Bacalah 37. Surga dan Neraka

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Dan orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh,

Kami tidak memikulkan kewajiban pada diri seseorang

melainkan sekedar kesanggupannya,

mereka itu penghuni-penghuni surga;

mereka kekal didalamnya. 42)

 

Dan Kami cabut segala dendam yang ada di dalam dada mereka;

mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata:

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami pada (surga) ini.

Dan kami sekali-kali takkan mendapat petunjuk

kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.

Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami,

membawa kebenaran”.

Dan diserukan pada mereka:

“Itu surga yang telah diwariskan padamu

disebabkan yang dulu kamu kerjakan”. 43)

 

QS. 7. al-A’raaf 42-43

 

 

Penghuni-Penghuni Surga

“Dan orang-orang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh Kami tidak memikulkan kewajiban pada diri seseorang selain sekedar kesanggupannya, mereka itu penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. 42)

Beriman dan beramal saleh merupakan konsekuensi causality. Bagi mereka yang beriman, dengan benar-benar iman, pasti dengan sendirinya akan beramal saleh secara ikhlas. Bukanlah seseorang disebut beriman jika ia belum bersedekah dan beramal saleh dari apa-apa yang dimilikinya, baik yang berupa ilmu, harta, makanan, hasil pertanian dan lain-lain.

Makna beriman dan beramal saleh tidak harus diartikan ia sebagai waliyullah, kyai, ulama, rohaniwan atau agamawan yang sulit bagi orang awam karena harus mengaji lebih dulu atau menuntut ilmu agama selama bertahun-tahun. Orang biasa sederhana yang beramal saleh sesuai apa yang dimilikinya secara ikhlas dan cinta kasih terhadap sesamanya, ia pun akan memperoleh balasan di surga sesuai dengan keimanan dan amal salehnya. Tuhan tidak mengharuskan semua hamba-Nya menjadi kyai, ulama atau orang yang mengetahui pengetahuan agama melalui pendidikan tinggi. Seorang pembantu, petani, tukang sayur, tukang becak dan mereka yang bahkan termasuk kelas proletar atau dhuafa, tetapi jika mereka beriman dan beramal saleh minimal dengan tenaganya, secara ikhlas, maka mereka juga masuk dalam kriteria penghuni-penghuni surga.

Tuhan tidak akan membebani kewajiban seseorang yang melebihi dari kesanggupannya. Banyaknya manusia dengan berbagai variasi status sosial, tingkat pendidikan, kemampuan ekonomi, intelektualisme, dan lain-lain membuktikan keberagaman yang indah.

Mereka yang sebagai berprofesi guru, beriman dan beramal dengan ilmunya. Mereka yang hartawan, beriman dan beramal dengan hartanya. Mereka yang pengusaha, beriman dan beramal dengan usahanya. Mereka yang penguasa, beriman dan beramal dengan kebijakannya. Mereka yang seniman, beriman dan beramal dengan karya seninya, dan seterusnya. Begitu juga pramujaga, pramuniaga, pramuwisma, pramusaji, pramugari dan semua profesi yang diridhoi Tuhan, mereka beriman dan beramal saleh sesuai kemampuannya. Tetapi nilai keimanan dan amal saleh dari mereka tetap berdasarkan tauhid dan cinta kasih terhadap sesama.

Mereka itulah penghuni-penghuni surga.

“(Apa) perumpamaan (penghuni-penghuni) surga yang dijanjikan pada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka yang ada di dalamnya memperoleh segala buah-buahan dan ampunan Tuhan, sama dengan orang yang kekal dan diberi minuman air mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. 47:15)

Secara detail, ciri penghuni surga adalah mereka: (1) beriman dan berbuat baik (QS. 2:25), beriman, beramal saleh (QS. 2:822), (2) bertaqwa; sabar, benar, tetap ta’at, menafkahkan harta (di jalan Tuhan) dan memohon ampun di waktu sahur. (QS. 3:17), (3) bertaqwa; menafkahkan harta waktu lapang dan sempit, menahan marah, memaafkan, taubat. (QS. 3:134-135), (4) beriman; taubat, ibadat, memuji (Tuhan), suka melawat, ruku’
sujud, menyuruh ma’ruf mencegah munkar, memelihara hukum-hukum Tuhan. (QS. 9:112), (5) beriman, yaitu beramal saleh dan merendahkan diri pada Tuhan. (QS. 11:23), (6) sabar mencari ridho Tuhan, sholat, menafkahkan rejeki – baik sembunyi atau terang-terangan, menolak kejahatan dengan kebaikan. (QS. 13:220), (7) beriman; khusyu’ sholatnya, jauhkan dari yang tiada berguna, berzakat, menjaga kemaluan, memelihara amanat, janji dan sholatnya. (QS. 23:1-10), (8)
istiqomah dalam tauhid. (QS. 46:13), dll-dll…

Di dalam al-Qur’an, macam-macam surga disebutkan ada dua yaitu surga ‘Adn dan surga Firdaus. Keduanya tidak ada penjelasan terperinci yang detail menguraikan perbedaannya atau kelebihannya antara surga yang satu dengan lainnya. Tetapi yang namanya surga bagi orang-orang beriman adalah identik kenikmatan lahir-batin. Sementara jumlah kuantitas sedikit atau banyak kenikmatan itu tetap saja terasa nikmat. Sehingga penjelasan surga ‘Adn dan surga Firdaus tidak dijelaskan pada kajian ini.

Selain surga ‘Adn dan surga Firdaus, al-Qur’an juga menjelaskan “gambaran surga” secara umum, yaitu surga yang dipahami sebagai suatu dimensi dalam arti suatu alam setelah kiamat besar (kubro’), sebagai balasan bagi orang beriman dan beramal saleh.

Gambaran surga itu di antaranya:

“Orang-orang bertaqwa ada dalam surga dan kenikmatan.17) Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan pada mereka oleh Tuhan; dan Tuhan memeliharanya dari azab neraka.18) Dikatakan kepada mereka: “Makan dan minum dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”.19) Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderet dan Tuhan kawinkan dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.20) Dan orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada kurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. 21) Tuhan memberi tambahan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang diinginkan.22) Dalam surga mereka memperebutkan piala yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada perbuatan dosa.23) Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda (yang melayani), seakan mutiara yang tersimpan.24) dan sebagian mereka menghadap ke sebagian lain saling menanya.25) Kata mereka: “Sesungguhnya kami dulu sewaktu berada di tengah keluarga kami merasa takut (diazab)”.26) Maka Tuhan memberikan karunia pada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya Dia melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.27) (QS. 52:17-28)

Bagi orang yang takut saat menghadap Tuhannya ada dua surga 46), yang mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan,48) ada dua buah mata air mengalir,50) terdapat segala buah-buahan berpasangan.52) Mereka bertelekan di atas permadani yang dalamnya dari sutra. Buah-buah kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.54) Dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh manusia sebelum mereka dan tidak pula oleh jin.56) Seakan bidadari itu permata yakut dan marjan.58)
Tiada balasan kebaikan selain kebaikan pula.60)
Selain surga itu ada dua surga lagi,62) hijau tua warnanya,64) ada dua mata air memancar,66) ada buah-buahan dan kurma serta delima,68) ada bidadari baik lagi cantik,70) jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.72) Mereka tidak pernah disentuh manusia sebelum mereka (menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.74) Mereka bertelekan pada bantal-bantal hijau dan permadani indah.76) Mahaagung Nama Tuhanmu yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.78)” (QS. 55:46-78). Di antara ayat-ayat tersebut diselipkan, “Maka, nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?” ada 31 kali diulang-ulang dalam QS. 55. ar-Rahmaan (Yang Maha Pemurah) ini!

Dan orang yang paling dulu beriman, mwerekalah yang paling dulu (masuk surga),10) mereka itu orang yang didekatkan (pada Tuhan),11) berada dalam surga kenikmatan.12) Segolongan besar dari orang-orang terdahulu,13) segolongan kecil dari orang-orang kemudian.14) Mereka berada diatas dipan bertahtah emas dan permata,15) bertelekan diatasnya berhadapan.16) Mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap muda,17) dengan membawa gelas, cerek dan sloki berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir,18) mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,19) dan buah-buahan yang mereka pilih,20) dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.21) Dan (dalam surga itu) ada bidadari-bidadari bermata jeli,22) laksana mutiara tersimpan baik.23) Sebagai balasan bagi yang telah mereka kerjakan.24)
Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,25) tetapi mereka dengar ucapan salam.26) Dan golongan kanan, alangkah bahagia golongan kanan.27) Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri,28) dan pohon pisang bersusun (buahnya),29) dan naungan terbentang luas,30) dan air yang tercurah,31) dan buah-buahan banyak,32) yang tak berhenti (buahnya) dan tak terlarang mengambilnya,33) dan kasur-kasur tebal lagi empuk.34) Sesungguhnya Kami ciptakan mereka (bidadari) dengan langsung,35) dan Kami menjadikan mereka gadis-gadis perawan,36) penuh cinta lagi sebaya umurnya,37) untuk golongan kanan,38) (yaitu) segolongan besar dari orang-orang terdulu,39) dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.40) (QS. 56:10-40)

Sesungguhnya orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya air kafur,5) (yaitu) mata air (dalam surga) yang darinya hamba-hamba Tuhan minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.6) Mereka tunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.7) Dan mereka berikan makanan yang disukainya pada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.8) Sesungguhnya kami (orang-orang yang berbuat kebajikan tadi – ayat 5) memberi makanan padamu hanya untuk mengharapkan ridho Tuhan, kami tidak menghendaki balasan (apapun) darimu dan tidak pula terima kasih.9) Sesungguhnya kami takut Tuhan kami pada hari yang orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.10) Maka Tuhan memelihara mereka (orang-orang yang berbuat kebajikan) dari kesusahan pada hari itu dan berikan mereka kejernihan dan kegembiraan hati…11) (QS. 76:5-11)

Selanjutnya: Dia memberi balasan mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera,12) di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, tidak merasakan di dalamnya (terik) matahari dan tidak dingin bersangatan.13) Dan naungan (pohon surga) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya.14) Dan diedarkan pada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala bening laksana kaca,15) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.16) Dalam surga mereka diberi minum segelas yang campurannya adalah jahe.17) (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.18) Dan mereka dikelilingi pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Jika kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara bertaburan.19) Dan jika kamu lihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.20) Mereka pakai pakaian sutera halus hijau dan tebal dan dipakaikan pada mereka gelang dari perak, dan Tuhan berikan pada mereka minuman bersih.21) Sesungguhnya ini balasan untukmu dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).22) (QS. 76:12-22)

Surga Diri

“Kami cabut segala dendam yang ada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami pada (surga) ini. Dan kami sekali-kali takkan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, bawa kebenaran”. Dan diserukan pada mereka: “Itu surga yang telah diwariskan padamu disebabkan yang dulu kamu kerjakan”. 43)

Ada indikasi sangat kuat bahwa surga sebagai suatu yang ghoib tetapi pada saat bersamaan surga berada pada saat ini, di sini, di dalam diri ini. Gambaran di atas membersitkan hal itu. Mengapa begitu? Tuhan semacam memberi down payment (DP) atau “uang muka” bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, bertaqwa dan berserah diri kepada Tuhan, agar mereka meyakini hari esok, perhitungan Tuhan yang Mahaadil. Jika mereka bisa membuktikan dan merasakan adanya surga di dalam diri, mereka pun akan meyakini surga di akhirat kelak.

Surga yang dipahami setelah kiamat besar (kubro’) tentu berisi mereka yang sesuai dengan ciri-ciri para penghuni surga, setelah mereka “dicuci” daalam neraka sebelumnya. Itu pun bisa menjadi simbol bahwa mencapai surga diri yang berciri kebeningan hati, kecerahan pikiran, keteduhan batin dan ketenangan jiwa, harus melalui jalan panjang berliku banyak rintangan.

Apa kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana orang-2 sebelummu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta digoncang (dengan bermacam cobaan) sehingga berkata Rasul dan orang beriman yang bersamanya: “Bilakah datang pertolongan Tuhan”. Sesungguhnya pertolongan Tuhan amat dekat.” (QS. 2:214)

Surga yang ghoib tidak bergantung dimensi waktu, antara surga pada zaman Nabi Adam hingga surga setelah kiamat kubro’. Surga yang ghoib memang tidak bisa dilihat mata kepala, tetapi bisa dilihat dan dirasakan mati hati yang bersih dan suci. Surga itu sebenarnya dekat dan didekatkan kepada orang-orang yang bertaqwa.

Dan didekatkan surga itu pada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).31) Ini yang dijanjikan padamu, pada setiap hamba yang selalu kembali (pada-Nya) lagi memelihara (semua peraturan-Nya).32) (Yaitu) orang yang takut pada Tuhan Maha Pemurah sedang Dia tak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang taubat,33)” masuki surga dengan aman, itu hari kekekalan.34) Mereka di dalamnya peroleh apa yang dikehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya.35) (QS 50:31-35)

Orang-orang taubat, beriman dan beramal saleh akan masuk surga dan tak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.60)
yaitu surga ‘Adn yang telah dijanjikan Yang Maha Pemurah pada hamba-hamba-Nya sekalipun (surga) tak nampak. Sesungguhnya janji Tuhan itu pasti ditepati.61)

Mereka tidak mendengar perkataan tidak berguna dalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rejekinya di surga tiap-tiap pagi dan petang.62)
Itu surga yang akan Kami wariskan pada hamba-hamba Kami yang selalu bertaqwa.63) (QS. 19:60-63)

Selain ciri-ciri penghuni surga yang disebutkan di atas, ada ciri spesifik yang bersemayam di dalam hati manusia yang berfungsi sebagai surga yaitu: (1) Dari sisi akhlaq: Tidak ada segala macam dendam di dalam dadanya, (2) Dari sisi lisan: Tidak ada perkataan sia-sia, perkataan yang menimbulkan dosa, yang diucapkan hanya yang berguna dan memberikan keselamatan bagi dirinya dan orang lain (demikian pula anggota panca indera lainnya).

Di dalam surga diri memang harus tidak ada perkataan sia-sia, apalagi memendam rasa dendam; jika ingin surga itu didekatkan padanya. Lalu, apa di surga ada pagi-petang menurut persepsi bumi yang masih ada matahari? Itulah surga diri yang rejekinya di tiap-tiap pagi dan petang untuk mencari nafkah di Jalan Tuhan.

Sementara itu, makna kiasan sumber air di dalam surga diri adalah akhlaq yang sudah tiada lagi rasa dendam dan sudah berisi cinta kasih, maka akan memancar melalui sungai-sungai ke segala penjuru kehidupannya. Semua gerakannya yang diridhoi Tuhan. Itulah surga yang ada dalam diri.

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. 89:27-30)

Elemen-elemen Surga

Gambaran “elemen-elemen” surga, yang banyak disinggung di dalam al-Qur’an di antaranya surga seluas langit dan bumi; mengalir di bawahnya atau di dalamnya sungai-sungai; penghuninya dilayani oleh pelayan, bidadari yang cantik nan suci; terdapat sumber air dan sungai air, susu, madu, khamar (arak); penghuninya berada di atas dipan, ada pakaian sutra, ada permadani, kasur tebal lagi empuk; bertahta emas, permata, perhiasan gelang, perak; pohon-pohonan dan buah-buahan… dan seterusnya.

Memahami paparan surgawi yang “menyilaukan” tersebut tidak pernah terbayangkan oleh manusia. Cara menghampirinya tentu kembali kepada bahasa simbolis yang kembali kepada surga diri. Ternyata elemen-elemen surga yang disebutkan itu ada padanannya di dalam diri:

Surga seluas langit dan bumi…

Harfiah: Langit mengindikasikan ketidak-terbatasan dimensi ruang dan waktu. Penciptaan tujuh langit secara harfiah tidak mungkin dipahami oleh manusia. Langit pertama pada gugusan bintang dan galaksi tidak mampu dijangkau ilmu pengetahuan manusia. Apalagi lapisan langit berikutnya …

Simbolis: Langit diri manusia adalah dunia batin dan rohani yang tidak terbatas. Kontemplasi yang mendalam akan menghasilkan rasa yang mendalam pula. Langit batin dan rohani yang dimiliki orang sekuler dengan orang yang ahli ibadat dan zikir tentunya sangat lain. Itulah simbol tingkatan langit dan surga.

Harfiah: Bumi bisa menampilkan taman surgawi yang tersebar di berbagai tempat di bumi seperti taman, hutan dan pepohonan menghasilkan beragam buah, sungai-laut mengalirkan air berisi jutaan ragam ikan dan kekayaan lain, juga gunung yang menakjubkan. Menikmati keindahannya sambil menarik napas yang panjang, tidak mampu lagi diungkapkan lagi keindahannya dengan kata-kata.

Simbolis: Bumi adalah dunia lahir-jasmani manusia yang amat terbatas, tetapi tampak keindahan berupa kecantikan, kekuatan, kecekatan, ketrampilan yang mem’buah’kan hasil karya yang mengagumkan, yang dituangkan dalam bentuk fisik, seperti karya-karya manusia yang spektakuler mewarnai peradabannya baik ilmiah-teknologi, seni maupun amalan agama.

Mengalir Sungai-Sungai di Dalamnya

Harfiah: Surga pada zaman Nabi Adam dan setelah kiamat kubro’ amat mungkin adanya sungai-sungai yang disebutkan itu. Tetapi bayangan manusia yang sangat terbatas logika alami tidak akan mampu mencernanya; bagaimana bentuknya, apa isinya, berhulu dari mana dan bermuara ke mana …

Simbolis: Surga diri mengidentifikasi sungai berupa urat syarat yang berfungsi seperti sungai, mengalirkan darah ke seluruh tubuhnya, menghantarkan hikmah yang berhulu dari panca indera, masuk ke otak dan bermuara di hati. Hikmah yang mengalir itu memberi kenikmatan organ yang dilaluinya…

Pelayan, Bidadari Cantik, Dikelilingi Anak Muda dll…

Harfiah: Berbagai macam elemen yang melayani penghuni surga sebenarnya bukan dari jenis manusia seperti penghuni surga itu.

Simbolis: Pelayan pada surga diri tidak lain adalah seluruh anggota tubuh, urat syaraf, sel-sel dll yang melayani kehendak hatinya.

Harfiah: Penghuni surga bukan lagi pria-wanita, tapi “jiwa-jiwa” pilihan yang telah diridhoi Tuhan. Sehingga bidadari cantik yang menemani merupakan pasangan jiwa untuk menuai kenikmatan amal saleh selama jiwa hidup di dunia. Bidadari itu melayani kepuasan jiwa apapun yang dimintanya…

Simbolis: Kenikmatan “persenggamaan” di surga diri contoh wujud nyata adalah mimpi basah bagi pria sebagai karunia Tuhan. Ia mengalami kenikmatan berganti pasangan dalam mimpi tanpa dikenakan dosa akibat mimpinya itu. Rasanya bisa sama persis, bahkan (maaf) bisa lebih.

Sungai Air, Susu, Madu, Khamar (Arak) yang tidak memabukkan…

Harfiah: Sulit terbayangkan adanya sungai air, susu, madu, khamar yang tidak memabukkan. Jika diperinci logis alangkah tidak adilnya Tuhan mengharamkan arak memabukkan di dunia, tetapi menghalalkannya di surga. Demikian pula “zina” dengan bidadari surga yang bisa diperisteri “seenaknya”. Inilah tudingan orang awam yang menilai agama sebagai candu bagi masyarakat, yang hanya memimpikan angan-angan surgawi…

Simbolis: Sungai itu mewakili yang dibawa urat-urat syaraf, darah dari hasil makanan apa yang dimakan, bentuk amalan yang diamalkan. Sungai khamar adalah simboli urat syarat sufi yang mengalirkan zikir seakan mabuk dalam ruh ketuhanannya, tapi justru saat ia mencapai puncak kesadarannya… tetapi banyak yang menilainya mabuk… bahkan gila jika ia terlihat aneh secara berlebihan oleh pandangan di mata umum.

Dipan, Pakaian Sutra, Permadani,…

Harfiah: Berada di atas dipan, dengan pakaian sutra, permadani, kasur tebal lagi empuk dan juga bentuk kemanjaan aristokrat lain, seakan dilimpahkan kepada penghuni surga.

Simbolis: Dipan, kasur tebal empuk sebagai alas tidur adalah simbol justru ia menyedikitkan tidur di malam hari, menjauhkan lambung dari kasur sebagai pengganti tidur. Yang tidur hanyalah badan, sementara jiwa ingin rebah di dalam selimut-Nya. Pakaian sutra yang lembut itu merupakan simbol agama (ageman = pakaian) yang dipakai secara benar, berperasaan halus dan penuh kelembutan sesama mahluk. Permadani itu dihampar sebagai kehormatan jejak kakinya yang suci bersih terpelihara, selalu melangkah di atas jalan yang lurus, jalan yang benar dan jalur ‘aslama

Pohon-Pohonan dan Buah-Buahan

Harfiah: Di dalam surga di zaman Nabi Adam ada pohon yang bernama Khuldi (konon disebut pohon ilmu). Demikian pula surga di zaman setelah kiamat kubro’ ada pula pohon-pohon dan buah-buahan. Karena surga itu ghoib, semua yang di dalamnya ghoib, begitu juga pohon dan buah …

Simbolis: Dalam surga diri, pohon itu kiasan berakar dari lubuk nurani dan menjulang ke otak, berbuah pengetahuan. Semakin tinggi pohon menjulang (ke otak), selayaknya akarnya makin kuat menghujam ke bumi (di hati) agar tidak goyah dan tumbang jika diterpa angin kencang. Orang yang benar agamanya, pohon apapun yang ditanam akan menjulang ke puncak otaknya dan berbuah hakikat pengetahuan yang diridhoi Tuhan.

 

Itulah surga yang mencakup pengertian tri-tunggal, yakni surga pada zaman Nabi Adam, surga di zaman pasca kiamat kubro’, dan surga diri yang ada pada zaman sekarang, saat ini, di sini, di diri ini. Penjelasan logis ini mengeliminir pengertian faham atheis yang menuding agama sebagai candu yang memabukkan bagi rakyat; atau agama sebagai pusat keluh kesah umat yang menderita tanpa usaha yang kongkrit; atau anggapan bahwa Tuhan justru diciptakan oleh ide-ide pemikiran orang yang mensucikan, seperti kata Emile
Durkheim
(1858-1917), “Agama merupakan manifestasi esternal dari kolektif masyarakat yang mensucikannya.”

Kenikmatan Setelah Surga

Bagi mereka yang telah “merasakan surga” minimal surga diri, akan dirasakannya kenikmatan yang melambungkan jiwanya menembus lapisan “langit demi langit”. Membayangkan kenikmatan surga yang ada di akhirat melampaui batas pengertian manusia, dan pemanjaan para penghuni surga sedemikian aristokratnya, berlimpah emas, permata dan perhiasan lainnya, permadani, isteri-isteri cantik dari bidadari yang suci…. adakah kenikmatan yang bisa melebihi dari semua itu?

Ternyata masih ada, yaitu ketika Rasulullah Muhammad ber-mi’raj hingga ke Sidratul Muntaha dan menerima sholat di sana. Bagi umat Islam yang mengikuti ke-khusyu’-an sholat beliau, maka “diajaklah” umatnya itu untuk melihat tanda-tanda Kekuasaan Tuhan yang paling besar.

Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril (dengan rupa aslinya) pada waktu lain,13) (yaitu) di Sidratul Muntaha.14) Di dekatnya ada surga tempat tinggal,15) (Muhammad melihat Jibril) pada saat Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu yang meliputinya.16) Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya.17) Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhan yang paling besar.18) (QS. 53:13-18)

Tempat paling ghoib adalah Sidratul Muntaha. Di sana, malaikat Jibril yang ghoib pun tidak bisa menutupi wajah aslinya. Dekat Sidratul Muntaha ada surga tempat tinggal, saat itu ada sesuatu yang menyelimutinya. Saat itu Jibril hanya mampu mengantarkan Muhammad. Penglihatan Muhammad tidak berpaling dari apa yang dilihatnya dan tidak melampauinya. Apa atau Siapa yang dilihatnya itu? Sesuatu yang Mahaghoib… Manusia tidak bisa memaksa diri untuk menafsirkan. Tetapi Muhammad telah diperlihatkan adanya tanda-tanda Tuhannya yang paling besar yang pernah diperlihatkan kepada manusia.

Penghuni-Penghuni Neraka

Dan datang sakaratul maut sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.19) Dan ditiup sangkakala. Itu hari terlaksananya ancaman.20) Dan datanglah tiap-tiap diri bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi.21) Sesungguhnya kamu dalam keadaan yang lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan tutup matamu, maka penglihatanmu hari itu sangat tajam.22) Dan yang menyertai dia berkata: “Ini (catatan) yang tersedia pada sisiku”.23) Tuhan berfirman: “Lemparkan olehmu berdua ke neraka orang amat ingkar dan keras kepala,24)
yang amat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, menyembah sembahan selain Tuham, maka lemparkan dia ke siksaan yang sangat”.26) Yang menyertai dia (setan/iblis) berkata: “Ya Tuhan, aku tidak menyesatkannya, tapi dia berada dalam kesesatan jauh”.27) Firman Tuhan: “Jangan bertengkar di depan-Ku, sesungguhnya Aku dulu telah memberi ancaman padamu”.28) Keputusan yang ada di sisi-Ku tak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.29) (dan ingat akan) hari (yang hari itu) Kami tanya pada (neraka) jahannam: “Apa kamu sudah penuh?” Dia jawab: “Masih adakah tambahan?30)” (QS. 50:19-30)

Ayat di atas adalah gambaran pengadilan jiwa-jiwa yang amat ingkar dan keras kepala, enggan melakukan kebajikan dan mereka terlempar ke neraka akibat perbuatannya sendiri selama hidupnya di dunia. Sifat ingkar, keras kepala, enggan melakukan kebajikan adalah sebagian sifat penghuni neraka jahannam. Sifat-sifat tersebut merupakan sifat yang berlawanan dari sifat penghuni surga.

Secara rinci al-Qur’an menjelaskan sifat-sifat penghuni neraka, yaitu: (1) Orang ingkar (QS. 2:24), mendustakan ayat Tuhan (QS. 2:37), murtad (QS. 2:217), musyrik (QS. 2:221), riba’ (QS. 2:275), (2) Orang makan harta anak yatim, (QS. 4:10), mendurhakai Tuhan, rasul-Nya dan melanggar ketentuan-Nya (QS. 4:14), perniagaan curang, melanggar hak dan aniaya (QS. 4:30), orang munafik ditempat paling bawah neraka (QS. 4:145), (3) Orang dusta dan sombong terhadap ayat-ayat-Nya (QS. 7:36), orang yang berbuat jahat (QS. 7:41), (4) Orang-orang sesat dan seluruh bala tentara iblis (QS. 26:95), (5) Orang-orang zalim dan fasik (QS. 59:17-19) dan seterusnya.

Adalah kengerian amat-sangat jika membayangkan berbagai kejadian yang diilustrasikan di neraka. Jangankan neraka di akhirat, “neraka” di dunia atau neraka diri yang menimpa calon penghuni neraka sudah ditampakkan sangat nyata di dunia ini. Betapa muka mereka selalu merah memancarkan kemarahan, ketidak-puasan, dengki, serakah, kemunafikan dan sifat-sifat setaniah lainnya. Makanan dan minuman haram yang masuk ke tubuhnya menjadi darah kotor atau nanah yang semakin parah menyelubungi hati dan menjadi kerak penghalang cahaya yang hendak memancar dari hatinya.

Neraka pada hakikatnya balasan bagi orang-orang yang sifatnya seperti disebutkan pada sub-kajian penghuni-penghuni neraka. Balasan itu adil. Bahkan dari segi waktu juga adil. Tidak hanya balasan diproyeksikan untuk akhirat, tetapi semasa di dunia juga ada balasan-balasannya secara adil yang mampu dicerna orang-orang yang beriman-berilmu.

Perlu diberikan catatan sekali lagi, bahwa neraka sebagai salah satu “mahluk” Tuhan yang ghoib, maka unsur-unsur di dalamnya juga ghoib tidak sama dengan unsur di bumi, misalnya api, air, nanah, besi-tembaga, pohon, batu dan lain-lain. Untuk dapat merasakan gambaran adanya neraka di akhirat, ada beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan, di antaranya:

(Yaitu) pada hari (saat) bumi diganti dengan bumi lain dan (juga) langit dan mereka semua (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Tuhan yang Mahaesa lagi Mahaperkasa.48) Dan kamu melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu.49)
Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka,50) (QS. 14:48-50)

Proses penghancuran alam semesta pasti ada waktunya dan sangat bisa dibayangkan – baik melalui sejarah maupun film) dengan berbagai bencana yang pernah ada di bumi, misalnya sejarah bom atom Hiroshima, film Armageddon yang mengisahkan bencana meteor yang menghantam bumi, peristiwa Black Monday 11 September 2001 yang menimpa WTC New York dan lain-lain. Bisa dibayangkan ketika alam semesta mulai tidak seimbang, terjadi perbenturan antar planit-galaksi, unsur-unsur kimia alam eksplosif yang menimbulkan ledakan mahadasyat, saat itu langit pertama “digulung”. Bumi “diganti” dengan “bumi”, demikian pula langit.

Di padang Mahsyar, orang-orang yang berdosa diikat bersama belenggu harta, jabatan, anak-istri, kedudukan dan hal keduniaan yang menyesatkan, yang dulu memberatinya untuk beramal-saleh, bahkan diraih dengan jalan yang tidak diridhoi Tuhan.

“Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim neraka yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka minta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih, yang menghanguskan muka mereka. Itulah minuman paling buruk dan tempat istirahat paling jelek.29)” (QS. 18:29)

Orang-orang zalim (keji), raut muka mereka memancarkan kemarahan, hati diselimuti panasnya kekejian. Jika mereka minta minum akan diberikan air sesuai perangai mereka seperti besi mendidih menghanguskan muka.

“Dan adapun orang-orang fasik (ingkar), tempat mereka neraka, tiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan pada mereka: “Rasakan siksa neraka yang dulu kamu dustakannya”.20) Dan sesungguhnya Kami rasakan pada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).21) Dan siapa yang lebih zalim daripada orang yang telah diingatkan dengan ayat-ayat Tuhan, lalu ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan berikan pembalasan pada orang-orang yang berdosa.22)” (QS. 32:20-22)

Pada ayat ini menggambarkan azab yang dekat (dunia), dan memberi kesempatan agar mereka kembali menyadari kesalahannya dan segera bertaubat serta melakukan perbaikan.

“Sesungguhnya setan telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apa kamu tidak memikirkannya?62)
Ini Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).63)
Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini, disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.64) Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah pada Kami tangan mereka, dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dulu mereka usahakan.65) (QS. 36:62-65)

“Dan hari (ketika) musuh-musuh Tuhan digiring ke neraka lalu mereka dikumpulkan semuanya.19) Sehingga jika mereka telah sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka jadi saksi tentang apa yang telah mereka kerjakan.20) Kata mereka pada kulitnya: “Mengapa kamu bersaksi” Jawab kulit: “Tuhan yang jadikan suatu pandai berkata jadikan kami pandai berkata, dan Dia menciptakanmu dan hanya pada-Nya kau dikembalikan”.21) Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu kira Tuhan tidak tahu kebanyakan dari yang kamu kerjakan.22) Dan yang demikian prasangkamu yang telah kamu sangka pada Tuhanmu, prasangka telah membinasakanmu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang merugi.23)” (QS. 41:19-23)

Setan menyesatkan sebagian besar manusia kecuali dari mereka yang beriman-bertaqwa pada Tuhannya. Neraka Jahannam yang dimaksud di atas adalah penampakan neraka di akhirat karena disambung kata “yang dulu kamu diancam (dengannya)”. Mereka masuk ke dalamnya dengan kesaksian adil anggota tubuh yang akan ditanya apa yang telah dikerjakan tangan dan ke mana kaki melangkah membawa tubuh yang diperintahkan oleh hatinya. Demikian pula telinga, mata dan kulit mereka menjadi saksi.

“Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang zalim.63) Sesungguhnya ia batang pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim.64) Mayangnya seperti kepala setan-setan.65) Maka, sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka penuhi perut dengan buah zaqqum itu.66) Lalu sesudah makan buah pohon zaqqum pasti mereka dapati minuman yang bercampur air sangat panas.67) Lalu sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.68) Karena sesungguhnya mereka dapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat.69) Lalu mereka amat tergesa-gesa mengikuti jejak orang-orang tua mereka.70) Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka (Quraisy) sebagian besar dari orang-orang dulu,71)” (QS. 37:63-71)

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu,43) makanan orang yang banyak berdosa.44) (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut,45) seperti mendidihnya air yang sangat panas.46) Peganglah dia, kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka.47) Lalu tuangkan di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas.48) Rasakan, sesungguhnya kamu orang perkasa lagi mulia.49) Sesungguhnya ini adalah azab yang dulu kamu selalu meragu-ragukannya.50)” (QS. 44:43-50)

Sulit menggambarkan pohon zaqqum di neraka akhirat. Akan lebih dapat dipahami jika pohon zaqum ditamsilkan dalam bentuk neraka diri (lihat elemen-elemen neraka).

Firman Tuhan pada QS. 54. al-Qamar (Bulan) 48, “(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan pada mereka): “Rasakan sentuhan api neraka”.    Muka mereka diseret karena dari muka itu mereka berpaling mengingkari ayat-ayat Tuhannya, mendustakan dan berbuat ingkar, syirik, zalim dan sifat-sifat setan lainnya.

“Orang-orang yang ingkar pada Tuhannya, peroleh azab Jahannam. Itu seburuk-buruk tempat kembali.6) Jika mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka mengerikan, sedang neraka menggelegak.7) Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang yang ingkar), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya pada mereka: “Apakah belum pernah datang padamu pemberi peringatan?8)” Mereka menjawab: “Benar ada, sesungguhnya telah datang pada kami pemberi peringatan, maka kami mendustakan dan kami katakan: “Tuhan tidak turunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanya di dalam kesesatan besar”.9) Dan mereka berkata: “Sekiranya kami dengarkan atau pikirkan niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala”.10) Mereka mengakui dosa mereka. maka kebinasaan bagi penghuni-penghuni neraka menyala-nyala”.11) (QS. 67:6-11)

“…Sesungguhnya neraka itu api bergejolak,15) yang mengelupaskan kulit kepala,16) yang memanggil orang yang membelakang dan berpaling.17) Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya.18) Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.19) Jika ditimpa kesusahan ia keluh kesah,20) dan jika ia dapat kebaikan amat kikir,”21) (QS. 70:15-21)

“Sesungguhnya neraka jahannam ada tempat pengintai,21) lagi jadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,22) di dalamnya mereka tinggal berabad-abad lamanya,23) mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak minuman,24) selain air mendidih dan nanah,25) sebagai balasan setimpal.26) Sesungguhya mereka tak takut pada hisab,27) dan mereka dustakan ayat-ayat Kami sungguh-sungguh,28) dan segala suatu sudah Kami catat dalam suatu kitab.29) Karena itu rasakan. Dan kami sekali-kali takkan tambah padamu selain azab”.30) (QS. 78:21-30)

Neraka Diri

Ciri-ciri neraka diri tampak pada mereka yang memenuhi syarat sebagai calon penghuni neraka seperti disebutkan di atas. Muka mereka sangat tidak teduh, tidak tenang dan gelisah. Jiwanya selalu ingin marah, penuh ambisi, hawa nafsu, serakah, tidak pernah puas dan segala roman muka yang tidak enak dipandang. Belum lagi ritme desah napas mereka yang tidak teratur, tergesa-gesa, dan hati yang terlumuri noda-noda setan.

“Adapun orang-orang celaka, maka (tempatnya) di neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan nafas dan menariknya dengan (merintih),106)
mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia dikehendaki”.107) (QS. 11:106-107)

Ayat tersebut mengindikasikan adanya neraka diri, karena kata “kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki…”. Di neraka akhirat tidak ada lagi langit-bumi dan kesempatan bertaubat. Makna ayat tersebut di atas adalah neraka diri di hati manusia yang terlumuri nafsu setan dan tersiksa melalui nafas yang tersiksa (makna abstrak). Selama ada langit dan bumi tersebut maksudnya siksaan itu jika – ia tidak bertaubat – akan berlangsung terus bahkan ketika ia mati dan dikubur masih tetap tersiksa selama belum kiamat kubro’.

“Bahkan mereka dustakan hari kiamat. Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang dustakan hari kiamat.11) Jika neraka itu lihat mereka dari tempat jauh, mereka dengar geramannya dan suara nyalanya.12) dan jika mereka dilemparkan ke tempat sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.13) (Akan dikatakan pada mereka): “Jangan kamu harapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkan kebinasaan yang banyak.14) Katakan: “Apa (azab) demikian yang baik atau surga kekal dijanjikan pada orang-orang taqwa?”.15) (QS. 25:11-15)

Neraka sering digambarkan sebagai api menyala-nyala. Ini ibaratnya hati mereka tidak pernah tenang, panas penuh amarah dan ambisi bagaikan api menyala-nyala. Jika mereka mampu menjenguk di dalam neraka dirinya, maka akan didengarkan kegeramannya dan suara nyalanya. Ia sebenarnya menyadari tetapi tidak mengakui dan sulit memperbaiki.

Setiap orang pasti merasakan neraka diri; bahkan orang-orang yang sedang mencari dan menempuh jalan ketaqwaan. Di antara kekhilafan diri, ia merasakan sedikit percikan api neraka. Misalnya ketika ia khilaf dan marah, tapi ia segera sadar dan istighfar, serta merta menyiram percikan api neraka dengan air dari sumber keimanan dan ketaqwaan yang telah dimilikinya.

Elemen-Elemen Neraka

Bahan bakar neraka sudah dikenal umum bagi umat Islam, yaitu dari manusia yang ingkar dan batu, termasuk harta benda yang tidak diridhoi oleh Tuhannya dan anak-anaknya yang mengikuti kesesatan orang tuanya. Pengertian ini mencakup dualisme arti sebenarnya dan kiasan. Sekali lagi, arti sebenarnya sangat sulit mendeskripsikannya bagi penulis dan sangat sulit memahaminya bagi pembaca.

“Pelihara dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang ingkar.” (QS. 2:24)
“Orang-orang ingkar, harta benda dan anak-anaknya sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Tuhan dari mereka dan mereka bahan bakar neraka,”
(QS. 3:10)

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu; penjaganya malaikat kasar, keras, tidak mendurhakai Tuhan terhadap apa yang diperintahkan-Nya pada mereka dan selalu kerjakan yang diperintahkan.” (QS. 66:6)

“Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (QS. 72:15)

Sementara itu elemen-elemen di neraka tidak sebanyak di surga yang banyak berwarna-warni penuh variasi keindahan. Di neraka isinya hanya siksaan demi siksaan bertumpuk-tumpuk.

Api Menyala-Nyala

Harfiah: Panas matahari tidak ada apa-apanya dibanding panas neraka. Jika matahari permukaannya lompatan cairan magma atau api berkilo-kilometer dan panasnya ribuan derajat celcius; maka inti matahari panasnya tak dapat dibayangkan, berupa gas yang panasnya puluhan ribu atau ratusan ribu atau jutaan derajat celcius. Manusia belum membuktikan akurat, hanya perkiraan.

Simbolis: Darah jika ‘mendidih’ marah, akibatnya bisa tidak terkendali. Penguasa negara marah bisa berakibat negara hancur, melebihi letusan gunung api. Api nafsu marah atau syahwat sesat yang menyala di dalam diri, panasnya melebihi panas matahari, apalagi jika menyakiti seseorang atau kaum hingga membekas di hatinya, selamanya akan sakit seperti itu sulit disembuhkan…

Air Mendidih, Nanah, Emas-Besi-Tembaga Cair Diminumkan

Harfiah: Unsur air, nanah, emas-perak-tembaga jika ada di neraka akhirat, sifatnya lain dengan yang ada di bumi. ‘Keterpaksaan’ meminjam unsur bumi karena tiada kata-kata manusia yang bisa mewakili unsur-unsur neraka atau menggambarkan kepedihan di dalamnya.

Simbolis: Air mendidih dan nanah yang diminum ibarat ia makan-minum dari sumber yang tak dirihoi Tuhan, memakan rejeki orang hingga mati, hingga disimbolkan memakan bangkai orang dan minum dari nanahnya. Sedang emas-perak-tembaga simbol kekayaan haram, tidak disedekahkan, dikuasai untuk sombong dan kemewahan atas derita-kematian orang. Siksanya seperti emas-perak-tembaga-besi dicairkan dan diminumkan ke kerongkongan.

Pohon Zaqqum

Harfiah: Sebatang pohon keluar dari dasar neraka jahim. Mayangnya seperti kepala setan. Ia makanan orang yang banyak dosa, sebagai kotoran minyak yang mendidih dalam perut…

Simbolis: Sebatang pohon mengakar dari dasar hati paling kotor penuh bisikan setan, men-julang ke otak membuahkan ilmu maksiat penuh dosa, tanpa manfaat membawa mudharat. Itu neraka jahim bagi mereka yang pandai, cerdik-cerdas dan jenius tetapi diilhami hati yang dipenuhi dengan nafsu setan.

Dalam al-Qur’an ada sedikit penjelasan terperinci soal neraka. Misalnya neraka Saqar untuk orang yang tidak mengerjakan sholat, orang yang tidak memberi makan orang miskin, membicarakan yang bathil, dan mendustakan hari pembalasan (QS. 74:42-48). Sedangkan neraka Jahannam dan Hawiyah penjelasannya masih agak umum sifat nerakanya yaitu “sekedar” api yang sangat panas (QS. 101:8-11).

Perbandingan Surga-Neraka

Sifat Penghuni Surga

Iman-Taqwa, Santun, Sedekah, Amal Saleh, Berbuat baik, Qonaah, Jujur, Ikhlas, Cinta-Kasih, Dll +

Sifat Penghuni Neraka

Syirik-Ingkar, Zalim, Riba, Kikir, Berbuat jahat, Iri, Serakah, Munafik, Dendam, Benci-Dengki, Dll –

Elemen-Elemen Pengisi/Penghias Surga

Sungai madu, susu, khamar (arak); Pohon-buah indah, enak dimakan; Dipan berhias emas permata; Bidadari cantik-perawan; Malaikat berwajah cerah; Kekal di dalamnya

Elemen-Elemen Pengisi/Penghias Neraka

Air mendidih, nanah,…; Pohon zaqqum…; Emas-besi dicairkan diminum; Setan-iblis-jin-manusia sesat; Malaikat bengis; Kekal di dalamnya

“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar yaitu ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; kekal di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk makhluk.6) Sesungguhnya orang beriman beramal saleh mereka itu sebaik-baik makhluk.7) Balasan mereka di sisi Tuhan surga ‘Adn mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha pada-Nya. Yang demikian adalah (balasan) bagi orang yang takut pada Tuhannya”.8) (QS. 98:6-8) ***

 

Puisi 22:

Kontradiksi

 

Oi, manusia…

Kebanyakan kamu sakit di dalam sehatmu, miskin di dalam kayamu,

Lapar di dalam serakahmu, tangis di dalam tawamu,

Bodoh di dalam pandaimu,

 

Oi, jiwaku…

Keinginanku sehat di dalam sakitku, kaya di dalam miskinku,

Kenyang di dalam laparku, bahagia di dalam tangisku,

Bijak di dalam tawadhu’ku,

 

Oi,…Surgaku di dalam Ibadatku,

Oi,…Kuasaku di dalam Puasaku,

Oi,…Allahku di dalam Jiwa Muthma’inahku,

Oi,… Bahagianya aku.

 

Jakarta, 13.10.2001 – 13.31 wib

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: