Bacalah 35. Hakikat Kebaktian

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Bukanlah menghadapkan wajah ke Timur dan Barat itu suatu kebaktian,

tetapi sesungguhnya

kebaktian itu ialah

iman pada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi,

memberikan harta yang dicintai ke kerabat, anak yatim, orang miskin,

musafir (yang perlu pertolongan) dan orang minta-minta,

(memerdekakan) hamba sahaya,

mendirikan shalat dan tunaikan zakat,

orang yang tepati janji jika berjanji

dan orang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam perang.

Mereka orang-orang benar (imannya),

mereka orang-orang bertaqwa. 177)

 

QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 177

 

 

KEBAKTIAN adalah kata benda dari “bakti”. Dan “berbakti” adalah verba dari “bakti” yang bermakna mengabdi dan melayani penuh ikhlas dan cinta kasih. Berbakti lebih ditujukan pada ibu pertiwi atau bangsa dan negara, orang tua dan puncaknya berbakti kepada Tuhan.

Berbakti kepada ibu pertiwi (rakyat) yaitu dengan mengemban tugas kewajiban kepemerintahan demi kemaslahatan umat, rakyat, bangsa, negara; bukan semata-mata mencari keuntungan pribadi atas penganiayaan (sistem) sebagian besar masyarakat. Ide-ide sosial politik seperti re-public dan idiom vox populi vox dei, people’s voice is God’s voice, suara rakyat suara Tuhan memberikan kesimpulan bahwa berbakti kepada ibu pertiwi (public-populi-people-rakyat-umat) juga merupakan wujud berbakti kepada Tuhan.

Berbakti pada Ibu-Bapak

Tuhan telah menetapkan hukum keluarga dengan sangat indah, dinamis tetapi harmonis. Betapa Tuhan telah mengatur tugas-tugas rumah tangga yang dilakukan suami dan isteri. Kemudian setelah mempunyai anak, betapa seorang isteri yang telah menjadi ibu wajib menyusuinya selama 2 tahun, dan seorang suami yang menjadi bapak wajib memberi nafkah keluarga, yaitu anaknya dan isterinya. Demikian pula si anak setelah dewasa harus berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya, terutama kepada ibunya yang telah susah payah mengandung dan mempertaruhkan nyawa ketika akan melahirkannya. Jadi, di antara mereka jangan saling menyusahkan.

Indah, seimbang, serasi sekali… seperti yin dan yang dalam Tao ([)

Kewajiban berbakti pada kedua orang tua merupakan perintah Tuhan. Beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan masalah tersebut di antaranya:

“Dan (ingat), saat Kami ambil janji dari Bani Israil (yaitu): “Jangan kau sembah selain Tuhan dan berbuat baik pada ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin serta ucapkan kata-kata baik pada manusia, dirikan sholat dan tunaikan zakat….” (QS. 2:83).

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian pada para ibu dengan ma’ruf. Seseorang tidak dibebani selain menurut kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita sengsara sebab anaknya dan seorang ayah karena anaknya…” (QS. 2:233).

“Sembahlah Tuhan dan jangan kau persekutukan-Nya dengan suatupun. Dan berbuat baik pada ibu-bapak, karib-kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat-jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Tuhan tidak menyukai orang-orang yang sombong dan bangga diri.” (QS. 4:36)

Kami mewajibkan manusia (berbuat) baik pada kedua ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu persekutukan Aku dengan suatu yang tiada pengetahuan kamu tentang itu, maka jangan kamu ikuti keduanya. Hanya kepada-Ku kembalimu, kemudian Aku kabarkan padamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 29:8)

Kami perintahkan pada manusia (berbuat baik) pada ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah pada-Ku dan pada ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikuti jalan orang yang kembali pada-Ku, lalu hanya pada-Kulah kembalimu, maka Aku beritakan padamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 31:14-15)

Kami perintahkan manusia berbuat baik pada ibu bapaknya, ibunya mengandungnya susah payah dan melahirkannya susah payah. Mengandung sampai menyapih 30 bulan, sehingga jika umurnya 40 tahun ia berdoa:

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan padaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. 46:15).

Sedemikian berbaktinya seorang anak kepada orang tuanya. Bahkan jika keimanan kedua orang tuanya masih belum terbuka pintu tauhidnya dan mengajak anaknya kepada kemusyrikan, maka si anak harus tidak menuruti ajakan orang tuanya tetapi ia tetap harus memperlakukan dengan baik kedua orang tuanya semasa di dunia, menjaga lisan dan sikap harus sangat hormat kepada orang tua. Ucapan yang kasar bahkan menyakitkan orang tua akan dilaknati Tuhan pada hari pembalasan kelak (QS. 46:17-19).

Banyak kisah nabi dan rasul yang menggambarkan sikap tulus sebagai anak terhadap orang tua (keluarga), meskipun mereka belum tergolong orang-orang yang beriman. Seperti bapak Nabi Ibrahim, isteri Nabi Luth, anak Nabi Nuh, saudara-saudara Nabi Yusuf serta paman Nabi Muhammad.

Beberapa contoh pengabdian seorang anak kepada orang tua, terutama dari kisah para nabi adalah sebagai berikut :

Nabi Yahya: “Hai Yahya, ambillah al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan padanya hikmah selagi ia anak-anak. Dan rasa belas kasihan mendalam dari sisi Kami dan kesucian. Dan ia orang yang bertaqwa, dan banyak berbakti pada orang tuanya dan bukan seorang sombong lagi durhaka…” (QS. 19:12-15).

Nabi Isa: “… Dan Dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada dan Dia perintahkan padaku (dirikan) shalat dan (tunaikan) zakat selama aku hidup,
dan berbakti pada ibuku dan Dia tidak menjadikan aku seorang sombong lagi celaka.
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan padaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan kembali” (QS. 19:31-33).

Doa Nabi Sulaiman: “…ia (Sulaiman) tersenyum dan tertawa karena perkataan semut. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, beri aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan padaku dan dua orang ibu bapakku dan untuk kerjakan amal saleh yang Engkau ridhai memasukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (QS. 27:19).

Doa Nabi Nuh:

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan seorangpun di antara orang-orang ingkar tinggal di atas bumi.26) Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka takkan melahirkan selain anak maksiat lagi sangat ingkar.27) Ya Tuhanku! Ampuni aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan jangan Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.28)” (QS. 71:26-28).

Berbakti pada orang-tua, terutama ibu, diperintahkan Nabi Muhammad. Bahkan penghormatan kepada ibu derajatnya tiga kali lebih tinggi daripada penghormatan kepada bapak. Inilah Keadilan Tuhan menyangkut kedudukan atau posisi laki-laki dan perempuan.

Totalitas Kebaktian pada Tuhan

Mahluk yang paling berbakti kepada Tuhan adalah malaikat, karena mahluk yang mulia ini diciptakan tanpa nafsu.

“…Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentu memperhatikan, dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti” (QS. 80:11-16).

Malaikat tidak pernah lalai akan kewajibannya, tidak merasa enggan menyembah Tuhan dan mereka menasbihkan-Nya; dan hanya pada-Nyalah mereka bersujud (QS. 7:206), segala apa yang di langit dan semua mahluk melata di bumi dan malaikat bersujud pada Tuhan, dan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri (QS. 16:49-50).

Sementara itu, keunikan manusia yang diciptakan dengan nafsunya membuat manusia bisa lebih mulia dari malaikat, tetapi bisa juga lebih hina dari binatang. Itulah dua jalan yang diilhamkan Tuhan pada manusia yaitu jalan ketaqwaan dan kefasikan (QS. 91:7-10). Beruntunglah mereka yang memilih jalan ketaqwaan, karena mereka telah berbakti kepada Tuhannya dengan totalitas kebaktian.

Apakah totalitas kebaktian? Jawabannya QS. 2:177 di awal kajian ini.

“Bukanlah menghadapkan wajah ke Timur dan Barat itu suatu kebaktian, tetapi sesungguhnya kebaktian ialah: iman pada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, memberikan harta yang dicintai ke kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, musafir (yang perlu pertolongan) dan orang minta-minta,(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji jika berjanji dan orang-orang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam perang. Mereka adalah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka orang-orang bertaqwa.177)

Pada awal ayat di atas mengingatkan bagi mereka yang hanya berbakti secara ritual menghadapkan wajahnya ke timur atau ke barat, termasuk pula di dalamnya sholat. Tetapi itu bukanlah suatu kebaktian murni jika tidak melaksanakan ke-15 sikap mulia lainnya yang diperinci oleh QS. 2:177. Jika ke-15 sikap mulia itu dilaksanakan secara murni dan konsekuen, maka ujung-ujungnya adalah kembali pada “mereka orang-orang bertaqwa”. Itu bukan lagi dwi-tunggal atau tri-tunggal, tetapi multi-tunggal sikap totalitas kebaktian. Konsekuensi kebaktian adalah konsistensi beriman, bersedekah, beramal-saleh, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, jujur dan sabar. Satu sikap mulia harus meliputi sikap mulia lainnya.

Islam yang berakar dari ‘aslama (berserah diri) bukan sekedar “agama”, teori apalagi angan-angan ideal. Tetapi Islam adalah suatu sikap ‘aslama, praktek, jiwa dan roh alam semesta. Seperti dijelaskan pada Kajian 6: Makna Berserah Diri, bahwa Islam adalah berserah diri dan keselamatan. Kebaktian adalah sikap-sikap mulia yang masuk di dalamnya.

Hasil Kerja Kebaktian

Tuhan tidak menjanjikan Kasih-Nya atau Rahiim-Nya tanpa wujud sebagai balasan kepada orang-orang yang berbakti. Tetapi janji Tuhan pasti dipenuhi dalam bentuk nyata, tidak saja nanti tetapi bahkan saat ini, di sini, sudah bisa dirasakan hasil kerja kebaktian sebagai down payment (DP) atau “tanda jadi” atas kesepakatan “jual beli” kebaktian dengan Tuhan.

Akan tetapi orang-orang yang bertaqwa pada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedangkan mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Tuhan. Dan apa yang ada di sisi Tuhan adalah lebih baik bagi orang-orang berbakti (QS. 3:198).

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan…” (QS. 82:13).

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin. Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis, disaksikan malaikat-malaikat yang didekatkan (pada Tuhan).” (QS. 83:18-21)

“Sesungguhnya orang-orang berbakti benar-benar dalam kenikmatan besar (surga), mereka di atas dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka minum khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum darinya orang-orang yang didekatkan pada Tuhan,” (QS. 83:22-28)

Bagaimana merasakan nikmat surga saat ini, di sini… selengkapnya ada pada Kajian 37: Surga dan Neraka.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: