Bacalah 19. Yang Masuk, Yang Keluar

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan bumi

Dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat.

Dan Dia Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui”. 1)

 

Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, yang keluar dari padanya,

apa yang turun dari langit dan apa yang naik padanya.

Dan Dia yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun”. 2)

 

QS. 34. Saba’ 1-2

 

 

SELAIN ayat ini membahas tentang sesuatu yang masuk dan keluar, Tuhan juga berfirman pada QS. 57 al-Hadid (Besi) 4-6, “Dia mengetahui yang masuk ke dalam bumi dan yang ke luar daripadanya, dan yang turun dari langit dan yang naik ke padanya. Dan Dia bersamamu, di mana saja kau berada. Dan Tuhan Maha Melihat apa yang kau kerjakan. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi, dan kepada Tuhan dikembalikan segala urusan. Dia yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati”

Manusia dan Fungsi “Saluran”

“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan bumi Dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. 1)

Tuhan menunjukkan bahwa Diri-Nya yang berhak atas segala pujian baik di langit, di bumi dan di akhirat kelak. Sehingga mengenai pujian ini fungsi manusia sebagai “saluran” atau terusan (canal) yang mengantarkan segala pujian bagi Tuhan sebagai Sang Khaliq dari semua mahluk yang senantiasa bertasbih-tahmid pada-Nya, kecuali segolongan jin dan manusia yang ingkar. Dengan demikian, di dalam diri manusia akan terus mengalir siklus zikir tahmid, yaitu “Mahapuji bagi Allah dengan segala Firman-Nya, Tuhan Seluruh Alam”.

Sejak sebelum manusia dilahirkan, saat kelahiran, menjalani kehidupan di bumi hingga saat kematian kelak, sebenarnya telah tersirat segala puji bagi Tuhan Semesta Alam. Betapa telah banyak dijelaskan di dalam Kitab Tuhan mengenai kejadian manusia pertama maupun kejadian manusia dalam rahim dan terbukti nilai kebenaran hakikinya. Sejak proses kejadian manusia mulai dari alam roh, lalu masuk dan bersenyawa dengan janin dalam rahim, kemudian lahir sebagai bayi yang mungil lucu tiada daya kekuatan fisik, hingga dewasa dan cerdas, lalu siklus fisik menurun kembali, menjadi tua, lemah dan pada akhirnya mati berkalang tanah, kembali menyatu dengan unsur-unsur yang ada di dalam tanah.

Pengingkaran terhadap Tuhan bukan saja oleh orang-orang bodoh yang uneducated. Tetapi pengingkaran bahkan dilakukan secara sistemis oleh orang-orang yang bergelar sederetan titel kesarjanaan, yang hanyut pada sekulerisme ilmunya. Mereka itu orang-orang pandai, tetapi menjadi bodoh di dalam kepandaiannya, hanya puas pada kecerdasan intelektual tetapi mengalami pendangkalan kecerdasan emosional dan spiritual.

Mereka yang bodoh di dalam kepandaiannya, bisa diibaratkan seperti pipa saluran yang ada kerak di sisi bagian dalam dinding pipa, bahkan telah membuntu pipa saluran itu sendiri. Segala penguasaan ilmu pengetahuan beserta hasil-hasil materialistiknya, dan pemuasan pujian terhadap dirinya, telah membutakan mata hatinya. Mungkin ia tidak secara langsung ingin dipuji karena tidak sadar atau pandainya ia mengatur strategi. Dengan bahasa merendah dan penampilan yang disantun-santunkan, ada riya’ dalam dirinya agar orang lain melihat dirinya pandai tetapi rendah hati, kaya tetapi banyak amalnya, dan lain-lain sikap munafik (hipokrit) yang sangat halus merasuki sukma manusia.

Bagi manusia yang telah mengerti posisinya hidup di dunia ini dan menghayati fungsinya sebagai saluran, terusan atau canal, maka tidak saja dalam hal pujian, masalah ilmu, rejeki dan lain-lain amal saleh; manusia pun berfungsi sebagai canal.

Menumpuk segala pujian, ilmu dan rejeki untuk dirinya sendiri akan menyebabkan kebuntuan canal dan berakibat menggelembung menjadi kesombongan status, kepicikan intelektual dan kekikiran kekayaan. Pada saatnya nanti penggelembungan akan menjebolkan pipa jika telah melebihi batas kekuatan dinding pipa.

Dengan mengembalikan pujian hanya milik Tuhan, begitu juga ilmu dan kekayaan yang dimiliki, akan menjauhkan manusia dari sifat takabur, sombong, pamrih, riya’, kikir, serakah, tamak dan sifat-sifat setaniah lain yang bersemayam di dalam basyariah tubuh dan hati manusia. Pipa saluran akan bersih dari kerak dan karat. Justru dengan tidak adanya hambatan kerak dan karat akan semakin lancar dan deras mengalirkan air kehidupan

Hikmah lain dari adanya saluran yang lancar, yaitu akan bisa semakin menyejahterakan banyak orang yang menerima dan memanfaatkan pipa saluran tersebut.

Inilah yang dinamakan insan kamil dan rahmatan lil’alamiin.

Sirkulasi Alam

“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, yang keluar dari padanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik padanya. Dan Dia Maha Penyayang lagi Pengampun 2)“.

Sebagai gambaran siklus alamiah, dan juga rohaniah, dapat sedikit dijabarkan kegiatan alam yang menyangkut ayat ini. Tabulasi gambaran tersebut dijelaskan pada akhir sub-bab ini.

Tabel di bawah sekedar menggambarkan sedikit sekali proses alam dari jumlah yang tak terhitung pergerakan mahluk Tuhan, baik yang konkret maupun yang abstrak, dari bumi ke langit. Belum lagi doa-doa hamba Allah sepanjang waktu dan terutama di malam hari yang naik ke langit, serta rahmat dan laknat Tuhan yang turun dari langit ke bumi secara spiritual.

Selain itu di antara langit dan bumi secara astronomical, banyak terjadi pergerakan benda ruang angkasa – baik dalam arti sebenarnya maupun kiasan – memungkinkan dinamika yang terjadi pada jagat raya ini begitu kompleks.

Manusia Serba Tidak Tahu

Manusia yang sadar, sesadar-sadarnya, pasti menyadari bahwa ada satu hal yang pasti baginya, yaitu: (1) Soal pengetahuan, yang pasti ia tidak tahu secara pasti akan suatu hal, (2) Soal kepemilikan, yang pasti ia tidak pernah memiliki apa pun di dunia, (3) Kepastian adalah ketidak-pastian itu sendiri,

Misalnya soal tubuh atau badan yang melekat pada dirinya. Asal badan adalah sari pati makanan yang dimakan ibu-bapaknya berasal dari hewan, tumbuhan dan unsur hara di dalam tanah. Badan yang berasal dari sari pati makanan berupa ovum dan sperma membentuk janin, bayi hingga menjadi manusia dewasa.

Pada titik optimal ia tumbuh berkembang menjadi manusia sehat, kuat, cantik dan tampan. Dimanjakanlah tubuh-badan secara berlebihan sehingga lupa menyapa Tuhan yang telah membentuk tubuhnya sedemikian indah. Itu pasti tidak akan dilakukannya jika ia menyadari sesadar-sadarnya bahwa tubuhnya akan mati, dikubur kembali berkalang tanah, dan lenyap menjadi debu diterpa angin. Sehingga kesimpulannya, manusia pun tidak berhak mengklaim tubuh-badannya adalah hak milik azasinya.

Kebenaran hakiki memang suatu misteri. Manusia tidak akan berhak mengakui telah memperoleh kebenaran itu. Status hukum dari ilmu yang masuk dan amalan yang keluar juga tidak tahu kebenarannya secara pasti. Manusia hanya bisa bermunajat agar memperoleh ilmu yang benar, masuk secara benar dan keluar secara benar. Tidak lebih dari itu…

Untuk menempatkan diri secara benar, masuk secara benar dan keluar secara benar, manusia harus banyak komunikasi dengan Tuhannya untuk memperoleh petunjuk-Nya; terutama beribadat di malam hari, sholat tahajud dan berdoa:

Firman Tuhan pada QS. 17 al-Isra’ (Perjalanan Malam) 80,

“Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkan aku secara keluar yang benar; dan berikan padaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.80)

Bahasan lengkap soal ibadat malam di atas terdapat pada Kajian 42: Lambung Jauh dari Kasur. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: