Bacalah 26. Tuhan Bersama Kita

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Tidakkah kamu perhatikan,

sesungguhnya Allah tahu yang ada di langit dan di bumi.

Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, selain Dia yang keempat.

Dan tiada lima orang,selain Dia yang keenam.

Dan tiada pembicaraan antara yang kurang dari itu atau lebih banyak,

selain Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada.

Lalu Dia akan memberitahukan pada mereka di hari kiamat

apa-apa yang telah mereka kerjakan.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala suatu. 7)

 

QS. 58. al- Mujaadilah (Wanita yang Menggugat) 7

 

 

MASYARAKAT modern lebih sekuleristik-hedonis dengan memanfaatkan hi-tech. Kehadiran atau upaya menghadirkan Tuhan sangat sulit dilakukan. Selain kesibukan sarat kegiatan duniawi, sejak kecil pun ia telah berkubang sekulerisme dan kurang ditanamkan spiritualisme. Sehingga untuk merasakan adanya kehadiran Tuhan di mana pun ia berada tampaknya sulit ia rasakan.

Dengan meninggalkan atau kehilangan fitrahnya, manusia akan benar-benar kehilangan pegangan dan kendali ketika ia sendirian, stres akibat beban kerja yang berat, berbagai masalah keluarga dan rekan sejawat, terpuruk masalah sosial dan ekonomi, serta berbagai masalah lainnya kehidupan di lingkungan kerja dan pergaulannya. Jika tidak mampu mengendalikan instabilitas jiwanya itu, dampak yang ditimbulkan sangat besar, mulai berdiam diri hingga bunuh diri atau membunuh secara sadis orang-orang di sekitarnya yang dibenci mungkin karena dendam, iri hati, cemburu dan lain-lain.

Pola hidup masyarakat modern (modern-society) sedikit banyak telah menyimpang dari kaidah keagamaan yang tulus dan mulia. Tulus artinya hubungan antara manusia dilakukan atas dasar kasih sayang dan keikhlasan berinteraksi. Mulia artinya nilai interaksi harus memperhatikan akal budi dan norma sosial-keagamaan lainnya.

Ketulusan masyarakat modern ternyata tidak lepas dengan “kefulusan”. Kapitalisme merombak segalanya atas dasar jual beli dengan uang, baik secara langsung atau tidak. Pekerjaan mulia guru dan dokter kehilangan nilai sosialisme dan humanisme. Kepentingan agama pun dijual-belikan karena bernilai ekonomi tinggi; misalnya soal busana atau mode, komersialisasi ibadat umroh-haji, masjid untuk kepentingan politik, lembaga atau partai agama yang menyimpang dari nilai keagamaan, ceramah agama sebagai tontonan yang “dimanajemeni tarif” sudah tidak lagi sebagai tuntunan, entertainment keagamaan di sejumlah media terutama televisi menjelang dan selama puasa Ramadhan dan lebaran Idul Fitri, dan lain-lain.

Kemuliaan manusia yang seharusnya homo sapient telah tergeser oleh homo homini lupus akibat tekanan ekonomi. Sifat keji menyulut manusia sehingga kehilangan hati nurani. Hal itu tidak saja dilakukan preman jalanan, tetapi juga oleh eksekutif berdasi dan orang-orang kantoran. Banyak orang yang kaya harta tetapi miskin hati karena kehilangan nurani. Perasaan tenang dan damai sulit dirasakannya meskipun ia berolah raga mahal atau berlibur jauh ke luar negeri dengan biaya sangat mahal, karena ruang hati sempit dan jiwa yang picik masih mencekam perasaannya.

Sebagian kecil masyarakat modern melewati masa-masa sulit dengan melirik spiritualisme. Bahkan ada yang langsung melintasi “jalan tol religi” dan berkecimpung dalam pengajian tasawuf. Tetapi banyak di antaranya terasa eksklusif karena belum bisa melepas baju keduniawiannya sehingga upayanya relatif sia-sia (mubazir).

Rumus (n+1) dan Konsekuensinya

“…Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang selain Dia yang keempat. Dan tiada lima orang selain Dia yang keenam. Dan tiada pembicaraan antara yang kurang dari itu atau lebih banyak selain Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. …”

Pemberitahuan di atas amat menyentuh lubuk hati paling dalam (deeper-inner space). Tuhan telah memastikan selalu setia mendampingi hamba-hamba-Nya di mana keberadaannya dan bagaimana pun keadaannya. Dengan rumus (n+1), di mana n adalah jumlah orang dan 1 adalah Tuhan, pasti Tuhan selalu mendampingi hamba-hamba-Nya.

Dengan kehadiran Tuhan melalui rumus n+1 pada ayat di atas, maka konsekuensinya adalah: (1) tiada pembicaraan rahasia; harus transparan, jujur, terbuka, (2) tidak merasa kesepian; harus tenang, damai, bahagia.

Orang yang sangat mengenal Tuhan dengan sendirinya akan menyadari dan merasakan kehadiran-Nya. Ia takkan pernah merahasiakan sesuatu pada orang lain dan dirinya, apalagi pada Tuhan. Tidak merahasiakan berarti pula tidak membohongi. Sehingga konsekuensinya ia pasti tidak akan munafik sebagai salah satu kunci keimanan.

Orang yang mengenal Tuhannya, dengan menyadari dan merasakan kehadiran-Nya, takkan pernah merasa sendiri dan sepi. Karena ia setiap saat, di mana saja, kapan saja, situasi dan kondisi bagaimana pun Tuhan selalu bersamanya. Sebaliknya, jika ia berada di tengah kerumunan manusia yang memperbincangkan selain Dia, hamba itu justru merasa sepi secara hakiki.

Masyarakat modern sebaliknya mencari keramaian dan banyak teman untuk mengatasi kesepiannya, baik sebagai teman usaha atau bisnis, atau untuk sekedar ngobrol, gaul maupun curhat. Interaksi dilakukannya mulai antara dua orang sahabat atau sepasang kekasih untuk curhat hingga diskusi di dalam suatu kelompok, seminar dan forum lainnya yang melibatkan lebih dari dua orang. Begitu pula eksekutif yang menikmati kesibukan profesional. Mereka tampak penting dan dibutuhkan jika hand phone sering berdering dan meeting yang padat setiap hari, banyak jadwal presentasi, sibuk mencari peluang bisnis dan aktifitas lainnya, dan… tak bisa diam.

Menilai seseorang seharusnya tidak dilihat dari sisi penampilan fisik, eksklusif dan gaya bicara persuasif; karena penilaian itu bisa dibuat-buat dan menipu pandangan dan pendengaran. Teori manajemen khusus menilai karakter orang dari sikap diamnya. Karena dari sikap diamnya akan terlihat apakah pandangan matanya mencerminkan ekspresi jiwanya yang matang atau tidak matang dalam bekerja dan mengemban tanggung jawab.

Seorang yang matang spiritual atau secara spesifik sebutlah ulama sufi, akan lebih menikmati kesendirian tetapi hatinya senantiasa bersama Tuhan. Dengan “kesendirian”nya itu, banyak hal yang bisa dilakukannya bahkan tak terhitung jika diperinci detail satu per satu. Bisa dibayangkan berapa lama jika ia memulai beribadat sholat, mengaji dan memutar tasbih. Berjam-jam ia takkan pernah selesai menikmati aktifitas spiritual itu.

Jika fisiknya lelah ingin menyegarkan badan dan alam pikiran, maka refreshing and travelling cukup berjalan santai menikmati terik matahari, desiran angin, percikan air, kicauan burung dan suara alam lainnya di luar rumah atau tidak jauh dari rumahnya. Tanpa banyak bicara ia hanya berjalan menikmati lingkungan sekitarnya. Apa pun pemandangan di sekitarnya, itu sudah menjadi hiburan baginya, menyegarkan badan dan alam pikirannya. Semua itu merupakan persembahan Tuhan untuknya. Apa pun pemandangan misalnya anak-anak main gundu di halaman, atau tukang sayur menjajakan barang dagangan, atau hanya sekedar melihat kerumunan anak ayam dan induknya yang sedang makan cacing atau beras yang ditebarkan. Baginya itu semua sudah kenikmatan luar biasa.

Semua aktifitasnya adalah ibadat. Menjelang istirahat tidur pun setelah lewat malam atau sehabis subuh, ia merebahkan diri; tetapi jari tangannya tidak lepas memutar tasbih hingga ia tertidur.

“Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu soal Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat…” (QS 2:186)

Baginya Tuhan sangat dekat untuk segala macam tinjauan dan urusan termasuk untuk soal hiburan – detailnya pada Kajian 2: Dekatnya Tuhan. Kedekatan Tuhan bukan saja untuk hal serius dan perlu kajian tasawuf. Kedekatan Tuhan juga untuk hal-hal sepele misalnya ketika hamba-Nya membutuhkan curhat atau hiburan seperti ulama sufi tadi. Baginya mencari hiburan dengan Tuhan tak perlu jauh dan mahal misalnya Swiss atau Hawaii. Cukuplah di sekitar di mana ia berada yang sudah bisa membuatnya terhibur, jika dan hanya jika, ia bisa merasakan dekatnya Tuhan dengan dirinya.

Sebaliknya, jika di kerumunan dan keramaian hiruk pikuk manusia, suara hingar-bingar, riuh-rendah, gegap-gempita akan sedikit banyak bisa mempengaruhinya, dan mengalihkan perhatiannya dari Tuhannya. Diskotik misalnya; suara DJ dan house music yang membisingkan telinga, serta gerakan disko berjingkrak-jingkrak bagi orang gaul atau dugem metropolis merupakan hiburan trendy; tetapi bagi ulama sufi semua itu malah membikin kepalanya pusing dan sakit hati.

Banyak sisi berlawanan antara orang yang sudah mengenal Tuhannya dengan mereka yang masih awam dan terasing pada materialisme.

Ulama Sufi dan Orang Modern-Sekuler

Musik yang menghibur ulama sufi adalah suara alam seperti air, angin, hujan, guruh, kicauan burung dan binatang lain, dan lain-lain. Hiburan visualnya bukan bioskop atau video; tetapi bentangan alam di depan mata. Ia tidak tertarik dengan kemajuan yang sekuler. Ia lebih memilih berdiam diri, menghitung amal perbuatannya dan mendekatkan diri pada Tuhan dengan cara dan perilaku peribadatan secara murni dan konsekuen. Itulah ulama sufi yang tulus dan mulia, teguh menjalankan ibadat yang khusyu’ karena ia tidak begitu menyukai dunia yang fana atau tajarrud ‘anid-dunya. Sedangkan, orang modern sekuler cenderung pamrih, jauh dari etika, sering munafik, malas menjalankan ibadatnya dan sedikit sekali mengingat Tuhannya karena cintanya pada dunia atau hubbud-dunya.

Demikianlah jika seseorang sudah mengenal dekat Tuhannya. Hidupnya terasa lebih nikmat karena ia selalu berdekatan dan berdekapan dengan Tuhannya. Ada ayat lain menyinggung keberadaan Tuhan, agar ia senantiasa ingat pada-Nya. Firman Tuhan pada QS. 57. al-Hadid (Besi) 4,

“Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Lalu bersemayam di atas ‘arsy, Dia mengetahui yang masuk ke dalam bumi dan yang ke luar daripadanya dan yang turun dari langit dan yang naik kepadanya. Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa saja yang kamu kerjakan.”

Pembagian “Raport”

“Lalu Dia akan beritahukan pada mereka di hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala suatu. 7)

Setelah menjalani kehidupan fana di dunia, maka pada hari kiamat kelak antara ulama sufi dengan orang-orang modern-sekuler juga sangat banyak perbedaan soal perhitungan amal perbuatannya. Bagi ulama sufi, pemberitahuan dan perhitungan amal perbuatannya yang menyangkut materi kebendaan dunia yang dilakukan malaikat terhadapnya, sangat sedikit karena ulama sufi relatif tidak memiliki materi kebendaan dunia yang melekat pada dirinya. Sedangkan pemberitahuan dan perhitungan amal saleh menyangkut akhlaq, perilaku, pandangan, pendengaran dan lisan sangat banyak yang bernilai mulia karena sepanjang hidupnya untuk beribadat kepada Tuhan.

Seakan Tuhan berfirman pada malaikat; “Hai, malaikat, ini hamba-Ku yang semasa hidupnya banyak beribadat kepada-Ku. Ia mencintai Aku setulus hati, jiwa dan raga, merindukan-Ku sepanjang malam hari, di dalam sholatnya, zikirnya dan puasanya… dan seluruh ibadatnya. Ia dulu merindukan-Ku, kini Aku merindukannya. Biarlah ia langsung kepada-Ku dan Aku akan mengurusnya…”

Sedang orang modern-sekuler yang selama hidup di dunia menumpuk harta kekayaan, membangun maksiat dengan sekulerisme dan hedonismenya banyak pula kebendaan dunia yang melekat padanya dan amat sedikit spiritualisme yang dijalaninya. Sehingga pada hari kiamat kelak, para malaikat memberitahukan apa-apa yang telah mereka kerjakan di dunia.

Perhitungan malaikat banyak sekali sebanyak harta benda yang dimiliki orang modern-sekuler di dunia. Pertanyaan malaikat misalnya; “Dari mana hartamu kamu peroleh? Kamu belanjakan ke mana, untuk apa, pada siapa? Bagaimana perhatian pada keluarga, anak dan istrimu? Ke mana kakimu melangkah, matamu memandang, telingamu mendengar? Berapa orang yang kamu rugikan akibat ulah keserakahan-kemunafikanmu…” Jika hartanya diperinci satu persatu, maka perhitungan malaikat akan sangat lama.

Tuhan kemudian seakan berfirman kepada malaikat; “Mereka adalah kaum yang dholim. Hidupnya di dunia hanya mencari harta kebendaan dan kesenangan semu. Mereka sedikit memikirkan Aku, sehingga hari ini Aku tidak akan memikirkannya. Uruslah mereka, wahai malaikat-Ku. Selama hidup di dunia mereka hampir sama sekali tidak pernah menjenguk-Ku. Maka pada hari ini Aku juga tidak akan menjenguk-Nya…”

Sesungguhnya telah banyak pelajaran dari Tuhan di dunia. Pelajaran paling mengena adalah jika mereka melihat kematian. Apa yang dibawa dari benda dunia? Tak ada! Mereka yang mengaku profesionalisme pun ternyata tidak menghiraukannya. Bekal intelektualnya justru semakin menjauhkannya dari Tuhannya. Kesenangan semu demi kepuasan semu diperolehnya dari kebendaan dunia yang tidak bisa menyelamatkannya pada hari kiamat kelak.

Que sera-sera, whatever will be will be…***

 

Puisi 20:

Sama Saja Kok…

 

Kata orang bijak,

Ilmu pengetahuan itu berasal dari:

Data, Informasi, Teknologi dan berakhir pada Kebijaksanaan

Kebijaksanaan, bukankah itu juga… Keseimbangan…

Kebijaksanaan… Keseimbangan… Kesederhanaan…

Ketiganya sama saja kok…

 

Samarinda, 10.10.06 (18 Ramadhan 1427 H)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: