Bacalah 27. Keseimbangan Langit

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Mahasuci Allah, di tangan-Nya segala kerajaan,

Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, 1)

 

Yang menjadikan mati dan hidup

supaya Dia mengujimu siapa diantaramu yang lebih baik amalannya.

Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. 2)

 

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.

Kamu sekali-kali tidak melihat

ciptaan Tuhan Maha Pemurah yang tidak seimbang.

Maka lihatlah berulang-ulang,

adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang 3)

 

Lalu pandanglah sekali lagi

niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu

dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat

dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. 4)

 

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit terdekat

dengan bintang-bintang

dan Kami menjadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan

dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. 5)

 

QS. 67. al-Mulk (Kerajaan) 1-5

 

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat ciptaan Tuhan Maha Pemurah yang tidak seimbang. Maka lihatlah terus berulang-ulang, adakah kamu lihat yang tidak seimbang
3)

Jika mengambil satu kasus yang amat sederhana yaitu langit sebagai dimensi ruang angkasa di luar bumi terhampar tak berbilang bintang dan galaksi yang sangat seimbang dan stabil kedudukannya. Keseimbangannya dinamis karena semua bintang dan galaksi itu bergerak bahkan bertasbih kepada-Nya. Mereka menuju satu titik tauhid di mana semula diciptakan, yaitu diistilahkan black hole. Keseimbangan itu diwakili wujud bintang dan planet berupa bola raksasa sempurna. Filosofi bentuk bola atau lingkaran tiga dimensi merupakan cermin kesempurnaan dan keseimbangan. Bentuk bola mempunyai titik berat tepat di tengah, serta besarnya gravitasi pada masing-masing lapisan bola berjarak sama dari pusat titik berat, dan mempunyai energi potensial yang sama besarnya.

Jika sedikit melirik kasus yang agak kompleks yaitu langit sebagai lapisan Ilmu Tuhan yang mempunyai karakter sendiri-sendiri, maka di dalamnya juga terdapat hukum keseimbangan; misalnya hukum sebab akibat atau causality, hukum kekekalan energi dan kekekalan massa, dan lain-lain. Keseimbangan demi keseimbangan. Pada setiap Ilmu Tuhan, baik bola planet di angkasa luar maupun mahluk kecil berupa nyamuk di bumi, termasuk pada diri manusia, semuanya terdapat keseimbangan.

“Lalu pandang sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali padamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. 4)

Tujuh ‘Langit’ Ilmu Pengetahuan

Ciri khas yang sangat menonjol dari keseimbangan
(equilibrium) adalah bentuk yang simetri. Mahluk hidup yang diciptakan Tuhan semua simetris kiri-kanan. Bentuk lingkaran secara dua dimensi merupakan bentuk simetri dari semua sisi yang ditarik garis yang melewati titik pusatnya. Sementara, pada ruang tiga dimensi, bentuk bola (misalnya planet) sebagai simbol kesempurnaan, jika ditarik garis lurus atau bidang datar melewati titik pusat – dari manapun garis atau bidang ditarik – maka yang terjadi dari belahan itu adalah dua bentuk simetri. Jika analogi ini dikembalikan bagi manusia, setidaknya ia juga harus hidup seimbang, simetri antara hidup dunia-akhirat, lahir-batin, materi-immateri, pribadi-sosial, jasmani-rohani, fisik-mental, individu-sosial dan lain-lain.

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis…”

Pengertian langit jika ditafsirkan secara fisik universe yaitu melihat jauh ke angkasa luar dan pasti takkan terjangkau. Tetapi, jika langit yang tujuh diartikan sebagai batas pandangan mata (ilmu pengetahuan), maka terdapat tujuh (7) keterbatasan ilmu pengetahuan manusia yang berlapis-lapis, yaitu:

Pertama, pengetahuan langit 1 dalam arti sebenarnya yaitu ruang angkasa yang tak terbatas. Pengertian di atas langit ada langit secara fisika pasti ada karena ruang angkasa tak terbatas dengan segala lapisan dan dimensinya yang tak terbatas membuka segala kemungkinan logis. Hal itu sangat mustahil bagi manusia untuk membahasnya. Sehingga pada kajian ini hanya dibatasi pada langit 1. Di dalamnya tiada sesuatu yang tak seimbang. Keseimbangan dan kesempurnaan gerak materi yang ada konsisten menurut hukum alam. Ilmu yang mempelajarinya adalah (1) ilmu astronomi.

Kedua, setelah melihat ke ruang angkasa secara harfiah, maka untuk memanfaatkan benda-benda langit itu bisa sebagai informasi kalender dan lintang-bujur di bumi untuk menentukan titik posisi kapal, potensi energi (gravitasi) benda ruang angkasa dan lain-lain. Keberadaan ruang angkasa itu membutuhkan berbagai perhitungan yang diwakili oleh simbol atau angka. Perhitungannya didasari (2) ilmu matematika. Hitungan yang sederhana pada pendidikan dasar memberi kesan bahwa matematika adalah ilmu pasti. Tetapi pada pendidikan tinggi, matematika sudah bukan lagi ilmu pasti. Hubungan limitasi dalam kalkulus sampai bentuk tak terhingga (~) adalah wujud ketidak-pastian yang mencerminkan kesempurnaan obyek ciptaan Tuhan yang ditelaah oleh ilmu matematika.

Ketiga, selain menghitung secara statis, ilmu matematika membutuhkan pendamping untuk menghitung gerak dinamis yaitu (3) ilmu fisika. Gerakan yang kasat mata mudah dilihat manusia dihitung oleh mekanikanya Newton. Tetapi gerakan yang mendekati cahaya, sama dengan cahaya bahkan yang melebihi cahaya, fisika kuantum pun belum bisa menganalisanya. Ini bukti terbatasnya ilmu manusia dan kesempurnaan Ilmu Tuhan. Dalam ilmu fisika, bersama kimia, juga memperhitungkan berbagai energi yang dimiliki oleh matahari dan planit-planit di ruang angkasa.

Keempat, matematika dan fisika yang menghitung gerakan benda mati ternyata harus didampingi ilmu yang mengukur dan menganalisa gerak yang dilakukan mahluk hidup. Dengan demikian, ilmu itu juga harus mendalami spesifikasi yang dikandung mahluk hidup – termasuk dalam tubuh manusia. Ilmu yang menganalisa tentang mahluk hidup adalah (4) ilmu biologi. Jasad renik memerlukan mikroskop elektronik, padahal mahluk yang lebih kecil dari jasad renik masih ada yang belum terjangkau oleh biologi.

Kelima, dari interaksi yang terjadi pada benda mati dan benda hidup pasti menghasilkan berbagai dampak positif maupun negatif, baik energi maupun pola kehidupan baru yang dihasilkannya. Untuk memahami reaksi seperti ini maka perlu (5) ilmu kimia.

Keenam, interaksi benda mati dan hidup yang dipelajari dalam kimia akan timpang jika melupakan intraksi antar manusia yang akan melahirkan peradaban, termasuk interaksi antar cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dihasilkan manusia. Untuk itu, manusia perlu (6) ilmu sosial. Di dalam ilmu sosial ini adalah puncak sementara dari keseluruhan ilmu-ilmu sebelumnya. Karena produk akhir yang berinteraksi pasti menghasilkan dampak sosial. Sirkulasi sosial ini berlangsung secara terus menerus hingga mencapai tingkat kejenuhan, karena keenam ilmu ini membahas obyek yang bersifat jasmaniah, walau berukuran microkosmos hingga makrokosmos. Lalu manusia berusaha mencoba beralih ke obyek yang lebih bersifat non materi (immateri) seperti mengapa semua itu bisa terjadi? Maka jawabannya adalah (7a) ilmu filsafat.

Ketujuh, jika keenam ilmu di atas secara teknis menjawab bagaimana obyek ada, tiada, aksi, interaksi, reaksi dan seterusnya, maka manusia akan tiba pada pertanyaan mengapa semua terjadi? Ilmu filsafat yang membahas hal ini ternyata bertingkat pula, mulai filsafat materialistik seperti atheisme materialisme hingga yang immaterialistik seperti polytheisme, monotheisme, spiritualisme dan immaterialisme. Untuk membahasnya amat tidak mungkin karena keterbatasan ruang dan waktu. Dan jika manusia mau jujur, maka akhir dari semua ilmu filsafat adalah (7b) ilmu agama. Ilmu filsafat berasal dari pemikiran manusia yang bersifat mencari-cari dan kebenaran dan ilmu yang dihasilkannya sifatnya kebetulan; sedangkan ilmu agama yang berasal dari Tuhan bersifat memberikan kebenaran. Hakikat ilmu akan dibahas pada Kajian 32: Tentang Ilmu.

Ilmu agama bisa dikategorikan sebagai filsafatullah (filsafat Tuhan). Kebenaran yang diajarkan agama meliputi beberapa tingkat pula. Sebetulnya setiap cabang ilmu selalu ada tingkatannya, dan tiap tingkatan ada tingkatan. Sulit dibayangkan, bagaimana bentuk tingkatan demi tingkatan tersebut, apalagi pada setiap tingkatan masih terdapat lapisan demi lapisan. Seperti teori cahaya atau suara, di mana sumber cahaya atau suara menimbulkan lingkaran bola dan pada permukaan bola terdapat tidak terhingga cahaya atau suara baru yang berfungsi sumber cahaya / suara baru. Demikianlah jika reaksi berantai berjalan seterusnya. Ini pengertian yang sangat kompleks.

Secara skematis, tingkatan ilmu dapat dilihat pada gambar di bawah:

“…Kamu sekali-kali tidak melihat ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang 3)

Keseimbangan adalah syarat mutlak adanya kestabilan suatu sistem. Dalam ilmu fisika, atau tepatnya teori mekanika klasik, yang dipelopori oleh Sir Isaac Newton (1642-1727) yang menulis buku “Philosophiae naturalis principia mathematica – ilmu pengetahuan berdasar prinsip matematika,” menyusun Hukum Newton, yaitu: (1) Jika percepatan (a) sama dengan nol (acceleration = 0, a=0), maka suatu benda akan diam atau bergerak dengan kecepatan tetap atau constant (velocity = constant, v=c), (2) Jika percepatan constant (acceleration = constant, a=c), maka benda bergerak dipercepat beraturan, (3) Suatu benda diam akan menerima gaya reaksi sejumlah gaya berat benda itu sendiri tetapi dengan arah gaya berlawanan. Secara umum Gaya Aksi = Gaya Reaksi. Ini dikenal dengan Hukum Keseimbangan.

Keseimbangan ada dua macam yaitu (1)
Keseimbangan Statis yang dimiliki oleh benda diam dan (2)
Keseimbangan Dinamis yang dimiliki oleh benda bergerak. Keseimbangan ini jika dikembangkan akan mengarah pada keseimbangan gerak rotasi, revolusi, massa, energi dan seterusnya. Dari skala makro, hal itu ada pada benda-benda langit yang bergerak secara rotasi menurut sumbunya, bergerak rotasi mengelilingi inti gugusan galaksi serta mempunyai massa dan energi.

Galaksi Milky Way – di mana bumi berada – diperkirakan terdiri dari sekitar 100 milyar bintang. Alam semesta sendiri diperkirakan terdiri dari 125 galaksi dengan tak terhingga bintang! Jika sistem milyaran galaksi ini tidak seimbang, maka yang terjadi adalah distabilitas sistem, perbenturan antar planaet, antar benda langit yang sangat dasyat tak terbayangkan.Oleh oistilah agama, distabilitas sistem universe ini adalah kiamat. Benda-benda langit akan saling berbenturan, menimbulkan ledakan dan energi yang tak terbayangkan dasyatnya. Untuk menjaga keseimbangan sistem, universe itu, Tuhan “meninggikan” langit dengan berbagai gaya yang seimbang. Gaya antar planit-planit yang tidak terlihat mata disebut “langit tanpa tiang”.

Tuhan pun menyelenggarakan gerak-gerik di bumi, populasi dan rezeki binatang hingga nyamuk dan semut, serta tumbuhan hingga hal-hal kecil seperti sehelai daun gugur. Semuanya dengan keseimbangan (equilibrium). Tetapi usia keseimbangan itu telah ditentukan waktunya sehingga seluruh sistem universe ini menuju satu titik kiamat. Allahu Akbar…

Firman Tuhan pada QS. 13. ar-Ra’d (Guruh) 2-4, “Tuhan meninggikan langit tanpa tiang (seperti) kamu lihat, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang telah ditentukan. Tuhan mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu.2) Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Tuhan menutupkan malam pada siang. Sesungguhnya yang demikian tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi kaum yang memikirkan.3) Dan di bumi terdapat bagian-bagian berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanaman dan pohon korma bercabang disirami air oleh yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman atas tanaman yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.4)

Yang dimaksud “langit tanpa tiang” adalah gaya dan energi potensial seluruh benda langit menjaga keseimbangan sebagai satu sistem universe. Gaya dan energi ini tak terlihat mata telanjang, tetapi dilihat oleh ilmu. Tiang gaya dan energi berfungsi sebagai penyangga agar tidak berbenturan. Tetapi seluruh benda langit itu ‘berjalan’ menuju titik kehancuran yang dinamakan kiamat yang menjelaskan “supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu”.

Yang dimaksud “menundukkan matahari dan bulan” adalah kedua mahluk bernama matahari dan bulan “berjalan” sesuai bidang edarnya, waktu periodik konsisten untuk dimanfaatkan manusia sebagai perhitungan. Yang dimaksud “berpasang-pasangan” adalah suatu simbol keseimbangan atau kestabilan. Ada kiri-kanan, kaya-miskin, kuat-lemah, positif-negatif, tua-muda, sudah-senang, takut-berani, setan-malaikat, surga-neraka, dan seterusnya… yang pasti ia mempunyai pasangan sebagai keseimbangan.

Firman Tuhan pada QS. 41. Fush Shilat (Yang Dijelaskan) 9-12, “Sesungguhnya patutkah kamu ingkar pada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya. Demikian itu Tuhan semesta alam”.9) Dan Dia menciptakan di bumi gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia tentukan padanya kadar makanan-makanan dalam empat masa. (Penjelasan) bagi mereka yang bertanya.”10) Lalu Dia menuju langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia berkata padanya dan pada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Jawabnya: “Kami datang suka hati.”11) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia wahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit terdekat dengan bintang-bintang cemerlang dan Kami memelihara sebaik-baiknya.”12)

Bahasan akhir QS. 41:9-12 tersebut di atas merupakan penjelasan langit secara ilmu astronomi. Yang dimaksud “menjadikannya tujuh langit dalam dua masa” dan dikaitkan dengan “Kami menghiasi langit yang terdekat dengan bintang-bintang cemerlang”, maka kejadian langit yang terdekat itu (langit ke-1) diciptakan dalam satu masa dan langit lebih jauh (langit ke-2 hingga langit ke-7) diciptakan dalam satu masa sesudahnya.

Tafsir demi tafsir, pemahaman demi pemahaman… banyak berusaha menjelaskan ayat Tuhan, baik secara lugas maupun kias. Dari yang paling sederhana maupun yang paling kompleks dengan menggunakan simbol atau bahasa puisi yang mengandung banyak apresiasi. Akhirnya kebenaran hakiki kembali kepada Tuhan yang Mahabenar. Tetapi benang merah yang ditarik dari semua tafsir yang ada adalah keseimbangan mutlak.

Keseimbangan selain bermakna fisis seperti di atas, juga bisa meliputi keseimbangan psikis sebagai senyawa keseimbangan intelektual (IQ), emosional (EQ), spiritual (SQ). Keseimbangan ini menjadi tujuan hidup bagi setiap manusia yang bisa membentuk insan kamil, rahmatan lil ‘alamiin. Kajian mengenai keseimbangan intelektual, emosional dan spiritual ini dibahas pada Kajian 32: Tentang Ilmu.

Tahapan “Langit” dalam Ilmu Agama

Pembahasan soal langit memang membuka peluang kajian tak terbatas. Di atas langit ada langit, langit demi langit. Setiap langit tidak terbatas, setiap cabang ilmu pengetahuan juga tidak terbatas. Setiap langit berlaku hukum tertentu, demikian pula setiap cabang ilmu pengetahuan juga berlaku hukum tertentu – apalagi “langit” di dalam ilmu agama. Beberapa tingkatan atau tahapan di dalam agama, misalnya bisa disebutkan “langit” tahapan syari’ah, tarekat, hakikat dan ma’rifat. Hebatnya, pada setiap cabang ilmu – baik ilmu sekuler maupun ilmu agama – pembahasan itu tidak akan pernah selesai sampai kapan pun karena ketidak-terbatasannya.

Penjelasan tingkatan atau tahapan ini secara harfiah sulit, bahkan mungkin tidak bisa dijelaskan melalui rangkaian kata. Maka, untuk mendekati pengertian seutuhnya, dipakailah penjelasan simbolis seperti Tuhan menjelaskan fenomena metafisik atau hal sulit dijangkau oleh logika manusia melalui simbol atau perumpamaan seperti berikut:

Tahapan syari’at mebicarakan soal rukun dan/atau hukum peribadatan. Perumpamaan pertama, pada tahapan ini seperti orang-orang yang sedang membicarakan bekal sebelum berangkat rekreasi atau akan mengunjungi sahabat karibnya di suatu tempat yang jauh, yang sudah lama tidak bertemu. Dilakukanlah pembicaraan soal bekal yang harus dibawa sebelum berangkat. Para peserta kuatir lapar dan haus di tengah jalan, sehingga banyak bekal yang harus dibicarakan; serta berapa macam dan jumlah bekal harus dibawa. Perumpamaan kedua, tahapan ini masih berada pada dasar gunung yang pemandangannya amat terbatas.

Tahapan tarekat membicarakan soal rute, jalan atau cara peribadatan yang bersifat lebih khusus. Perumpamaan pertama, tahapan ini seperti kelompok tadi yang sudah merencanakan jalan atau rute yang akan dilewati pada perjalanan panjang tersebut. Apakah lewat jalur panjang, jalur lambat, yang berpemandangan indah atau memotong lewat by-pass atau tol yang cepat tetapi pemandangannya lebih sedikit. Perumpamaan kedua, kelompok yang akan melakukan perjalanan ini sudah mulai mendaki gunung.

Tahapan hakikat sudah dalam perjalanan dan mulai membicarakan sifat dari sahabatnya yang telah sangat dikenalnya dulu, yang bersifat khusus. Perumpamaan pertama, tahapan ini seperti kelompok wisata di atas yang sudah mulai mengingat kembali sifat-sifat sahabatnya karena mereka sudah lebih dari separoh perjalanan. Semakin dekat dengan sahabatnya itu, rasa rindunya semakin membuatnya ingin segera bertemu. Perumpamaan kedua, kelompok ini sudah pada ketinggian yang cukup untuk melihat berbagai pemandangan indah, tetapi angin yang berhembus mulai agak kencang.

Tahapan
ma’rifat
ternyata amat sedikit pembicaraan soal pernik-pernik sifat sahabatnya, bahkan hampir tak ada sama sekali, karena sudah kelihatan lahan rumahnya. Perumpamaan pertama, kelompok wisata sudah sampai wilayah tempat tujuan. Halaman rumah sahabatnya luas sekali, dihiasi pehononan, buah, sungai, air terjun dan pemandangan yang indah menawan. Banyak pengunjung yang terpesona dan sedikit yang ingat akan keinginan bertemu dengan sahabat karibnya. Perumpamaan kedua, kelompok ma’rifat sebagian kecil sekali mencapai puncak gunung. Banyak pemandangan indah yang dijangkau oleh mata, sejauh mata memandang.

Tahapan demi tahapan dilalui oleh pelaku perjalanan batin atau suluk (pelakunya disebut salik) yang membuatnya memahami rahasia kehidupan. Semakin tinggi seperti naik puncak gunung tertinggi di dunia. Banyak pemandangan indah dilihatnya dari puncak. Tetapi banyak angin kencang dan udara dingin. Resikonya, semakin tinggi ia naik, akan semakin keras jika ia jatuh karena tidak hati-hati atau sembrono.

Panah Api di Langit

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit terdekat dengan bintang-bintang dan Kami menjadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. 5)

Ayat ini bersesuaian Firman Tuhan QS. 72. Jinn 8-9, “Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami (jin) mendapatinya penuh penjagaan kuat dan panah-2 api, dan sesungguhnya kami dulu telah dapat menduduki beberapa tempat di langit untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa saja yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”

Pada kajian ini lebih ditekankan pada langit pertama yang dihiasi dengan bintang-bintang sudah jelas tampak dan bisa dilihat pada foto-foto astronomi yang sangat menakjubkan. Di dalamnya sering dijumpai komet yaitu bintang atau pecahan bintang atau benda langit bercahaya karena kandungan gas. Ia tampak berekor karena kecepatannya bergerak sehingga meninggalkan cahaya di belakangnya. Jika pandangan pada malam hari yang cerah di salah satu tempat di bumi yang tidak banyak lampu, maka di langit tampak seperti kabut yang sebenarnya terdiri dari milyaran gugusan bintang dan galaksi. Sesekali di sana tampak bintang beralih yang sangat menakjubkan keindahannya.

Secara astronomi, fenomena bintang beralih atau komet adalah suatu hal biasa karena ia terlepas dari orbitnya. Tetapi secara religi, seperti tersebut pada kedua ayat di atas, bintang-bintang tampaknya seperti panah-panah bola api mengejar jin yang sedang mencuri dengar pembicaraan langit.

Jika ditelusuri lebih lanjut, akan semakin membuka pertanyaan baru. Misalnya; pembicaraan langit yang mengatur skenario kehidupan itu dilakukan oleh siapa? Apakah antara Tuhan dengan malaikat? Ataukah antara Dewan Malaikat? Jika komet itu tampak oleh mata, seharusnya jin yang dikejar itu juga harus ditampakkan kepada mata yang memandangnya. Pembahasan itu belum bisa terjawab secara memuaskan.

Kini tafsir tersebut dialihkan secara simbolisme. Definisi langit seperti telah teruraikan menjadi 7 lapis ilmu pengetahuan mulai astronomi, matematika, fisika, biologi, kimia, sosiologi dan filsafat/agama, sebenarnya telah “menyatu” di dalam tubuh manusia baik secara fisik apalagi metafisik.

Panah-panah api di langit seperti pada QS. 67. al-Mulk (Kerajaan) 5 dan QS. 72 Jinn 8-9, di dalam kosmologi manusia sering terjadi pada manusia yang berproses mencari hakikat diri yang senantiasa mengikatkan tauhid pada Tuhan. Setan yang mengilhami kesesatan manusia melalui panca inderanya, mempengaruhi hatinya; jika ia mengikatkan tauhid pada Tuhan, maka dari inti kalbunya memancar panah-panah api mengejar setan yang mencuri dengan pembicaraan langit kosmologi manusia (hawa murni bisikan hati nurani) dan akan merusak keseimbangan dirinya.

Jika terkait arti “bintang-bintang” pada QS. 67. al-Mulk (Kerajaan) 5 – yang oleh A. Hassan (hal. 120) ditafsirkan sebagai “pelita-pelita” (jamak: mashaabiiha = lamps) – dengan “pelita” pada QS. 24. an-Nuur (Cahaya) 35 (tunggal: mishbaahun = lamp), maka mulai tampak ada keterkaitan. Pada tahap awal (langit terdekat) manusia mencari hakikat dirinya, maka pelitanya mulai memancarkan kuanta-kuanta iman-tauhid (sebagai panah-panah api) mengejar atau menembus kegelapan-kegelapan (simbol dari setan) di seluruh relung hati. Jika proses ini semakin meningkat, maka pelita akan menerangi seluruh penjuru kosmos manusianya (insaniyah).

Langit dalam Peristiwa Mir’aj

Pembahasan langit tidak lepas Peristiwa Isra’ Mi’raj. Firman Tuhan pada QS. 17. al-Israa’ (Perjalanan Malam Hari) 1, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan padanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami….”

Firman Tuhan pada QS. 53. an-Najm (Bintang) 6-18, “…Maka apa kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril (dalam rupanya yang asli) pada waktu lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad lihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi sesuatu meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya paling besar.” Bahasan akhir QS. 53:6-18 ada pada Kajian 37: Surga dan Neraka.

Kebanyakan tafsir penjelasan isra mi’raj secara dimensional ruang-waktu dengan menyajikan perbandingan-perbandingan seperti lalat naik pesawat dari Jakarta menuju Mekkah, menghitung kecepatan cahaya – bahkan lebih dari itu, perintah sholat langsung dari Tuhan melalui proses langit demi langit, “tawar-menawar” jumlah rekaatnya dari beberapa nabi yang bersemayam di setiap lapis langit (yang bagi penulis masih diragukan) dan seterusnya.

Jika perjalanan malam dari Mekkah ke Palestina (isra’) sangat rasional dan bisa diterima logika jika dijelaskan oleh angka dan perbandingan fisik lain karena Mekkah dan Palestina memang terhampar pada dimensi ruang dan waktu di bumi. Tetapi perjalanan menuju Sidratul Muntaha (mi’raj) sebagai “tempat paling ghoib” yang sangat supra natural, jauh di luar batas logika manusia, pastilah tidak mungkin dijelaskan melalui kata-kata yang sangat terbatas maknanya.

Satu hal yang pasti bahwa hasil Mi’raj Rasulullah Muhammad adalah perintah sholat lima waktu sehari. Sehingga bisa disimpulkan, bahwa sholat merupakan mi’raj bagi umat Rasulullah Muhammad untuk menghadap Tuhannya. Dengan sholat yang khusyu’, sedemikian khusyu’, maka umat Rasulullah Muhammad akan bisa “merasakan” hakikat mi’raj sebenarnya. Sehingga ia tidak akan memperdebatkan lagi soal bagaimana mi’raj terjadi karena ia sendiri akan “merasakan” hakikat mi’raj melalui sholatnya. Ia telah mencapai taraf keseimbangan batin, memahami hakikat diri dan tubuh. Ia akan “melihat” rupa Jibril yang asli, ia sampai di Sidratul Muntaha dan merasakan nikmatnya surga di dekat Sidratul Muntaha.

Pada akhir QS. 17:1 dilanjutkan, “Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya paling besar…” ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: