Bacalah 23. Jangan Takut & Sedih, Gembiralah

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”

lalu mereka meneguhkan pendiriannya,

maka malaikat akan turun pada mereka (lalu berkata):

Janganlah kamu merasa takut dan sedih, bergembiralah kamu

dengan surga yang telah dijanjikan Allah padamu” 30)

 

Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan di dunia dan akhirat;

di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan

serta memperoleh di dalamnya apa yang kamu minta. 31)

 

Sebagai hidangan (bagimu)

dari yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 32)

 

Siapakah yang lebih baik perkataannya

daripada orang yang menyeru pada Allah,

mengerjakan amal yang saleh dan berkata:

“Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” 33)

 

QS. 41. Fush-shilat (Yang Dijelaskan) 30-33

 

 

SENANG, gembira, bahagia adalah keinginan semua manusia. Tetapi mencari rumusan bahagia ternyata tidak semua manusia bisa mengetahui secara benar. Banyak orang senang dan gembira di atas derita orang lain, yang justru menjebaknya pada pemunafikan diri dan menyiksa nurani meskipun mereka tidak/belum menyadari. Sehingga rumusan sederhana “bahagia” adalah jika orang lain turut bahagia, dan kebahagiaan harus melibatkan unsur lahir-batin.

Pegang Teguh Tauhid dan Istiqomah

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” lalu mereka meneguhkan pendiriannya, maka malaikat akan turun pada mereka (dan berkata): “Janganlah kamu merasa takut dan sedih, bergembiralah kamu dengan surga yang dijanjikan Allah padamu” 30)

Dengan memurnikan ibadat seperti pada kajian sebelumnya, dan mereka yang berkata jujur secara pola pikir dan sikap, yaitu: “Tuhan kami ialah Allah” lalu meneguhkan pendirian (istiqomah), maka para malaikat akan turun menyampaikan berita gembira kepada mereka. Perlu diingat sekali lagi bahwa kemurnian ibadat tidaklah memandang, memahami dan menghayati makna Allah, Islam, al-Qur’an dan Muhammad dari kosa kata. Itu terlalu awam, terlalu naif sekali. Pajangan kata itu hanya bahasa Arab. Secara sederhana maknanya bisa dijelaskan sebagai berikut;

Allah adalah Dzat Yang Mahaagung, Berhak dan Wajib Disembah, Dialah Yang Maha Segalanya… Dialah Yang… Yang… banyak dijelaskan di dalam al-Qur’an terutama al-Asmaaul Husnaa. Banyak orang secara zikir lisan atau mengatakan Allah-Allah dengan fasih. Tetapi ia belum tentu bisa merasakan kehadiran Dzat-Nya melalui Sifat-Sifat-Nya yang Mulia.

Islam tidak sekedar kodifikasi agama sebagai produk budaya yang dibatasi syahadat, mengerjakan sholat, melakukan puasa, menunaikan zakat dan pergi haji ke Mekah. Islam adalah sikap berserah diri (‘aslama) pada Tuhan dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Islam adalah sikap atau perilaku yang diawali pola pikir, disertai pola sikap secara adil, santun, ikhlas, bersahaja dan amal saleh. Ia juga harus yang membawa kedamaian dan keselamatan (salam) bagi umat yang lain dan sesama mahluk.

al-Qur’an bukan saja sekedar kitab bertuliskan bahasa Arab, diturunkan pada seorang nabi bernama Muhammad bin Abdullah. Jika dicetak dalam bahasa setempat, menggantikan bahasa Arab dengan bahasa setempat, maka al-Qur’an itu pegangan semua umat. Ia lebih merupakan “bagian” dari Kitab Lauh Mahfuzh “membedakan” secara jelas antara kebenaran dan kebathilan, antara ketaqwaan dan kefasikan.

Muhammad adalah lebih ditekankan pada sifat insaniah dari seorang manusia yang amat terpuji (Ahmad) dan dapat dipercaya (al-Amin). Sifat dan sikap ini seharusnya lebih diteladani dari pada meniru cara pakaian Arabnya. Akan lebih merasuk lagi jika Muhammad dipahami dan dihayati sebagai Nur Muhammad yang bersemayam di setiap jiwa manusia untuk mengilhami menuju Jalan Tuhan. Dalam hadits qudsi diriwayatkan Tuhan telah memberi wahyu pada Musa, Nabi Bani Israil bahwa “Siapa bertemu dengan-Ku, padahal ia ingkar pada Ahmad, niscaya Aku masukkan ia ke neraka”. Musa berkata, “Siapakah Ahmad itu, Yaa Rabbi?” Tuhan berfirman, “Tidak pernah aku ciptakan satu ciptaan yang mulia menurut pandangan-Ku dari padanya. Telah Kutuliskan namanya bersama Aku di ‘Arsy sebelum Aku menciptakan tujuh lapis langit dan bumi. Sesungguhnya surga itu terlarang bagi semua mahluk-Ku, sebelum ia dan umatnya lebih dulu memasukinya” (HQR Abu Na’im dalam al-Hilyah).

Setiap umat yang memegang teguh agama pasti mempunyai sasaran ibadat seperti di atas, yaitu tuhan sebagai subyek, agama sebagai jalan, kitab suci sebagai buku petunjuk, dan rasul sebagai cahaya penerang. Bagi umat Islam, hal itu telah dibahas lengkap pada Kajian 01: Samudera al-Fatihah terutama pada sub-kajian Meniti di atas Jalan yang Benar.

Jika setiap manusia yang mau memahami dan menghayati makna-makna itu secara hakiki, maka kemurnian ibadatnya akan bisa menjamin keselamatan dan akan mendapatkan berita gembira seperti disinggung pada ayat di atas. Yang disebut berita gembira pastilah tidak menghendaki adanya perasaan takut, sedih, kuatir dan perasaan ammarah-lawwamah lainnya.

Secara singkat, manusia yang menghayati akan hakikat berserah diri (sifatnya ‘aslama’, orangnya ‘muslimuun’) maka pasti (dan harus) ia tidak merasa takut, kuatir, sedih hati, ragu-ragu dan lain-lain yang mengurangi keteguhan imannya. Mereka merasakan kegembiraan dan kebahagiaan akan surga (arti harfiah maupun falsafah) yang dijanjikan Tuhan. Secara harfiah, surga adanya pasca kiamat nanti, tetapi secara falsafah surga itu sudah ada pada saat ini di dalam hati, di sini, saat ini, di dalam diri manusia sendiri.

Siapa yang laa khaufun alaihim…?

Soal berita gembira dan tiada rasa kuatir-takut-sedih, secara khas diulang berkali-kali pada ayat-ayat yang menyebutkan…

“tiada khawatir terhadap mereka dan tidak (pula) sedih hati,”

Beberapa ayat yang dimaksud adalah :

“Lalu Adam menerima kalimat Tuhannya, maka Tuhan menerima taubatnya. Sesungguhnya Tuhan Maha Penerima Taubat lagi Penyayang. Firman Kami: “Turunlah kamu dari surga! Lalu jika datang petunjuk-Ku kepadamu, siapa saja mengikuti petunjuk-Ku niscaya tiada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka sedih hati (#1)” (QS. 2:37-39)

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, Yahudi, Nasrani dan Shabiin, siapa saja diantara mereka benar-benar beriman pada Tuhan, Hari Akhir dan beramal saleh, mereka menerima pahala dari Tuhan, tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka sedih hati.(#2) ” (QS. 2:62)

“Dan bahkan siapa menyerahkan diri pada Tuhan sedang ia berbuat kebajikan, baginya pahala di sisi Tuhannya dan tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka sedih hati. (#3)” (QS. 2:112)

“Orang-orang menafkahkan harta di jalan Tuhan, tidak mengiringi yang dinafkahkannya dengan menyebut pemberian dan tidak menyakiti (perasaan penerima), mereka peroleh pahala di sisi Tuhan. tiada khawatir terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(#4)” (QS. 2:261-262)

“Orang-orang yang menafkahkan harta di malam dan siang hari, tersembunyi dan terang-terangan, mereka dapat pahala di sisi Tuhannya. Tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(#5)” (QS. 2:274)

“Sesungguhnya orang-orang beriman, beramal saleh, mendirikan shalat dan tunaikan zakat, mereka dapat pahala di sisi Tuhannya. Tiada khawatir terhadap mereka dan tidak (pula) mereka sedih hati.(#6)” (QS. 2:277)

“Jangan kamu mengira orang gugur di jalan Tuhan itu mati; mereka hidup di sisi Tuhannya dengan dapat rejeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Tuhan yang diberikan-Nya pada mereka. Dan mereka girang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (#7). Mereka girang hati dengan nikmat dan karunia besar Tuhan dan Tuhan tak menyia-nyiakan pahala orang-orang beriman. (Yaitu) orang-orang yang taat perintah Tuhan dan Rasul-Nya sesudah mereka luka (di dalam perang Uhud). Bagi orang-orang berbuat kebaikan di antara mereka dan taqwa ada pahala besar….” (QS. 3:169-175)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, Yahudi, Shabiin dan Nasrani, siapa saja yang benar-benar beriman pada Tuhan, Hari Akhir dan beramal saleh, maka tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (#8).” (QS. 5:69)

“Tidaklah Kami utus para rasul itu selain untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (#9).” (QS. 6:48)

“Hai anak-anak Adam, jika datang padamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan padamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (#10).” (QS. 7:35)

“…(Pada orang mu’min dikatakan): “Masuklah ke surga, tiada khawatir terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati (#11)…” (QS. 7:49-51)

“Ingat, sesungguhnya wali-wali Tuhan itu, tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (#12). (QS: 10:62-65)

“Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati (#13). (Yaitu) orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. (QS 43:68-70)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami Allah“, lalu mereka tetap istiqamah maka tiada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada berduka cita (#14). Mereka penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Kami perintahkan pada manusia supaya berbuat baik pada dua ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah… ” (QS. 46:13-15)

Sebagai kesimpulan dari siapa saja yang berhak menyandang status kebahagiaan laa khaufun alaihim wa laa hum yahzanuun, yaitu mereka yang: (1) Mengikuti petunjuk Tuhan, (2) Siapapun yang beriman pada Tuhan, Hari Akhir dan yang suka beramal saleh (=8), (3) Berserah diri pada Tuhan dan berbuat kebajikan, (4) Ikhlas memberi-nafkahkan harta kepada yang berhak, (5) Menafkahkan harta di malam dan siang hari, sembunyi atau terang-terangan, (6) Beriman dan beramal saleh, mendirikan-menegakkan sholat, menunaikan zakat, (7)
Jihad fi sabilillah dalam arti umum – bukan sekedar perang, (8) Siapapun yang beriman pada Tuhan, Hari Akhir dan yang suka beramal saleh (=2), (9) Barangsiapa yang beriman dan yang mengadakan perbaikan, (10) Barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, (11) Para penghuni surga, (12) Wali-wali Tuhan, yaitu mereka yang beriman dan bertaqwa, (13) Orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Tuhan dan yang mau ikhlas berserah diri, (14) Orang yang istiqomah, berbuat baik pada dua orang tuanya, berdoa untuknya.

Perlindungan Diri

“Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan di dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh yang kamu inginkan serta memperoleh di dalamnya apa yang kamu minta. 31) Sebagai hidangan (bagimu) dari yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 32)

Disebutkan pelindung-pelindung (‘awliyaa) bermakna jamak, karena yang berkata pada ayat tersebut adalah para malaikat yang diberi tugas oleh Tuhan melindungi para hamba-Nya yang beriman dan selalu ber-istiqomah di dalam keimanannya. Tugas para malaikat itu beragam sesuai fungsi dan tugasnya masing-masing. Salah satunya adalah melindungi orang-orang yang beriman dan bertaqwa.

Membahas tentang perlindungan dan pelindungnya, maka ada interaksi antara proses dan subyeknya dibagi atas tiga macam; (1) Perlindungan dari Wali Tuhan, yaitu dari para alim ulama (QS. 10:62-63), (2) Perlindungan dari Para Malaikat Tuhan (QS. 41:31), (3) Perlindungan dari Tuhan langsung tanpa perantara.

Perlindungan ini secara umum berarti melindungi seorang dari situasi, sesuatu atau seseorang yang ia kurang berkenan padanya. Tetapi contoh perlindungan di sini secara khusus bisa berupa ilmu yang menjadi pelindung, apa pun bentuknya, yang dimanfaatkan untuk menjaga dan melindunginya. Karena dengan berilmu adalah bentuk tertinggi untuk bisa melindungi diri, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Perlindungan dari waliyullah kebanyakan merupakan ilmu muamalah beserta ilmu tertentu yang dimiliki waliyullah dalam hubungannya antara guru-murid. Selain itu para waliyullah juga mengajarkan soal meningkatkan potensi diri mencari mata pencarian seperti bertani, beternak, berdagang dan tidak menutup kemungkinan ilmu khusus yang dimiliki para waliyullah. Hubungan proses dengan subyek perlindungan ini menghasilkan interaksi sosial sebuah peradaban manusia di dalam skala kecil misalnya pesantren dan masyarakat sekitarnya.

Perlindungan dari para malaikat bisa berupa penyampaian ilham atau wahyu Tuhan. Segala sesuatu berawal dari dan berakhir kepada Tuhan sebagai Causa Prima, Sang Penyebab segala sesuatu. Misalnya pengajaran oleh waliyullah kepada muridnya. Kemudian masuknya ilmu dihantarkan oleh para malaikat ke dalam hati. Tetapi jika Tuhan belum berkenan maka proses transformasi ilmu itu pun takkan pernah terjadi. Seluruh proses alamiah selalu berjalan melalui tahapan demi tahapan, termasuk transformasi ilmu pengetahuan lahir maupun batin, intelektual maupun spiritual.

Perlindungan dari Tuhan langsung tanpa perantara, biasanya bersifat sangat khusus. Contoh faktual seperti dialami Muhammad ketika isra mi’raj. Pada tahap awal beliau ditemani malaikat Jibril dan ‘mahluk’ Buroq. Tetapi ketika sampai di Sidratul Muntaha, malaikat Jibril ternyata tidak mampu lagi menghantarkan; dan hanya “Tangan” Tuhan yang menjamah Muhammad. Pada situasi yang khusus itu, “kemanunggalan” Muhammad dengan Tuhan sudah sangat dekatnya tanpa dimensi dan tak mampu dicerna lagi, baik oleh kata maupun rasa. Peristiwa ini bisa saja dialami oleh umat Muhammad ketika ia melakukan mi’raj sholatnya. Proses batin demi proses batin harus dilalui manusia untuk meningkat dari maqam basyariah menjadi insaniah, dari fana menjadi baqa; dari absorbsi menjadi iluminasi dan bercahaya mendekati Sumber Cahaya-Nya.

Seperti teori sumber suara atau sumber cahaya, dimana sumber cahaya utama akan memancar menghasilkan gelembung-gelembung sumber cahaya baru hingga tak terhingga, unlimited, manusia pun berfungsi sebagai sumber cahaya baru pada tingkat yang sesuai kemampuannya. Menjadi sumber cahaya berarti mampu menerangi dirinya sendiri, berarti pula mampu memenuhi kebutuhannya sendiri karena ilmu dan sumber daya lain yang dimiliki, mampu pula interospeksi atas keseimbangan kemampuan dirinya, tahu diri antara permintaan dan kemampuan pemenuhannya.

Ketiga macam perlindungan di atas mempunyai ciri khas kemashlahatan dan keselamatan dibandingkan perlindungan selain itu apalagi jika diperoleh dan diperuntukkan selain Tuhan Misalnya uang, bodyguard, militer, penguasa dan terlebih lagi perlindungan dari para jin yang menyesatkan.

Menjaga Lisan dan Pikiran

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru pada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” 33)

Sumber cahaya baru, salah satunya adalah waliyullah, bisa memberi penerangan bagi yang belum menemukan pencerahan. Waliyullah menyeru kaumnya pada Tuhan, mengerjakan amal saleh dan berkata; “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” – dalam arti sebenarnya.

Seseorang yang telah mencapai maqam mulia yang telah memasuki medan hakikat dan ma’rifat, sikap dan perilakunya juga bisa dipastikan sangat mulia. Untuk menjaga kemuliaan, satu hal pertama dan utama adalah menjaga lisannya. Karena dari lisan hubungan fisik manusia dimulai. Jika lisan salah mengatakan suatu, maka akan terjadi kesalah-pahaman, sakit hati dan balas dendam jika tidak ada saling pengertian.

Tetapi yang namanya manusia selalu tempatnya salah. Jika berbicara hal yang tidak sesuai dengan selera lawan bicara akan timbul suasana pembicaraan tidak mengenakkan. Tetapi jika diam, kesan yang timbul dari orang lain adalah sikap cuek, acuh tak acuh bahkan sombong tidak mau berbaur. Bagaimana orang-orang saleh menyikapi hal demikian?

Orang-orang saleh akan lebih menuruti hati nuraninya yang telah berpegang teguh pada tali tauhid dan istiqomah. Orang lain memang selalu berprasangka. Tetapi orang saleh tidak berprasangka karena ia menjaga dan memelihara pikirannya tetap tenang dan teduh diayomi kalimat Illahi, melazimkan diam dan senantiasa berzikir, bertasbih dan memuji Tuhan.

Orang saleh atau waliyullah menurut pandangan awam acapkali terkesan seenaknya sendiri. Kalau ingin berbicara atau menasehati kesannya melecehkan, kasar dan kurang etika. Tetapi adakah hikmah di balik sikap nyleneh itu? Ternyata ia ingin memberikan pelajaran bagi lawan bicaranya, apa sikapnya jika dilecehkan, dikasari dan jika tak dihormati. Di sini ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi :

Pertama, jika lawan bicara membalas sama atau melebihi sikap melecehkan, kasar dan kurang etika, maka orang saleh tadi mengerti bahwa lawan bicaranya belum dewasa dalam menyikapi orang lain. Jiwanya masih amarah-lawwamah. Maka orang saleh ini tidak akan membalasnya dengan lebih emosi, tetapi akan menuntunnya untuk meredakan emosi lawan bicaranya sebelum melangkah membukakan pintu-pintu hikmah kepadanya.

Kedua, jika lawan bicaranya diam atau merasa bersalah akan sikapnya yang lalu, maka orang saleh ini membukakan pintu-pintu hikmah yang sesuai dengan kemampuan lawan bicaranya.

Ketiga, jika lawan bicaranya terdiam bahkan lalu mengucapkan kata-kata yang lebih santun, maka sikap orang saleh ini menilai bahwa lawan bicaranya sudah punya modal menjadi orang saleh, atau bahkan sudah menjadi orang saleh yang ingin ‘mencobanya’ atau memberikan ‘pelajaran balik’ baginya. Jika orang saleh tadi mampu mengimbanginya, maka akan terjadi dialog menyejukkan…

Antara lisan dan pikiran memang sangat erat kaitannya. Tetapi sering pikiran (mind) tak mampu diungkapkan secara lisan (speech). Terkadang mengungkapkan pikiran yang tak bisa diungkapkan lisan, ungkapan mereka tampakkan pada raut muka, misalnya yang sedih, marah, pikiran kusut, stres dan lain-lain. Orang-orang saleh atau waliyullah yang mempunyai ilmu khusus mampu melihat pikiran seseorang tanpa mendengar dari lisannya, yaitu dengan melihat mimik wajahnya, pandangan matanya bahkan ada yang ‘melihat’ dari dengan ritme atau cara bernafasnya.

Bagi orang-orang saleh sendiri menyadari alam pikiran manusia yang berkecamuk, bergolak dan bergelombang. Mereka tidak harus ‘curhat’ melalui kata-kata kepada orang lain. Orang-orang saleh lebih mampu mengendalikan pikirannya. Biasanya ia merasakanya dalam diam, berzikir. Meskipun gelombang pikiran orang saleh tidak menunjukkan rasa takut, sedih dan kuatir; tetapi gelombangnya antara netral dan bahagia. Gejolak kegembiraan atau kebahagiaan ini bisa dikendalikan orang saleh dengan tak takabur apalagi sombong. Ia tetap banyak melazimkan diam dan zikir.

Berikut digambarkan peta wilayah antara alam pikiran orang-orang saleh atau para waliyullah dengan orang awam atau mereka yang telah disesatkan oleh bisikan-bisikan setan.

Sebagai keseimbangan, meskipun mereka telah mencapai maqam yang laa khaufun ‘alaihim wa laahum yahzanuun, tetapi mereka tetap mengikat tali tauhid yang mengingat kelemahan dan kekuatan telah diatur dengan amat baik, adil dan sempurna oleh Tuhan.

Firman Tuhan pada QS. 30. ar-Ruum (Bangsa Rumawi) 54, “Tuhan, Dia menciptakanmu dari keadaan lemah lalu menjadikan(mu) sesudah lemah jadi kuat, lalu Dia menjadikan(mu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia ciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” ***

 

Puisi 18.

Samarinda

 

Kata filsafatmu, hidup dan mati itu sama saja,

Hanya dibatasi oleh raga yang fana

Katamu, susah dan senang itu juga sama saja,

Hanya beda di tarikan bibir dan raut muka riang semata

 

Kini Tuhan sejenak menuruti kemauanmu

Setelah wisuda pasca sarjana… katamu

(Harfiah: Wisuda pasca sarjana ITS-Surabaya, Maret 2006)

Wis udo pun kamu bertelanjang diri tanpa ragu

Tiada lagi pakaian fana melekat di badan yang bau

 

Tuhan telah menuntunmu pada “kematian”

Karena ragamu ada di Balikpapan,… April 2006 kan

(Harfiah: Orang mati terbujur di balik papan…)

Badanmu terbang bolak-balik Surabaya Balikpapan

Dan jiwamu ingin terbang bersama malaikat, entah kapan

 

Balikpapan itu pun transit dulu, jangan kesusu

Ragamu lalu dihantarkan lagi ke Samarinda,…

(Harfiah: Konon Samarinda diambil dari samar-samar indah…)

Ada renungan setahun selama itu

Mulai “bukan apa” di sana hingga “mulia” ke istana di Jakarta

(Harfiah: Diundang pada Hari Bakti PU di Istana Negara Jakarta, Desember 2006)

 

Memang semua itu “bukan apa” atau “siapa”

Bangunlah sendiri istana yang indah di dalam jiwa muthma’innah,

Bukankah semua memang lebih baik dibuat indah…

Maka jadilah itu surga…

 

Samarinda, 10.10.06 (23.38 wita)

Revisi Jakarta, 16.12.06 (10.48 wib)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Responses to “Bacalah 23. Jangan Takut & Sedih, Gembiralah”

  1. Iwen Daffa Nina Says:

    Assalamu’alaikum,…

    Topiknya secara umum bagus.
    Kuncinya ada di pikiran.
    Walaupun begitu, harus disertai dengan pemahaman yg komprehensif.
    Cuma, entah kenapa, kok rasanya kurang memancing orang untuk berpikir.
    Padahal, saya rasa, salah satu tujuan penulisan ini, untuk memancing orang yg membaca supaya berfikir, lalu tergerak untuk memahami supaya lebih komprehensif.

    Oya, satu lagi…
    Hadits Nur Muhammad itu, dari satu sisi boleh juga untuk jadi cerminan.
    Tapi,…
    Setau saya, keshahihan hadits ini masih diragukan…
    Dan, kehebohan yg disebabkan Nur Muhammad ini, memjadikan orang lebih melihat Muhammad bin Abdullah, dari pada Muhammad Rasulullah…

    Itu menurut saya…
    Correct Me If I’m Wrong….

    Oya, satu lagi…
    Perlu untuk mem breakdown tentang “tidak sedih” dan “tidak khawatir” di atas…
    Apa itu “tidak sedih”, dan apa itu “tidak khawatir”…

    Wassalam,…..

  2. didikhardiono Says:

    AssWrWb.

    Draft buku sy ini terdiri dr 50 kajian yg manunggal, shg sulit mnjelasknnya secara parsial. Sengaja msh draft krn sy sekedar mnuliskan pengalaman2 religii yg mungkin sgt naif bagi pihak lain. Namun dlm draft buku ini, salah satu kajian tentang PUASA, jk dijlnkn dg ikhlas, mk ALLAH akan memberikn lsg fadhilahnya sesuai kapasitas hambaNYA ketika bertarekat mencintaiNYA setulus hati. Insya Allah dg merasakn nikmatnya puasa, qta sdh bs merasakn nikmatnya laa khaufun alihim wa laahum yahzanuun, tanpa penjelasan kata2 lg, krn kata tak bisa mnjelaskn rasa.

    Buku ini bermuara “kembali ke masjid” yg bermakna dualisme masjid sbg bangunan dan masjid sbg tempat bersujud di hati. Scr harfiah sy ada program memetakan masjid2 per kluster kecamatan brbasis data, IT n webGIS yg sgt memudahkn mengelola potensi umat dan kegiatan umat brbasis masjid. Namun sgt sulit mencari masjid pelopor utk mngawalinya.
    Penjelasannya mungkin msh sgt kurang, namun smg bs mnjalin silaturrahim, amin.

    WassWrWb…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: