Bacalah 17. Kelemahan & Kekuatan

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah

seperti laba-laba yang membuat rumah.

Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah

ialah rumah laba-laba jika mereka mengetahui. 41)

 

Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah.

dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. 42)

 

Dan perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia,

tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. 43)

 

Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak.

Sesungguhnya yang demikian itu

terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mu’min. 44)

 

Baca yang telah diwahyukan padamu yaitu Al-Kitab (Qur’an)

dan dirikan sholat.

Sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) lebih besar (utama dari ibadat lain).

Dan Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan. 45)

 

QS. 29. al ‘Ankabuut (Laba-Laba) 41-45

 

 

KELEMAHAN dan kekuatan adalah persenyawaan sebagai simbol salah satu keseimbangan. Menilai sesuatu lemah dan kuat tergantung dari sisi mana melihatnya. Misalnya rumah laba-laba lemah secara fisik, tetapi memiliki “kekuatan” ketika Tuhan “menyembunyikan” Nabi Muhammad dalam gua dan memerintahkan mahluk kecil bernama laba-laba membuat sarang di mulut gua. Ketika musuh sampai di mulut gua dan melihat adanya sarang laba-laba, mereka memastikan Nabi Muhammad tidak ada dalam gua, karena kalau memasuki gua tersebut pastilah sarang laba-laba di mulut gua akan rusak tercabik-cabik.

Segala sesuatu pasti mempunyai pasangannya, sebagai ciri khas azali ciptaan Tuhan dan simbol keadilan karena mencerminkan keseimbangan sekaligus kebesaran Tuhan. Firman Tuhan pada QS. 51. adz-Dzaariyaat (Angin yang Menerbangkan) 49, “Dan segala sesuatu Kami menciptakan berpasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.49)

Firman Tuhan pada QS. 42. asy-Syuura(Musyawarah) 11-12, “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri berpasangan dan dari jenis binatang ternak berpasangan, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tak sesuatupun serupa dengan Dia dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Kepunyaan-Nya segala perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ciptaan Tuhan berpasangan, mulai manusia laki-laki dan perempuan, ciptaan berupa semua mahluk yang simetris berpasangan kiri-kanan atau atas-bawah dan lain-lain; termasuk biji-bijian dan hewan, surga dan neraka, malaikat dan setan, langit dan bumi, ruh dan jiwa, dan lain-lain. Kondisi itu bukanlah pertentangan tetapi perpasangan. Jika manusia mampu berpikir, ia bisa mengambil hikmah ion positif dan negatif yang menghasilkan cahaya.

Tentang ‘Rumah’

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba jika mereka mengetahui. 41)

Secara sadar atau tidak, banyak manusia berlindung pada selain Tuhan. Rumah mewah struktur beton, pondasi tiang pancang, berlantai marmer, dilengkapi alarm, anjing, satpam, berlokasi di kompleks elite serta karier yang menjanjikan untuk membiayai itu semua; tetapi selama ia mengambil pelindung selain Tuhan…, ia seperti laba-laba yang membangun rumahnya.

Pelindung selain Tuhan yang dimaksud di atas misalnya pada kekayaan, uang, jabatan, titel, kekuasaan, backing pejabat-militer, rekayasa hukum, dan lain-lain sifat syirik halus maupun kasar yang sering tidak disadari dan banyak terjadi di masyarakat. Sebagian masyarakat menghambakan diri pada jin ingkar melalui klenik, dukun dan ilmu hitam-kelabu lainnya yang tidak diridhoi Tuhan; yang semuanya disponsori setan. Padahal jin dan manusia diperintahkan Tuhan untuk menyembah-Nya, bukan mempersekutukannya.

Firman Tuhan pada QS. 51. adz-Dzaariyaat 56,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia selain supaya mereka menyembah-Ku.56)

Persekongkolan jin dan manusia menyangka segala sesuatunya seakan bisa selesai hanya dengan uang dan kekuasaan semu. Bahkan agama pun dikemas sebagai komoditi paling laku bagi mereka yang mampu ‘membeli’ dengan berbagai cara dan memperdagangkannya. Eksklusivisme demikian mengakibatkan umat lumpuh, meskipun jumlahnya banyak (floating mass).

Sesungguhnya Tuhan mengetahui apa saja yang mereka seru selain Dia. Banyak orang sembahyang tetapi ‘belum sembahyang’, orang puasa sekedar menunda makan, menyebut Tuhan tetapi pada hakikatnya mendimensikan Tuhan di dalam kerangka ruang-waktu-harta-tahta-kuasa-dunia. Sekali lagi, sesungguhnya Tuhan mengetahui apa yang diseru manusia selain Tuhan.

Segala pembangunan dan peradaban dibangun ‘atas nama’ selain Tuhan telah diperingatkan Tuhan bahwa manusia membuat pembangunan dan peradaban seperti sarang laba-laba yang lemah. Makna lain rumah laba-laba bisa diartikan tidak saja bangunan berupa rumah yang dihuni keluarganya atau pembangunan fisik yang dilakukan manusia. Hakikat “rumah” yang dimaksud bisa berarti “tubuh” manusia. Jika manusia hanya membekali diri dengan ilmu sekuler yang materialistik, maka bangunan rumah ‘tubuh’ itu pasti rapuh seperti lemahnya rumah laba-laba.

Meskipun secara visual tampaknya ia tegar, gagah, cantik nan rupawan, kaya, tubuh terawat oleh fitnes, kulit-rambut-kuku-mata dan anggota tubuh terawat rutin di salon; tetapi jiwa-hatinya yang kesepian, batin yang tidak tersentuh fitrahnya akan menunjukkan kelemahan jiwa-hatinya. Ia mudah tertimpa stres, sedih, kuatir, takut, marah, iri, dengki, ambisi serta penyakit jiwa dan hati lainnya. Banyak kawan, rekan dan kolega mengelilinginya tetapi tidak mencerminkan sahabat sejati.

Seseorang diukur kematangannya tidak pada saat luwesnya ia bergaul, obrolannya mengikat atau orasi yang mempresentasikan proposal di forum; tetapi justru ia bisa dinilai dari ketahanannya ketika ia di dalam diam dan kesendiriannya. Banyak orang modern atau para eksekutif yang tak mampu bertahan di dalam diam dan kesendiriannya, apalagi menikmatinya.

Sehingga rumah “tubuh” manusia harus pula dibekali dengan keimanan yang utuh dan murni. Kekayaan jiwa-hati yang abstrak itu berupa nilai-nilai luhur yang immaterialistik sifatnya, unsur-unsur ukhrawi, ilahiah-insaniah, etika-estetika. Dengan demikian, justru ia akan sangat menikmati di dalam diam dan kesendirian. Kumpulan orang yang tidak kompeten baginya justru akan semakin merepotkan dan membuatnya tidak nyaman.

Dengan diam dan kesendiriannya, ia banyak bercengkerama dengan diri dan Tuhannya. Ia mengekspresikan jiwa-hatinya melalui membaca, menulis, memasak, merancang, apresiasi seni, puisi, sastra, berkarya dan lain-lain aktifitas pribadi. Rumah tubuhnya akan kokoh tahan bantingan menghadapi segala cobaan dan tantangan di dunia yang fana. Ia telah menemukan jati diri dan kehidupan sesungguhnya di dalam dirinya sendiri.

Kekuatan Ilmu dan Iman

“Dan perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, tiada yang memahami kecuali orang yang berilmu. 43) Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya yang demikian itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mu’min. 44).”

Dengan ilmu, manusia menguak rahasia alam termasuk kemampuan menerjemahkan perlambang, simbol atau perumpaman yang dibuat Tuhan untuk manusia. Tidak terhingga Tanda Kekuasaan Tuhan yang terpampang di alam semesta; baik alam mikrokosmos atom, makrokosmos jagat raya maupun diri manusia. Setelah rahasia alam terbuka, hijab demi hijab terkuak, tampak nyata bukti-bukti Kekuasaan Tuhan. Keimanan orang-orang berilmu takkan diragukan kualitasnya, demikian pula keilmuan orang-orang beriman.

Ada cerita sederhana dari seorang hamba yang sedang jongkok di depan rumahnya. Ia melihat dari dekat seekor ayam yang sedang mematuk-matuk, memakan cakar ayam yang telah matang menjadi opor ayam. Si hamba tadi, yang sedikit banyak memiliki ilmu juga, langsung ia paham sedang diberi perlambang dari Tuhan agar ia khususnya – dan manusia pada umumnya – tidak seperti ayam yang sedang memakan “ayam”, maksudnya agar manusia tidak “memakan” manusia. Banyak sekali cara “memakan” manusia, mulai dari cara premanisme jalanan hingga premanisme kantoran yang sistemik terorganisir rapi, baik yang sengaja maupun tidak.

Itulah kelebihan dan kekuatan orang-orang berilmu. Apa pun ilmu yang dimilikinya, ia melihat fenomena alam ini tidak seperti orang awam yang melihat secara apa adanya. Orang-orang berilmu, terutama ulama sufi yang menghayati ilmu ma’rifat, ia akan melihatnya sebagai pesan dan sapaan dari Tuhan untuk menghibur, mengingatkan atau mungkin Tuhan ingin sekedar bercanda dengannya. Jadi, semua fenomena alam, dengan ilmunya akan semakin menambah keimanannya. Begitu juga keimanannya meningkat, akan menambah ilmunya.

Kekuatan Sholat

“Bacalah yang telah diwahyukan kepadamu yaitu al-Kitab (Qur’an) dan dirikan sholat. Sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) lebih besar (utamanya dari ibadat-ibadat lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. 45)

Sangat relevan jika Tuhan mengaitkan di ayat berikutnya yaitu manusia dianjurkan membaca al-Qur’an, mengkaji seutuhnya dan mendirikan sholat karena sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dengan mengkaji total al-Quran akan mendapatkan inti ilmu. Dengan sholat akan mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar. Dengan puasa akan meningkatkan kepekaan rasa. Dengan menambah ayat-ayat al-Qur’an yang terpilih untuk bacaan di dalam sholat dan zikir sesudahnya, maka lengkaplah kenikmatan ibadat pada Tuhan karena mengetahui benar arti bacaan sholat yang dibacanya. Inilah kekuatan sholat sebagai tiang agama.

Jika Tuhan memperumpamakan orang yang mengambil pelindung selain Tuhan seperti laba-laba yang membuat rumah, dan jika dilanjutkan dengan ayat 45 akan lebih jelas lagi bahwa yang dimaksud rumah itu adalah jasad tubuh sebagai rumah jiwa-hati yang dikontrak selama umur hidupnya di dunia. Dengan membaca dan mengkaji inti-inti Kitab al-Qur’an serta mengamalkannya, dimaksudkan untuk menyinari rumah jasad tubuhnya itu dengan jiwa-hati yang cemerlang oleh Cahaya Illahi. Itulah kekuatan hakiki.

Matriks IQ-EQ-SQ

Setelah mempelajari dan mengetahui kelemahan dan kekuatan, tentu manusia ingin mengelola potensi kekuatannya; sambil ia berdoa, seperti Firman Tuhan pada QS. 51. adz-Dzaariyaat 58,

“Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rejeki yang mempunyai Kekuatan lagi Amat Kokoh.58)

Pada Kajian 32: Tentang Ilmu dijelaskan potensi dasar manusia, yaitu dari sisi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Untuk melihat komposisi dan ‘status’ kekuatan menyangkut ketiga potensi dasar yang dimiliki manusia, dapat dilihat pada tabel matriks berikut di bawah ini :

Tabel 3. Matrikulasi IQ, EQ, SQ

IQ    EQ    SQ

K    K    K    Idiot, lumpuh-buta-tuli-bisu,

K    K    B    Pemahaman agama hanya sebatas dogmatisme,

K    B    K    Pengkhayal tak realistis, sekuler &/ atheis,

K    B    B    Penjelasan pemahaman agamanya secara kiasan, belum ilmiah,

B    K    K    Bodoh di dalam kepandaiannya, pincang-lumpuh

B    K    B    Ilmu & Agama OK, tetapi kurang bisa berapresiasi keindahannya,

B    B    K    Melahirkan ilmuwan dan seniman-budayawan atheis,

B    B    B    Insan Kamil, Profesional, Rahmatan lil’alamiin…

Ket: B = Baik, K = Kurang

Firman Tuhan pada QS. 30. ar-Ruum 54,

“Allah, Dia menciptakanmu dari keadaan lemah lalu Dia menjadikan(mu) sesudah lemah jadi kuat, lalu Dia menjadikan(mu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.54) ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: