Bacalah 16. Berguru tanpa Guru,…

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Allah cahaya langit dan bumi.

Per-umpamaan cahaya-Nya seperti lubang tidak tembus,

yang di dalamnya ada pelita besar.

Pelita itu dalam kaca;

kaca itu seakan bintang (bercahaya) seperti mutiara,

dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya

(yaitu) pohon zaitun

yang tumbuh tak di sebelah timur dan tak pula di barat,

yang minyaknya hampir-hampir menerangi,

walaupun tak disentuh api.

Cahaya di atas cahaya,

Allah membimbing kepada cahaya-Nya

siapa yang Dia kehendaki

dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia,

Allah Maha Mengetahui segala suatu. 35)

 

QS. 24. an-Nuur (Cahaya) 35

 

 

AYAT ini menjelaskan “ruh” Tuhan yang “bersemayam” di dalam hati (diri) manusia. Cahaya sebagai inti bahasan, mempunyai dua kajian yang sangat mendasar yaitu cahaya secara fisik dan cahaya secara metafisik.

Cahaya: Fisik dan Metafisik

Cahaya secara fisik dapat dipelajari dan dipahami di dalam ilmu fisika, lebih khusus fisika modern sub-bab mekanika kuantum. Otak kiri manusia yang berperan menganalisa pengetahuan cahaya secara fisik ini. Konklusi cahaya menurut fisika modern adalah gelombang elektromagnetik sekaligus sebagai energi, karena gelombang pada hakikatnya adalah getaran yang berjalan sambil membawa energi. “Maqam” cahaya paling rendah energinya adalah cahaya atau sinar lampu atau cahaya pelita seperti di rumah kampung atau yang ada di desa-desa. Semakin tinggi energinya semakin menjadi sinar elektromagnetik yaitu sinar alpha (a), beta (b) dan gamma (g).

Sinar a memiliki panjang gelombang (l) besar tetapi frekuensi (f) kecil, sinar b memiliki l dan f sedang, sinar g mempunyai l pendek tetapi f besar. Sebagai gambaran energi sinar elektro-magnet, ilmu fisika menjelaskan bahwa energi sinar a mampu menembus secarik kertas, energi sinar b mampu menembus kayu dan energi sinar g mampu menembus beton!

Cahaya secara metafisik meliputi ilmu pengetahuan itu sendiri, baik yang bersifat lahir (jasmani) maupun bersifat batin (ruhani). Melalui ilmu yang bersifat lahir, fisik dan materialistik, akan terbuka intelectual quotient untuk mempelajari fenomena alam. Sedangkan melalui ilmu batin-ruhaniah yang bersifat metafisik, immaterialistik, transendental – terutama tasawuf – yang mempelajari hijab-hijab yang menyelubungi hakikat kebenaran illahiah dan alamiah maupun insaniah, akan terbukalah spiritual quotient untuk menghayati fenomena diri, ilahi serta “alam” lainnya.

Sementara itu ada “cahaya” lain yang menunjang kedua cahaya di atas, yaitu “cahaya seni” yang mengungkap segala bentuk keindahan yang tampak mata kepala dan yang tersembunyi yang hanya mampu dijangkau mata hati seniman yang memiliki kelebihan untuk melihat keindahan itu. Kemampuan ini dimiliki oleh mereka yang mampu mengoptimalkan potensi emotional quotient. Rugria berkata, seperti telah dikutip pada Kajian 10, “Tidak ada sesuatu pun yang mempunyai makna dalam dunia yang tanpa rasa. Tetapi seniman itulah yang memberi arti baik atau buruk.”

Dimensi manusia memiliki dualisme humanistisnya, yaitu:

(1) dimensi materi fisik, lahir, jasmani (basyariah) dan

(2) dimensi immateri, metafisik, batin, ruhani (insaniyah).

Potensi dualisme ini diharapkan bisa mengembalikan manusia kepada fitrahnya dengan mengenali hakikat insaniah dan illahiah melalui ayat ini.

Sifat basyariah “biasanya” bersifat menghambat sifat insyaniah; bahkan sering bertentangan. Secara esensi, sifat basyariah fana (kesementaraan) sudah sangat bertentangan dengan sifat insaniah yang baqa’ (keabadian). Secara basyariah manusia terbuat dari unsur-unsur tanah yang ada di bumi. Meskipun anak-anak Adam kemudian terbentuk dari sperma-ovum, tetapi sari makanan yang membentuk sperma-ovum berasal dari unsur tanah bumi. Sehingga jasad, fisik atau lahiriah manusia berasal dari bumi pasti akan lenyap (fana) kembali ke bumi.

Secara insaniyah manusia diciptakan dari ruh Tuhan yang ditiupkan ke janin di dalam rahim seorang ibu. Keterikatan ruhaniah selalu dijaga Tuhan, meskipun banyak manusia ingkar menampikkannya. Tuhan selalu menyapa hamba-hamba-Nya melalui kalbu (ruhaniah, baqa’) yang telah bersemayam di dalam hati (jasmaniah, fana).

Allah: Cahaya Langit dan Bumi

“Allah cahaya langit dan bumi….”

Permulaan ayat ini menjelaskan bahwa Tuhan menerangi sekaligus memberi energi bagi seluruh isi langit dan bumi dengan Cahaya-Nya, bukan menyatu atau pantheisme. Dengan Energi-Nya yang Mahadasyat melalui para malaikat-Nya yang bisa dianalogikan sebagai kwantum atau energi, maka Allah sebagai Tuhan, Dzat yang Mahatinggi, selalu mengatur seluruh isi langit dan bumi mulai alam mikrokosmos hingga makrokosmos.

Cahaya di sini bersifat universal seperti disebutkan di atas, yaitu cahaya fisik dan metafisik. Secara fisik “Cahaya” Tuhan membuka segala macam ilmu pengetahuan yang telah dibuka rahasianya oleh ilmuwan terdahulu. Seperti uraian “langit” secara simbolis yang terbagi menjadi tujuh (7) lapis ilmu pengetahuan secara umum yaitu astronomi, matematika, fisika, biologi, kimia, sosial, filsafat/agama. Secara metafisik, “Cahaya” Tuhan meliputi Rahmaan-Rahiim dan segala Sifat Mulia al-Asmaaul Husna yang diturunkan pada manusia seperti sifat ikhlas, adil, sabar dan lain-lain sebagai fitrahnya. Pembelajaran mengenai sifat mulia untuk mengembalikan sifat insaniah yang sarat sifat ketuhanan. Ketika manusia dibentuk dalam rahim, mulailah setan membisiki melalui perilaku orang tua, terutama ibunya, dan tumbuh sifat basyariah yang sarat sifat keiblisan seperti sombong, kikir, ambisius dan lain-lain. Dengan mengingat fitrah dan mengikat kembali tali tauhid, diharapkan mampu menangkal godaan setan, berupa jin maupun manusia

Ada Cahaya Tuhan yang bersifat khusus, yaitu cahaya seni – yang sulit dikategorikan sebagai ilmu pengtahuan. Dengan cahaya seni, akan terkuak segala keindahan nyata (expresive) dan terselubung (impressive). Seniman mampu mengolah keindahan yang dianugerahkan Yang Mahaindah padanya. Tetapi seniman harus mempunyai konsekuensi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dengan seni yang dimilikinya. Ekspresi seniman yang sufistik misalnya kelompok sufi di Turki merasa hanyut dengan gerakan tarinya yang memutar pada satu poros seperti alam semesta memutar mengitari matahari. Itu semua sebagai bagian gambaran utuh tentang seni yang mutlak diperlukan manusia untuk bisa menghayati keindahan dari Sang Mahaindah.

Perumpamaan demi Perumpamaan

“…Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar …”

Cahaya-Nya bersemayam di dalam lubang ultra kecil semi abstrak, ada di dalam hati hati nurani atau kalbu. Tuhan menyentuh manusia melalui kalbu ini. Arti “tidak tembus”; jika benar-benar beriman, ia seakan relatif tidak bisa ditembus kekufuran; jika ia ingkar, ia seakan tidak bisa ditembus keimanan; diperingatkan atau tidak, sama saja baginya. Ada sebagian tafsir yang menerjemahkan “tidak tembus” sebagai tulang dada yang sangat kuat melindungi hati dan tulang tengkorak yang sangat kuat melindungi otak.

Pelita berfungsi sebagai penerangan yang menunjukkan arah kebenaran di mana pun manusia berada. Sebenarnya, inilah bekal yang diberikan Tuhan kepada manusia. Jika sejak dini ia mampu memelihara pelitanya secara baik, Insya Allah, ia selalu dalam pemeliharaan-Nya, terjaga dari suatu yang nista, terjaga fitrahnya dan mampu mempertahankan sifat mulianya. Sebaliknya, jika ia sulit mempertahankan pelita, maka kaca yang ibaratnya “bola kristal” akan sedikit demi sedikit tertutup kerak basyariah dan lama kelamaan akan memungkinkan tertutup total sehingga ia tuli, bisu dan buta!

“…Pelita itu dalam kaca…”

Yaitu kaca yang diibaratkan bola kristal. Geometris bola mewakili bentuk kesempurnaan tiga dimensi. Ia mempunyai satu titik pusat berjarak sama terhadap sejumlah titik tak terhingga seluas tepiannya. Titik pusat itu sebagai sumber cahaya dan kejadian yang berjarak sama (di awal kejadian) terhadap titik-titik berintensitas sama darinya. Filosofi ini lebih komplek jika menguraikan panjang lebar teori sumber suara Sir Isaac Newton, di mana sumber suara, bunyi atau gelombang itu berfungsi sebagai sumber-sumber baru berbentuk bola-bola dalam ruang tiga dimensi yang makin lama makin tak terhingga kecilnya hingga lenyap.

Makna “pelita itu dalam kaca” mempunyai dualisme keadaan:

Pertama, jika pelita itu kacanya dibersihkan terus menerus sehingga tidak ada bercak mengotorinya, maka pelita itu akan memancarkan cahaya yang intensitasnya 100% ke segala arah. Jika kacanya dibersihkan sebagian, maka cahayanya akan relatif lebih besar intensitasnya dan kecenderungan bergerak ke intensitas 100% cukup besar, tetapi arah sinar menyebarkan hanya ke sebagian arah – tidak merata ke segala arah,

Kedua, jika pelita itu kacanya tidak dipelihara maka cahayanya tertutup, tidak bisa menerangi diri sendiri apalagi orang lain. Jika kerak menutupi merata tetapi hanya kelabu 25%, maka pelita itu akan terserap 25%. Jika kerak itu menutupi menyeluruh pekat 100%, maka kaca itu menghalangi pelita 100%, dengan kata lain akan menjadi gelap gulita.

Kaca bersifat materi, sedang cahaya lebih bersifat non-materi atau unsur kwanta yang “tak bisa” dibersihkan karena telah terkodrat sebagai cahaya “apa adanya”. Yang dibersihkan adalah kaca, bukan pelita atau cahaya. Setiap orang bisa dipastikan mempunyai pelita berikut kacanya. Jadi, pokok bahasan awal di sini dan yang sekaligus dibersihkan adalah kacanya.

Perumpamaan ini bisa difokuskan pada kalbu sebagai mediasi cahaya; dan hati sebagai kacanya. Kalbu yang bersifat “hanya” apa adanya – yang pasti bercahaya – tergantung pada kaca. Cara membersihkan kaca itu harus menuruti kaidah-kaidah yang sesuai dengan jenis “kaca” organ yang bersifat basyariah yang melekat pada tubuh manusia. Secara fitrah, kalbu dan hati sebagai cahaya dan kaca sudah bersih dari awal. Hanya organ basyariah membutuhkan waktu pertumbuhan dan perkembangan untuk penyesuaian dengan kehidupan fana. Pada proses inilah setan berfungsi sebagai kerak yang terus menerus berusaha mengotori dan menutupi kaca.

Cara membersihkan “diri” harus sesuai masing-masing organ. Misalnya mengasah otak harus secara ilmiah belajar di sekolah, berpikir dan berkarya, dan lain-lain usaha mencerdaskan otak. Demikian pula mengasah kesehatan jantung, paru-paru dan organ biologis lainnya. Organ tangan dan kaki yang menunjang kebersihan “kaca” juga berfungsi untuk ketrampilan, kecekatan dan kecepatan. Yang paling terdekat dari kalbu adalah hati
(immateri) yang paling sulit membersihkannya dari kerak syirik, iri, riya’, dengki, emosional, ambisius dan penyakit lainnya.

“…kaca itu seakan bintang (bercahaya)…”

Kaca yang menyalurkan cahaya pelita akan menerima cahaya dari pelita secara terus-menerus. Akibatnya kaca “seakan” bercahaya, bagaikan sinar bintang yang mempunyai sumber cahaya sendiri, tidak seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari. Pemijaran kaca ini bisa dilihat dari proses pembuatan model kaca yang dipanaskan api sehingga berpijar dan mudah dibentuk. Proses absorsi
(penyerapan) hingga iluminasi
(pencahayaan) ini seperti juga besi yang dibakar terus menerus dan akan membara serta memancarkan cahaya meskipun intensitas cahayanya tidak sebesar 100% seperti sumbernya.

Contoh lain adalah proses pemagnetan, yaitu besi dililiti oleh kawat yang beraliran listrik. Lama kelamaan ia berfungsi sebagai magnet. Atau menggosokkan magnet ke besi secara searah dan frekuensi yang konsisten, besi akan menjadi magnet meskipun tidak 100% seperti magnet aslinya. Demikian juga ketika Tuhan memberikan simbolisme kepada manusia. Jika manusia senantiasa memperbaiki diri dan melakukan pendekatan laku sesuai sifat-sifat-Nya, ia akan meniru sifat-sifat Tuhan meskipun tidak 100%.

Untuk berimajinasi (mendekati) yang terbenar memahami perumpaman di atas, membutuhkan sumber daya logika, etika, estetika dan hati nurani, serta hidayah Tuhan. Uraian kata tidak mewakili 100% makna sebenarnya ayat yang bersumber dari Allah, Tuhan yang Mahabenar. Hal ini diakibatkan keterbatasan kosa kata, baik dari penulisnya maupun pembacanya.

Masih perlu usaha yaitu muraqqabah (mendekatkan diri) kepada Tuhan melalui latihan batin seperti meningkatkan intensitas ibadat, puasa, amal saleh dan perilaku islami lainnya. Secara tersirat Tuhan akan memberikan pemahaman perumpamaan ayat-ayat-Nya. Narasi ini hanya sebagian kecil usaha mendekati tafsir perumpamaan ayat ini dari mana pun arah kebenaran yang mampu ditempuh.

Kembali pada penafsiran “kaca itu seakan bintang”. Kata “bintang” bisa dimaknai sebagai gugusan tidak terhingga benda langit yang mempunyai cahaya sendiri, bukan seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari dan tidak punya cahaya sendiri. Benda-benda langit yang mempunyai sumber cahaya sendiri mengindikasikan masih melekatnya sifat-sifat azali sewaktu ia masih tergumpal menjadi satu titik dan meledak sesuai teori Big Bang dan memancarkan energi dasyat ketika ruang dan waktu pada saat bersamaan diciptakan Tuhan. Demikian pula manusia yang (sebenarnya) juga masih memiliki sebagian sifat ketuhanan jika ia mau kembali kepada fitrahnya.

Kaca itu seakan bintang (bercahaya) jika dianalogikan sebagai bintang yang ada di alam semesta memiliki cahaya sendiri, berjumlah tak terhingga, maka perumpamaan itu bisa analog dengan unsur organ dan sel-sel manusia yang tak terhingga pula. Semua organ itu bisa menunjang pencahayaan diri. Ayat ini sejak awal diarahkan pada sifat-sifat positif agar manusia mau mengarahkannya ke sana.

Ketrampilan yang dihasilkan manusia bisa dimaknai sebagai bintang yang bercahaya dan menimbulkan decak kagum bagi yang melihatnya. Misalnya; ketrampilan tangan para pengrajin menghasilkan karya indah. Seni lukis dengan tarikan garis dan warna sangat mengagumkan. Seni rajut yang teliti menjalin setiap urai benang, daun atau media lainnya. Seni pahat atau perupa yang detail pahatannya sangat mengagumkan. Pemodel miniatur yang begitu teliti pada setiap skala tiruannya. Seni batik yang telaten mengguratkan cairan warna-warna tradisional menghasilkan perpaduan dan motif kain batik indah. Seni tari dengan lembut, liuk tubuh serta jari-jemari yang lentik. Sastrawan yang melahirkan novel, essay, prosa dan puisi berurai kata indah dan alur cerita yang menghanyutkan pembaca dan pendengarnya. Olahragawan yang lincah, trampil dan kekuatan anggota tubuh terlatih. Praktisi komputer yang mampu menciptakan program dan animasi yang demikian sempurna membuat orang lain berdecak kagum terhadap karyanya. Ilmuwan yang menghasilkan peradaban dengan berbagai temuan dan teori pengetahuan yang sangat spektakuler dan menakjubkan. Dan masih banyak ungkapan estetika lain soal cahaya demi cahaya atau cahaya di atas cahaya yang tercermin pada diri manusia, tersebar di alam semesta.

Deskripsi di atas adalah sebagian kecil gambaran tak terhingga dari spektrum cahaya yang dihasilkan manusia. Ia berusaha menyerap Indahnya Cahaya Tuhan yang Maha Pencipta, Mahateliti, Mahahalus dan lain-lain, ditampilkan untuk menunjukkan eksistensi manusia meskipun tidak 100% persis sifat-sifat-Nya – karena hal itu memang tidak mungkin. Tetapi dengan sekian persen yang diserap manusia, sudah menimbulkan decak kagum yang tidak terhingga dan cahayanya itu membuktikan kekuasaan Tuhan.

“…seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya (yaitu) pohon zaitun…”

Penggalan ayat ini adalah simbolisme untuk menyalakan sistem pelita yang mempengaruhi kaca – yang diibaratkan mutiara sebagai simbolisme benda alam berharga yang tersembunyi di dalam kerang berkulit kokoh – pasti ada sesuatu bahan untuk menyalakannya. Disebutkan minyak berasal dari pohon yang banyak berkahnya (yaitu) pohon zaitun. Abstraksinya bisa dikomparasi pohon zaitun yang tumbuh di padang pasir gersang. Ini indikasi bahwa manusia dengan akal mampu menyesuaikan hidupnya berkembang membuat peradabannya, bahkan di tempat yang asing sekalipun. Contohnya “ambisi” penyelidikan kemungkinan hidup di bulan atau Planet Mars.

Pelita, Kaca, Mutiara, Minyak Zaitun

Tafsir Misykat Cahaya di atas terdapat unsur alam yang digunakan untuk perumpamaan yaitu pelita, kaca, mutiara dan minyak zaitun. Unsur alamiah “terpaksa” digunakan karena persoalan metafisika tidak menyangkut soal fisika yang terdiri unsur alami maupun faktor realistis lain. Untuk menjelaskannya “terpaksa” meminjam istilah alam dan nyata (real).

Makna dari (1) Pelita, (2) Kaca, (3) Mutiara, dan (4) Minyak Zaitun bisa dianalogkan sebagai berikut :

Cahaya Allah (1) adalah sebagai Pelita yang selalu menyinari kalbu tiada henti selama ruh Tuhan bersemayam di badan manusia yang fana bahkan terus menyinari hingga kematian jasadnya. Ada kelainan jika janin manusia di rahim mengalami cacat sehingga tumbuh menjadi manusia yang tidak normal. Yang perlu dicatat adalah tidak ada perhitungan bagi mereka yang mengalami cacat mental/jiwa. Kondisi cacat akan menjadi pelajaran bagi manusia, bukan menunjukkan sifat kelemahan Tuhan.

Hati
(2) di dalamnya bersemayam kalbu sebagai ‘media’ perantara Sumber Cahaya dengan Kaca menghantarkan Cahaya Allah. Melalui kalbu, Tuhan menyapa manusia. Di sinilah potensi spiritual quotient bersemayam.

Panca Indera
(3) adalah jendela-jendela di mana tahap awal manusia mengenali alam lingkungannya. Dari penglihatan, pendengaran, perabaan, pengucapan dan pengecapan; manusia mengawali kehidupannya. Momen yang dialaminya maupun perbendaharaan dari orang lain adalah kumpulan sejarah yang menjadi bahan untuk memperbaiki peradabannya, baik personal maupun komunal, atau justru lebih merusak jika mereka tidak mengetahui.

Akal Budi
(4) jika dipaparkan adalah sebagai berikut; Akal bersemayam di otak, dan Budi bersumber dari kebaikan-kebenaran bersemayam di hati. Sehingga Akal Budi adalah proses interaksi dan itterasi antara otak dan hati. Seperti pada Kajian 4: Perhitungan Tuhan; ada ungkapan menyebutkan; Pertama: “Segala apa yang ada di depan mata terdapat pelajaran,”; Kedua: “Segala apa yang ada di dalam otak terdapat pemikiran,”;
Ketiga
: “Segala apa yang ada dalam hati terdapat pertimbangan.” Pada tahap pertimbangan, akal budi digunakan optimal. Jika pertimbangan benar maka ia berfungsi sebagai Minyak Zaitun yang bisa menyalakan sistem pelita di dalamnya.

Tiada Dimensi Arah

“…yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak sebelah di barat…”

Penggalan ayat ini menandakan ketiadaan dimensi untuk menghampiri sistem yang ada di dalam “hati”; mulai dari pelita, kaca, mutiara hingga minyak zaitun. Hal ini akan dapat dirasakan jika manusia mau “menjenguk” ke dalam hati nuraninya. Tetapi kebanyakan dari mereka tidak mau dan sebagian lagi memang tidak mampu.

Sebagai gambaran praktis untuk menjelaskan tafsir penggalan ayat ini, terutama makna tidak di sebelah timur dan tidak di barat, adalah usaha tadzakur-tafakkur. Istilah lainnya seperti meditasi atau samadhi. Usaha ini pada saat tertentu secara khusus dan khusyu’ diperlukan untuk benar-benar bisa menghayati hakikat diri.

Sebagai gambaran awam dapat dideskripsikan sebagai berikut;

Kaki duduk bersila, rileks, simetri kiri-kanan terhadap garis lurus dari titik tengah kedua alis yang ditarik menuju pusar, posisi tubuh dengan lantai tegak-lurus. Usaha ini akan lebih afdol jika dilakukan setelah sholat. Dengan bantuan memutar tasbih dan menghayati ayat-ayat al-Qur’an yang terpilih, mengendapkan makna al-Asmaaul Husna secara menerus ke dalam diri. Bernafas dengan pernafasan perut yang dimaksudkan agar rongga dada lebih stabil dan hati lebih tenang. Ritme nafas diatur konsisten dari lobang hidung dengan kedua mata terpejam, konsentrasi dipusatkan pada pangkal hidung, di antara dua alis; atau melihat terpusat satu titik misalnya dikonsentrasikan pada ujung hidung dan kedua mata seakan melihat “kubah masjid”.

Antara napas yang keluar dan masuk, putaran zikir, detak jantung dan gelombang pikiran diarahkan pada satu tujuan yaitu makna atau hakikat diri, hidup dan kehidupan sebenarnya. Satu hal yang terpenting pada relaksasi, kontemplasi atau meditasi adalah mengendalikan pikiran dan memori yang terdahulu secara rileks tanpa paksaan, tanpa emosi dan tanpa ambisi.

Kondisi tadzakkur-tafakkur dibiarkan rileks berlanjut beberapa menit. Jika bisa dipertahankan terutama pikiran terfokus, maka belum ada satu jam terasa kaki yang sedang bersila mulai kesemutan (bhs. jawa: gring-gingen). Kaki kesemutan menandakan darah berhenti dan rasanya kedua kaki seperti menebal mati-rasa. Semakin lama rasanya mulai “tidak terasa” apalagi jika diikuti hening di batin sehingga jika disentuh pun kaki sudah tidak bisa lagi merasakan sentuhan. Pada akhir fase ini yang bersangkutan merasa seakan “tidak punya kaki” alias “melayang”.

Jika konsentrasi dan rileksasi ditingkatkan, bisa jadi keringat keluar dan perasaan benar-benar “melayang”. Mata tertutup, tidak melihat ke luar tetapi lebih melihat ke dalam. Telinga tak mendengarkan suara-suara di luar tubuh tetapi lebih mendengar bisikan hati yang merindukan Sang Kekasih Sejati. Mulut terkunci tak berucap pada siapapun selain pada diri dan Sang Kekasih. Pada saat itu jika gigitan nyamuk pun takkan terasa. Perlahan eksistensi fisik mulai terlupakan. Yang ada hanya mekanisme gerak darah dan perasaan dari hati (qalb, SQ) ke otak (IQ, EQ). Terus bolak-balik menyebarkan sel darah ke seluruh syaraf di sekujur tubuh melalui tarikan napas dan detak jantung.

Ketika konsentrasi mulai bisa menjenguk dan telah bersemayam di hati maka yang dirasakan adalah ketiadaan dimensi seperti maksud tafsir di atas. Dirinya tak lagi ada di timur atau di barat. Di dalam “singgasana” tersebut, orang yang bersangkutan – dengan seijin Tuhan – melihat melalui mata hati suatu pelita besar yang memancarkan cahaya beraneka warna, tampak indah. Keindahan di sini membutuhkan estetika untuk membayangkannya karena semua itu sangat simbolis. Itulah esensi tafsir “… yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di barat ,”

Hakikat Diri: Buku sekaligus Guru

“…minyaknya hampir-hampir menerangi, walau tidak disentuh api..”

Penggalan di dalam ayat ini menunjukkan setiap manusia mempunyai “minyak zaitun” secara kodrati atau akal budi. Ia mampu bersinar walau “tanpa disentuh api”. Artinya, tanpa media penyala seperti api, arti lain tanpa guru dan tanpa buku, manusia akan bersinar “langsung” dari Tuhan.

Lalu bagaimana peranan Nabi-Rasul dan Kitab Suci? Dalam hal ini, hakikat Nabi-Rasul sudah “dihampirinya” pada saat-saat yang tertentu dalam satu momentum di sepanjang kehidupannya, karena ia mengenal agamanya pasti mengenal Nabi-Rasul sebagai perantara dari Tuhan. Atau secara khusus ketika ia melakukan tadzakkur-taffakkur seperti diuraikan di atas. Sedangkan Kitab Suci, pasti sudah terbaca karena ia mengetahui ayat ini dari al-Qur’an, atau dalam bentuk Kitab Lauh Mahfuzh yang tersirat.

Hakikat Guru hanya satu yaitu Sang Mahaguru, Allah, Tuhan, melalui Nabi dan Rasul-Nya. Dan Hakikat Buku hanya satu yaitu tersurat al-Qur’an (Kitab Tuhan) dan tersirat Lauh Mahfuzh (Alam Semesta); dan khususnya diri sendiri. Selain itu, pengertian guru secara harfiah hanya sebatas subyek pengajar, dan pengertian buku secara harfiah hanya sebatas rangkaian kata atau katanya kata di atas lembar demi lembar kertas yang dijilid.

Semakin banyak guru, buku, aturan dan acuan, seringkali akan semakin membingungkan. Guru dan Buku tetap baik. Tetapi pada tahapan “tertentu”, yang paling khusus, khusyu’ dan sifatnya pribadi, ternyata semua itu tidak diperlukan karena ada Sang Mahaguru yang memiliki Buku Lauh Mahfuzh.

Lebih jauh lagi sebagai catatan khusus, orang yang menghayati tafsir ini akan menempatkan Rasulullah Nabi Muhammad sebagai Nur Muhammad yang terus hidup sepanjang waktu di mana tiada dimensi yang membatasi. Dari sisi dimensi waktu, umat Islam kini tidak mengalami masa Nabi Muhammad. Sehingga keyakinannya melalui keimanan dan pendekatan kalbu, merasakan kehadiran Nur Muhammad yang tak berdimensi. Sementara itu, pemahaman terhadap Kitab lebih menekankannya pada Lauh Mahfuzh yang juga tiada berdimensi di mana al-Qur’an merupakan bagian kecil di dalamnya.

Cahaya di atas Cahaya

“…Cahaya di atas cahaya,…”

Ini adalah implementasi perumpamaan seperti sinar a, b dan g yang bertingkat tergantung panjang gelombang dan frekuensi. Panjang gelombang merupakan simbol statis dimensi fisik dan keindahan tubuhnya. Frekuensi merupakan simbol dinamis gerakan intelektual, emotional dan spiritual. Begitu pun manusia yang mempunyai berbagai tingkat maqam yang bisa disetarakan menjadi tiga tingkat:

Pertama, tingkatan orang awam yang mengandalkan kekuatan dan keindahan fisik atau analog dengan sinar a. Kinerja sinar a yang besar hanya panjang gelombangnya, yang bisa dibaratkan sebagai fisiknya yang besar, kuat atau menarik. Tetapi frekuensi atau simbol intensitas ibadatnya masih kecil, rendah atau sedikit. Energinya pun sangat lemah. Selain hanya menembus kertas, ia mudah dibelokkan medan magnet; seperti orang awam yang mudah dibelokkan imannya oleh godaan tingkat rendah.

Kedua, tingkatan ilmuwan sekuler yang membanggakan ilmunya dan status ilmuwannya yang hanya mampu menembus rahasia alam secara fisik atau analog dengan sinar b. Kinerja sinar b mempunyai energi yang sedang. Gerakan frekuensi relatif cepat tetapi hanya intelectual quotient. Sinar ini mampu menembus kayu dengan intensitas cahaya menengah. Tetapi secara mental dan akhlaq masih bisa dibelokkan medan magnet/listrik yang kuat sebagai simbol hedonisme dan materialisme keduniawian.

Ketiga, tingkatan waliyullah dengan pengetahuan dan pengalaman batin menembus makna kehidupan lahir-batin, analog sinar g. Tiada kebanggaan baginya terhadap kefanaan dunia. Waliyullah memandang semu pada semua komponen kehidupan di dunia. Susah-senang hanya permainan dunia yang bisa dibuat-buat, sehingga harus melihat hikmah di dalamnya. Energi sinar g menembus beton, mampu menembus hijab besar. Ia juga tidak bisa (sulit) dibelokkan medan magnet sebagai simbol godaan-godaan semu duniawi.

Ketiga tingkatan di atas bisa dianalogkan dengan puasa yang dibagi menjadi tiga, yaitu puasa umum, puasa khusus dan puasa khususul khusus. Puasa umum miliknya orang awam yang banyak sekedar puasa tidak makan dan tidak minum. Puasa khusus miliknya orang khusus karena ia mulai ingin meningkatkan kualitas dirinya melalui puasa, tidak hanya puasa menahan makan dan minum, tetapi juga puasa (menjaga) panca inderanya. Akhirnya, puasa khususul khusus miliknya waliyullah yang lebih meningkat ke puncak kenikmatan ma’rifatullah, yaitu selain puasa menahan makan-minum, puasa panca indera, juga puasa hati dari syirik, prasangka, iri, dengki, benci dan penyakit hati lainnya; serta merta membina diri dan hati menjadi ‘aslama yang bermuara pada insan kamil dan rahmatan lil’alamiin.

Gambaran lain cahaya di atas cahaya adalah tingkatan cahaya atau makna terhadap cahaya itu sendiri. Selain tingkatan cahaya elektromagnetik seperti telah tersebut di atas; pemahaman terhadap cahaya sendiri juga bertingkat-tingkat. Misalnya cahaya matahari; permukaannya bagai lava cair menggelora, sedangkan di dalamnya gas maha membara bersuhu jutaan derajat celcius. Pertanyaannya, apakah wujud sebenarnya cahaya itu, apakah cair atau gas? Dan justru inilah yang sulit dijawab. Batasannya hanya pada efek yang ditimbulkan oleh cahaya, bukan wujud atau dzat sumber cahaya.

Itulah tafsir cahaya di atas cahaya yang menunjukkan bahwa manusia bertingkat-tingkat dari semua sisi kehidupan, baik lahir seperti strata sosial, intelektual, karier dan lain-lain; maupun batin yang membedakan tingkat keimanan, kesalehan dan kekhusyu’an seseorang.

Sang Mahaguru

“…Allah membimbing ke cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki…”

Ini menunjukkan Tuhan membimbing hamba-Nya kepada cahaya-Nya secara langsung atau melalui perantara guru dan buku. Dengan demikian, jika seorang mendekati Tuhan, harus ikhlas dan cinta tanpa tujuan “menjadi” (becoming); misalnya ingin menjadi kaya, pandai, cerdas, terampil, terhebat di bidang atau cabang ilmu tertentu hingga keinginan maqam mulia.

Keinginan-keinginan itu tidak boleh menghalangi si hamba ketika ia ingin mendekati Sang Khaliq. Karena hal tersebut menjadi urusan Tuhan ketika “membentuk” hamba-hamba-Nya. Karena Dia lebih tahu semuanya termasuk kemampuan atau sumber daya hamba-hamba-Nya; manusia tidak mengetahui hakikat diri tanpa bimbingan Tuhan. Karena Dia menciptakan dari tiada menjadi ada, dari ada menjadi berbentuk, dari berbentuk menjadi rupawan indah lahir maupun batin.

Kewajiban manusia hanya beribadat dan bermunajat, bukan beriradat. Untuk menyelami hakikat ibadat dan munajat sebagai kebaktian pada Tuhan, ternyata pemahaman manusia masih membutuhkan waktu dan tenaga. Beberapa kali Tuhan menyerukan pada hamba-hamba-Nya agar memurnikan ibadatnya pada seperti Kajian 21: Memurnikan Ibadat dan Kajian 22: Sekali Lagi, Memurnikan Ibadat.

Salah satu usaha menghayati beribadat pada Tuhan adalah melatih diri dengan ibadat yang langsung diurus Tuhan, yaitu puasa. Jika ia menambah dengan ibadat lain, terutama ibadat sunnah di malam hari, maka Insya Allah, ia akan bisa ‘menjenguk’ dan akan bisa ‘berdialog’ dengan Tuhannya secara ‘langsung’ atas Kehendak dan Bimbingan-Nya.

Ada kejadian faktual yang dialami si Salik ketika suatu malam ia ingin untuk sholat malam jam 02.00. Ia pun tidur jam 21.00. Ketika terbangun, ia segera beranjak dari tempat tidur dan melihat jam di ruang tamu. Ternyata, jarum jam menunjukkan angka 02.00 tepat berikut jarum detiknya! Si Salik terkejut karena Tuhan membangunkannya tepat pada jam 02.00! Apakah ini kebetulan? Kejadian yang kebetulan pun, pastilah ada Yang Maha Mengatur, yaitu Tuhan. Hal-hal kecil ini patut menjadi renungan bahwa Tuhan sangat dekat dengan hamba-hamba-Nya yang mempunyai niat baik.

Kejadian faktual lain dialami si Salik, ketika pulang kantor jam 14.00. Ada keinginan sholat Ashar di masjid tertentu di Jalan Terogong Jakarta. Ia tak bisa memprediksi berapa lama waktu antara kantor dan masjid. Belum kemacetan di Jakarta yang tidak terprediksi. Akhirnya, dengan lillahi ta’ala, Salik berangkat. Sepanjang jalan ia kuatir tak bisa memenuhi keinginannya karena keterlambatan. Tetapi apa yang terjadi? Begitu sampai di masjid yang ada di Jalan Terogong, mobilnya menepi ke masjid dan berhenti, dan saat tangannya membuka pintu mobil, tepat adzan Ashar mulai dikumandangkan! Langsung saja ia mengucap “Allahu Akbar!” dan kesekian kali bulu kulitnya merinding karena ‘kehadiran’ Tuhan yang sangat nyata pada saat itu.

Dua kejadian di atas adalah contoh kecil bukti kehadiran Tuhan, bahkan secara langsung, “menyapa” pada hamba-Nya yang ingin mengunjungi-Nya, khususnya bagi mereka yang mau dan mampu merasakan-Nya.

“…dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia…,”

Upaya membuktikan Keberadaan, Kebesaran dan Kehadiran Tuhan sering berbagai perumpamaan ditunjukkan Tuhan di antara ciptaan-Nya yang ada di hadapan manusia. Mereka yang mampu mencernanya akan meyakini Kehadiran-Nya bahkan mungkin menyungkur bersujud atas sapaan Tuhan yang Mahaagung.

Tidaklah mungkin Tuhan yang Mahasuci menunjukkan “fisik” Diri-Nya karena akan mengesankan Tuhan tergantung pada dimensi ruang-waktu yang sifatnya sangat fana; selain akan menimbulkan persepsi yang menyesatkan.

Di antara banyak perumpamaan yang dihadirkan oleh Tuhan, sedikit manusia yang mengerti, lebih sedikit yang memahami dan lebih sedikit lagi yang menghayati hingga tersungkur bersujud dan menangis karena merasa didekatkan Tuhan pada Hakikat-NYA.

Ayat ini diakhiri dengan,

“…Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.35)

Artinya semua perumpamaan beserta tafsirnya kembali kepada Tuhan yang Maha Mengetahui hakikat kebenaran sesungguhnya. Demikian pula setiap tafsir yang dikemukakan para ahli tafsir, Tuhan Mahatahu apa yang dibisikkan oleh hatinya (qalb, SQ) dan otaknya (IQ, EQ) untuk menyingkap kebenaran demi kebenaran, cahaya demi cahaya dan cahaya di atas cahaya.

Tafsir ayat ini tidak tertutup kemungkinan akan berkembang, sejalan perkembangan teknologi dan religi dari kalangan para ulama dan sufi. Pengetahuan Tuhan memang tidak terbatas uraian kata-kata buatan manusia yang sangat naif mengklaim bisa menjabarkan makna tak terbatas illahiah.

Karena keterbatasan itu, sering para seniman yang mendalami tasawuf mengandalkan intuisi religinya menguraikan perumpamaan dengan kiasan. Misalnya dengan ungkapan; “Kedekatan Allah dengan hamba-hamba-Nya, mampukah diibaratkan antara bunga dengan aromanya?”

Catatan tentang Guru dan Buku

Beberapa cabang ilmu pengetahuan yang memerlukan guru dan buku adalah: (1) Astronomi, (2) Matematika, (3) Fisika, (4) Biologi, (5) Kimia, dan (6) Sosiologi. Sedangkan (7) Filsafat dan Agama (khusus tasawuf) pada tatanan tertentu yang tidak menyangkut data, nama, teori dan lain-lain yang bersifat kuantitas, praktis tidak memerlukan guru dan buku. Hakikat guru dan buku sebenarnya baginya adalah “dirinya” yang disinari Cahaya Tuhan di dalam hati nuraninya, kalbu yang paling dalam.

Pada zaman modern sekarang, status guru dan buku telah sedikit banyak tercemari oleh polutan ekonomi dan politik. Telah terjadi pergeseran nilai antara dulu dan kini, antara pergaulan masyarakat kota dan desa, antara modernisme dan tradisionalisme. Adanya konflik kebutuhan, kepentingan dan idealisme itu terus berlangsung untuk menghasilkan sintesa lebih benar menurut manusia yang akan diuji oleh zaman.

Reorientasi kepentingan mengakibatkan banyak guru dan buku dihargai secara materialistik oleh pasar. Dari banyak guru agama yang dihasilkan dari pendidikan sekuler, ustadz dan (maaf) ‘kyai karbitan’ justru mengakibatkan kebingungan umat terhadap banyaknya fatwa yang muncul dan berkembang di masyarakat. Demikian pula sekian banyak buku sebagai referensi justru membuat masyarakat menjadi bingung dan ketergantungan pada seseorang atau teori tertentu.

Penerbitan Buku Putih yang bersifat sangat politis dan diluncurkannya Biografi Tokoh Pejabat, Penguasa dan Pengusaha bisa dipastikan merupakan sarana untuk memperkuat posisinya dan pembenaran masyarakat terhadap kelompok atau seseorang tertentu yang ditulis dalam buku biografi.

Sistem pendidikan sekuler maupun dikotomi agama, masih mengukur intelektual dari jumlah literatur yang dipelajari dan angka index prestasi, tanpa memperhitungkan prosesnya. Padahal menilai potensi manusia yang sebenarnya tidak semudah itu (periksa Kajian 32: Tentang Ilmu).

Proses pendidikan yang berlangsung selama ini sangat tidak ideal, sebab tak mendewasakan peserta didik. Ada ketergantungan mahasiswa ke dosen, murid ke guru, santri ke kyai, maupun jamaah ke ustadz, dan seterusnya. Proses itu tidak mendidik mahasiswa, pelajar, masyarakat dan umat untuk bisa mandiri; apalagi hal itu telah berlangsung selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Sebetulnya proses itu parsial, individu dan kelompok kecil yang ada di masyarakat. Dengan sistem paternalistik tidak memungkinkan munculnya wacana baru yang lebih orisinal. Hampir tidak ada murid yang memaparkan ide-ide murninya di depan forum ilmiah maupun forum agama. Kebanyakan mereka hanyalah menyadur dari buku-buku dan meneruskan kata-kata dari buku dan guru.

Sejatinya manusia adalah guru, terutama bagi dirinya sendiri. Majelis ta’lim yang menghadirkan ustadz melakukan pengajian rutin sekali seminggu merupakan kegiatan yang baik. Tetapi hubungan paternalistik yang menempatkan ustadz sebagai ustadz dan jamaah hanya sebagai pendengar, tidak akan melahirkan dinamika diskusi dan munculnya hal-hal baru spektakuler. Kondisi itu diperparah dengan kewajiban ustadz yang sekedar menyampaikan ceramah dan setelah itu menerima ‘amplop’. Ustadz atau mubaligh bukanlah profesi untuk mencari nafkah dengan ceramah-ceramah agamanya. Ini bisa dilaknati Allah Swt.

Firman Tuhan pada QS. 6. al-An’aam (Binatang Ternak) 90, “Mereka orang yang telah diberi petunjuk Allah, maka ikutilah mereka. Katakan: “Aku tidak minta upah padamu dalam sampaikan (al-Qur’an)”. al-Qur’an tidak lain hanya peringatan untuk segala umat.”

Firman Tuhan pada QS. 36. Yaa-Siin 21,

“Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu dan merekalah yang mendapat petunjuk.”

Setiap manusia adalah ustadz dan mubaligh. Ia wajib menyampaikan setiap ayat yang telah dipahaminya tanpa reserve. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Dengan menjadi sebagai ustadz dan mubaligh secara proporsional, ia akan mampu untuk mandiri, tidak paternalistik dan bisa menyelesaikan masalah secara bersama-sama, sederajat, terlepas dari feodalisme paternalistik. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: