Bacalah 34. Pengembaraan Jiwa

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Hai hamba-hamba-Ku yang beriman,

sesungguhnya bumi-Ku itu luas,

maka sembahlah Aku. 56)

 

Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati.

Lalu hanya kepada Kami-lah

kamu dikembalikan. 57)

 

Dan orang-orang yang beriman

dan mengerjakan amal saleh,

sesungguhnya akan Kami tempatkan

pada tempat yang tinggi dalam surga

yang mengalir sungai-sungai di bawahnya,

mereka kekal di dalamnya.

Itulah sebaik-baik pembalasan

bagi orang-orang beramal, 58)

 

(yaitu) yang sabar

dan tawakkal pada Tuhannya. 59)

 

QS. 29. al-‘Ankabuut (Laba-Laba) 56-59

 

FIRMAN Tuhan pada QS. 39. az-Zumar (Rombongan) 42,

Allah memegang jiwa ketika matinya dan belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahanlah jiwa yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Membahas masalah jiwa adalah topik bahasan yang menarik dikaji, karena membuka rahasia manusia dan kehidupannya. Bukan saja selama kehidupannya di bumi, tetapi ia juga mencakup kehidupan sebelum ia dilahirkan ke dunia fana, serta “pengembaraannya” mencari hakikat diri dan berharap menemukan kembali hakikat Tuhannya.

Jiwa sebagai sesuatu yang abstrak sangat tidak mungkin dilihat oleh mata kepala. Tetapi melalui jendela jiwa yang terdekat yaitu mata akan dapat disaksikan bagaimana keadaan jiwa yang bersemayam dalam tubuh manusia. Ekspresi yang tampak pada mata akan menunjukkan apakah jiwa itu sedang sedih, senang, bingung, stres atau dalam keadaan tenang dan tenteram.

Tetapi penilaian jiwa melalui mata orang bersangkutan, yang dinilai oleh mata orang yang melihatnya, akan bisa menjebak pada kekeliruan prasangka sesaat. Ada orang tertentu yang melihat jiwa dan alam pikiran seseorang dari hawa nafasnya. Sehingga selayaknya jiwa berhubungan dengan jiwa, dan tidak dibatasi oleh sesuatu pun yang bersifat jasmani.

Ilmu jiwa yang telah dikembangkan manusia ternyata hanya mengamati dan meneliti gejala-gejala yang menimpa jiwa, bukan eksistensi jiwa itu. Sehingga ilmu yang layak mempelajari eksistensi jiwa tidak lain adalah ilmu agama terutama tasawuf.

Manusia: Materi dan Immateri

Secara materi, manusia terdiri dari unsur tanah, air, api, udara.

Unsur tanah mengacu penciptaan Nabi Adam: “…Tuhan menciptakan Adam dari tanah lalu Firman Tuhan kepadanya: “Jadilah” (manusia), maka jadilah dia” (QS. 3:59). Setelah meninggal dunia, manusia akan dikubur kembali ke dalam tanah. Jasad fisiknya akan menyatu menjadi tanah kembali.

Unsur air mengacu pada bahan pokok makanan berasal dari bumi, yang dimakan manusia, bisa tumbuh dan hidup karena air. Setelah bersenyawa dalam manusia pun keturunannya tercipta dari sari pati makanan berupa air mani (sperma); “Apa kamu ingkar pada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah, lalu dari setetes air mani, lalu Dia menjadikanmu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS 18:37).

Unsur api sebagai simbol gejolak, bisikan iblis yang diciptakan dari api, nafsu dan juga pemanasan berupa proses pensucian diri; “Sesungguhnya orang-orang yang makan harta anak yatim secara zalim sebenarnya mereka menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala (neraka)” (QS. 4:10). Pemahaman kiasan bila mereka taubat dan mengadakan perbaikan, maka salah satu upayanya, misalnya puasa, bisa berfungsi sebagai api yang membakar kezaliman, keserakahan dan sifat iblis dalam diri manusia.

Unsur udara sebagai simbol utama adanya hidup, dan ruh sebagai “hawa murni” yang ditiupkan di dalam diri manusia; “Maka jika Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu (malaikat, jin, iblis) padanya (manusia) dengan bersujud (tunduk bukan berarti menyembah)” (QS. 15:29).

Simbol-simbol alam yaitu tanah, air, api dan udara atau hawa memberi banyak inspirasi bagi para ahli tafsir, ilmuwan hingga para seniman untuk meluaskan makna hakikat kehidupan, kejiwaan dan kemanusiaan umumnya. Misalnya tanah yang memiliki unsur pasir, batu-batuan dan ikatan kimia lainnya yang terbentuk di dalamnya melalui sedimentasi, pemanasan, reaksi kimia yang melibatkan ketiga unsur utama lainnya yaitu air, api dan udara.

Memahami simbolisme dari unsur tanah, air, api dan udara akan sangat sulit jika hanya melihat satu unsur saja, karena keempatnya sudah saling berkait, bergantung dan bersenyawa; hanya prosentase dan cara prosesnya yang berlainan. Salah satu penjabaran simbol tersebut di antaranya;

Tanah sebagai simbol kepasifan tetapi sebagai media dari hidup dan kehidupan, media pertumbuhan dan perkembangan. Sedangkan air, api dan udara adalah simbol keaktifan. Air, api dan udara dengan sifat dinamisnya akan membawa keberkahan dan kemaslahatan jika digunakan sebagaimana mestinya; tetapi menjadi bencana besar jika disalah-gunakan.

Sementara itu, secara immateri manusia diciptakan terdiri dari ruh, hati dan jiwa. Pembahasan ketiga unsur immateri tersebut telah dibahas pada Kajian 28: Ruh, Hati dan Jiwa.

Jiwa Tak Berjenis Kelamin

Seperti telah disinggung pada Kajian 28: Roh, Hati dan Jiwa; telah dijelaskan definisi jiwa. Tetapi pembahasannya masih statis pada definisi, sehingga pada kajian ini akan lebih dinamis membahas pengembaraan jiwa mencari eksistensi dan esensi dirinya. Kajian ini ada relevansinya dengan Kajian 15: Membentuk Diri Sendiri.

Pengembaraan panjang jiwa selama hidup di dunia terkungkung dalam jasad fisik manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Karena pengaruh lingkungan jasad diri berupa fisik, banyak jiwa yang masih melihat perbedaan gender, emansipasi dan semacamnya. Padahal manusia harus membedakan urusan materi mapun immateri yang menyangkut dirinya.

Materi manusia memang dibedakan secara badani dan tentu banyak perbedaan untuk urusan fisik-materi. Masalah tersebut kian berkembang terhadap persoalan yang harus ditangani kaum laki-laki dan kaum perempuan. Perbedaan juga mencakup perbedaan fungsi antara suami dan isteri yang harus bekerja sama dengan baik, sesuai kesepakatan dan kebenaran untuk membentuk keluarga sakinah. Jika materi manusia berwujud laki-laki dan perempuan berfungsi sesuai dengan petunjuk Tuhan dan Nabi-Nya, maka tidak ada perselisihan gender dan emansipasi.

Tetapi untuk urusan immateri, terutama yang berkaitan dengan Tuhannya, bukan lagi tidak ada perbedaan fungsi manusia – laki-laki maupun perempuan – untuk senantiasa menyembah Tuhannya. Tetapi tidak adanya perbedaan itu menjadi meluas dengan tidak ada perbedaan jiwa antara laki-laki maupun perempuan.

Semua ayat al-Qur’an menyebutkan jiwa tidak dibedakan dari kelamin yang bersifat biologis. Sebutan laki-laki dan perempuan hanya membedakan fungsi berpasangan selama materi manusia yang hidup di muka bumi. Sedangkan jiwa tidak berjenis kelamin.

Kesadaran tingkat tinggi manusia akan mencapai pemahaman tidak adanya perbedaan masalah gender. Tetapi yang adalah hanya perbedaan iman dan taqwa yang akan menghantarkannya menjadi jiwa-jiwa yang mulia di Jalan Tuhan ataukah jiwa-jiwa yang tersesat di jalan setan, iblis dan jin yang dilaknati.

Untuk mendapatkan gambaran (visuaisasi) secara skematis-fisis wilayah pengembaraan jiwa manusia, maka berikut ini terdapat batasan-batasan dimensi waktu :

Ruh dan jiwa mempunyai sedikit perbedaan dari sisi sebelum dan sesudah bersenyawanya ruh dengan janin. Sebelum bersenyawa, “zat hidup” bernama ruh itu masih berupa ruh yang independent, dan begitu ditiupkan dan bersenyawa ke dalam janin, maka ia bernama jiwa.

Ada beberapa kemungkinan masalah yang muncul jika bayi yang lahir cacat mental sehingga jiwanya terganggu atau bahkan hampir tidak berfungsi seluruh organnya. Apakah eksistensi ruhnya juga cacat?

Pada hakikatnya semua mahluk hidup maupun benda mati, semuanya mempunyai ruh. Banyak orang mengira bumi dan langit sebagai benda mati yang mengambang di ruang angkasa tidak terbatas tidak mempunyai ruh. Tetapi menurut pemahaman agama, benda-benda langit itu bertasbih kepada Tuhannya meskipun manusia tidak mengerti cara tasbihnya. Jadi, apa yang dikira manusia benda mati ternyata “mahluk hidup”, hanya derajatnya lebih rendah karena tidak memiliki akal. Tetapi, walaupun manusia berakal, jika untuk kesesatan di jalan setan, maka ia akan lebih hina dari mahluk apapun selain menjadi temannya setan, iblis dan jin yang dilaknati.

Selama “manusia” masih menjadi ruh di alam ruh, ada pendapat yang mengatakan bahwa alam ruh itu ada di surga. Tetapi pada kajian ini, secara transparan dan jujur dikatakan bahwa alam itu bukan menjadi lahan bahasan oleh manusia. Limitasi pembahasan pengembaraan ruh dimulai dari ketika ia bersenyawa dengan janin dan diakhiri ketika jasadnya mati dan ruh itu kembali kepada Tuhan, entah di surga atau neraka.

Perjanjian Tauhid

Awal perjalanan atau pengembaraan jiwa mulai dijelaskan ketika telah ‘disepakatinya’ memorandum of understanding (MOU) perjanjian tauhid antara jiwa manusia dengan Tuhannya. Sebelum momentum itu disepakati, tidak dijelaskan kapan, di mana dan bagaimana jiwa itu bersemayam atau bagaimana keadaan ruh manusia sebelum diciptakan… karena dimensi itu mutlak milik Tuhan.

“Dan (ingat) saat Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi….172)” (QS. 7:172)

Begitu bersenyawa dengan janin, maka mulailah terbentuk kepribadian “calon manusia” yang sangat dipengaruhi oleh psikis, mental dan religi dari orang tuanya, dan juga genetika keturunannya. Orang tua yang memahami ajaran agama secara benar akan selalu bermunajat kepada Tuhan agar dikaruniai anak saleh. Doa-doa dan perilaku amal saleh orang tua ini sangat berpengaruh positif bagi perkembangan mental dan jiwa calon bayinya.

Alam bawah sadar manusia secara psikis, atau justru istilah agamanya kesadaran manusia sepenuhnya dari lubuk hati nurani yang paling dalam, pasti tidak bisa mengingkari adanya perjanjian tauhid tersebut. Tuhan melakukan perjanjian tauhid itu, agar di hari kiamat manusia tidak berkata: “…Sesungguhnya kami (Bani Adam) orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)172)“. Atau: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dulu, sedang kami anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dulu 173) (QS. 7:172-173)

Tuhan pun menjelaskan ayat-ayat tersebut agar mereka kembali pada kebenaran yang haq. Dan utusan atau rasul-Nya (messenger of God) telah membacakan pada mereka berita tentang orang yang telah Tuhan berikan padanya ayat-ayat Tuhan, lalu dia melepaskan diri darinya, dan dia diikuti syaitan (sampai tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat..

Dan kalau Tuhan menghendaki – Kehendak Tuhan yang Mahadil – sesungguhnya Tuhan bisa meninggikan derajat manusia dengan ayat-ayat itu tetapi kebanyakan manusia cenderung pada dunia dan menuruti hawa nafsu yang rendah. Maka golongan manusia itu perumpamaannya seperti anjing. Jika dihalau diulurkannya lidahnya, jika dibiarkan dia ulurkan lidahnya juga. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Tuhan.

Kisah-kisah agama seperti di atas bagi kebanyakan manusia memang berkesan klise dan hanya untuk konsumsi peribadatan, bukan pekerjaan. Penilaian yang salah besar ini tidak saja ditujukan pada mereka yang menganggapnya klise, tetapi juga bagi Ahli Kitab dan praktisi agama yang harus menyesuaikan diri pada pergaulan modern dan mengemas ayat secara profesional dan menarik, tanpa mengurangi esensi ayat tersebut dan ajaran agama yang holistik.

Demikian pula perilaku para ahlli kitab dan praktisi agama yang harus mengesankan bagi mereka yang melihatnya dan ingin merasakannya serta mengayomi semua pihak tanpa terkecuali. Diharapkan pula bahwa mereka tidak hanya terbelenggu fatwa halal-haram, aturan yang kaku dan mencekam bagi mereka yang baru memulai kehidupan agama atau bagi umat lain, sehingga berakibat akan memandang dengan sebelah mata terhadap ‘aslama.

Pemisalan anjing yang menjulurkan lidahnya seperti dijelaskan Tuhan tersebut sangat nyata pada pergaulan materialistis saat ini. Orang yang telah bernafsu terhadap dunia akan seperti anjing yang selalu mengulurkan lidahnya seakan-akan selalu haus.

Perumpamaan lain tentang orang tersesat seperti anjing tertimpa tangga yang terdesak tidak bisa bergerak. Begitu ada orang yang menolongnya, ternyata anjing itu menyalak dan menggigit orang yang menolongnya. Anjing itu selalu curiga bahkan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Pembelajaran manusia terhadap jiwanya bisa dimulai dari MOU perjanjian tauhid tersebut. Permulaan itu sudah cukup bagi manusia untuk memulai pengembaraan mencari hakikat diri dan Tuhannya.

Sejak ruh diciptakan dan ditiupkan menjadi jiwa, bersemayam di dalam janin manusia di dalam rahim seorang wanita, pada saat itu sudah mulai terekam memori-memori bagi jiwa di dalam rahim melalui perantara ibunya. Terjalinlah kontak batin, hubungan psikis antara ibu dan calon bayinya.

Sementara itu skenario kehidupan universal seluruh alam, mulai alam roh, alam rahim, alam fana dunia, alam kubur dan alam akhirat; mutlak dimiliki oleh Tuhan dengan segala otoritasnya. Manusia tidak memiliki sedikit pun wewenang untuk merubah skenario universal tersebut. Sehingga sikap arif dan bijaksana adalah manusia harus menerimanya dengan keimanan. Inilah batas antara wilayah manusia dengan wilayah Tuhannya.

Otoritas Tuhan pun tidak semena-mena dengan membiarkan manusia seperti sebatang kayu yang dilempar ke padang pasir. Tidak juga seperti penciptaan arloji atau jam tangan yang bergerak mekanik tanpa ada yang memelihara dan mengawasinya.

Tetapi Sifat al-Adlu dari Tuhan mengilhamkan jiwa manusia itu kepada dua jalan kefasikan dan ketaqwaan. Tuhan pun berfirman, “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,1) dan bulan apabila mengiringinya,2) dan siang apabila menampakkannya,3) dan malam apabila menutupinya,4) dan langit serta pembinaannya,5) dan bumi serta penghamparannya,6)
dan jiwa serta penyempurnaannya,7)
maka Tuhan mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan,8)
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,9)
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya10)“. (QS. 91:1-10).

Penempaan Jiwa yang Akan Mati

Setelah manusia lahir menjadi bayi mungil, peran orang tuanya masih dominan untuk memelihara, mengasuh dan mendidiknya. Syaraf-syaraf motorik dan sensorik merangsang pertumbuhan otak dan organ tubuh lain. Pada tahap ini, kecukupun air susu ibu dan suplemen gizi selama berumur dua tahun sangat dibutuhkan bayi. Perawatan bayi umumnya merujuk pada majalah keluarga, kesehatan dan buku tentang gizi yang menjelaskan secara detail tentang hal itu.

Waktu tidak terasa berlalu hingga membuat bayi tadi menjadi akil baliq sekitar umur 15-17 tahun. Pada usia itu, perkembangan akal sudah dimintai pertanggung-jawaban. Peran orang-tua mulai menurun tetapi masih sangat berpengaruh.

Anak remaja mempunyai kemauan kuat membentuk pribadinya sendiri. Modal awal yang diberikan orang tua cukup dominan menentukan pribadi sang anak. Baik atau buruknya anak tergantung orang tuanya; tetapi peran anak sendiri membentuk karakternya juga lebih dominan. Pada masa-masa inilah terjadi intersection antara peran orang-tua dan anak dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.

Pengalaman demi pengalaman dilalui orang tua dan anak. Jika mereka cukup bekal agamanya, mereka akan menyadari setiap pengalaman bisa menjadi cobaan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mereka.

“Dan sesungguhnya Kami akan memberi cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, lapar, kurang harta, jiwa dan buah-buahan. Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang sabar,155) (yaitu) orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka akan mengucapkan “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun – Sesungguhnya kami adalah milik Tuhan dan kepada-Nya kami kembali”156). Mereka itu mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itu orang-orang yang dapat petunjuk157)” (QS. 2:155-157)

Pengalaman demi pengalaman, baik bersifat lahir maupun batin, sedikit banyak akan membetuk karakter dan pribadi seseorang. Jika ia konsekuen terhadap perjanjian tauhid yang telah disepakatinya seperti QS. 7:172, maka ia akan mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itu orang-orang yang dapat petunjuk seperti pada QS. 2:155-157.

Apa pun profesi yang digelutinya di dunia, berapa pun rejeki yang diperolehnya, mereka yang telah terpilih statusnya menjadi orang yang beriman dan bertaqwa mengembalikan berkah Tuhan itu kepada Yang Maha Memiliki. Mereka pun serta merta membagi kebahagiaan dengan manusia lainnya yang kurang beruntung dari sisi rejeki. Sikap kesalehan itu tidak akan mengurangi rejekinya, justru akan memperteguh jiwanya.

“…Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Tuhan dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyirami, maka hujan gerimis (memadai). Dan Tuhan Maha Melihat apa-apa yang kamu perbuat.265)” (QS. 2:265)

Pelajaran yang disaksikan oleh jiwa selama pengembaraannya tidak harus sesuai keinginannya menyaksikan yang baik-baik untuk memuaskan seleranya. Tetapi tidak sedikit peristiwa memilukan dan menyedihkan hingga mematikan disaksikan oleh jiwa di sepanjang kehidupan jasmani manusianya di dunia fana. Jiwa pun akhirnya menyadari segala yang ada di langit dan di bumi pasti ada umur kesementaraannya. Semua pasti menuju kehancuran atau kematian.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat saja disempurnakan pahalamu. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.185)
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Tuhan gangguan yang banyak menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka yang demikian termasuk urusan yang patut diutamakan186)
(QS. 3:185-186)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan-kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya pada Kami kamu dikembalikan.35) Jika orang-orang ingkar melihatmu, mereka membuatmu jadi olok-olok. (Katanya): “Apa ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?”, padahal mereka orang yang ingkar mengingat Tuhan yang Maha Pemurah.36)
Manusia telah dijadikan (tabiat) tergesa-gesa…”37) (QS. 21:35-37)

Hidup di dunia ternyata banyak cobaan dan tantangan. Bentuk cobaan dan tantangan itu tidak hanya yang jelek dan buruk. Tetapi Tuhan telah mengingatkan cobaan itu bisa berupa kebaikan. Jika kebaikan melalaikan manusia dari mengingat Tuhan, maka jiwanya telah disesatkan oleh riya’ dalam salah satu momentum pengembaraannya.

Jiwa sering kali tidak sabar di dalam hal apa pun. Tetapi begitu ditegur Tuhan pada QS. 21:35-37 di atas, ia sadar akan sifatnya yang tergesa-gesa. Sifat tergesa-gesa itu tidak menenangkan jiwa, sehingga ia kembali sabar, teguh, mantap meniti pengembaraanya. Jiwa jatuh bangun mencari bentuk karakter dan kepribadiannya. Pada akhirnya, untuk menyongsong kematian yang indah, maka jiwa pun harus memahami hakikat dari suatu kematian (raganya), yaitu lepasnya ruh atau jiwa dari tubuh.

Firman Tuhan pada QS. 28. al-Qashash (Cerita-Cerita) 88,

“Jangan kamu sembah selain Allah, ilah-ilah apapun yang lain. Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Tiap-tiap suatu pasti binasa kecuali Allah. Bagi-Nya segala penentuan dan hanya pada-Nya kamu dikembalikan” 88)

Firman Tuhan pada QS. 55. al-Rahmaan (Yang Maha Pemutah) 27,

“Semua yang ada di bumi akan binasa.26) Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan27). Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?28)

Mati ning sajroning urip, Urip ning sajroning pati

Firman Tuhan pada QS. 30. ar-Rum (Bangsa Rumawi) 19,

“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Seperti itu kamu akan dikeluarkan (dari kubur)”19).

Filosofi ini, bersesuaian QS. 30:19, lahir dari pemahaman lintas sektoral bahkan bisa melampaui dimensi kehidupan dan kematian. Bagi orang yang paham kematian manusia di dunia hanya proses lepasnya ruh atau jiwa dari jasad manusia, maka orang tersebut bisa ‘melepaskan’ ruh atau jiwa dari jasadnya kapan pun ia mau.

Setelah melalui pengembaraan jiwa yang relatif pendek di dunia dan jika jiwa telah menemukan hakikat hidupnya; maka ia secara metafisik bisa memisahkan kepentingan jiwa dan badan. Untuk menyempurnakan hidup, ia tentu mengedepankan kepentingan jiwa daripada kepentingan badannya.

Kehidupan dunia yang penuh dengan godaan dan cobaan – karena bisikan setan berwujud jin dan manusia – akan menghambat kesempurnaan jiwa kembali ke Tuhannya. Ia perlu untuk sementara atau sewaktu-waktu mematikan kebutuhan fisik badan serta merta memenuhi kebutuhan jiwanya. Salah satu upaya menempa jiwa yang paling baik, yaitu “mengesampingkan” kebutuhan fisik badan tetapi justru menyehatkannya, adalah dengan puasa.

Pengembaraan jiwa yang benar, melalui penempaan demi penempaan, harus berakhir bukan pada kematian fisik tetapi pada Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu; Siapa mengenal dirinya, kenallah ia akan Tuhannya. Pencapaian ini tidak harus di akhir masa-masa usia tuanya. Misalnya ia telah menghayati sabda Nabi Muhammad itu pada usia 40 tahun, dan mampu mempertahankannya, maka ia akan menjalani filosofi lintas batas dimensi kehidupan yaitu mati ning sajroning urip dan urip ning sajroning pati.

Misalnya pengembaraan jiwa manusia (the adventure of soul) akan digambarkan sebagai berikut:

Pada usia 0-17 tahun manusia mencapai akil baliq; 18-25 tahun manusia menempuh pendidikan intelektual; 26-30 tahun ia membina karier dan rumah tangganya; 31-40 tahun mencapai kedewasaannya sebagai manusia; 41-50 tahun menyempatkan introspeksi diri secara menyeluruh; 51-55 tahun memasuki masa tua, menikmati pensiun dan mempersiapkan diri memenuhi kematiannya; 51-63 tahun telah benar-benar mantap sebagai manusia dan menyambut kematiannya di usia 63 tahun dengan ridho dan diridhoi Tuhan. Manusia perlu penjenjangan usia membagi perkembangan jiwa, sehingga tidak sekedar memanjakan fisik dan intelektualnya.

Misalnya pada contoh penjenjangan di atas, ada waktu khusus dalam usianya untuk konsentrasi, introspeksi diri ketika IQ-EQ-SQ telah mencapai kemampuan optimalnya. Pada manusia lain mungkin dengan rentang waktu usia yang berbeda. Masa-masa optimalnya harus membuatnya kritis terhadap yang telah dilakukan selama itu. Sangat baik ia berdoa seperti Firman Tuhan QS. 3. Ali ‘Imran 8-9,

“Ya Tuhan kami, jangan jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kami dan karuniakan kami rahmat dari Engkau; karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi”. 8)Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau kumpulkan manusia untuk hari yang tiada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi janji.” 9)

Alangkah indahnya jika ada rentang waktu tertentu bagi manusia untuk mengisi hidupnya dengan ibadat, zikir dan doa terus menerus hingga menyongsong kematiannya. Selama rentang waktu itu ia menjalani filosofi mati ning sajroning urip (mematikan nafsu badani dalam kehidupan fisik) untuk tujuan menempa diri dan jiwanya menghayati hakikat hidup sehingga urip ning sajroning pati (hidup jiwanya dalam kehidupan-kematian fisik).

Untuk menjalani filosofi religi tersebut tidak harus menunggu usia tua atau setelah haji. Di usia muda jika ia memajukan rentang waktu usianya untuk konsentrasi introspeksi diri dan telah menghayati Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, maka ia pun telah mampu menjalani filosofi tersebut.

Kehidupannya telah “selesai” ketika ia sampai menjalani pola hidup seperti itu. Artinya bukan apatis menghadapi hidup, tetapi semakin religis dan bijak menghadapinya. Hanya ia tidak ambisius mencari rejeki dunia yang berupa materi seperti manusia lainnya.

Jiwa telah mencapai maqam muthma’inah, tenang terkendali karena ia laa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun. Ia telah menghadirkan surga dalam dirinya saat itu, tidak perlu menunggu hari akhir. Filosofi “dunia” baginya berlainan dari dunia manusia umumnya. Pandangan matanya juga lain dalam melihat fenomena dibandingkan pandangan mata orang lain. Demikian pula telinga, lisan dan fungsi organ tubuh serta bisikan-bisikan hatinya sudah berlainan dengan manusia awam pada umumnya.

Jiwa-Jiwa Mulia

Maqam orang suci yang telah menemukan inti-inti kebijakan dalam hidup bisa disebut wali, kyai, rohaniwan, pendeta, biksu atau sebutan lain. Ciri-ciri jiwanya yang mulia tampak pada bekas sujudnya; bukan arti sebenarnya bekas sujud di dahi yang mudah dibuat. Tetapi bekas sujud itu berarti sikap dan perilaku ‘aslama yang mencerminkan perilaku mulia.

Bagi orang awam mungkin masih sulit mencapai maqam itu, karena salah satu proses pembersihan dan pensucian jiwa melalui zakat masih sulit dipenuhinya. Mereka pun mendatangi orang suci dan mengharapkan doanya yang bisa menenteramkan jiwa mereka.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu bersihkan dan sucikan mereka dan do’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”103) (QS. 9:103).

Orang suci atau apapun namanya yang mengarah pada sosok wali, kyai, rohaniwan, pendeta, romo, biksu dan lain-lain yang telah menghayati hakikat Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu, mudah dikenali dari lisannya yang terjaga dan meninggalkan bekas positif bagi yang mendengarnya.

“Mereka itu orang-orang yang Tuhan mengetahui yang ada di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka dan beri mereka pelajaran dan katakan yang berbekas pada jiwa mereka63) (QS. 4:63).

Jiwa-jiwa mulia, jiwa-jiwa yang terpelihara dari noda dunia, terhindar dari riya’ di dalam doa dan ibadatnya. Jiwa-jiwa tersebut dimuliakan Tuhan, dipelihara oleh Tuhan. Kini pengembaraan jiwa manusia seperti itu telah sampai pada tujuannya, bukan pada kematian fisik, tetapi ketika Tuhan menyapanya pada QS. 89. al-Fajr (Fajar) 27-30,

“Hai jiwa yang tenang.27)
Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhoi-Nya.28) Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,29) dan masuklah ke dalam surga-Ku.30)
***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: