Bacalah 39. Meraih Ridho-Nya

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan,

sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.

Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar,

mendirikan shalat, menunaikan zakat

dan mereka ta’at pada Allah dan Rasul-Nya.

Mereka akan diberi rahmat oleh Allah;

Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. 71)

 

Allah menjanjikan pada orang-orang yang mu’min lelaki dan perempuan,

(akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,

kekal mereka di dalamnya dan (dapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn.

Dan keridhaan Allah adalah lebih besar;

Itu adalah keberuntungan yang besar. 72)

 

QS. 9. at-Taubah (Pengampunan) 71-72

 

MENURUT kamus besar Bahasa Indonesia oleh Badudu-Zain 1996, arti “ridha” disamakan dengan rela, yaitu (1) dengan suka hati, tanpa pamrih dan (2) dengan kemauan sendiri dan tanpa paksaan.

Di dalam kehidupan bermasyarakat, hubungan antar manusia harus dilakukan dengan rela hati, tolong menolong secara ikhlas; apapun status sosial dan agamanya yang dianut setiap warga masyarakat. Dengan demikian akan terjalin hubungan harmonis dengan suka hati, saling pengertian, dengan kemauan sendiri, tanpa diminta, tanpa paksaan. Bahkan mereka yang kaya hartanya tetapi hatinya juga beriman dan bertaqwa, maka mereka pun ridho bergaul dan bersedekah kepada kaum lemah miskin papa. Alangkah indah jika hubungan antar manusia bisa harmonis, saling meridhoi…

“Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. 71)

Mereka yang menjaga keharmonisan sesama umat (ukhuwah islamiyah) dan sesama manusia (ukhuwah bashariyah/insaniyah) serta sesama mahluk (ukhuwah ubudiyah) akan diberi rahmat Tuhan. Ada sebuah ajaran bahwa apa yang ada di empat penjuru mata angin adalah saudara, atau sebuah doa keselamatan agar semoga semua mahluk berbahagia

“Allah menjanjikan pada orang-orang yang mu’min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya dan (dapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar. 72)

Ridho Bersama Allah dan Muhammad

Secara tekstual, kata “Muhammad” telah didokumentasikan al-Qur’an sebagai utusan Tuhan. Beruntunglah umat-umat terdahulu yang sezaman dengan beliau karena bisa melihat kesehariannya. Mereka berjuang bersama, bercengkerama, saling menasihati, keras terhadap orang yang ingkar tetapi berkasih sayang sesama mereka. Tetapi bagi umat sesudah zaman tersebut, yang tidak sempat bersamanya, harus mengimani bahwa Nur Muhammad masih bersamanya. Ada sebagian yang diberi hikmah Tuhan bisa bermimpi berjumpa Nabi Muhammad. Dengan mengikuti Petunjuk Nabi Muhammad yang tersurat dalam al-Qur’an, keyakinan umat Muhammad di akhir zaman akan menguatkan keimanan dan ketaqwaannya bahwa di akhirat mereka akan bisa berkumpul bersama dengan ridho Tuhan.

Firman Tuhan pada QS. 48. al-Fath (Kemenangan) 28-29,

“Dia mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukup Allah sebagai saksi. Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang bersama dia keras terhadap orang-orang ingkar, tetapi berkasih sayang sesama mereka: Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikian sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu jadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang ingkar (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Orang-orang ruku’ dan sujud mencari karunia Tuhan dan Ridho-Nya akan mempunyai tanda-tanda pada muka mereka dari bekas sujudnya. Arti bekas sujud bisa secara harfiah di keningnya berupa noda kehitam-hitaman, gosong, akibat sering bersujud. Tetapi bekas sujud lebih esensial bermakna meninggalkan sikap, perilaku dan lisan yang membekaskan keteduhan dan kedamaian bagi jiwa orang-orang yang sempat bersamanya. Perumpamaan mereka seperti tanaman mengeluarkan tunas seperti disebutkan ayat di atas. Suatu simbol kekokohan dan keteguhan hati pada kebenaran.

Tuhan menegaskan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Sementara, Allah berkali-kali menegaskan bahwa Diri-Nya adalah Tuhan semesta alam. Pernyataan itu logis; Tuhan memproklamirkan sebagai Tuhan, bukan buatan manusia atau hasil penelitian manusia.

Sikap manusia beriman dan bertaqwa adalah ridho kepada Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai utusan Tuhan, dengan segala konsekuensi memenuhi hak dan kewajibannya, baik untuk Allah sebagai Tuhannya, Muhammad sebagai utusan Tuhan, dirinya sebagai hamba. Demikian pula sikapnya terhadap Islam sebagai agamanya dan al-Qur’an sebagai kitabnya.

Jika sikap hamba yang tulus ridho kepada Allah, Muhammad, Islam dan al-Qur’an; maka sebagai kausalitasnya ia menerima balik Ridho Allah, Muhammad, Islam dan al-Qur’an.

Ridho Berserah Diri

Mempelajari Islam sebagai ilmu bukan berarti berakhir pada penguasaan ilmu, tetapi bertujuan akhir menjadi ilmu. Seperti kata seorang filsuf Yunani, Plotinos, “Pengetahuan adalah adaequatio rei et intellectus – pemahaman orang yang mengetahui harus bersesuaian dengan sesuatu yang ingin diketahui”, takkan pernah suatu jiwa mengenal keindahan agung, kecuali jiwa itu sendiri menjadi indah.” Juga Jalaluddin Rumi, “hanya kebenaran yang bisa memahami kebenaran.” Jadi, untuk menghayati Islam harus benar-benar ber’aslama, bukan sekedar beragama.

Firman Tuhan pada QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 207-208,

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan diri karena mencari keridhaan Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. Hai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan jangan kau turut langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu.”

Firman Tuhan pada QS. 5. al-Maa-idah (Hidangan) 3,

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan padamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sekali lagi, pengertian “islam” atau ‘aslama sebagai agama hendaknya tidak dibatasi sebagai literatur kata, bahasa dan batasan logika arabic. Tetapi “islam” sebagai perilaku ‘aslama lebih menyentuh pada kebenaran hakiki. Pada Kajian 6: Makna Berserah Diri telah dijelaskan siapa saja yang berhak menyandang “islam”. Sehingga Tuhan meridhoi Islam sebagai sikap perilaku ‘aslama, bukan sekedar Islam agama KTP.

Firman Tuhan: “Ini suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Tuhan ridho terhadap mereka dan mereka ridho terhadap-Nya. Itu keberuntungan paling besar“. Kepunyaan Tuhan kerajaan langit dan bumi dan yang ada di dalamnya dan Dia Mahakuasa segala suatu” (QS. 5:119). Dapat dibayangkan betapa suatu keberuntungan paling besar jika antara hamba dengan Tuhannya sudah saling meridhoi. Tiada kebahagiaan lebih besar dari hubungan seperti itu, bagaikan perasaan cinta yang disambut mesra oleh kekasihnya….

Sedemikian besar keuntungannya, maka rejeki yang diberikan Tuhan pun akan dikembalikannya kepada Tuhan. Sikap ini bukan tidak menghargai pemberian Tuhan, tetapi rejeki tersebut dan segala sesuatu termasuk dirinya adalah hak milik Tuhan.

Menafkahkan harta sebagai bagian rejeki dari Tuhan yang diberikan padanya dengan ridho-Nya, akan dibelanjakannya kembali di Jalan Tuhan. Pembelanjaan ini pun bukan berarti konsumtif tetapi abstraktif diamalkan bagi mereka yang lebih membutuhkan.

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhoan Tuhan dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, hujan gerimis (pun memadai). Dan Tuhan Maha Melihat apa yang kamu perbuat.265) Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai di dalam kebun itu segala macam buah-buahan, lalu datang masa tua pada orang itu sedangkan dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin yang keras mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah, Tuhan menerangkan ayat-ayat-Nya pada kamu supaya kamu memikirkannya”. 266) (QS. 2:265-266)

Orang yang telah ridho dan diridhoi Tuhan menjadi “rasul”, maka ia mengetahui hak dan kewajibannya hidup di muka bumi. Selain ilmu yang diberikan Tuhan kepadanya, perilaku pun akan bersesuaian dengan yang dicontohkan rasul-rasul sebelumnya. Ia wajib menyampaikan kebenaran yang ia diketahui, tetapi tidak berhak memberikan petunjuk atau hikmah kepada seseorang atau kaum.

“Bukan kewajibanmu menjadikan mereka dapat petunjuk, akan tetapi Tuhan yang memberi petunjuk (taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Tuhan), maka pahalanya untuk kamu sendiri. Dan jangan kamu belanjakan sesuatu selain karena mencari ridho Tuhan. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun takkan dianiaya.272) (Infaklah) pada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Tuhan; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan lihat sifat-sifatnya, mereka tidak minta pada orang secara mendesak. Dan apa saja harta baik yang kamu nafkahkan (di jln Tuhan), sesungguhnya Tuhan Maha Mengetahui.273) Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.274) (QS. 2:272-274)

“Apa mereka tidak memperhatikan sesungguhnya Tuhan melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang menyempitkan. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum beriman.37) Maka berikan pada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) pada fakir miskin dan orang-orang dalam perjalanan. Itu lebih baik bagi orang-orang yang mencari ridho Tuhan dan mereka adalah orang-orang beruntung.38) Dan suatu riba’ (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba’ tidak menambah pada sisi Tuhan. Dan apa yang kau berikan berupa zakat yang kamu maksud untuk ridho Tuhan, maka (yang berbuat demikian) orang-orang melipat-gandakan (pahala).39) Tuhan yang menciptakanmu, memberimu rejeki, mematikanmu, menghidupkanmu…”.40) (QS. 30:37-40)

Bagi Hasil Keridhoan

Tiada perniagaan yang menguntungkan selain melakukan perniagaan dengan Tuhan. Bahkan tanpa modal kapital tetapi “hanya” dengan modal spiritual yang bisa berkembang menjadi kapital dan mempunyai added value karena kapitalnya diridhoi Tuhan.

“Hai orang-orang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab pedih?10) (Yaitu) kamu beriman pada Tuhan dan Rasul-Nya, jihad di jalan Tuhan dengan harta dan jiwamu, itu lebih baik bagimu jika kamu tahu,11) niscaya Tuhan akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itu keberuntungan yang besar.12) Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Tuhan dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikan berita gembira pada orang-orang beriman”.13) (QS. 61:10-13)

Modal awal perniagaan dengan Tuhan adalah beriman kepada Tuhan dan Rasul-Nya. Konsekuensi modal awal ini akan berkembang dengan keimanan lainnya dan dengan konsekuensi keislaman. Dalam mengemban proses perniagaan tersebut, Tuhan memberikan tambahan rejeki baik kapital maupun yang non-kapital. Dengan tambahan rejeki itu, proses perniagaan dengan Tuhan akan terus-menerus dilakukan dengan ridho; bahkan harus ditingkatkan dengan berjihad di jalan Tuhan dalam arti yang luas dengan harta dan jiwa.

Kesinambungan berniaga dengan Tuhan yang saling meridhoi akhirnya membuahkan hasil bagi keridhoan, menurut ayat di atas, yaitu: (1) Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya, (2) Tuhan akan memasukkan hamba-Nya ke dalam surga ‘Adn, (3) Pertolongan Tuhan, (4) Kemenangan yang dekat.

Sirkulasi yang itteratif akan melipat-gandakan Ridho Tuhan kepadanya. Semuanya tergantung dirinya sendiri di dalam menyikapi Ridho Tuhan, termasuk jika ia bersyukur atas karunia Tuhan.

“Jika kamu ingkar, maka sesungguhnya Tuhan tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhoi keingkaran bagi hamba-Nya; Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhoi kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian pada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan padamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS. 39:7)

Salah satu dari bentuk itterasi perniagaan dengan Tuhan adalah sikap sabar yang benar sebagai bagian dari sikap mulia ‘aslama. Baginya, hasil bagi keridhoan dengan Tuhan itu bukanlah perhitungan bisnis selayaknya hubungan bisnis antar manusia yang tendensius pada materi-finansial.

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhoan Tuhannya, mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan pada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itu dapat tempat kesudahan (yang baik),22) (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-2 saleh dari bapak-2nya, istri-2nya & anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu;23) (sambil berucap): “Salamun ‘alaikum bima shabartum – keselamatan atasmu berkat kesabaranmu”. Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu“.24)
(QS. 13:22-24)

Firman Tuhan pada QS. 98. al-Bayyinah (Bukti) 7-8,

“Sesungguhnya orang-orang beriman dan kerjakan amal saleh mereka itu sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha pada-Nya. Yang demikian adalah (balasan) bagi orang yang takut pada Tuhannya.”

Makna yang terkandung dalam tata bahasa Tuhan hendaknya tidak dipahami secara harfiah. Misalnya pada akhir ayat tersebut di atas dikatakan “yang demikian adalah (balasan) bagi orang yang takut pada Tuhannya”. Arti takut bukanlah berkonotasi negatif seakan takut pada singa sehingga ia lari menjauh. Tetapi takut yang dimaksud adalah takut jika memenuhi panggilan Tuhan dan menghadap kepada Tuhan dengan diri yang tidak siap, dengan jiwa yang kotor dan hati yang ingkar.

Untuk itulah ia secara kontinyu, konsisten dan konsekuen melakukan pendekatan diri (muraqabah), menghitung-hitung diri atau introspeksi diri (musahabah) dan berjuang (mujahadah) di Jalan Tuhan. Perjalanan hidup yang relatif panjang itu menurut ukuran manusia, menjelang sisa umurnya, dipersiapkan untuk memenuhi panggilan-Nya.

Begitu setelah meraih keridhoan-Nya, maka hamba tadi akan memenuhi panggilannya dengan senyum kebahagiaan, kerinduan dan kecintaan kepada Tuhan dan Rasul-Nya. Tangan-tangan malaikat menjembut jiwanya yang meninggalkan raganya di bumi dengan sapaan santun dan lemah lembut. Rasul dan orang-orang saleh yang lebih dulu memenuhi panggilan-Nya dengan kematian yang indah atau akhir yang baik (khusnul khotimah) akan mengulurkan tangan menjemput sahabatnya itu. Mereka berkumpul bersama di akhirat.

Ketika “pengadilan” akhirat selesai diproses, Tuhan pun akan menyapa hamba-hamba-Nya yang beriman, bertaqwa dan beramal saleh;

Firman Tuhan pada QS. 89. al-Fajr (Fajar) 27-30,

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang ridho lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: