Bacalah 38. Gemetarlah Hati

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang

jika disebut nama Allah gemetarlah hati mereka

dan jika dibacakan Ayat-ayat-Nya pada mereka, bertambahlah iman mereka

dan pada Tuhanlah mereka tawakkal, 2)

 

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat

dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka. 3)

 

Itulah orang-orang yang beriman sebenar-benarnya.

Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya

dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia. 4)

 

QS. 8. al-Anfaal (Rampasan Perang) 2-4

 

Kajian 37: Surga dan Neraka sudah diisyaratkan “adanya” kedua dimensi surga dan neraka itu dalam hati; atau surga dan neraka diri. Uniknya, merasakan eksistensi surga hati dan neraka hati akan sama-sama hati gemetar yang merasakannya.

Ada perbedaan antara getaran hati yang merasakan surga hati dengan yang merasakan neraka hati. Merasakan surga hati akan membuat hati tenteram damai tiada terkira oleh kenikmatan dunia dengan getaran hati yang teratur, ritme harmonis dan kontinyu; sedangkan neraka hati sebaliknya.

Sebelum mengkajinya lebih lanjut, perlu dipahami arti “gemetar” yang didefinisikan sebagai gerakan partikel pada suatu lintasan terbatas, serta mempunyai periode dan frekuensi tertentu. Bentuk noun dari gemetar adalah getaran. Hubungan antara getaran dan gelombang; bahwa gelombang adalah getaran yang “berjalan” membawa energi (bukan partikel) dengan lintasan yang lebih luas daripada lintasan getaran.

Antara getaran dan gelombang ternyata sangat erat kaitannya di dalam pembahasan tasawuf terutama merasakan getaran-getaran metafisik. Sumber cahaya sebagai sumber energi memancarkan gelombang batin elektromagnet akan menyentuh setiap “partikel” di sekitarnya.

Secara mekanika, sumber getaran mempengaruhi partikel di sekitarnya untuk ikut bergetar dan bergelombang. Jika partikel sudah terpengaruh sehingga mempunyai frekuensi sama dengan sumber getaran, maka ritmenya otomatis akan selalu mengikuti sumber getaran itu (resonansi).

Siapa Gemetar Hatinya?

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan jika dibacakan Ayat-ayat-Nya pada mereka bertambahlah iman mereka dan pada Tuhanlah mereka tawakkal, 2)

Ternyata yang gemetar hatinya itu adalah orang-orang beriman jika disebut nama Allah, Tuhan Semesta Alam. Pengertian “disebut nama Allah” bisa berarti secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung, bagi mereka yang sudah ma’rifat, ketika menyebut atau disebutkan lafal “Allah” dengan intonasi khusus maka mereka akan gemetar hatinya. Di dalam zikirnya menyangkut al-Asmaaul Husna, juga mempengaruhi frekuensi getaran hatinya sesuai frekuensi al-Asmaaul Husna yang dizikirkannya. Jika telah mencapai resonansi, ketika ia merindukan Tuhan maka Tuhan pun merindukannya. Hal yang sama akan terjadi jika ia konsentrasi dan ber-sholawat diarahkan pada Rasulullah Muhammad, maka sumber getaran Nur Muhammad akan menghampirinya.

Secara tidak langsung, biasanya melalui perantara guru atau ustadz atau perantara lainnya (alam misalnya), yang terfokus langsung kepada Tuhan. Seseorang bisa gemetar hatinya karena perantara akan menghantarkannya kepada Tuhannya. Jika frekuensi semakin meninggi dan resonansi terjadi, keadaan gemetar hati tidak menutup kemungkinan seorang menyungkur sujud dan menangis dengan segala kemungkinan alasan mengapa ia sujud dan menangis.

Kemudian jika “dibacakan Ayat-ayat-Nya” kepada mereka, maknanya tidak jauh berbeda dengan “disebut nama Allah”, maka bertambahlah iman dan mereka semakin tawakkal kepada Tuhannya. Bedanya adalah pengertian “dibacakan Ayat-ayat-Nya” melalui proses relatif panjang melalui berbagai ayat tersurat al-Qur’an maupun ayat tersirat Lauh Mahfuzh.

Membaca al-Qur’an, walaupun sekedar membaca, akan terasa nikmat meskipun levelnya masih rendah. Setelah meningkat, yaitu membaca disertai memahami makna dan tafsir, akan meningkat kenikmatannya. Begitu pun terhadap Kitab Lauh Mahfuzh dengan “membaca” dan menghayati ayat-ayat Lauh Mahfuzh yang terhampar di depan mata.

Dengan menyebut atau disebutkan nama Allah, lalu dibacakan padanya Ayat-ayat-Nya, maka orang-orang yang beriman itu hatinya akan gemetar dan bertambah iman, serta semakin mantap tawakkal pada Tuhan.

“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan pada mereka. 3) Itulah orang-orang yang beriman sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia. 4)

Itulah definisi orang-orang beriman yang semakin bertambah keimanan dan mereka semakin tawakkal pada Allah jika menyebut atau disebutkan nama Allah dan dibacakan Ayat-ayat-Nya. Dengan bertambahnya keimanan dan ketaqwaan, ada satu kesatuan antara sholatnya dengan menafkahkan sebagian rejeki yang diberikan Tuhannya kepadanya. Siklus ini akan semakin menambah dan terus menambah derajat ketinggiannya di sisi Tuhan dan menghapus dosa karena kekhilafannya, serta menambah rejeki atau kenikmatan yang mulia dengan tidak terbatas.

Makna dari “gemetarlah hati mereka”, bukan ditujukan kepada mereka yang gemetar ketakutan terhadap hantu, jin atau penguasa yang kejam, atau gemetar ketakutan dari kegelapan nurani yang sangat jauh dari kebenaran. Tetapi, hakikat “gemetarlah hati mereka”, hanya ditujukan kepada mereka yang gemetar mencintai dan dicintai Tuhan dengan sifat-sifat kemahaan-Nya (al-Asmaaul Husna) dan Rasul-Nya yang mencintai tulus umatnya..

Selain QS 8:2-4, terdapat pula ayat lain yang menggetarkan hati, yakni, “Tuhan telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut pada Tuhannya, kemudian jadi tenang kulit dan hati mereka waktu mengingat Tuhan. Itu petunjuk Tuhan, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Tuhan, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya” (QS 39:23).

Menyimak ulasan ayat di atas, ternyata ada proses dari gemetar dan menjadi tenang. Awalnya gemetar bagi mereka yang takut pada Tuhannya, menyadari dosa-dosa yang dilakukannya di sebagian besar waktu hidupnya. Tetapi ada sebagian orang yang tidak gemetar dan tidak takut Tuhannya karena tidak menyadari dosa-dosanya. Itulah orang-orang yang bisu-tuli-buta di dalam keingkarannya dan kekal di dalamnya.

Mereka yang gemetar karena mulai tersadarkan suatu hikmah yang menggugah hati nurani. Dari lubuk paling dalam, getarannya mempengaruhi sel-sel darahnya yang ikut bergetar dan bergelombang menjalarkan getaran ke seluruh tubuhnya hingga ke permukaan kulitnya yang terasa dengan indikasi bulu kuduk berdiri atau dalam Bahasa Jawanya “merinding”.

Hikmah yang menyadarkan seseorang membangkitkan unsur insaniyah-illahiyah tidak harus sesuatu yang berat dan serius. Sering hikmah datang melalui kejadian yang ringan, sepele dan sekedar kejadian sehari-hari. Misalnya melihat seorang penari-topeng keliling dan penabuh kendang yang keduanya kebetulan wanita muda dan bersaudara. Bahkan penari keliling itu masih tergolong anak-anak, berdandan selayaknya penari dan dilengkapi topeng kayu di wajahnya. Di hari siang yang sangat panas menyengat itu mereka mencari rejeki yang diraihnya dari menari dan menabuh kendang. Mereka telah berusaha sejauh kemampuannya. Di tempat lain, ada seorang pemuda yang cukup sehat dan kekar tetapi ia tak malu-malu menjajakan kue di antara calon penumpang bis berlalu lalang di terminal.

Kedua hikmah ini menggugah si Salik yang kebetulan berstatus seorang kebetulan pegawai negeri sipil (PNS). Seperti diketahui masyarakat umum jika PNS masuk atau absen, tetapi gajinya sebulan tetap utuh. Untunglah jika si Salik tidak menambah dosa-dosanya dengan korupsi.

Hikmah yang menyadarkan seseorang bisa dipastikan hatinya gemetar menjalarkan syaraf hingga bulu kuduknya yang merinding. Jika resonansi menyentuh syaraf kelenjar air mata, besar kemungkinan ia akan menangis, mungkin karena kasihan terhadap mereka yang miskin bersusah payah mencari sesuap nasi, bersyukur atas nikmat Tuhan yang diberikan padanya, atau merasa dosa atas upayanya mencari makan dan rejeki selama ini.

Ketika mulai mengingat Tuhan, hati yang gemetar akan mulai tenang. Kemudian Tuhan memberikan penjelasan hikmah yang diperolehnya. Lalu dibacalah ayat al-Qur’an yang banyak mengandung hikmah dan petunjuk dari Tuhannya itu. Getaran dan gelombang transversal bergejolak naik-turun lalu berobah menjadi longitudinal yang membelai syaraf menjadi tenang. Ia menyadari hikmah itu datangnya dari Tuhan, bukan dari penari dan penabuh kendang atau pemuda tegap penjaja kue yang dilihatnya. Semua itu telah ada yang mengaturnya dan membukakan hikmah bagi dirinya.

Hati Tenteram Mengingat-Nya

Hati yang tenang bisa identik hati yang telah tenteram. Firman Tuhan pada QS. 13. ar-Ra’d (Guruh) 28,

“Orang-orang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingat, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Pada zaman modern yang materialistik dan kebingungan publik mencari ketenangan batin, maka tiada yang lebih berharga selain dari ketenteraman hati yang tenang. Banyak orang salah mencerna dan mengambil solusi untuk menghibur diri menenangkan hati dengan uang dan materi. Jasad-fisik-tubuh mungkin bisa dimanjakan, dihibur dan direlaksasi dengan uang dan materi karena jasad-fisik-tubuh memang bersifat materi. Tetapi ruh-mental-jiwa yang bersifat immateri ternyata tidak bisa hanya ditenang-tenteramkan oleh uang dan materi, apalagi yang sifatnya bertentangan dengan hati nurani.

Menerapkan ayat penenang hati di atas tidak semudah menghafal dan melafalkan hingga lidah lelah. Tetapi harus disadari sejak awal bagaimana ia bersikap, gaya hidup, perolehan dan pengamalan rejekinya; karena ‘aslama (berserah diri) bukan teori dan hafalan, tetapi ia adalah praktek nyata.

al-Qur’an Dibaca, Mereka Menyungkur

Firman Tuhan pada QS. 8:2 di atas disebutkan, “…jika dibacakan Ayat-ayat-Nya pada mereka bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka tawakkal,”
Hal ini akan terkait pula dengan QS. 17:107-108 yang menyebutkan, “…orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan sebelumnya, jika al-Qur’an dibacakan, mereka menyungkur atas muka mereka sambil sujud
dan berkata;

“Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan pasti dipenuhi”.

Lalu pada QS. 17:109 disebutkan,

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.109)

Diteruskan menyebut nama Tuhan di dalam al-Asmaaul Husna pada QS. 17. al-Israa’ (Memperjalankan di Malam Hari) 110-111,

“Katakanlah: “Serulah Allah atau ar-Rahmaan. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmaaul Husna dan jangan mengeraskan suaramu di dalam sholatmu, dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.110) Dan katakan: “Segala puji bagi Allah yang tidak beranak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkan Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”.111)

QS. 17:109 di atas tentang menyungkur, ditegaskan sekali lagi pada akhir QS. 19. Maryam 58, yaitu mengacu pada mereka yang diberi nikmat atas mereka yaitu keturunan Nabi Adam, Nuh, Ibrahim dan Israil,

…Jika dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah pada mereka, mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: