia duduk di atas batu dengan posisi sempurna. Semula ia tidak sabar. Ia terus konsentrasi dan mengingat (zikir) melalui Sang Maha Pengatur Segalanya, termasuk sistem di hutan itu. Kemudian kesabaran mulai mengendalikannya. Dirasakannya rasa dingin percikan air terjun menerpa sekujur tubuhnya. Derasnya air terjun menghantam permukaan danau terdengar sangat bising di telinganya. Tetapi ia terus berusaha merasakan kehadiran kicauan burung. Setelah cukup lama berkonsentrasi, sedikit demi sedikit gemuruh air terjun bisa teredam dan disingkirkan oleh kicauan merdu burung di dalam hutan!

Contoh lain terdapat pada cerita matahari. Jika ada seseorang melihat matahari di pagi hari, ia melihat bentuk matahari secara bulat sempurna tiada bias sinar di sekeliling tepi lingkarnya. Ketika waktu menunjukkan sekitar 10 pagi, matahari mulai memancarkan sinar hangat-panasnya. Seseorang tadi tidak bisa melihat bentuk sebenarnya matahari. Ia hanya melihat bias cahaya matahari memancar menyilaukan. Tetapi ketika ia berusaha menyesuaikan pandangan ke matahari yang bersinar mulai panas, ia akan mulai melihat permukaannya yang bulat sempurna. Sebaliknya, jika setelah itu ia akan mengalihkan pandangannya dari matahari dan memandang sekitarnya, justru ia tidak bisa melihat dengan jelas apa-apa yang ada di sekitarnya akibat pengaruh sinar matahari. Fenomena ini contoh perumpamaan yang cukup sederhana ketika “melihat” Cahaya Illahi. Setelah bisa melihat Cahaya-Nya, jika ia mengalihkan sebentar dari-Nya, maka ia tidak bisa melihat apa-apa, sehingga ia ingin terus memandang-Nya.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman.1) (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.2) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari yang tiada berguna3) dan yang tunaikan zakat4) dan yang menjaga kemaluan5) kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.6) Siapa mencari di balik itu maka mereka orang-orang melampaui batas.7) Dan yang memelihara amanat dan janjinya8) dan orang-orang memelihara sholatnya.9) Mereka itu yang mewarisi 10) (yakni) surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”.11) (QS. 23:1-11)

Pada kajian iman dan taqwa, orang-orang beriman selalu terkait dengan sholat, sabar, amal saleh, zakat dan perbuatan ‘aslama lainnya. Sikap-sikap ‘aslama adalah multi-tunggal yang saling terkait, membawa konsekuensi antara yang satu dengan yang lain. Khusus soal sholat, orang-orang beriman diharapkan khusyu’ sholatnya agar keimanannya semakin meningkat, karena sholat merupakan tiang agama sehingga harus diperhatikan kekuatan dan kekokohannya.

Secara hierarki, keterkaitan khusyu’ dalam sholat dengan sikap ‘aslama sebagai kesatuan multi-tunggal adalah seperti pada QS. 23:1-11 di atas yaitu;

(1) menjauhkan diri dari perbuatan yang tak berguna,

(2) menunaikan zakat,

(3) menjaga kemaluan,

(4) memelihara amanat dan jani yang diembannya,

(5) memelihara sholatnya.

Seorang muslim seutuhnya yang diawali dengan sholat khusyu’, ada satu hal penting pertama yang harus diperhatikan adalah melakukan empat upaya keharusan seperti disebutkan di atas. Proses iterasi itu harus dilakukan terus untuk menaikkan derajat dan nilai sholatnya. Waktu-waktu khusus yang sangat afdol untuk menilai sholatnya tidak lain adalah melakukan zikir selesai sholat.

Dengan zikir berlama-lama selesai sholat, salah satu fokus zikir adalah menimbang-nimbang kekhusyu’an sholat, memahami bacaan sholatnya dan hal-hal lain di seputar sholatnya. Setelah nilai sholatnya terdekteksi nilainya, misalnya mendapat angka 6, maka realisasi dari penegakkan sholat tersebut bisa dilihat dari kegiatan atau rutinitas kesehariannya.

Akan sangat merugi orang-orang yang melakukan sholatnya, tetapi masih dikategorikan sebagai orang yang mendustakan agama karena ketidak-telitian perbuatan-perbuatan di luar sholatnya yang tidak sejalan dengan ajaran sholatnya. “Tahukah kamu yang mendustakan agama? Yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaan bagi yang sholat, yang lalai sholatnya. Orang-orang yang riya. Dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” (QS. 107:1-7). Alangkah meruginya mereka yang sholat sekedar menggugurkan kewajiban saja, tanpa menghayati hakikat sholatnya.

Kekhusyu’an sholat tidak bisa dinilai dari penglihatan visual secara sederhana. Orang tidak bisa disebut khusyu’ dengan memakai surban dan berpakaian gamis, membaca ayat-ayat yang sulit dimengerti oleh makmum (jika jamaah) atau sengaja berlama-lama di dalam sholatnya untuk riya’ meskipun riya’nya sangat halus.

Menilai sesuatu di wilayah khusus dan dilakukan orang berilmu, cara penilaian pun harus menggunakan ilmu. Jika menyandingkan lama waktu sholatnya orang awam sama dengan sholatnya ahli ibadat, maka penilaian itu tidaklah relevan. Seorang ahli ibadat bisa memahami kapan dan di mana ia sholat atau dalam keadaan bagaimana ia akan sholat. Tetapi paling tidak, ia telah melampaui keempat keharusan upaya untuk meningkatkan keimanan melalui kekhusyu’an sholat.

Waktu lama sholatnya orang awam, selain kemungkinan masih mengeja bacaan sholat, kemungkinan lain pikirannya menerawang ke mana-mana. Sementara itu, waktu cepat sholatnya orang awam kemungkinan besar dan dipastikan ia sedang tergesa-gesa. Selain tidak memahami bacaan dan filosofinya, dakwaan mengerikan jatuh padanya yaitu ia termasuk golongan orang yang mendustakan agama seperti disinggung QS. 107:1-7 di atas.

Waktu lama sholatnya ahli ibadat, pasti ia sedang menikmati kata demi kata, makna demi makna bacaan sholatnya. Sedangkan cepat sholatnya ahli ibadat (jika suatu saat terlihat cepat), selain ia telah paham maksud bacaan dan filosofi sholat, pada saat itu kemungkinan ia ‘ekstase’ melambung tinggi bagaikan elang terbang tinggi, gesit dan cepat di angkasa bebas tak terbatas.

Dengan sholat yang benar, janji Tuhan akan benar-benar turun kepada ahli ibadat tersebut yaitu mewarisi surga firdaus dan mereka kekal di dalamnya. Pengertian surga firdaus tidak saja bermakna nanti setelah kiamat dan hari perhitungan di padang ma’syar. Tetapi surga firdaus bisa dirasakan bagi ahli ibadat pada saat itu juga ketika ia khusyu’ di dalam sholatnya dan nilai sholatnya membekas pada setiap langkah kehidupannya sehari-hari.

Jika ahli ibadat tidak sedang bekerja mencari nafkah, maka hidupnya senantiasa sholat pada setiap waktu sholat lima kali sehari, menambahkan dengan sholat sunnah termasuk menegakkan sholat sunnah di malam hari. Waktu di antara sholat-sholatnya ia pergunakan untuk berzikir, misalnya menyebut al-Asmaaul Husna, membaca dan mengkaji al-Kitab (al-Qur’an).

Firman Tuhan pada QS. 29. al-‘Ankabut (Laba-Laba) 45:

“Bacalah yang telah diwahyukan padamu yaitu al-Kitab (al-Qur’an). Dan dirikan sholat. Sesungguhnya sholat mencegah dari keji dan mungkar. Dan sesungguhnya ingat Allah (sholat) lebih besar (dari ibadat lain). Dan Allah mengetahui yang kamu kerjakan.”

Mengingat Tuhan sesungguhnya tidak hanya saat sholat. Tetapi zikir atau mengingat Tuhan bisa setiap saat, setiap waktu, dalam keadaan apa pun. Sholat merupakan bagian dan inti dari pada zikir atau mengingat Tuhan. Tetapi banyak orang Islam yang masih khilaf dengan mempermasalahkan syarat dan rukun sholat berikut bacaan di dalamnya. Beberapa di antaranya: (1) pembacaan atau pengerasan “bismillahirrahmaanirrahiim” pada bacaan surat kedua setelah al-Fatihah, (2) doa qunut pada sholat Subuh, (3) sholat sunnah yang menyertai sholat wajib, (4) ritual zikir sehabis sholat, ada yang dipimpin imam ada yang sendiri-sendiri, dan lain-lain.

Fenomena khilafiyah yang berkembang seakan tidak pernah selesai dengan dalih mempunyai hadits yang lebih kuat. Tanpa mengalami atau menghayati sholat secara sungguh-sungguh, maka umat Islam hanya berjalan di tempat dan tidak akan dewasa diri.

Katakan: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki Tuhanku pada jalan lurus, agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus. Ibrahim bukanlah termasuk orang-orang musyrik”. Katakan (Muhammad): “Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itu diperintahkan padaku dan aku orang yang pertama menyerahkan diri (pada Tuhan)”. (QS. 6:161-165)

Sholat: Jamaah atau Sendiri

Ada nasihat mengatakan, sholat wajib itu idealnya dilakukan berjamaah di masjid dan sholat sunnah dilakukan sendiri di rumah. Nasehat ini ada benarnya dan sangat logis. Secara ideal, sholat wajib memang selayaknya dilakukan jamaah di masjid-masjid untuk memperkuat dan memperkokoh ukhuwah islamiyah di lingkungan permukiman. Beberapa alasannya adalah:

Dari sisi jamaah, (1) Memelihara tali silaturrahim, (2) Memupuk ikatan batin yang kuat, (3) Memecahkan persoalan umat bersama. Dari sisi masjid, (1) Masjid sebagai pusat kegiatan, (2) Memupuk ikatan batin antar masjid.

Bacaan surat-surat yang dibaca imam dalam sholat jamaah hendaknya mudah dipahami jamaahnya. Atau jika ada surat yang sebagian jamaah belum mengerti dan belum memahami maknanya, hendaknya sehabis sholat dibahas bersama arti dan makna surat yang dibaca imam ketika sholat tadi. Pembahasannya cukup dilakukan internal jamaah masjid tersebut. Ini untuk menumbuhkan kreatifitas, keakraban dan mengasah pola berpikir jamaahnya dalam rangka kemandirian dan mencerdaskan umat. Jika semuanya terbentur tidak bisa menemukan jawaban suatu masalah, barulah jamaah memanggil ahlinya dari luar lingkungan jamaah.

Selesai sholat yang dipimpin imam, hendaknya dibiasakan menanyakan kabar jamaah seperti dicontohkan Rasulullah Muhammad. Jika ada jamaah yang mengalami kesulitan, forum itu sangat baik dijadikan ajang saling menolong sesama umat. Dengan demikian, secara psikologis akan terjalin rasa kebersamaan. Kebahagiaan yang dirasakan adalah kebahagiaan kolektif.

Secara periodik, jamaah sholat dianjurkan untuk melakukan pertemuan rutin atau pengajian (majelis ta’lim) yang dilakukan secara internal pula dalam rangka kemandirian dan mencerdaskan umat. Masing-masing jamaah secara bergilir diberikan kesempatan menceritakan atau “menceramahkan” pengalaman hidupnya yang mengandung hikmah atau teladan bagi yang lain. Jika ia bisa mengaitkan dengan nilai keagamaan akan menjadi lebih baik. Pertanyaan yang dari jamaah sebisa mungkin dijawab oleh jamaah yang lain. Jika semuanya terbentur tidak bisa menemukan jawaban suatu permasalahan, barulah jamaah memanggil ahlinya dari luar lingkungan jamaah.

Itulah fungsi sholat wajib berjamaah di masjid jika dilakukan dengan benar dan jika mengacu jamaah sebagai potensi umat dan masjid sebagai pusat kegiatan umat. Jika masing-masing segmen masyarakat atau umat melakukan yang demikian, dan semua masjid menjalin hubungan kerjasama yang solid, maka umat Islam akan meraih masa kejayaannya kembali.

Adapun kendala seseorang yang mungkin terjadi sehingga tidak bisa sholat wajib berjamaah di masjid, di antaranya; (1) Kesibukan pekerjaannya, (2) Di dalam perjalanan, (3) Keperluan mendesak.

Sementara itu sholat-sholat sunnah yang dilakukan sendiri di rumah, tidak menutup kemungkinan dilakukan jamaah dengan keluarga, selayaknya sholat wajib berjamaah di masjid. Mekanismenya sama dengan uraian di atas dalam rangka proses pendidikan anak-isteri serta pembantu, sopir, satpam jika memiliki pekerja seperti mereka.

Sholat sunnah yang dilakukan sendiri mempunyai pertimbangan, yaitu: (1) Dari sisi diri sendiri, ia ingin mengoreksi nilai sholat wajibnya dan ia ingin berlama-lama menikmati sholatnya; (2) Dari sisi rumah dan keluarga yang membutuhkan cahaya sholat,

Dengan demikian, mendirikan dan menegakkan sholat wajib maupun sunnah, baik secara individual, jamaah keluarga di rumah hingga jamaah masjid di tempat lingkungan permukimannya, serta dialog antar jamaah atau umat, akan menumbuhkan nilai-nilai islami bagi dirinya, keluarga dan umat.

Cahaya Sholat

Adalah masuk akal jika seorang hamba yang sholatnya (mendekati) kebenaran, semua urusannya di dunia dan akhirat akan dimudahkan Tuhan. Karena jika sholatnya (diusahakan) benar, maka urusan lain pun akan (diusahakan) benar, apalagi bagi mereka yang khusyu’ dalam sholatnya.

Orang yang sudah menghayati sholatnya, konsekuensi pertama, seperti disebutkan beberapa ayat di atas, adalah ia harus bersedekah, mengamalkan sebagian rejeki yang baik-baik yang diberikan Tuhan kepadanya, berzakat dan lain-lain amal saleh semacam itu. Jika seseorang mengerjakan sholat tetapi masih “menggenggam” harta dan berat beramal, maka sholatnya belum sempurna; bahkan bisa digolongkan mendustakan agama karena lalai, tidak membekas pada setiap gerak, perilaku dan kegiatan sehari-hari.

Banyak ayat menyebut sholat dan zakat secara bersamaan di antaranya, (QS. 2:3,43,83,110,177,277), (QS. 4:77,162), (QS. 5:12,55), (QS. 8:3), (QS. 9:5,11,18,71), (QS. 13:22), (QS. 14:31), (QS. 19:31,55), (QS. 21:73), (QS. 24:37,56), (QS. 27:3), (QS. 31:4), (QS. 33:33), (QS. 35:29), (QS. 58:13), (QS. 70:23-24), (QS. 73:20), dan (QS. 98:5),

Konsekuensi lanjutan sholat yang benar, perilakunya lahir-batin akan memancarkan cahaya sabar yang baik dan benar. Sabar yang benar adalah sabar dalam kebenaran, sabar ketika melakukan sholat, zikir, puasa, sabar dalam menghadapi cobaan dan hambatan dan lain-lain sikap ‘aslama atau pasrah pada Tuhan semata, bukan kepada yang lain. Sabar dan sholat bisa menjadi penolong karena Tuhan selalu beserta orang-orang yang sabar dan selalu bersama orang yang sholat.

Beberapa ayat yang mencantumkan sabar dan sholat secara bersamaan di antaranya: (QS. 2:45,153), (QS. 20:132), dan (QS. 31:17). Keterkaitan sabar, sholat dan puasa (serta khusyu’) ada pada Kajian 36: Tentang Puasa.

Itulah cahaya sholat. Mereka yang khusyu’ dalam sholatnya seakan meleburkan diri ke dalam kuantum Nur Muhammad. Tiada lagi kebahagiaan selain mi’raj berdekatan dan berdekapan dengan Kekasih Tuhan dan dengan Tuhan sendiri.

Firman Tuhan pada QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 277,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal saleh, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, mereka dapat pahala di sisi Tuhannya. Tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka sedih hati.”

“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka iman pada apa yang telah diturunkan padamu (al-Qur’an) dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang yang mendirikan sholat, tunaikan zakat dan beriman pada Tuhan dan Hari Akhir. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan pada mereka pahala besar.(QS. 4:162)

“…Sesungguhnya Aku besertamu jika kamu mendirikan sholat dan tunaikan zakat serta beriman pada rasul-rasul-Ku dan kamu membantu mereka dan kamu pinjamkan pada Tuhan pinjaman baik sungguh Aku akan hapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Ku-masukkan ke surga yang mengalir sungai-sungai…” (QS. 5:12)

Puisi 23:

Allahu Akbar… Wassalam

 

Allahu Akbar,…

Yang ada hanyalah Allah, Allah, Allah,

Selain Allah semuanya kecil tiada apa, tiada guna, kosong hampa belaka,

Sami’allahu limanhamidah,…

Yang mendengar hanya Allah, Allah, Allah,

Yang berhak atas pujian hanya Allah, Allah, Allah,

Selain Allah semua tuli dan hina,

Hanya Allah yang memperdengarkan, yang memujikan, yang memuliakan

Allahu Akbar,…

Islamkan hamba, Yaa Allah,

Muhammadkan hamba, Yaa Allah,

Dekatlah hamba, Dekaplah hamba, Yaa Allah,

………

Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh,…

Selamatkanlah, rahmatkanlah dan barokahkanlah seluruh alam semesta,

Khususnya bagi hamba-hamba-Mu yang hendak mendekat

dan mendekap-MU…

 

Jakarta, 13.10.2001

 

“Maka bertasbihlah memuji Tuhanmu

dan jadilah orang-orang yang bersujud (sholat),98)

dan sembahlah Tuhanmu

sampai datang padamu yang diyakini.99)

 

QS. 15. al-Hijr 98-99

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: