Bacalah 25. Bencana di Bumi

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Tiada sesuatu bencanapun menimpa di bumi

dan (tidak pula) pada dirimu

selain telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh)

sebelum Kami menciptakan.

Sesungguhnya yang demikian mudah bagi Allah. 22)

 

(Kami jelaskan demikian itu) supaya kamu jangan duka cita

terhadap apa yang luput dari kamu

dan supaya kamu jangan terlalu gembira

terhadap apa yang diberikan-Nya padamu.

Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi bangga diri. 23)

 

(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir.

Dan siapa berpaling (dari perintah Allah),

sesungguhnya Allah, Dialah Mahakaya lagi Maha Terpuji 24)

 

QS. 57. al-Hadid (Besi) 22-24

 

Macam Bencana

“Tiada sesuatu bencanapun menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu selain telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakan. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. 22)

Ada rahasia di sini yang dikemukakan bahwa semua kejadian yang ada di muka bumi itu telah tertulis di Lauh Mahfuzh, jauh sebelum diciptakan elemen-elemen pembuat kejadian itu. Istilah agama menyebutkan peristiwa yang belum terjadi disebut qadha’ dan yang telah terjadi adalah taqdir. Banyak orang pesimis terhadap qadha’ dan taqdir yang tidak bisa dihindari; karena kesalahan “membaca” hakikat taqdir yang baginya bersifat negatif. Tetapi Bagi Tuhan, taqdir satu adalah banyak, dan yang banyak adalah satu; sehingga orang bisa berikhtiar menentukan taqdir yang ia kehendaki sendiri.

Bencana bagi banyak orang menafsirkan sebagai taqdir negatif. Tetapi bagi orang yang telah ma’rifat, bencana masih mempunyai nilai positifnya. Pada hakikatnya setiap bencana, apapun bentuk bencana itu, pastilah mempunyai hikmah yang terkandung di dalamnya. Dan kejadian bencana itu pun terjadi akibat ulah manusia sendiri. Tuhan “hanya” memberlakukan hukum alam yaitu causality (sebab-akibat).

Beberapa macam bencana terkait dengan bumi dan manusia, bisa disebabkan oleh:

(1) Bencana dari luar angkasa misalnya jatuhnya meteor,

(2) Ketidak-seimbangan alam karena ulah manusia sendiri (jangka panjang),

(3) Kecerobohan manusia yang teknis/psikis – human error (jangka pendek),

(4) Bencana dari diri manusia seperti stress dan penyakit hati-jiwa lainnya, dan

(5) Cobaan dari Tuhan.

Yang perlu digaris bawahi di sini bahwa semua rahmat dan laknat (bencana) semuanya sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Dengan bijaksana Tuhan mengingatkan agar bencana atau musibah yang ditimpakan kepada suatu kaum dan kebetulan menimpa orang yang beriman, tidak membuat orang beriman itu menjadi duka cita. Sebaliknya, janganlah laknat atau bencana yang luput darinya, terlalu membawa diri senang atau sombong. Bersikap biasa dan selalu berdoa untuk kebaikan bersama adalah jalan keluar terbaik, terlebih lagi meningkatkan sikap yang qonaah, istiqomah serta terus bermunajat kepada Tuhan untuk bisa mengambil hikmah dari musibah yang diberikan kepadanya agar ia semakin meningkatkan iman dan taqwanya

Semua rahmat dan laknat (bencana) yang menimpa atau luput dari manusia hendaklah selalu menjadikan mereka ingat kembali kepada Tuhan dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya.

 

Soal Takdir

“(Kami jelaskan demikian itu) supaya kamu jangan duka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya padamu…23)

Bagaimana sikap paling baik, kaum yang mengimani Tuhan, terhadap bencana yang menimpa suatu kaum bahkan kaum yang ingkar sekali pun? Ternyata bencana itu sebagai mediasi untuk introspeksi, atau koreksi terhadap diri sendiri (self correction) jika bencana menimpa dirinya. Tetapi, jika bencana tersebut menimpa orang atau kaum yang lain, sikap terbaik yang harus diambil oleh orang yang beriman dan bertaqwa, yaitu: pertama, tidak “bersyukur” atas kaum yang tertimpa bencana; kedua, jangan terlalu gembira atas bencana yang luput darinya.

Bencana sebagai cobaan biasa diartikan negatif bagi masarakat umum, misalnya pada Firman Tuhan QS. 2:155-157: “Dan sesungguhnya Kami akan memberikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kurang harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar, 155) (yaitu) orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka ucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. 156) Mereka itu mendapatkan keberkatan sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka adalah orang-orang yang dapat petunjuk.157)

Pada ayat yang lain, yaitu pada Firman Tuhan QS. 7:155-1546, Tuhan menjelaskan ada hamba-hamba-Nya yang menyikapi bencana, musibah atau cobaan itu secara bijaksana, “… Itu hanya cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk siapa yang Engkau kehendaki. Engkau yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah pemberi ampun sebaik-baiknya. 155) Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) pada Engkau…”

Bencana, musibah atau cobaan tidak harus bersifat negatif. Pemberian kekayaan, anak, istri, kemakmuran dan lain-lain yang mengenakkan baginya bisa merupakan cobaan agar “jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan padamu” karena mungkin akan membuatnya lupa diri, sombong; karena Tuhan tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi bangga diri.

Dan ketahuilah, hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Tuhan pahala yang besar. 28) (QS. 8:28)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Tuhan akan menguji dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya pada Tuhan manusia akan dikembalikan. 35) (QS. 21:35)

Segala kejadian di muka bumi termasuk diri manusia adalah takdir Tuhan yang harus diterima “apa adanya”. Masalahnya adalah bagaimana menerjemahkan takdir itu “apa adanya”? Apa disikapi dengan optimisme, pesimisme atau apatisme? Semua itu harus disikapi dengan sabar, usaha (ikhtiar) dan menyerahkan segala sesuatu kembali pada Tuhan (tawakkal).

Membaca takdir Tuhan tidak dengan harga mati seperti hitungan matematis manusia, bahwa takdir itu adalah “satu” mutlak sebagaimana kemutlakkan Tuhan. Tetapi mengacu bahwa Tuhan takkan merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya, serta ayat yang menegaskan bahwa Tuhan tidak melebihkan beban suatu kaum di luar batas kemampuannya, maka akan terasa bahwa sifat ketuhanannya itu memang Mahaadil, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Jadi, satu takdir menurut Tuhan bisa berarti banyak menurut manusia, demikian pula sebaliknya. Tetapi manusia harus bersikap serius memahami takdir ini. Misalnya masalah taubat yang tidak bisa dipermainkan atau ditunda-tunda. Takdir taubat tidak bisa ditawar-tawar jika suara hati nurani telah menyadari kekhilafan dan kesalahannya.

Takdir Tuhan bisa berubah dari satu takdir ke takdir yang lain jika manusia ingin merubah takdirnya secara serius memilih jalan ketaqwaan. Dari satu takdir ke takdir yang lain bukan berarti berbilang lebih dari satu. Hal ini mungkin identik dengan sifat yang tak terhingga dari Tuhan yang diformalkan ke dalam 99 Nama atau Sifat al-Asmaaul Husna, tetapi hakikatnya Tuhan itu Mahaesa.

 

Homo Homini Lupus akibat Homo Homini Deo

“…Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi banggakan diri. 23) (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan siapa berpaling (dari perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dialah Mahakaya lagi Maha Terpuji 24)

Sikap sombong dan membanggakan diri secara individual bisa menimpa pada seseorang. Tetapi secara kolektif bisa menimpa kelompok bahkan negara atau bangsa. Definisi sifat sombong dan membanggakan diri pada ayat di atas yaitu orang-orang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Penjabarannya, sikap kikir akan berpotensi mengaburkan keikhlasan dan lama kelamaan akan bisa membutakan hati nurani. Maka timbullah sikap aroganisme dari satu manusia terhadap manusia lain atau negara yang kuat terhadap negara yang lebih lemah. Bagi negara adikuasa ia memposisikan diri sebagai polisi dunia, jika ia tidak mau disebut tuhannya dunia, atau homo homini deo (manusia menjadi tuhan bagi dirinya sendiri).

Dari homo homini deo menimbulkan eksploitasi antar manusia dan antar negara, sehingga melahirkan sifat homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya). Contoh faktual yang hangat pada akhir abad XX dan awal abad XXI adalah kesombongan dan kebanggaan diri secara berlebihan oleh Bangsa Amerika yang ‘bersahabat’ dengan Bangsa Yahudi Israel. Seluruh bangsa muslim di dunia mengutuk tindakan tidak adil dari Amerika terhadap kasus Israel-Palestina dan terutama negara-negara muslim Irak, Libya dan Afganistan. Ketika Uni Sovyet runtuh menjelang akhir abad XX, maka Amerika mengklaim dirinya super power, dan menjadi polisi dunia. Kesombongannya menjadi-jadi, merasa paling kuat dari sisi ekonomi dan militer.

Ternyata kesombongan Pemerintah Amerika itu diruntuhkan oleh kasus Black Monday 11-9-2001. Bangsa Amerika seakan mimpi yang paling buruk di siang bolong. Gedung kembar WTC dan markas pertahanan Pentagon sebagai simbol keangkuhan ekonomi dan militer USA dihancurkan bom bunuh diri oleh kelompok militan (atau rekayasa USA-Israel sendiri?) dengan menabrakkan 4 pesawat bajakan yakni 2 di WTC, 1 di Pentagon dan 1 gagal dan terjatuh.

Dari kejadian yang sangat dramatis tersebut muncul banyak spekulasi dari para pengamat internasional. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi.

Melihat kejadian dramatis itu, definisi bencana yang terjadi di bumi semakin kompleks. Exploatation de’lhomme par homme atau eksploitasi manusia atas manusia. Bukan lagi mengaitkan dengan bencana alam, tetapi sudah merambah pada bencana nafsu angkara murka manusia yang sangat tidak manusiawi. Wallahu ‘alam… ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: