Bacalah 28. Ruh, Hati & Jiwa

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Allah yang menciptakan langit dan bumi

dan apa yang ada di antaranya kerduanya dalam 6 masa,

lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.

Tiada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun

dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at.

Maka apa kamu tidak memperhatikan? 4)

 

Dia atur urusan dari langit ke bumi,

lalu (urusan) itu naik pada-Nya dalam 1 hari

yang kadarnya 1000 tahun menurut hitunganmu. 5)

 

Yang demikian itu mengetahui yang ghaib dan nyata,

yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, 6)

 

Yang membuat segala suatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya

dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. 7)

 

Lalu Dia jadikan keturunannya dari saripati air hina. 8)

 

Lalu Dia sempurnakan dan tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya

dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (af’idata);

(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. 9)

 

QS. 32. Sajdah (Sujud) 4-9

 

Di antara 7 Langit ada 6 Masa

“Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam 6 masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tiada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apa kamu tidak memperhatikan? 4) Dia atur urusan dari langit ke bumi, lalu (urusan) itu naik pada-Nya dalam 1 hari yang kadarnya 1000 tahun menurut hitunganmu. 5)

Pembahasan kajian ini terkait Kajian 11: Tentang 6 Masa dan Kajian 27: Keseimbangan Langit khususnya tentang penciptaan langit dan bumi dan yang ada di antaranya dalam 6 masa. Makna masa dengan masa lain dalam 6 masa itu berbeda-beda; seperti halnya Tuhan menetapkan setiap langit aturan masing-masing. Hendaknya pengertian “masa” di sini tidak dipahami harfiah; seperti pemahaman langit yang bisa secara astronomi, secara ilmu, maupun “langit”di dalam diri manusia sendiri.

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik pada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun (bagimu).” (QS. 70:4).

Kajian ini juga terkait Kajian 20: Malaikat, Jin, Setan, Iblis terutama pada sub-bab malaikat yang setia menunaikan tugasnya dan tidak pernah melalaikannya. Kecepatannya naik pada Tuhan adalah sehari menurut hitungan langit yang sama 50.000 tahun menurut hitungan bumi (manusia) Belum ada penjelasan detail antara 1 hari langit sama dengan 50.000 tahun bagi manusia di bumi (QS. 70:4) dengan 1 hari langit sama dengan 1.000 tahun bumi (QS. 32:5). Ini bukan pertentangan; tetapi perbedaan masalah yang naik ke langit. Pada kasus yang belum terungkap memang belum masuk kesimpulan; tidak harus membuat penasaran karena banyak sesuatu yang belum dipahami.

Masa penciptaan langit, bumi dan yang ada di antara keduanya, jika mengacu pada QS. 32:7-9 di atas tentang penciptaan manusia, maka bisa dianalogikan – sekedar pemisalan bebas – dengan penciptaan manusia. Penciptaan langit, bumi dan yang ada antara keduanya dalam enam (6) masa, dianalogkan dengan masa penciptaan manusia adalah:

(1) Masa
Pertama
, penciptaan biologis bertemunya sperma-ovum,

(2) Masa Kedua, penciptaan ruh ditiupkan ke janin,

(3) Masa
Ketiga
, penciptaan organ penting secara biologis, psikis dan religis,

(4) Masa
Keempat
, penciptaan kelahiran hingga batita/balita dan anak-anak,

(5) Masa
Kelima
, penciptaan fase akil-baliq hingga mati fisik,

(6) Masa
Keenam
, penciptaan kebangkitan dan kehidupan akhirat.

 

Hakikat Ruh

“Yang demikian itu mengetahui yang ghaib dan nyata, yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang, 6) Yang membuat segala suatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. 7) Lalu Dia jadikan keturunannya dari saripati air hina. 8) Lalu Dia sempurnakan dan tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya…”

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, ruh (Arab = ar-Ruuh) adalah zat yang ada dalam tubuh, diberikan Tuhan sebagai penyebab adanya hidup atau kehidupan, (= nyawa). Kesimpulan sementara bahwa ruh adalah zat hidup yang ditiupkan Tuhan ke dalam tubuh manusia dan bersifat sangat ghoib; meskipun definisi zat sebagai segala sesuatu yang menempati ruang dan memiliki massa, tidak cocok melekat pada definisi ruh tersebut.

“Dan mereka bertanya padamu tentang ruh. Katakan: “Ruh itu urusan Tuhan-ku, tidaklah kamu diberi pengetahuan selain sedikit”. (QS. 17:85)

Menurut ayat ini pengetahuan ruh bagi manusia sangat sedikit; jadi cukup mendefinisikan ruh adalah zat hidup yang menghidupkan manusia untuk mengenal lingkungannya, hakikat dirinya dan Tuhannya jika ia mau dan mapu konsisten pada tauhid.

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam dalam al-Qur’an saat ia menjauhkan diri dari keluarga ke suatu tempat di timur,16) maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami utus ruh Kami (ruuhana) padanya, maka ia menjelma di depannya (jadi) manusia sempurna.17) Kata Maryam: “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu pada yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa”.18)
Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini utusan Tuhanmu, untuk memberimu anak laki-laki yang suci”. (QS. 19:16-19)

Sebagian besar tafsir mengartikan ruh Tuhan pada ayat ini adalah Jibril yang sering menyampaikan wahyu dan banyak diceritakan al-Qur’an. Tetapi bisa juga ruh itu adalah ruh-nya Nabi Isa sendiri, karena jika yang dimaksud Jibril akan disebutkan harfiah seperti “man kaana ‘aduwwan lijibriila…” (QS. 2:97). Sedangkan malaikat Jibril selalu mendampingi jika ada wahyu Tuhan yang hendak diturunkan pada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya termasuk kepada Maryam dan Nabi Isa.

“Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh Kami (ruuhina); dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan dia termasuk orang-orang yang taat.12)” (QS. 66:12)

Ayat ini menguatkan penjelasan bahwa ‘sebagian’ ruh Tuhan adalah Nabi Isa yang suci lahir menurut Kehendak Tuhan meskipun tanpa bapak dan tidak melalui proses sewajarnya. Ia – Nabi Isa – membenarkan Kalimatullah dan Kitab-Nya, serta ia termasuk orang yang taat.

Demikian juga kelahiran manusia secara lazim melalui proses biologi, yaitu Firman Tuhan pada QS. 32. Sajdah (Sujud) 7-9, “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang mulai penciptaan manusia dari tanah. Lalu Dia jadikan keturunannya dari saripati air hina. Lalu Dia sempurnakan dan tiupkan ke dalamnya ruh-Nya (ruuhihii) dan Dia jadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati; (tapi) kamu sedikit sekali yang bersyukur.” Kata “Ruh-Nya (ruuhihii)” adalah kata Jibril, sedangkan “Ruh Kami (ruuhina)” adalah Firman Tuhan yang ditirukan Jibril.

Sebagai kesimpulan sementara hakikat ruh adalah;

(1) Sedikit sekali pengetahuan ruh selain zat hidup pada manusia,

(2) Ruh Tuhan sebagian tafsir menerjemahkan sebagai Jibril,

(3) Ruh Tuhan masuk ke rahim Maryam tanpa proses biologis,

(4) Ruh Tuhan ditiupkan ke rahim setelah melalui proses pembuahan.

 

Hakikat Hati

“…Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (af’idata); (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. 9)”

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, arti hati adalah:

(1) salah satu organ tubuh manusia,

(2) bagian isi perut binatang yang dimakan,

(3) yang ada dalam diri manusia yaitu sebagai tempat perasaannya,

(4) disamakan juga dengan jantung,

(5) sama artinya dengan perasaan,

(6) sifat batin, dan

(7) bagian dalam sekali dari buah atau batang tanaman.

Kalbu sama dengan hati, sama dengan fu’ad (tunggal). Pada kajian ini lebih cenderung mengacu pada nomor (1) salah satu organ tubuh manusia dan (3) yang ada dalam diri manusia yaitu sebagai tempat perasaannya. Untuk arti tasawuf; hati atau kalbu (qolbu) adalah wadah atau tempat bersemayam “sumber cahaya” yang “menyinari” seluruh tubuh.

Dualisme hati memang mengandung arti fisik organ hati dan arti metafisik yang sangat abstrak. Misalnya keadaan sakit hati yang psikis, disebabkan karena sesuatu mengganggu jiwanya, biasanya menyerang jantung karena darah diperintah hati yang abstrak itu untuk memompa jantung secara cepat sehingga berdebar-debar.

Adapun sedikit perbedaan hati dengan jiwa adalah,

“Mereka adalah orang-orang yang Tuhan mengetahui yang apa ada di dalam hati mereka (quluubihim). Karena itu berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka pelajaran dan katakan perkataan yang berbekas pada jiwa mereka (anfusihim).63) ” (QS. 4:63)

Hati adalah sumber kehendak, kemudian dicerna syaraf-syaraf halus dan diterjemahkan organ tubuh dan panca indera untuk mengungkapkan bersesuaian dengan jiwa dan temperamennya. Sementara, stimuli yang berasal dari luar tubuh diterima melalui panca indera, disikapi jiwa (sebagian langsung direspon tanpa melalui hati), lalu dibawa syaraf masuk ke terminal akhir dalam hati nurani, dikembalikan ke jiwa dan menjadi tahap respon oleh anggota organ tubuh dan panca indera.

“Tuhan telah kunci-mati hati (quluubihim) dan pendengaran dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa amat berat.7) Di antara manusia ada yang berkata: “Kami iman pada Tuhan dan Hari Akhir”, padahal mereka bukan orang-orang yang beriman.8) Mereka hendak menipu Tuhan dan orang-orang beriman, padahal mereka menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. 9) Dalam hati mereka (quluubihim) ada penyakit, lalu ditambah Tuhan penyakitnya bagi mereka siksa pedih, disebabkan mereka berdusta.10)” (QS. 2:7-10)

Hati yang telah terkunci mati adalah akibat perbuatan manusia sendiri, karena Tuhan takkan menganiaya hamba-hamba-Nya. Mereka teraniaya, menganiaya dan dianiaya diri sendiri. Mereka mendengar dan melihat, tetapi hikmahnya tidak bisa masuk ke dalam hati. Perumpamaan hati mereka ada penyakit yang kronis, ada virus mematikan. Bahkan vaksin yang hendak masuk ke hatinya tak mampu mengobati penyakitnya, seakan-akan virusnya menolak vaksin masuk.

“Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril telah menurunkan (al-Qur’an) ke dalam hatimu (qalbika) dengan seizin Tuhan; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.97) Siapa yang menjadi musuh Tuhan, para malaikat-Nya, para rasul-Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Tuhan adalah musuh orang-orang ingkar.98) Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan padamu ayat-ayat yang jelas dan tiada yang ingkar padanya, melainkan orang-orang yang fasik.99) ” (QS. 2:97-99)

Ruh yang bersemayam di dalam hati sifatnya netral. Begitu ruh telah berinteraksi dengan hati dan jiwa, masuklah berbagai rangsangan (stimuli) dari segala sesuatu yang diterima panca indera dan berbagai keinginan hati; maka jiwa dan hati mulai bereaksi, Pada saat itulah jika ia mempunyai iman dan taqwa yang kuat, Jibril akan menurunkan petunjuk ke dalam hatinya; kemudian hati membentuk jiwa untuk bersikap merespon stimuli tadi.

“Setelah itu hatimu (quluubukum) keras seperti batu bahkan lebih keras. Padahal di antara batu-batu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut pada Tuhan. Dan Tuhan sekali-kali tidak lengah dari yang kamu kerjakan.74)” (QS. 2:74)

Betapa hati yang keras seperti batu, bahkan lebih dari itu, Tuhan selalu membisikkan kebenaran lewat syaraf jalan ketaqwaan melalui malaikat-Nya, agar muncul “mata air” kebenaran dan ia meluncur jatuh karena takut pada Tuhan. Inilah Kasih Sayang Tuhan pada manusia…

“Ingat karunia Tuhan padamu dan perjanjian-Nya telah diikat-Nya denganmu, saat kau katakan: “Kami dengar dan kami ta’ati”. dan bertaqwalah pada Tuhan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (bidzatishshuduuri).7) ” (QS. 5:7)

Apa yang ada di dalam hati, isi hati, yang dibisikkan hati – bukan hati (qalbi) – disebut bidzatishshuduri. Jiwa (nafsi) yang murni secara fitrah adalah suci. Tetapi ketika berinteraksi, terjadilah konflik-koflik keinginan, bisikan dan lain-lain yang dibisikkan oleh hati. Bisikan yang sangat lembut inilah yang diketahui Tuhan, bahkan manusia sendiri sulit mengendalikan bisikan-bisikan hati nuraninya yang bergolak banyak keinginan. Untuk memutuskan sesuatu dari banyak keinginan, kehendak dan pertimbangan, jiwa senantiasa mengikatkan diri pada tali tauhid sesuai fitrahnya.

Firman Tuhan pada QS. 40. al-Mu’min (Orang yang Beriman) 19,

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”

 

Hakikat Jiwa

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kata jiwa yang berasal dari Bahasa Sansekerta berarti: (1) nyawa, (2) orang, (3) kekasih, (4) hidup seperti sungguh hidup, (5) diri (yang dari Bahasa Arab = nafsi), menurut kamus yang sama, kata nafsi diartikan sebagai diri (sendiri), dan nafsu diartikan sebagai keinginan, dan (6) semangat. Yang dimaksud “jiwa” pada kajian ini adalah ruh atau nyawa yang telah bersenyawa dengan janin dan akan menjalani kehidupan di dunia sebagai manusia. Jiwa manusia fitrahnya adalah suci.

“Dan saat Tuhanmu keluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Tuhan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (anfusihim): “Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka jawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.172) ” (QS. 7:172)

Ruh dan jiwa pada awalnya bisa disejajarkan dengan nyawa menurut Kamus Bahasa Indonesia. Tetapi sepanjang perjalanannya menjadi manusia; ruh sifatnya tetap suci, tetapi jiwa berpotensi tercemari bisikan-bisikan setan yang menyesatkan. Pada jiwa itu ketika masih di dalam rahim telah diilhami dua jalan pula yakni kefasikan dan ketaqwaan.

“Jiwa (nafsi) serta penyempurnaannya,7) maka Tuhan mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan,8) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,9) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.10)” (QS. 91:7-10)

Sebagai manusia, jiwa mengalami berbagai macam pengalaman lahir yang mempengaruhi batin; termasuk cobaan hidup di dunia.

“Sungguh akan Kami beri cobaan padamu dengan sedikit ketakutan, lapar, kurang harta, jiwa (anfusi) dan buah-buahan. Dan berikan berita gembira pada orang-orang sabar,155) (yaitu) orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.156) Mereka dapat keberkatan sempurna dan rahmat Tuhannya dan mereka orang-orang yang dapat petunjuk.157)” (QS. 2:155-157)

Jika manusia memelihara teguh jiwanya, sabar yang baik dan tetap istiqomah di jalan ketaqwaan; Tuhan memberi perumpamaan sebagaimana firman Tuhan pada QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 265, “Perumpamaan orang-orang yang belanjakan hartanya karena mencari keridhaan Tuhan dan untuk keteguhan jiwa mereka (anfusihim), seperti sebuah kebun terletak di dataran tinggi disiram hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Tuhan Maha Melihat apa yang kamu perbuat…265)

Selama jiwa bersemayam di dalam tubuh manusia, maka pada tiap-tiap jiwa akan merasakan mati yang mempunyai dua pengertian; (1) Tidak sadar; dalam keadaan tidur, pingsan, mabuk dan lain-lain, (2) Mati; dalam keadaan terpisahnya antara ruh dengan tubuh.

“Tuhan memegang jiwa (anfusa) ketika matinya dan yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Tuhan bagi kaum yang berfikir.42)” (QS. 39:42)

“Tiap jiwa (nafsin) akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat saja disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga maka sungguh ia beruntung. Kehidupan dunia hanya kesenangan yang memperdayakan.185)
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan dirimu. Dan kamu sungguh-sungguh akan dengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan dari orang-orang yang persekutukan Tuhan, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.186)” (QS. 3:185-186)

Firman Tuhan pada QS. 21. al Anbiyaa’ (Nabi-Nabi) 35,

“Tiap-tiap jiwa (nafsin) akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya pada Kami kamu dikembalikan.35)

“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.56) Tiap-tiap jiwa (nafsin) akan merasakan mati. Lalu hanya pada Kami kamu dikembalikan.57) Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal,58) (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal pada Tuhannya.59)” (QS. 29:56-59)

Sebelum jiwa mati, semasa hidup di dunia sesadar-sadarnya, Tuhan akan mengujinya dengan cobaan sebenar-benarnya dengan kebaikan dan keburukan. Kebaikan pun juga merupakan cobaan. Apakah dengan kebaikan ia melupakan Tuhan, lupa bersyukur dan beramal saleh, lupa ibadat dan lain-lain. Dengan cobaan keburukan apakah ia akan berkeluh-kesah tanpa berusaha, berprasangka buruk pada Tuhan, melakukan kejahatan dan lain-lain. Secara kumulatif, nilai-nilai kebaikan (+) dan keburukan (-) yang dihimpun selama hidupnya akan ditotal. Jika dijumlahkan = (+) ia masuk surga, dan jika dijumlahkan = (-) ia masuk neraka.

Demikian hitungan sederhananya.

Jiwa yang sangat dinamis hidupnya di dunia, selalu dalam pergelutan aktifitas yang bernilai (+) dan (-). Secara sadar atau khilaf pasti ia pernah berbuat salah, maka ada cara untuk membersihkan harta dan jiwanya,

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu bersihkan dan sucikan mereka dan do’alah uutuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu ketentraman jiwa bagi mereka. dan Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 9:103). Demikian penting fungsi doa orang-orang yang beriman untuk membantu sesamanya, terutama untuk mereka yang terdekat dan yang teraniaya. Selain itu, ada pula doa-doa yang mustajabah, misalnya doa ibu ke anak dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya…

Tujuan akhir dari jiwa selama hidup di dunia tidak lain adalah mencapai ketenangan, kestabilan, keseimbangan, kebahagiaan, kesempurnaan dan… laa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun seperti telah didahas pada Kajian 23: Jangan Takut dan Sedih, Bergembiralah…

Firman Tuhan pada QS. 89. al-Fajr (Fajar) 27-30,

“Hai jiwa tenang.27) Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhoi-Nya.28) Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,29) dan masuklah ke dalam surga-Ku.30)

Kesimpulan sementara hakikat jiwa adalah sebagai berikut: (1) Secara fitrah sifat jiwa adalah tauhid, (2) Jiwa pada dasarnya telah diilhami jalan kefasikan dan ketaqwaan ketika masih berada di alam ruh, (3) Jiwa diberi cobaan berupa kebaikan dan keburukan selama hidup dunia, (4) Zakat adalah upaya membersihkan jiwa, selain amal kebaikan lainnya, (5) Tujuan akhir dari jiwa adalah menjadi jiwa yang kembali fitrah, tenteram, jiwa yang tenang ketika kembali kepada Tuhan.

Ruh ditiupkan dan bersemayam di hati. Sementara itu hakikat hati (qalbi) yang dibisikan (bidzatishshuduri) dan yang terpancar (nafsi) adalah seperti matahari yang terdiri inti (dari gas), zat antara hingga permukaan (cairan membara, suhunya jutaan derajat celcius), dan yang terpancar (cahaya). Mungkin perumpamaan ini yang bisa menjelaskan interaksi atau persenyawaan antara ruh, hati dan jiwa.

Secara skematis dapat digambarkan seperti berikut:

Dari skema gambar di atas tampak wilayah-wilayah authority antara ruh, hati dan jiwa hingga fungsi panca indera sebagai pintu-pintu dan jendela-jendwela yang menyerap seluruh stimuli dari luar dirinya.

Dari ekspresi fisik
panca indera yang menerima berbagai stimuli atau seluruh momen dari luar dirinya akan memberikan reaksi seketika. Misalnya mata yang terkena debu akan langsung bereaksi berkedip atau terpejam, lalu dikucek-kucek. Begitu juga dengan indera yang lain segera disikapi secara langsung secara oleh indera yang bersangkutan dan anggota tubuh lainnya.

Ketika stimuli yang mulai melibatkan fisik, biologis dan psikis diterima oleh jiwa, maka reaksi balik yang diberikan oleh jiwa diekspresikan kembali oleh inderanya, biasanya tahap awal terekspresi pada mimik wajahnya yang menangis dan sedih jika mendengar berita duka, atau tertawa dan gembira jika sedang senang atau mendapat berita yang menyenangkan.

Stimuli yang sifatnya lebih halus dan abstrak yang bersifat psikis-religis biasanya langsung dibisikkan oleh malaikat ke dalam hati. Ekspresinya akan menyentuh jiwa dan pada akhirnya ditampakkan kembali secara fisik oleh panca inderanya. Performa dan kekuatan karakter seseorang biasanya mencerminkan performa dan karakter jiwanya.

Sedangkan wilayah authority ruh adalah dominasi Tuhan secara mutlak. Pengetahuan manusia tentang ruh sangat sedikit yaitu hanya pada pemahaman sekitar dzat hidup saja!.

 

Reaksi terhadap Manusia

Berikut di bawah ini ditabelkan perbedaan-perbedaan fungsi ruh, hati dan jiwa yang menyusun manusia sebagai mahluk mulia. Ketiganya merupakan unsur immateri di luar tubuh dan jasad yang bersifat materi.

Dari pemilahan tersebut tampak bahwa pengetahuan ruh sangat sedikit sekali. Tidak banyak yang bisa dijelaskan apa hakikat ruh karena hal itu termasuk salah satu urusan Tuhan yang mutlak.

Netralitas ruh tidak bergantung padanya sifat positif dan negatif yang melekat pada hati dan jiwa. Macam sifat positif dan negatif antara hati dan jiwa berbeda-beda karena wilayahnya berlainan. Hati mempunyai wilayah yang lebih dalam dari jiwa, karena hati tidak bisa berekspresi tanpa adanya jiwa.

Pengelompokkan hati yang iman, taqwa, tawadhu’, amal saleh, ikhlas, rela dan sujud akan mengantarkan pada jiwa yang tenang (muthma’inah). Sedangkan hati yang musyrik, munafik, ingkar, tinggi hati, kikir, riya’, iri, dengki dan sombong akan mengantarkan pada kelemahan jiwa yang masih gundah atau labil (lawwamah) bahkan jiwa yang pemarah (ammarah).

 

Matriks Kondisi Manusia

Lebih detail lagi jika dimatrikskan antara ruh, hati dan jiwa dapat dilihat pada tabel berikut;

Kondisi pertama, jika ruh tidak ada, manusia tidak ada. Ruh tidak ada bukan dalam pengertian mati, karena jika mati berarti manusia pernah ada.

Kondisi
kedua,
ruh ditiupkan berarti ada manusia. Jika hati menerima kebenaran serta jiwa pun mengekspresikan kebenaran itu, maka immateri manusia membawa materi manusia mengemban ayat Tuhan sebagai rasul. Manusia yang masuk dalam kondisi kedua ini termasuk insan kamil dan rahmatan lil’alamiin.

Kondisi
ketiga,
manusia yang hatinya menerima kebenaran tetapi jiwanya tidak mau menerima dengan berbagai alasan tertentu dan tidak mau menyampaikan dan menyebarkan kebenaran itu; dengan kata lain munafik. Bisa pula kondisi ini hatinya menerima kebenaran tetapi jiwanya tidak mampu mengungkapkan kebenaran karena beberapa keterbatasan logika yang mengandalkan otaknya.

Kondisi keempat, manusia yang hatinya menolak kebenaran atau belum bisa memahami dan menghayati hakikat kebenaran. Tetapi jiwanya berusaha mengatakan pembenaran tetapi tanpa dasar yang kuat.

Kondisi kelima, manusia yang hati dan jiwanya jelas-jelas menolak kebenaran dan sengaja mengakui bahwa dirinya atheis. Mereka yang masuk golongan ini hidup di dalam kemiskinan jiwa, kebodohan intelektual dan jahiliyah modern.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: