Bacalah 20. Malaikat, Jin, Setan, Iblis

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Demi malaikat-malaikat yang diutus membawa kebaikan, 1)

dan yang terbang dengan kencangnya, 2)

dan yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya, 3)

dan yang membedakan (antara hak dan bathil) sejelas-jelasnya, 4)

dan yang menyampaikan wahyu, 5)

untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan, 6)

sesungguhnya yang dijanjikan padamu pasti terjadi. 7)

QS. 77. al-Mursalaat (Malaikat yang Diutus) 1-7

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi,

yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap,

masing-masing dua, tiga dan empat.

Allah tambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.

Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. 1)

Apa saja yang Allah anugerahkan pada manusia berupa rahmat,

maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya

dan apa saja yang ditahan Allah

maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.

Dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. 2)

QS. 35. Faathir (Pencipta) 1-2

SEPERTI disebut di atas mobilisasi malaikat naik-turun-naik… antara langit dan bumi merupakan lalu lintas yang padat. Belum lagi malaikat yang menjaga rahasia langit dari para jin yang berusaha menguping skenario langit dan malaikat melempar dengan bola api (QS. 71. Jinn). Kebanyakan orang yang lemah imannya meminta bantuan para jin (yang ingkar) untuk mengetahui peruntungan, nasib, rejeki, jodoh dan lain-lain lewat perantara dukun, orang pintar dan orang-orang semacam itu lainnya. Jadi, di tengah ‘lengang’nya tak terbatas ruang angkasa banyak terjadi hiruk pikuk mobilisasi mahluk ghoib seperti malaikat yang memburu dengan bola-bola api mengejar para jin yang berusaha mencuri-curi pembicaraan langit.

“Segala puji Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang punya sayap, masing-masing dua, tiga dan empat. Allah tambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya…. 1)

Ada sebagian orang membayangkan atau “terpaksa” menggambarkan secara rasional bahwa malaikat memiliki sayap dalam arti yang sebenarnya di belakang punggungnya, seperti bidadari atau sepasang sayap burung. Tetapi secara filosofis, arti sayap mewakili makna kecepatan dan kegesitan seperti kegesitan burung elang ketika bermanuver menikuk di angkasa raya memburu mangsa, atau manuver pesawat yang menakjubkan yang pada awal revolusi pembuatannya terinspirasi oleh sayap burung.

Eksistensi Malaikat

Gerakan para malaikat sangat cekatan karena mengemban amanat Allah yang harus dilaksanakan dengan sangat cepat di luar hitungan manusia. Masing-masing malaikat mempunyai tugas dan fungsi berlainan. Kecepatan masing-masing kelompok malaikat berlainan sesuai bidang tugasnya. Secara simbolis kecepatan itu digambarkan sebagai sayap.

“Malaikat sebagai utusan-utusan yang punya sayap 2, 3, 4,” (QS. 35:1)

“Demi para malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, dan yang terbang dengan kencangnya,” (QS. 77:1-2)

“Demi (para malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, dan yang mencabut lemah-lembut, yang turun dari langit dengan cepat dan yang mendului dengan kencang dan yang mengatur urusan (dunia),” (QS. 79:1-4)

Bahasa al-Qur’an yang kaya perlambang atau simbol pada bahasan yang bersifat khusus tidak harus diterjemahkan apa adanya seperti gambaran bahwa malaikat mempunyai dua sayap di belakangnya seperti sayap burung.

Simbolisme “sayap” lebih mendekati arti kecepatan, kecekatan dan kesigapan. Seperti baling-baling helikopter yang juga bisa dikategorikan sebagai pesawat yang bermanuver lebih lincah, gesit dan cekatan mendarat di tempat sempit di hutan, di atap menara dan seterusnya. Secara khusus, arti “sayap” sama halnya dengan “tangan” bagi manusia yang berfungsi untuk menulis, menggambar dan mengendalikan seluruh pekerjaannya dengan terampil dan cekatan.

Selain kata “sayap” yang dikenakan pada malaikat, al-Qur’an juga memakai simbol “angka” ketika membandingkan kecepatan malaikat dengan persepsi kecepatan menurut manusia. Betapa dengan perbandingan tersebut bisa menggambarkan kekuasaan Tuhan dan kemampuan manusia untuk mengukur kekuasaan Tuhan melalui malaikat-Nya.

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik pada Tuhan dalam sehari yang kadarnya sama dengan 50.000 tahun (bagimu).” (QS. 70:4)

Perbandingan kecepatan itu disesuaikan gerak manusia yang waktu itu sering melakukan perjalanan dengan onta. Jika manusia melakukan perjalanan dengan onta 50.000 tahun dimasukkan juga waktu istirahat beserta pergantian onta dan manusia, juga ketika onta dinaikkan ke kapal dalam perjalanan laut jika menyeberangi laut; maka berapa ratus kali ia mengelilingi bumi selama 50.000 tahun? Jarak yang ditempuh selama itu ditempuh malaikat di dalam sehari! Sulit membayangkannya… apalagi berbenturan dengan arti langit? Sehingga semuanya dikembalikan saja pada Yang Maha Memiliki kerajaan langit dan bumi termasuk malaikat yang setia, tidak lalai melakukan tugasnya. Demikianlah jika manusia berusaha dengan segala potensi perhitungan matematika dan fisikanya berusaha melacak kebenaran angka yang banyak tercantum dalam al-Qur’an. Angka tersebut bisa bermakna harfiah, bisa pula perumpamaan yang mencerminkan falsafah kecepatan atau memisalkan ketidak-terhinggaan.

Simbol-simbol kecepatan malaikat bisa ditiru manusia dengan membuat pesawat super-jet misalnya. Dengan kemajuan teknologi, semakin canggih design sayap pesawat, bentuk aerodinamis akan semakin cepat dan gesit pesawat itu bermanuver melebihi kecepatan suara, mendekati kecepatan cahaya tetapi tidak bisa menyamai apalagi melebihi cahaya. Malaikat yang mempunyai sayap dua, tiga, empat menunjukkan klasifikasi kecepatannya yang bisa melebihi kecepatan cahaya versi manusia.

Perhitungan kecepatan malaikat pada sub-bab di atas adalah menduga-duga meskipun didasari perkiraan ilmiah. Praduga ilmiah diikuti dengan eksperimen untuk menguatkan konklusi ilmiahnya. Sehingga kesimpulan kesementaraan bersifat logis dan rasional.

Firman Tuhan pada QS. 43. az-Zukhruf (Perhiasan) 20, “Manusia tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu (tentang malaikat) selain menduga-duga saja,20)

Pada zaman nabi, masyarakat jahiliyah menduga-duga masalah ghoib termasuk malaikat, tidak dengan ilmu dan iman. Tetapi, dengan demikian, tidak pula diartikan manusia harus menerima ajaran agama secara dogma termasuk makna dan hakikat malaikat. Dengan ilmu pengetahuan yang semakin maju yang menunjang kepekaan kalbu bagi senyawa iman-ilmu, maka menduga bagi orang beriman-berilmu pasti berdasarkan keimanan dan keilmuan yang mendekati nalar dan memiliki dasar. Meskipun tidak mampu mencapai kebenaran hakiki, tetapi penelusuran logis yang realitis dan religis akan relatif memuaskan pemahaman.

Langit dan bumi realism tidak terjangkau pemahaman manusia dan arti simbolism langit dan bumi dipadankan dengan ruh, jiwa dan badan, jasad. Maka ‘malaikat’ di sini bisa berarti ‘mahluk’ yang melanglang buana ke seluruh jagat melaksanakan perintah Allah. Tetapi di sisi lain bisa berarti sebagai ‘energi’ yang menggerakkan organ metabolisme tubuh mulai dari lubuk hati yang paling dalam hingga pergerakan pemikiran, kerja panca indera dan organ tangan maupun kaki. Sebagai energi tak bisa digambarkan berapa kecepatan mata menangkap obyek di depannya, bagaimana kecepatan syaraf motorik-sensorik menghantarkan rasa kasar-halus rabaan ujung jari, berapa kecepatan berpikir akal yang cerdas dan lain-lain.

Firman Tuhan QS.53. an-Najm (Bintang) 1-18, “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkan itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanya wahyu yang diwahyukan (padanya), yang diajarkan oleh (Jibril) yang amat kuat, yang punya akal cerdas; …”

Deskripsi ayat di atas sebagai puncak kecerdasan total yaitu energi intelektual, emosional dan spiritual dari seseorang bernama Muhammad. Malaikat Jibril sebagai ‘sesuatu yang amat kuat, akal cerdas’ menunjukkan rupanya yang asli, bagaimana wujud kecerdasan itu sebenarnya yang mampu mencapai puncak di Sidratul Muntaha, dan diperlihatkan pula tanda-tanda ketuhanan-Nya yang paling besar. Kecerdasan adalah mencerna kebenaran. Di Sidratul Muntaha, kecerdasan puncak itu akan memahami kebenaran puncak, Kebenaran Tuhan.

Sementara itu, “kebersamaan” malaikat bagi manusia mempunyai bermacam-macam fungsi. Mulai mencatat amal perbuatan, melindungi, mencabut nyawanya, prosesi pengadilan di alam kubur dan di padang Masyar hingga penjagaan di surga dan neraka.

Beberapa dalil “kebersamaan” malaikat-manusia adalah,

Tuhan mewahyukan pada malaikat: “Sesungguhnya Aku bersamamu, meneguhkan orang-orang beriman”. (QS. 8:12),

Malaikat tamu Ibrahim (mengabarkan akan punya anak) seperti diutus pada kaum Luth,” (QS. 11:69-83, QS. 51:24-28),

“Malaikat bershalawat untuk Nabi,” (QS. 33:56),

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang mengikutinya bergiliran, yaitu di muka-belakang, menjaga atas perintah Allah.” (QS. 13:11)

“(Dia Tuhan) Mengetahui yang ghoib, maka Dia tidak memperlihatkan pada seorangpun tentang hal-hal yang ghoib. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia adakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakang.” (QS. 72:26-27),

“Dia menurunkan malaikat dengan wahyu dengan perintah-Nya pada siapa yang Dia kehendaki,” (QS. 16:2),

Malaikat lebih dekat dari urat leher manusia, yaitu saat 2 malaikat (pen: Raqib dan Atit) mencatat perbuatannya,” (QS. 50:16-18),

“Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan dan yang terbang kencang, dan menyebarkan (rahmat Tuhan) seluasnya dan membedakan (hak- bathil) sejelas-jelasnya, dan menyampaikan wahyu untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan, sesungguhnya apa yang dijanjikan padamu pasti terjadi.” (QS. 77:1-7)

“Malaikat memohonkan ampunan kepada orang-orang yang berzikir,” (QS. 33:43),

“Malaikat juga penolong bagi manusia,” (QS. 66:4)

Perincian fungsi dan tugas pokok malaikat tersebut membuktikan bahwa malaikat sebagai mahluk ghoib itu setia menjalankan tugas-tugas yang diberikan Tuhan kepadanya dan sama sekali tidak lalai, tidak pernah menawar apalagi membantah seperti manusia yang enggan, malas hingga menjadi penentang yang nyata. Fungsi dan tugas pokok malaikat adalah sangat mulia, meskipun beberapa di antaranya mengandung ketegasan dan kekerasan terutama untuk orang ingkar dan jin yang membangkang. Sehingga bagi manusia yang menghendaki kemuliaan, malaikat akan selalu bersamanya, menjaganya, apalagi ketika ia senantiasa berzikir

Firman Tuhan pada QS. 35. Faathiir (Pencipta) 10,

“Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. Pada-Nya naik perkataan-perkataan baik dan amal saleh dinaikkan oleh-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab keras dan rencana jahat mereka akan hancur.10)

Menyambung Firman Tuhan QS. 35. Faathir (Pencipta) 2 pada awal kajian ini, “Apa yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun dapat menahannya dan apa saja yang ditahan Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. 2)

Dihubungkan dengan malaikat seperti ayat sebelumnya, maka rahmat dibawa malaikat untuk manusia yang dikehendaki Tuhan dijaganya amanat untuk disampaikan kepada yang bersangkutan. Walaupun jin atau iblis berusaha mengganggunya, tetapi penjagaan malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat tidak mampu ditembus oleh jin atau iblis. Orang yang menerima kemuliaan Tuhan, maka orang atau pihak lain yang merencanakan kejahatan akan memperoleh azab keras dan rencana jahat mereka hancur.

Bagi Tuhan kemuliaan itu semuanya. Percikan setetes kemuliaan dari Tuhan pada hamba-hamba-Nya yang terpilih merupakan rahmat yang tiada terhingga. Cara meraihnya adalah dengan perkataan baik, tiada prasangka, berkata yang ada manfaatnya, melazimkan diam yang baik (silent is golden), amal saleh, segala yang dimiliki dan dilakukan untuk ibadat. Karena hanya perkataan baik dan amal saleh yang naik ke langit (lihat QS. 34. Saba’ 1-2).

Malaikat menjadi menjadi saksi turunnya al-Qur’an, seperti pada Firman Tuhan pada QS. 4. an-Nisaa’ (Wanita) 166, “…tetapi Allah mengakui al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan Ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya,166)

Malaikat yang mulia dan berbakti itu juga berfungsi sebagai penulis secara abstraksi kitab-kitab yang dimuliakan, ditinggikan lagi disucikan, termasuk di dalamnya al-Qur’an. Arti penulis bukan seperti Said bin Tsabit yang mendata, mengumpulkan, menuliskan secara tekstual. Tetapi malaikat penulis itu menuliskan secara kontekstual dan esensial dalam Kitab Nyata Lauh Mahfuzh.

Firman Tuhan pada QS. 80. ‘Abasa (Ia Bermuka Masam) 11-16, “Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.”

Malaikat Jibril sebagai utusan yang mulia mempunyai kekuatan dan berkedudukan tinggi di sisi Tuhan. Ia ditaati di alam malakut dan yang menyampaikan wahyu al-Qur’an pada Muhammad;

“Kitab al-Qur’an benar-benar firman (Tuhan yang dibawa oleh) utusan mulia (Jibril) mempunyai kekuatan, berkedudukan tinggi di sisi Tuhan yang punya ‘Arsy, dita’ati di sana (alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) bukan sekali-kali orang gila. Dan ia sesungguhnya melihat Jibril di ufuk terang. Dan Dia (Muhammad) bukan orang bakhil untuk menerangkan yang ghoib. Dan al-Qur’an bukanlah perkataan setan terkutuk, maka ke manakah kamu akan pergi? al-Qur’an tiada lain hanya peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa diantaramu yang mau menempuh jalan lurus. Dan kamu tidak dapat kehendaki kecuali dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. 81:19-29),

“Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang tertulis, yang disaksikan malaikat-malaikat yang didekatkan (pada Allah).” (QS. 83:19-21)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam mulia. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan? Malam kemuliaan itu lebih baik dari 1000 bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. 97. al-Qadar 1-5)

Malaikat sebagai penulis Kitab Nyata Lauh Mahfuzh, termasuk di dalamnya kitab-kitab samawi dan Kitab al-Qur’an, mempunyai konsekuensi menjaga kitab-kitab mulia itu. Cahaya kemuliaan itu akan menjadikan mulia bagi yang menghendaki kemuliaan dengan membaca dan mengkajinya yang malaikat pun setia mendampingi dan melindunginya. Tugas pokok dan fungsi malaikat juga terkait dengan kematian, kiamat dan kebangkitan,

“Manusia diwafatkan oleh Allah melalui malaikat-Nya,.” (QS. 4:97, QS. 6:61,93,158, QS. 8:50, QS. 16:28-35, QS. 32:11), dan; “Saat sakaratul maut ada malaikat penggiring dan penyaksi (malaikat Munkar dan Nakir),” (QS. 50:20-34)

“Malaikat bekerja pada saat kiamat menggulung langit seperti kertas,” (QS. 21:103), dan; “Pada saat langit pecah belah, diturunkan malaikat secara bergelombang,” (QS. 25:25)

“Jika langit terbelah dan bintang jatuh berserakan dan jika laut meluap, kuburan dibongkar maka tiap jiwa akan mengetahui yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apa yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah yang telah menciptakan lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang dalam bentuk apa yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya durhaka, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagimu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, yang mulia (di sisi Tuhan) dan yang mencatat, mereka tahu yang kamu kerjakan….” (QS. 82:1-19)

“Jangan (demikian). Jika bumi digoncang berturut-turut, dan datanglah (perintah) Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam dan pada hari ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Ia katakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dulu kerjakan (amal saleh) untuk hidupku “. maka pada hari itu tiada seorangpun menyiksa spt siksa-Nya, dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (QS. 89:21-26)

Soal hari kebangkitan; “Ada malaikat yang menyeru pada hari kebangkitan,” (QS. 54:6-8), dan hari pembalasan; “Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali diberi izin Tuhan Maha Pemurah dan ia ucapkan kata-kata benar.” (QS. 78:38), dan soal neraka; “Malaikat penjaga neraka sifatnya keras dan kasar,” (QS. 66:6)

Malaikat Jibril sebagai malaikat yang banyak disebut dalam al-Qur’an mempunyai posisi istimewa, karena turut serta mengantar Nabi Muhammad sampai di tempat paling ghoib Sidratul Muntaha.

Beberapa keterangan mengenai malaikat Jibril: (1) Jibril itu telah menurunkan (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Tuhan (QS. 2:97), (2) Musuh Tuhan, para malaikat dan rasul-Nya, Jibril dan Mikail adalah orang ingkar (QS 2:98), (3) Memberitahukan Zakaria bahwa ia akan punya anak yaitu Yahya (QS. 3:39), (4) Mendatangi Maryam dan mengabarkannya akan punya anak yaitu Isa (QS. 3:42-48), (5) Jibril (Ruhul Qudus) membawa turun al-Qur’an ke dalam hati Muhammad, (QS. 26-192-194), (6) Tuhan mengutus Jibril membawa perintah-Nya, (QS. 40:14-15), (7) Muhammad dan Jibril di Sidratul Muntaha (QS. 53:1-18), (8) Tuhan, Jibril, orang-orang mu’min dan malaikat adalah penolong, (QS. 66:4), (9) Para malaikat dan Jibril naik pada Tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun, (QS. 70:4), (10) Dan sesungguhnya, Muhammad telah melihat Jibril di ufuk yang terang. (QS. 81:23), (11) Pada malam itu (lailatul qadr) turun malaikat-malaikat dan juga malaikat Jibril dengan seijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (QS. 97:4)

Beberapa dalil al-Qur’an yang menunjang eksistensi malaikat, yaitu; (1) Sujud pada Adam di surga (QS. 2:30-39, QS. 7:11, QS. 15:30, QS. 17:61, QS. 18:50, QS. 20:116, QS. 38:73), (2) Ada sejumlah 3000-5000 malaikat membantu di Perang Badar (QS. 3:124-125), (3) Para malaikat tidak pernah merasa enggan menyembah Tuhan, mentasbihkan-Nya dan selalu bersujud, (QS. 7:206, QS. 4:172, QS. 16:49-50, QS. 21:19-20), (4) Syafa’at malaikat tidak berguna selain ada ijin dari Alah bagi orang-orang yang dikehendaki, (QS. 53:26-27), (5) Dan malaikat-malaikat ada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu ada delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS. 69:17)

Kesimpulan umum tentang malaikat adalah: (1) Malaikat tergolong mahluk ghoib, setia dan tak pernah lalai akan tugas-tugasnya, (2) Malaikat bisa tunduk kepada manusia dengan seijin Tuhan, (3) Malaikat mempunyai tugas pokok dan fungsi berbeda-beda yang bekerja dengan kecepatan tinggi di luar jangkauan manusia, (4) Malaikat Jibril mempunyai kekhususan sebagai malaikat, (5) Malaikat menyertai manusia dengan seijin Tuhan.

Eksistensi Jin

Beberapa keterangan mengenai Jin: (1) Orang musyrik menjadikan jin sebagai sekutu Tuhan (QS, 6:100), (2) Jin dan manusia bisa jadi bagian dari setan sebagai musuh nabi (QS. 6:112), (3) Golongan jin telah banyak menyesatkan manusia, (QS. 6:128), (4) Isi Jahannam banyak jin-manusia, punya hati, mata, telinga tetapi tidak ‘berfungsi’, (QS 7:12, 11:119, 32:13), (5) Jin diciptakan sebelum Adam, terbuat dari api sangat panas, (QS 15:27), (6) Jika manusia dan jin berkumpul, mereka tidak mampu membuat serupa al-Qur’an, (QS. 17:88), (7) Iblis adalah dari salah satu golongan dari jin, (QS. 18:50), (8) Jin adalah salah satu tentara Nabi Sulaiman As. (QS. 27:17), (9) Jin Ifrit adalah tentara Sulaiman dari kelompok jin cerdik (QS. 27:39), (10) Jin tidak mengetahui kematian Sulaiman jika tidak didahului oleh rayap, (QS. 34:14), (11) Jin banyak disembah orang yang ingkar, mereka beriman pada jin, (QS. 34:41), (12) Jin tahu akan diseret ke neraka, orang ingkar mengadakan nasabnya dengan Tuhan, (QS. 37:158), (13) Ada serombongan jin yang diam mendengarkan al-Qur’an dibaca, (QS. 46:29-32), (14) Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia selain supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56), (15) Jin diciptakan dari (nyala) api, (QS. 55:15), (16) Jama’ah jin-manusia bisa melintasi langit dgn ‘kekuatan’ tapi dilepaskan nyala api (QS. 55:33-35), (17) Ada bidadari surga yang belum dijamah manusia dan jin, (QS. 55:56,74), (18) Penjelasan soal jin secara lengkap, (QS. 72:1-28), (19) Kejahatan dari setan yang tersembunyi, membisikkan ke dada manusia yang terdiri dari jin dan manusia (QS. 114:6)

Kesimpulan secara umum tentang jin adalah: (1) Jin sebagai mahluk ghoib ada yang beriman dan ada yang ingkar, (2) Jin bisa tunduk kepada manusia dengan seijin Tuhan, (3) Jin mempunyai tugas pokok dan fungsi sama sepert manusia, (4) Jin ada yang mempunyai kekhususan, misalnya jin Ifrit. (5) Jin menyertai manusia dengan seijin Tuhan.

Eksistensi Setan

Mahluk bernama setan bersifat khusus yang sering disebutkan sebagai “bisikan-bisikan”, bukan wujud mahluk konkrit seperti jin, iblis maupun malaikat yang bisa menjelma. Bisikan setan sifatnya bisa sangat halus hingga kasar yang bersemayam pada iblis maupun manusia.

Ada beberapa pegangan untuk menghadapi setan, di antaranya;

Firman Tuhan QS. 23. al-Mu’minuun (Orang-Orang Beriman) 97-98,

Dan katakan “Ya Tuhanku aku berlindung pada-Mu dr bisikan-2 setan.97) Dan aku berlindung pada-Mu ya Tuhanku dari kedatangan mereka 98)“.

Firman Tuhan pada QS. 41. Fush-Shilat (Yang Dijelaskan) 36,

“Dan jika setan mengganggumu, maka mohon perlindungan pada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.36)

Beberapa keterangan mengenai Setan: (1) Menggelincirkan Nabi Adam dari surga, (QS. 2:36), (2) Membisikkan pikiran jahat pada Adam-Hawa, makan khuldi, tampaklah aurat, (QS. 2:20, 7:27), (3) “Sesungguhnya setan musuh nyata bagimu berdua”, (QS. 2:22), (4) “Sesungguhnya setan musuh nyata bagimu”, (QS. 36:60), (5) Menjanjikan (menakut-nakuti dengan) kemiskinan, menyuruh kejahatan, (QS. 2:268), (6) Setan itu seburuk-buruk sebagai teman, (QS. 4:38), (7) Setan itu menyesatkan dengan menyuruh berhakim pada thaghut (orang yang menerapkan hukum secara curang; atau berhala-berhala), (QS. 4:60), (8) Orang ingkar berperang di jalan taghut menjadi kawan-kawan setan, (QS. 4:76), (9) Syirik menyembah berhala, menyembah setan, (QS. 4:117-118), (10) Setan memberi janji dan angan yang kosong, tipuan belaka, (QS. 5:90-91), (11) Khamar, berjudi, korban untuk berhala, mengundi nasib adalah perbuatan setan, ((QS. 6:43, 8:48), (12) Setan menampakkan pada pengikutnya kebagusan yang mereka lakukan (QS. 16:63, 27:24). (13) Setan ada pada perbincangan yang mengolok-olok ayat-ayat Tuhan, (QS. 6:68-70), (14) Setan itu menyesatkan di pesawangan yang menakutkan, di dalam keadaan bingung, (QS. 6:71), (15) Setan meliputi jin dan manusia, (QS. 6:112), (16) Setan membisikkan pembelihan yang tidak disebut nama Tuhan, (QS. 6:121), (17) Setan itu pemimpin orang tidak beriman, (QS. 7:27-30), (18) Setan menganjurkan jangan pemaaf, berbuat mungkar, bergabung kebodohan, (QS. 7:199-202), (19) Hujan itu menyucikan, menghilangkan gangguan setan, (QS. 8:11), (20) Setan menjadikan lupa bagi teman sepenjara Nabi Yusuf, (QS. 12:42), (21) Setan munafik di akhirat, menyangkal janjinya waktu masih di dunia, (QS. 14:22), (22) Setan mencuri-curi dengar rahasia langit, tetapi dikejar semburan api, (QS. 15:18), (23) Setan tidak kuasa atas orang yang beriman dan bertaqwa, (QS. 16:99), (24) Sifat boros itu saudara setan, (QS. 17:27), (25) Setan timbulkan perselisihan, musuh bagi manusia, (QS. 17:53), (26) Ibrahim melarang bapaknya menyembah berhala, karena itu setan yang durhaka, (QS. 19:44), (27) Setan dibangkitkan bersama orang ingkar, musyrik, zalim di akhirat kelak, (QS. 19:68), (28) Setan menghasut orang yang ingkar untuk berbuat maksiat, (QS. 19:83), (29) Setan ditundukkan Sulaiman untuk menyelam, bekerja padanya, (QS. 21:82), (30) Setan bekerja untuk Sulaiman sebagai penyelam, ahli bangunan, lainnya terbelenggu (QS. 38:38), (31) “Ya Tuhanku aku berlindung pada-Mu dari bisikan setan. Dan aku berlindung pada Engkau ya Tuhanku dari kedatangan mereka padaku”. (QS. 23:97-98), (32) Setan menyuruh perbuatan keji dan mungkar, (QS. 24:21), (33) Setan tidak kuasa membawa turun al-Qur’an, (QS. 26:210-212), (34) Setan turun pada tiap-tiap pendusta (QS. 26:221-227), (35) Setan jangan sampai menipu memperdayakanmu tentang Tuhan, (QS. 35:5-8), (36) Pohon zaqqum mayangnya seperti kepala setan, di dasar neraka jahim, (QS. 37:65), (37) Setan mengganggu Nabi Ayyub dengan kepayahan dan siksaan, (QS. 38:41), (38) Dan jika setan mengganggu, berlindunglah pada Tuhan.. (QS. 41:36), (39) Setan beserta orang-orang yang menyimpang dari pengajaran Yang Maha Pemurah, (QS. 43:36), (40) Setan menghalangi dari jalan yang benar, menyangka merekalah yang mendapat petunjuk, (QS. 43:37-38), (41) Setan memanjangkan angan-angan manusia, (47:25), (42) Setan telah menjadikan manusia memandang baik di dalam hatinya persangkaan itu, (QS. 48:12), (43) Sesungguhnya pembicaraan yang rahasia itu dari setan, (QS. 58:10), (44) Setan menjadikan manusia lupa dari mengingat Tuhan, (QS. 58:19), (45) Dan al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk, (QS. 81:25), (46) Kejahatan setan yang tersembunyi, membisikkan ke dada manusia yang terdiri dari jin dan manusia (QS. 114:6)

Kesimpulan secara umum tentang Setan adalah: (1) Setan tergolong bisikan ghoib yang membisikkan kesesatan, (2) Setan tidak berkuasa atas orang-orang yang beriman, tetapi terus membisikkan barangkali ada kelengahan, (3) Setan mempunyai tugas pokok dan fungsi menyesatkan manusia, (4) Setan mempunyai keseragaman tugas menyesatkan manusia, (5) Setan menyertai manusia yang ingkar.

Eksistensi Iblis

Beberapa keterangan mengenai Iblis : (1) Tak mau sujud pada Adam sebab enggan, takabur, termasuk golongan ingkar (QS. 2:34, 17:61), (2) Tak mau sujud sebab lebih baik ciptaannya (dari api), sombong (QS. 2:12, 15:31, 38:72-80, 20:116-117). (3) Mengganggu manusia dari muka, belakang, kanan dan kiri (QS. 2:17), (4) Iblis salah satu golongan dari jin, (QS. 18:50), (5) Iblis bertengkar dengan orang-orang tersesat di neraka, (QS. 26:95-104), (6) Iblis dapat membuktikan sangkaannya pada orang ingkar, (QS. 34:20), (7) Iblis tidak kuasa atas orang beriman, (QS. 34:21)

Untuk menghadapi iblis yang pekerjaannya menggoda dan menakuti, maka pegangan orang-orang yang beriman yaitu keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan. Sebagai zikirnya juga bisa mengamalkan QS. 23:97-98 dan QS. 41:36 seperti menghadapi bisikan-bisikan setan. Secara khusus jika melibatkan manusia yang bersekutu dengan iblis dan setan, orang beriman mengamalkan sering 3 surat qulhu (QS. 112-114). Tetapi bagaimanapun orang beriman dan bertaqwa, yang kokoh dan khusyu’ sholatnya, rajin puasa hingga aktif zikir di malam hari, maka setan dan iblis takkan kuasa terhadapnya (QS. 16:99).

Kesimpulan secara umum tentang Iblis adalah: (1) Iblis tergolong mahluk ghoib dan salah satu golongan jin ingkar, termasuk tidak mau sujud kepada Nabi Adam di surga, (2) Iblis bisa menjelma mahluk halus yang menakut-nakuti manusia, tetapi tidak bagi mereka yang beriman dan bertaqwa, (3) Iblis mempunyai tugas pokok dan fungsi mengganggu manusia, (4) Iblis bertengkar dengan orang-orang yang disesatkan di neraka, karena janji iblis tidak terbukti yang ‘digugat’ oleh mereka yang berhasi disesatkan iblis sehingga masuk neraka, (5) Iblis menyertai manusia ingkar yang menyekutukan Tuhan dan meminta tolong padanya dengan seijin Tuhan, tetapi persekutuan iblis dan orang ingkar itu tidak kuasa atas orang-orang yang telah mantap imannya kepada Tuhan.

Doa Malaikat

Sebagai penutup akhir pada kajian ini, perlu diketahui bahwa malaikat yang berada di sekeliling ‘Arsy, bertasbih memuji Tuhan, memintakan ampun bagi orang-orang beriman.

Doanya adalah sebagai berikut,

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan dan mereka beriman pada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya ucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan pada orang-orang taubat dan ikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala,7) ya Tuhan kami dan masukkanlah mereka ke surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan pada mereka dan orang-orang saleh di antara bapak-bapak dan isteri-isteri dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana8) dan peliharalah mereka dari kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya Engkau telah anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan besar9)“. (QS. 40. al-Mu’min / Orang Beriman 7-9) ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: