Bacalah 22. Lagi, Murnikan Ibadat!

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Allah menjadikan malam untukmu supaya kamu istirahat padanya

dan menjadikan siang terang.

Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia

yang dilimpahkan atas manusia,

akan tetapi banyak manusia tak bersyukur. 61)

Yang demikian Allah, Tuhanmu,

Pencipta segala suatu, tiada Ilah selain Dia;

maka bagaimana kamu dapat dipalingkan 62)

Seperti demikian dipalingkan orang-orang

yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah. 63)

Allah yang menjadikan bumi bagimu tempat menetap

dan langit sebagai atap,

dan membentukmu lalu membaguskan rupamu

serta memberi rejeki dengan sebagian baik-baik.

Yang demikian Allah Tuhanmu, Mahaagung Allah, Tuhan semesta alam. 64)

Dia hidup kekal, tiada Ilah selain Dia;

maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. 65)

 

QS. 40. al-Mu’min (Orang yang Beriman) 61-65

 

 

MENYAMBUNG pentingnya memurnikan ibadat kepada Tuhan, maka masih ada ayat-ayat yang juga menjelaskan betapa pentingnya menyembah Tuhan dengan memurnikan ibadat kepada-Nya.

Beberapa Ayat Penunjang

Memahami makna “memurnikan ibadat” harus dipahami dari dua kosa kata “murni” dan “ibadat”. Penjelasan definisi kata kedua yaitu “ibadat” sudah dijelaskan pada Kajian 21: Memurnikan Ibadat. Soal kemurnian, ayat al-Qur’an banyak menyandingkannya dengan ketaatan yang pada ujung-ujungnya tetap kembali ke inti ibadat;

“Kitab (al-Qur’an) diturunkan Tuhan Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. 1) Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Tuhan dengan memurnikan ketaatan pada-Nya. 2)” (QS. 39:1-2)

“Orang-orang yang ingkar, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, tidak akan tinggalkan (agamanya) sebelum datang pada mereka bukti nyata,1) (yaitu) seorang Rasul dari Tuhan (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur’an),2) di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus.3) Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepadanya) selain sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata.4) Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Tuhan dengan memurnikan ketaatan pada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian adalah agama lurus.5)” (QS. 98:1-5)

Masalah apapun yang dihadapi manusia banyak dikaitkannya dengan apa yang tertulis dalam Kitab Samawi, termasuk al-Qur’an. Karena di dalam Kitab terdapat petunjuk dan penjelasan. Salah satu di antaranya masalah ibadat, terutama memurnikan ketaatan kepada-Nya. Konsekuensi ketaatan kepada Tuhan adalah harus me-lengser-kan segala sesuatu selain Tuhan.

Ayat al-Qur’an yang menyinggung peribadatan mengesankan harus secara totaliter. Ayat-ayat tersebut di antaranya;

Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidup-matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itu diperintahkan padaku dan aku orang pertama menyerahkan diri”. (QS. 6:162-163)

“Mereka orang-orang yang taubat, ibadat, memuji (Tuhan), melawat, ruku’, sujud, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah berbuat munkar & memelihara hukum Tuhan. Dan gembirakan orang-2 mu’min itu.” (QS. 9:112)

Kriteria orang yang mendapatkan kegembiraan lahir dan batin di dunia dan akhirat yaitu mereka yang taubat, ibadat, memuji Tuhan, memelihara silaturrahim, ruku’ dan sujud (bisa berarti harfiah dalam sholat, bisa berarti kiasan berupa sikap hidup qonaah-istiqomah), amar ma’ruf nahi munkar, serta yang memelihara hukum Tuhan berupa hukum keseimbangan alam, muamalah hingga hukum tauhid.

Bagi seorang ahli ibadat, sholat sunnah yang sudah menjadi rutinitas baginya seakan menjadi sholat wajib baginya. Begitu pula dengan sholat tahajud sebagai ibadat tambahan bisa jadi ibadat wajib baginya jika telah terbiasa melakukan sholat tahajud di malam hari. Demikian pula ibadat sunnah lainnya selain sholat, misalnya puasa. Selain diwajibkannya puasa Ramadhan, ia amat menyukai berbagai macam puasa sunnah. Demikianlah kegiatan ibadat para ahli ibadat yang menjadikannya ibadat sebagai hobi yang serius dijalaninya tetapi dengan penuh keasyikan dan kenikmatan.

Sholat wajib dalam al-Qur’an secara tersurat tidak disebutkan. Tetapi isyarat untuk menegakkannya sebagai tiang agama maupun bentuk ritual tasbih manusia, tersirat dari ungkapan seperti pada pagi hari (subuh-fajar), pada tengah hari (dhuhur), tergelincir matahari (ashar), terbenam matahari (maghrib) hingga malam hari (isya’). Waktu-waktu tersebut memang afdol untuk “menancapkan” tiang-tiang agama.

Sementara itu sholat sunnah sebagai tambahan khusus bagi para ahli ibadat mempunyai banyak macam dan tidak terhitung jumlah rekaatnya; apalagi sholat-sholat sunnah di malam hari yang sunyi dan sangat diminati para ulama sufi.

Dan pada sebagian malam hari sholat tahajud-lah kamu sebagai ibadat tambahanmu; semoga Tuhan-mu mengangkatmu ke tempat terpuji.79) Dan katakan: “Ya Tuhan-ku masukkan aku secara benar dan keluarkan aku secara benar dan berikan padaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.80) Katakan: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil adalah suatu yang pasti lenyap.81) (QS. 17:79-81)

Firman Tuhan pada QS. 18. al-Kahfi (Gua) : 110

“…Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya (liqaa’arabbihi) maka hendaklah ia kerjakan amal saleh dan jangan ia persekutukan seorangpun dalam ibadat pada Tuhannya 110)“.

Perjumpaan dengan Tuhan adalah ungkapan sufistik mendalam. Syarat liqaa’illah atau liqaa’arabbihi amat berat yaitu mengerjakan amal saleh, tidak mempersekutukan di dalam ibadatnya. Semuanya harus dilakukan secara sadar, totaliter tanpa pamrih lahir dan batin. Kesannya sangat otoriter, karena memang harus demikian untuk mengikis syirik-syirik kecil yang banyak menempel di hati manusia tanpa sepengetahuan dari pemiliknya. Sedemikian kecil sekali dan lembut syirik-syirik itu sehingga kurang disadari oleh mereka ketika melakukan rutinitas ibadat pada Tuhannya.

“Dan tidaklah Kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaaan-Nya yang di hadapan, di belakang kita dan di antara keduanya dan tidaklah Tuhanmu lupa.64)
Tuhan langit dan bumi dan yang di antara keduanya, maka sembah Dia dan berteguh hatilah dalam ibadat pada-Nya. Apa kamu tahu ada seorang yang sama dengan Dia.65) (QS. 19:64-65)

Para malaikat telah membantu menjelaskan tauhid monoteisme melalui wahyu yang diturunkan Tuhan termasuk oleh Jibril. Jadi malaikat Jibril pun turun ke dalam hati mereka beriman dan bertaqwa untuk menyampaikan wahyu kebenaran Tuhan. Tetapi kehadiran Tuhan dan malaikat Jibril yang sangat halus sulit disadari manusia yang masih berhati kasar.

Hak Kepemilikan Tuhan sifatnya mutlak, segala sesuatu adalah indikasi tauhid agar manusia tidak menyamakan dengan yang lain. Tetapi banyak manusia menyapa Tuhan sekedar ritualisme.

Firman Tuhan pada QS. 73. al-Muzzamil (Orang Berselimut) 8-10,

“Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.8) (Dia) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Ilah selain Dia, maka ambil Dia sebagai Pelindung.9) Dan sabarlah terhadap yang mereka ucapkan dan jauhi dengan cara yang baik.10)“.

Beribadat dengan penuh ketekunan artinya benar-benar serius menghadap Tuhannya. (Dia) Tuhan masyrik dan maghrib adalah bukti tersirat untuk penegakkan sholat subuh dan maghrib seperti QS. 17:78-81. Konsistensi ibadat dan konsekuensinya mengantarkan ahli ibadat pada sikap yang mulia, seperti menjauhi mereka yang tidak sejalan bahkan bertentangan dengan cara yang baik.

Malam: Untuk Istirahat atau Ibadat?

“Allah menjadikan malam untukmu supaya kamu istirahat padanya dan menjadikan siang terang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi banyak manusia tak bersyukur. 61) yang demikian Allah, Tuhanmu, Pencipta segala suatu, tiada Ilah selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? 62) Seperti demikian dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah. 63)

Tuhan menurunkan suatu ayat berdasarkan kejadian yang sedang dialami Nabi Muhammad. Adanya kesan bertentangan di antara satu ayat dengan ayat yang lain karena perbedaan situasi dan kondisi saat itu. Misalnya jika dibandingkan dengan ayat berikut,

Firman Tuhan pada QS. 73. al-Muzzamil (Orang yang Berselimut) 6-7,

“Sesungguhnya bangun di waktu malam lebih tepat dan bacaan waktu itu lebih berkesan.6) Sesungguhnya kamu siang hari punya urusan panjang.7)

Kesan secara awam memang bertentangan. Di satu ayat, malam untuk istirahat; tetapi di ayat lain malam untuk beribadat dan membaca ayat suci. Lalu, mana yang benar? Semua benar, tidak ada yang salah. Orang bebas memilih dan menyimpulkan. Bagi mereka yang lelah seharian bekerja lalu istirahat semalam di malam hari, silakan. Bagi yang bekerja secukupnya siang hari dan menghidupkan malam dengan ibadat, silakan

Pada awalnya diingatkan Kasih Tuhan yang benar-benar nyata. Betapa siang hari manusia bekerja dan setelah itu malam diciptakan untuk istirahat. Banyak karunia Tuhan sangat transparan tampak di depan mata, tetapi banyak pula manusia yang tidak bersyukur. Pemandangan tersebut banyak dilihat terutama bagi masyarakat perkotaan yang sarat akan kehidupan duniawi yang materialistis.

Dinamika kota besar sangat dipengaruhi faktor ekonomi yang berkiblat ke negara maju yang nota bene warganya non-Islam dan pemahaman agamanya pun tidak benar-benar serius dipatuhi. Mereka yang beragama Nasrani pun kegiatan kebaktiannya sekedar seremonial dan pemenuhan fisik saja. Demikian pula waktu sholat yang kurang diperhatikan. Hal yang serupa tampak di banyak hotel dan mal mewah kota-kota metro yang menempatkan tempat ibadat musholla di sudut ruang “kumuh”, sangat memprihatinkan!

“Dan jika kamu baca al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang tidak beriman pada kehidupan akhirat suatu dinding yang tertutup.45) Dan Kami adakan tutup di hati dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tak dapat memahami-nya. Dan jika kau sebut Tuhanmu dalam al-Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.46) Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengar sewaktu mereka mendengarkanmu dan waktu mereka berbisik-bisik saat orang-orang zalim berkata: “Kamu tak lain hanya ikuti laki-laki yang kena sihir”.47) Lihat bagaimana mereka membuat perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar)48). Dan mereka berkata: “Apabila kami telah jadi tulang-belulang dan benda-benda hancur, benarkah kami dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru”49) Katakan: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi,50) atau suatu makhluk dari makhluk yang tak mungkin (hidup) menurut pikiranmu…51)” (QS. 17:45-51)

Tentu kaum ingkar modern yang maju ilmu pengetahuannya tidak sama dengan jawaban klasik seperti zaman jahiliyah di atas. Tetapi esensinya sama sekali tidak menyimpang, bahwa kebanyakan dari mereka termasuk golongan yang menyimpang. Orang-orang ingkar modern telah terbius kesibukan duniawi menghadapi globalisasi, economic-industrial free trade area dan information-technology age. Kesibukan tampak di pasar modal, proyek pembangunan, seminar, presentasi, rapat dan lain-lain urusan dunia seakan-akan menaikkan derajat manusia. Ia lupa menggelar sajadah, serta tergesa-gesa sholat; maka ia telah tersesat dalam modernisasi keingkaran.

Firman Tuhan pada QS. 17. al-Israa’ 51-54 selanjutnya: “…Maka mereka akan bertanya: “Siapa yang menghidupkan kami kembali”. Katakan: “Yang telah menciptakanmu kali pertama”. Lalu mereka menggelengkan kepala mereka padamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi) “Katakan: “Semoga waktu berbangkit itu dekat”.51) Yaitu pada hari Dia memanggilmu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu kira kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.52) Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka ucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan antara mereka. Sesungguhnya syaitan musuh yang nyata bagi manusia.53) Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu. Dia akan memberi rahmat padamu jika Dia menghendaki dan Dia akan meng’azabmu, jika Dia menghendaki….54)

Sangat jelas Tuhan “menampakkan diri-Nya” melalui karunia besar yang ada di depan mata dan sangat dekat dengan manusia; tetapi mengapa banyak dari mereka yang mendustakannya? Bahkan Firman Tuhan pada akhir ayat QS. 40. alMu’min 62 sebagai pokok kajian ini seakan Tuhan “heran” dan bertanya “bagaimana kamu dapat dipalingkan?”.

Tidak Semua Rejeki itu Halal

“Allah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentukmu lalu membaguskan rupamu serta memberi rejeki dengan sebagian baik-baik.. Yang demikian Allah Tuhanmu, Mahaagung Allah, Tuhan semesta alam. 64)

Tuhan membentuk manusia dan membaguskan rupanya, tetapi dengan adanya kebagusan itu justru banyak yang disalah-gunakan. Kasus paling menonjol adalah eksploitasi fisik dan wajah dunia model dan selebritis yang tak dirihoi Tuhan. Manusia bekerja untuk manusia, manusia dinilai manusia, manusia dipuji manusia, manusia dinikmati manusia. Akhirnya manusia lupa Tuhannya dan mengabdi kepada manusia lain yang membayarnya cash, dibayar dengan simbol keterasingannya, yaitu uang.

Suatu hal yang lucu ketika manusia sudah menghambakan diri kepada manusia lain, yakni pekerja menghambakan kepada majikan, kelas proletar menghambakan diri kepada kapitalis dan seterusnya. Jika Thomas Hobbes
“Homo homini lupus,” itu adalah ungkapan fatique yang menggambarkan pemandangan di mana manusia menghambakan diri pada manusia lainnya.

Bumi telah tereksploitasi nafsu manusia, langit pun tercemari limbah satelit dan manusia terinfeksi virus. Itu semua karena ulah manusia yang tidak mensyukuri nikmat-Nya, mendustakan Karunia-Nya. Rupa yang bagus merupakan salah satu bentuk rejeki yang harus disyukuri tetapi sekaligus sebagai amanat yang harus dijaga kesuciannya. Setelah membentuk manusia dan membaguskan rupanya, lalu Tuhan memberi rejeki dengan sebagian yang baik-baik. Timbul pertanyaan; “Mengapa Tuhan memberikan sebagian yang baik-baik dan sebagian lainnya kurang baik bahkan ada yang haram?”

Tuhan memberi rejeki manusia dengan sebagian yang baik-baik. Berarti ada sebagian yang tidak baik yang ‘mampir’. Untuk itulah berlaku zakat fitrah, zakat maal, sodaqoh dan bentuk amal lainnya menyangkut rejeki yang diperolehnya selama bekerja. Tidaklah mungkin manusia mampu memerinci secara detail halal atau haram sesuatu yang diperolehnya.

Mencari rejeki berlebihan karena takut tidak bisa hidup layak sesuai ambisinya akan menjerumuskan pada kesesatan. Sebaliknya, ketakutan terhadap rejeki haram dan selalu mencari yang halal akan membuatnya bingung menentukan status halal-haramnya soal rejeki. Tetapi mencari rejeki sesuai kemampuan dan jatah dari Tuhan, akan membuatnya selalu mensyukuri nikmat Tuhan. Sehingga demikian, ia tidak akan serakah mengeruk rejeki sebanyak-banyaknya, walaupun nantinya dipotong zakat dan amal. Hawa nafsu dan ambisi akan mengotori hati manusia.

Manusia banyak yang tidak peduli “hukum” rejeki. Jangankan sadar bahwa sebagian rejeki yang diperolehnya ada yang haram dan perlu dibersihkan dengan zakat. Jelas-jelas perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme justru membuatnya bangga, kaya, terhormat rasanya. Bahkan haji pun memakai uang yang tak jelas statusnya. Bagaimana manusia bisa mencapai kesempurnaan dengan kekotoran?

Dari Fana ke Baqa, Nisbi ke Abadi

“Dia hidup kekal, tiada Ilah selain Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat pada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. 65)

Sudah sangat jelas kekekalan ada pada Tuhan. Tapi mengapa kefanaan manusia justru melengserkan kebaqaan Tuhannya?

Kehidupan adalah proses yang berlangsung terus menerus sejak manusia turun ke bumi hingga akhir masa nanti. Sepanjang sejarah manusia sangat menarik diamati. Fluktuasi pencarian diri dan Tuhan mengalami gejolak pada abad pertengahan. Tetapi suatu saat nanti, kemurnian spiritualisme menggantikan kemunafikan materialisme.

Tanda-tanda kerapuhan materialisme telah mulai tampak sejak keruntuhan Uni Sovyet dan negara-negara komunis pada 1990-an. Begitu pun kejenuhan kapitalisme Amerika dan negara-negara barat. Materialisme bukan saja dianut oleh komunisme saja, tetapi juga kapitalisme yang hakikatnya berpaham materialisme. Sebagian kecil orang-orang barat yang tidak menemukan kepuasan hakiki pada gelimang materi, ia mulai melirik pendekatan spiritual. Meditasi dan yoga adalah beberapa usaha untuk itu.

Sementara itu “jalur sutra” Islam telah jauh-jauh menjelaskan usaha mencapai ketenangan batin. Tidak perlu melalui kesesatan terlebih dahulu, karena setiap saat bisikan hati nurani selalu berusaha mencegahnya. Jikalau kesesatan terpaksa terjadi, baginya tidak lain adalah kehilafan yang benar-benar berskala kecil dan sangat disesali. Ia segera ‘menghukum’ dirinya. Pada tahap kesadaran dirinya telah menemukan fitrah, ia akan menilai dunia sebagai suatu yang fana. Transisi perubahannya telah melihat kebaqaan yang ingin diraihnya. Bukan lagi kepuasan materi, tapi kepuasan hati nurani. Begitu juga bukan kenikmatan dunia yang semu, tetapi kenikmatan abadi yang ada di dalam kalbu.

Transisi fana ke baqa harus dibina dengan menunaikan ibadat sesungguhnya, ibadat sebenar-benarnya dan itulah yang disebut memurnikan ibadat kepada-Nya. Sekali lagi ibadat, bukanlah ritual yang hanya dibatasi hukum dan rukun sholat.

Peribadatan tidaklah sesempit itu.

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih pada Allah. Dan tiada suatupun selain bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. 17:44)

Selain manusia, semua ciptaan Tuhan di langit dan di bumi, termasuk sel-sel yang ada di dalam tubuh manusia, bertasbih kepada Tuhan. Seluruh isi langit-bumi juga demikian juga, meskipun manusia tidak mengetahui cara ibadatnya. Sadarlah bagi manusia yang berpengetahuan (ilmuwan) terutama bagi ulama sufi; bahwa setiap saat, setiap detik, setiap waktu ia harus menyempurnakan ibadatnya dengan memperbaiki lisannya, menjaga pandangannya, menyeleksi pendengarannya, membatasi langkah kakinya dan juga gerak tangannya, hingga membenahi pola berpikir dan berzikirnya.

Proses pembodohan yang mungkin belum disadari umat Islam adalah mengukur peribadatan dari sisi kesempitan hukum, rukun, kuantitas pahala dan dosa, dimensi surga dan neraka, dan lain-lain. Ibadat belum ditanamkan rasa kecintaan kepada Tuhan dan manusia keseluruhan. Begitu juga kesatuannya dengan mahluk seperti hewan, tumbuhan dan alam semesta.

Sekat-sekat agama secara kultur akan memisahkan manusia dari causality integralism. Masih banyak kelompok-kelompok sesama agama Islam yang menyalahkan kelompok lain di luar kelompoknya dan mengafirkan kaum lain di luar agamanya. Bahkan banyak kasus perusakan dan peledakan sarana bangunan ibadat. Fanatisme sempit justru akan menggiringnya kepada kekufuran. Pemahaman terhadap hadits dan mahzab sangat sempit, tidak dikembangkan dan diruntun menurut kejadiannya dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Itulah keterbatasan Guru dan Buku (Kitab) yang tidak dinalar lebih jauh ke dalam kalbu atau hati nurani.

Nabi Muhammad pada suatu pertemuannya dengan pendeta Nasrani pernah dimintai izin pendeta karena pendeta itu akan keluar dari masjid untuk beribadat. Kata Nabi Muhammad, “Beribadatlah di sini (di masjid ini – pen)”. Ini membuktikan keluhuran sikap Nabi Muhammad terhadap umat lain dan memberikan pemahaman bahwa tempat suci berlaku untuk umat lain ketika hendak melakukan ibadatnya secara benar dan khusyu’. Tiada saling mengganggu antar umat yang benar-benar ingin melaksanakan ibadat secara murni, bahkan mereka akan membantu menyediakan fasilitas yang dimiliki.

“Dan tiada suatupun selain bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tak mengerti tasbih mereka”.

Mengapa suatu umat tidak mengafirkan cara bertasbih langit dan bumi yang tidak dimengertinya? Mengapa pada umat lain yang beribadat sangat jelas mengedepankan Kasih Tuhan, Kemanusiaan, Persaudaraan, Amal Saleh justru dituding ingkar?

Sikap membenarkan diri dan menyalahkan orang lain yang tidak seide, semazhab, seagama, seorganisasi dan lain-lain menurut penilaian sepihak menyebabkan kesalahan kumulatif dan turun menurun yang semakin mengotori nilai ibadatnya. Memurnikan ibadat pada Tuhan Yang Mahaesa yaitu ketika ibadat ritual benar-benar “menghadap” pada Tuhan, dan ketika melakukan kegiatan sehari-hari harus menerima realita dengan penuh kasih. Keberagaman cara beribadat membuktikan Tuhan Mahakaya dengan segala ciptaan-Nya, agar manusia mau merenungi keaneka-ragaman manusiawi yang ingin beribadat kepada-Nya dengan caranya masing-masing.

Sepuluh Upaya Pemurnian Ibadat

Ada beberapa upaya untuk memurnikan ibadat, yaitu;

(1) Bersih dari prasangka terhadap apa pun dan siapa pun,

(2) Bersuci fisik, mental dan ibadat formal (misalnya sholat, puasa dan lain-lain),

(3) Melazimkan diam dan zikir (muhasabah dan murraqabah),

(4) Membiasakan “menghidupkan” malam dengan mengaji dan kontemplasi,

(5) Bertutur kata, berpikir dan bertindak baik dan benar,

(6) Suka beramal saleh, santun ke siapa pun apalagi (kedua) orang tua,

(7) Sederhana sungguh-sungguh di dalam menjalani kehidupan fana dunia,

(8) ‘Mempersiapkan’ kehidupan sesungguhnya di ahirat setelah kematian,

(9) Mewariskan kebaikan dan kebenaran bagi merka yang ditinggalkannya,

(10) Senantiasa rindu bersama Sang Maha Kekasih….

Sepuluh (10) upaya memurnikan ibadat tersebut bisa dikembangkan menurut pengertian dan tergantung situasi-kondisi yang bersangkutan. Klasifikasi di atas hanya menggambarkan sifat atau dasar-dasar sikap ‘aslama yang terpadu antara syari’ah, tarikat, hakikat dan ma’rifat.

Dengan memulai uraian Cinta Kasih Sayang Tuhan pada awal ayat ini, “…maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. 65)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: