Bacalah 30. Dibaguskan Rupamu

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Bertasbih pada Allah apa yang di langit dan bumi;

hanya Allah yang mempunyai semua kerajaan dan puji-pujian

dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. 1)

 

Dia yang menciptakan kamu maka di antaramu ada ingkar dan iman.

Dan Allah Maha Melihat apa yang kau kerjakan. 2)

 

Dia menciptakan langit-bumi dengan benar,

Dia bentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu

dan hanya kepada-Nya kembali(mu). 3)

 

Dia mengetahui yang di langit dan bumi

dan mengetahui yang kamu rahasiakan dan nyatakan.

dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati. 4)

 

QS. 64. at-Taghaabun (Hari yang Ditampakkan Kesalahan) 1-4

 

 

Tuhan Maha Pencipta, Pembuat, Pembentuk

“Bertasbih pada Allah apa yang di langit dan bumi; hanya Allah yang mempunyai semua kerajaan dan puji-pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. 1) Dia yang menciptakan kamu, maka di antaramu ada ingkar dan iman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kau kerjakan. 2)

Allah adalah Tuhan yang Maha Pencipta (al-Khaaliqu), Tuhan yang Maha Pembuat (al-Baari’u) dan Tuhan yang Maha Pembentuk atau Penata (al-Mushawwiru). Kesatuan kreativitas ini adalah kesempurnaan Tuhan dalam mengurusi mahluk-mahluk-Nya sebagai The Great Creator.

Diciptakan-Nya langit dan bumi dari tiada menjadi ada. Dibuatlah dari yang ada itu menjadi mahluk lainnya seperti hewan, tumbuhan dan lain-lain. Dari mahluk yang telah dibuat dari ada, lalu dibentuk atau ditata rupa-rupa dan macam-macam hewan dan tumbuhan yang satu pun tidak ada yang sama satu sel pun! Maka bertasbihlah segala apa yang ada di langit dan di bumi; hanya Tuhan yang mempunyai kerajaan dan puji-pujian dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu ciptaan-Nya.

Memperhatikan segala bentuk pemandangan indah; seperti panorama langit di malam hari yang bertaburan milyaran bintang, serasa terselip pertanyaan: “Siapa yang menciptakan keindahan itu? Siapa yang membuat jutaan bahkan milyaran bintang nun jauh di sana, yang seakan-akan berkedip menyapa manusia? Siapa yang membentuk dan menata jagat raya yang sangat rapi, teliti, seimbang dan indah dipandang sepasang mata sekecil ini?”

Ketika mata dan suasana dialihkan memandang matahari pagi yang terbit di ufuk timur, memancarkan cahaya kuning di balik gumpalan awan dan gunung; di bawahnya ada sungai dipagari pepohonan hutan yang menyimpan sejuta misteri Sang Pencipta. Indah sekali pemandangannya…

Tuhan mencipta, membuat, membentuk dan menata pemandangan itu sedemikian detail; memanjakan mata memandang, menyejukkan jiwa yang meresapinya dan menenangkan hati yang mampu menghayatinya.

 

Keindahan Bentuk Manusia

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu dan hanya kepada-Nya kembali(mu). 3) Dia mengetahui yang di langit dan bumi dan mengetahui yang kamu rahasiakan dan nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati. 4)

Setelah tidak henti-hentinya menikmati pemandangan alam, baik yang ada di bumi maupun memandang langit tak terbatas yang dihiasi bermilyar bintang-bintang tak berbilang; kini melihat kepada diri; betapa manusia juga memiliki keindahan bentuk yang tak terhingga, karena bisa dinikmati dari segi fisis maupun metafisis.

Secara fisis, melihat keindahan yang diciptakan oleh Tuhan pada wajah cantik, kulit mulus dan lekuk tubuh wanita (bagi pria) dan wajah tampan, tubuh atletis pria (bagi wanita), sering menghalangi manusia melihat Keindahan, Kehalusan, Kebesaran Tuhan di balik maha karya cipta-Nya itu. Apalagi hampir semua orang melihat lawan jenisnya yang menampakkan bagian khusus dan merangsang, mereka menikmatinya disertai dengan hawa nafsu syahwat.

Bagi wanita yang melihat kecantikan fisik wajahnya, seksi tubuhnya begitu sibuk berdandan di depan cermin. Di atas meja rias tersedia puluhan macam kosmetik bermerk untuk menjaga dan melihara kecantikannya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki telah tersedia alat kecantikan yang mahal. Mulai shampoo dan conditioner rambut hingga cat kuku tangan dan kaki, dialokasikan dana khusus ketimbang memberi makan orang miskin yang kelaparan. Bagi mereka yang tidak bisa menerima sedikit kekurangannya, seperti hidung kurang mancung, bersedia mengeluarkan puluhan juta rupiah ketimbang diserahkan untuk zakat dan anak yatim. Belum lagi sandangan dan perhiasan mulai dari baju, parfum, gelang, kalung, sepatu, tas kulit serta asesoris mahal lainnya. Untuk menambah penampilan gayanya, ia pun rela meluangkan waktu kursus body language dan kepribadian daripada khusyu’ ibadah dan ikut pengajian bersama ibu-ibu di majelis ta’lim.

Bagi pria yang melihat ketampanan fisik wajah dan tubuh atletisnya, ia juga begitu sibuk memanjakan dirinya untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Penampilan harus ditunjang dengan kemeja, celana, parjum, arloji dan sepatu bermerk mahal yang menambah rasa percaya diri ketimbang percaya diri dengan segala apa adanya, kejujuran dan kesederhanaan serta berpegang teguh ageman illahi (agama Allah, agama Tuhan).

Dari keindahan fisik dan rupa yang bagus, manusia ada yang berhenti sampai di situ tetapi ada sebagian yang meningkatkannya kepada keindahan intelektual yang educated. Tetapi pendidikan yang ditempuhnya cenderung ke gengsi daripada mengemban hati nurani dan tugas mulia insani. Mereka bangga lulus dari universitas kenamaan di luar negeri ketimbang lulus dari pesantren di desa yang ada di pelosok negeri ini. Biaya mahal dikeluarkan untuk mencari gelar kesarjanaan dan materi yang mahal.

Dari keindahan intelektual, banyak orang yang terjebak dan hanya berhenti di sana. Tetapi ada sebagian kecil orang yang sedikit berkehendak untuk menyempurnakan keindahan fisik an kecerdasan intelektual dengan keseimbangan emosi. Maka dibelilah buku populer (sekuler) dari barat yang mengajarkan secara ilmiah untuk mematangkan emosional. Banyak buku best-seller dengan penulis asing dari barat yang dikoleksi dan dipelajarinya ketimbang membuka satu Kitab yang bernama al-Qur’an. Pola-pola meditasi dan senam pernafasan banyak ditempuh oleh para profesional, selebritis dan eksekutif muda ketimbang menegakkan dan menikmati sholat, menunaikan zakat, puasa berbagai ibadah yang sebenarnya menyimpan banyak faedah.

Bagaikan setumpuk saringan dari kasar ke halus, maka yang tertinggal di saringan yang paling halus semakin sedikit dan ringan berat fisiknya. Butiran kasar banyak tertinggal di atas dan tidak lolos saringan di bawahnya. Butiran halus yang tertampung di saringan paling akhir mempunyai sifat yang lembut. Sikap lemah lembut dan rendah hati ini juga termasuk kategori keindahan batin. Mereka yang mencapai tingkatan ini mempunyai perasaan halus dan kepekaan batin tinggi terhadap kondisi sosial di sekitarnya hingga kepekaan rasa ketuhanan yang senantasa dizikirkannya.

Keindahan demi keindahan dari bentuk manusia, baik fisis maupun metafisis, telah diuraikan. Jika manusia mencintai keindahan bentuk fisik, pasti bisa dijamin cintanya takkan abadi; karena fisik sifatnya menua dan musnah; sementara yang metafisik sifatnya lebih langgeng daripada fisik, bahkan ada yang abadi.

Jika merujuk kisah-kisah sejarah romantis sepasang kekasih, mereka merajut cinta begitu mesra di atas janji sehidup semati di tepian pantai atau di bawah cahaya bulan purnama. Untaian kata-kata mutiara dan syair yang melambungkan pasangannya, serasa hidup hanya milik berdua. Manusia memuji kecantikan wajah kekasihnya serta merta berpeluk mesra mengadu panah asmara. Duduk di tepi pantai seakan takkan bisa terpisahkan oleh apapun atau oleh siapapun. Jika si gadis bukan jodohnya, si jaka pun akan bunuh diri karena cintanya sejati dan abadi, hingga dibawa mati sekali pun. Itulah kebodohan cinta antar manusia.

Lain halnya dengan cintanya ulama sufi. Model berkasih mesra bagi sufi ternyata tidak umum yaitu tidak berkasih mesra dengan lawan jenisnya atau mengumbar nafsu syahwatnya. Tetapi para sufi berkasih mesra dengan Kekasih Sejati yaitu Allah-nya setiap saat, di mana pun, kapan pun ia berada. Allah adalah Kekasih Sejati yang paling setia. Ketika ia tidur pun, Allah setia menjaga jiwanya hingga ia bangun.

Untuk bisa menjiwai pemikiran sufi yang lebih dekat dengan Tuhannya memerlukan proses panjang melalui jalan (tarekat). Penempaan jiwa dan hati yang secara konsisten menerima cahaya Tuhan, maka sifat ketuhanan pun akan muncul. Jika sudah demikian, keindahan baginya akan lain sekali dari keindahan orang awam. Mungkin seorang sufi lebih menyukai kesendirian dan kemiskinan karena akan lebih mendekatkannya pada Tuhannya daripada kekayaan dan keramaian yang justru menjerumuskannya pada kesesatan yang menyengsarakan hati dan jiwanya.

Proses menjadi (being process) memang harus melalui banyak tahapan. Misalnya, melihat wanita cantik (apalagi bugil) pastilah merangsang nafsu pria yang normal. Jika sejenak bisikan hati menegur fitrah kesuciannya, ia akan melihat tidak dengan kedua mata di kepalanya, tetapi mulai dengan “mata” yang ada di hatinya. Sehingga melihat kecantikan (dan ketampanan) seseorang tidak hanya dilihat dari bentuk fisik tubuhnya, tetapi juga intelektualnya (intelectual beauty) dan tahap selanjutnya meningkat pada kecantikan yang lebih dalam (spiritual beauty, deeper inner beauty).

Kecantikan dan keelokan adalah kebanggaan pribadi. Tetapi jika berlebihan – bahkan disalah-gunakan – akan menjadi malapetaka bagi orang yang bersangkutan. Dunia model, artis, profesional dan eksekutif yang bergelimang kapital dan popularitas; tetapi jarang tersiram kalbunya dengan inti-inti ajaran agama; akan terlihat wajah dan matanya kusut, hati gersang dan jiwanya yang goyang, pasti tidak pernah tenang.

Kecantikan dan keelokan sebagai bagian dari keindahan bentuk manusia dan sebagai suatu kebanggaan anugerah dari Tuhan, secara tabulasi bisa dijelaskan sebagai berikut :

Sementara itu perkembangan “keindahan” dari bentuk manusia bisa digrafikkan sebagai berikut :

Dari tabel dan grafik di atas, dapat diketahui keindahan mana yang semakin lama semakin naik, semakin turun, keindahan yang fana, temporer atau nisbi dan keindahan yang baqa, kekal atau abadi. Semua dikembalikan kepada manusia untuk memilih. Kata memilih terkesan mudah, tetapi pada kenyataannya sangat kompleks karena banyak faktor yang mempengaruhi sejumlah bisikan hati yang berdesir sangat halus.

 

Kecantikan Rabi’ah al-Adawiyah

Kecantikan dalam (inner beauty) yang tampak dari raut muka cerah dan teduh, tutur kata bahasa lembut bagi yang mendengarnya. Kehormatannya akan sangat terjaga sehingga disegani dan dihormati semua orang.

Salah satu wanita “cantik” adalah sufi wanita Rabi’ah al-Adawiyah. Semua pelaku tarekat pasti mengenal wanita mulia ini. Banyak kisahnya dituturkan dalam buku tasawuf, meski ada beberapa yang melebihkannya sedikit atau banyak. Tetapi dari berbagai doa-doa yang keluar dari mulut wanita suci ini, kecantikan itu akan semakin tampak abadi;

“Ya Allah, apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku, di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-Mu, dan apapun yang Engkau karuniakan kepadaku di akhirat, berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu, karena Engkau sendiri cukup bagiku,”… “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut pada neraka, bakarlah aku di neraka. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkan aku darinya, tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan perlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku.” … “Ya Allah, semua jerih payahku, dan semua hasratku di antara segala kesenangan di dunia ini adalah untuk mengingat Engkau. Dan di akhirat nanti, di antara segala kesenangan akhirat, adalah untuk berjumpa dengan-Mu. Begitu halnya dengan diriku seperti yang telah kukatakan. Kini, perbuatlah seperti yang Engkau kehendaki.” ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: