Bacalah 15. Membentuk Diri

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Allah mengetahui yang dikandung perempuan

dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan bertambah.

Dan segala suatu pada sisi-Nya ada ukurannya. 8)

 

Yang mengetahui semua yang ghoib dan nampak;

yang Mahabesar lagi Mahatinggi. 9)

 

Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya

dan terus terang dengan ucapan itu dan yang bersembunyi di malam hari

dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. 10)

 

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikuti bergiliran,

di muka dan di belakang, mereka menjaganya atas perintah Allah.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum

hingga mereka merubah keadaan diri mereka sendiri.

Dan jika Allah mengehendaki keburukan terhadap suatu kaum,

maka tiada yang dapat menolaknya

sekali-kali tiada pelindung bagi mereka selain Dia. 11)

 

Dia Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu

untuk timbulkan takut dan harap

dan Dia adakan awan mendung. 12)

 

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah,

(demikian pula) para malaikat karena takut pada-Nya

dan Allah melepaskan halilintar,

lalu menimpakannya pada siapa yang Dia kehendaki,

dan mereka berbantah-bantahan soal Allah

dan Dia Tuhan yang Mahakeras siksa-Nya.13)

 

Hanya bagi Allah (hak kabulkan) doa yang benar.

Dan berhala-hala yang mereka sembah selain Allah

tidak dapat memperkenankan suatu pun bagi mereka,

selain seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya

ke dalam air berusaha sampai air ke mulutnya,

padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya.

Dan doa (ibadat) orang-orang kafir sia-sia belaka. 14)

 

Hanya pada Allah sujud (patuh) segala yang di langit dan bumi,

baik dengan kemauan sendiri atau terpaksa

(dan sujud pula) bayang-bayangnya waktu pagi dan petang hari. 15)

 

QS. 13. ar-Ra’d (Guruh) 8-15

 

Membentuk Tubuh-Jasmani Sehat

“Allah mengetahui yang dikandung perempuan dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. 8)

Pada QS. 13. ar-Ra’d (Guruh) 11 seluruhnya membicarakan manusia, bahkan sejak ia masih di dalam kandungan ibunya. Disebutkannya bahwa umur kandungan rahim ada yang kurang sempurna di bawah 9 bulan 10 hari atau pre-mature atau lebih; ada yang lahir sehat, ada yang cacat. Semua itu kehendak Tuhan Maha Menentukan, Maha Pencipta, Maha Pembentuk dan Perupa.

Ini merupakan isyarat dari sisi dimensi fisik yang mampu ditangkap indera dan intelektual manusia, dan harus dibina sejak awal. Perkembangan janin di dalam rahim seorang ibu harus mendapatkan perhatian utama yaitu soal kesehatannya karena perkembangan janin akan menentukan cikal bakal dia sebagai manusia.

Janin sebagai rumah ruh yang ditiupkan Tuhan pada manusia harus dibentuk sedemikian rupa hingga ruh nyaman (enjoy, convinient) selama ia tinggal di dalamnya, walaupun rumah nantinya rapuh, hancur dan lenyap ditelan bumi. Tetapi ketika rumah dikontrak
selama umur hidup di dunia – sekaligus berfungsi sebagai kendaraan yang membawa ruh sesuai yang dikehendakinya – harus dibersihkan dan dipelihara dengan baik. Mempunyai rumah dan kendaraan yang andal, maka ruh akan membentuk jiwa yang andal pula, jika dan hanya jika:

Pertama, rumah dimasuki oleh orang-orang beriman, tamu-tamu yang saleh, tata ruang rumah cukup syarat kesehatan untuk sirkulasi udara dan lain-lain yang bersifat konstruktif dan higienis,

Kedua, kendaraan harus dirawat, dipakai ke tempat-tempat yang baik, dipinjamkan dan dikendarai teman-kerabat-sahabat yang alim dan lain-lain untuk kegiatan yang positif.

Sejak kecil, pengenalan olah raga harus ditanamkan pada anak, selain pendidikan akhlaq yang juga ditanamkan sejak dini. Olah raga yang baik akan menghasilkan kesehatan tubuh. Pada masa transisi atau yang menjelang akil baligh – biasanya sekitar umur 15-17 tahun – barulah jiwa manusia mulai bergejolak mencari “identitas diri”. Jika kesehatan tubuh-jasmani disertai dengan bekal modal iman dan taqwa secukupnya, proses mencari “identitas diri” takkan ada masalah.

Membentuk Jiwa-Ruhani Kuat

“Yang mengetahui yang ghoib dan yang nampak; yang Mahabesar lagi Mahatinggi. 9) Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya dan terus terang dengan ucapan itu dan yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. 10) Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikuti bergiliran, di muka dan di belakang, mereka menjaganya atas perintah Allah….11)

Sebagaimana diketahui masyarakat umumnya bahwa segala suatu yang mengisi kehidupan selalu berpasangan. Begitu pun pasangan tubuh dan jiwa, jasmani dan ruhani, serta ghoib dan nyata. Seperti yin-yang dalam Taoism, bentuknya sama, warna dan posisi berlawanan tapi saling holding memenuhi lingkaran sebagai simbol kesempurnaan dan keseimbangan.

Yang ghoib dan yang nampak, di sini terkait janin yang dikandung rahim selama kurang lebih 9 bulan 10 hari. Teknologi kedokteran sangat canggih memantau perkembangan janin dengan alat USG (ultra sonografi). Perkembangan fisik dan biologis janin nampak jelas secara medis. Tetapi, betapapun majunya ilmu kedokteran, pasti ada bagian yang masih belum dan tidak bisa terdeteksi alat kedokteran secanggih apa pun. Itulah yang masih bersifat ghoib, yaitu secara psikis dan religis yang dialami janin di dalam kandungan atau rahim ibu. Misalnya; teknologi ilmu jiwa Sigmund Frued tidak akan pernah membuktikan secara medis atau ilmiah percakapan
jiwa dengan Tuhannya sebagai perjanjian tauhid, yakni,

Firman Tuhan pada QS. 5. al-Maidah (Hidangan) 7,

“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya denganmu saat kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami ta’ati”. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati(mu).7)

Begitu juga dengan dua jalan yang di”ilham”kan Tuhan kepada manusia yaitu jalan kefasikan dan jalan ketaqwaan (QS. 19:7-10). Ilmu manusia tidak atau belum bisa mendeteksi wujud “ilham”, seperti mendeteksi kebohongan pada instansi kepolisian untuk mengetes pengakuan saksi atau tersangka dan terdakwa.

Eksistensi Tuhan sebagai Causa Prima tidak bergantung pada mahluk. Pengetahuan-Nya ada pada Diri-Nya, yang menaungi semua mahluk-Nya. Sehingga apa pun yang tampak dan sembunyi, dilahirkan dan dirahasiakan, di malam dan di siang hari; semuanya sepengetahuan Tuhan. Karena, bagi manusia ada malaikat penjaga pada setiap saat, di mana dan kapan pun bahkan di dalam keadaan apa pun.

Kaitannya membentuk jiwa-ruhani kuat, maka perjanjian tauhid (QS. 5:7), ilham dua jalan (QS. 19:7-10), serta ilmu Tuhan yang meliputi manusia melebihi dirinya (QS. 13:9-11); maka manusia akan menyadari bahwa tiada guna mengingkari bisikan hati yang menyuarakan kebenaran.

Sementara itu bisikan setan biasanya melekat pada pemanjaan dan pemuasan fisik-jasmani. Tetapi jika pemanjaan dan pemuasan fisik-jasmani bertentangan aturan Tuhan, maka pemanjaan dan pemuasan fisik-jasmani akan berbalik menjadi penyiksaan jiwa-ruhani. Jika hal ini diabaikan terus, semakin lama jiwa-ruhani itu akan rapuh dan lemah tanpa daya.

Bisikan setan pasti bertentangan hati nurani. Jika mata hati telah bening dan jiwa-ruhani telah menemu-kenali fitrahnya; maka ia akan mampu membedakan mana yang haq dan yang batil. Ia akan bisa “berkomunikasi” dengan dirinya sendiri dan Tuhannya, juga dengan malaikat yang mengikuti, melalui sholat, puasa dan zikirnya. Jiwa-ruhaninya telah terbentuk menjadi jiwa yang muthma’inah (QS. 89:27-30). Jika telah asyik-masyuk membentuk jiwa-ruhani, kadang ia lupa membentuk tubuh-jasmani. Selain tubuh-jasmani telah sampai pada batas pertumbuhan dan perkembangan, tiada lagi organ, elemen atau bagian tubuh-jasmani yang bisa dibentuk lagi selain usia yang semakin tua dan menunggu panggilan kematian tubuh-jasmaninya. Untuk itu ia membentuk jiwa-ruhani muthma’inah mahabbahbillah, agar kematian tubuh-jasmaninya disambut senyum rindu jiwa-ruhaninya yang ingin segera bertemu, “memeluk” dan “dipeluk” Tuhannya.

Demokrasi Diri Sendiri

“…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah keadaan diri mereka sendiri. Dan jika Allah mengehendaki keburukan suatu kaum, maka tiada yang dapat menolaknya, sekali-kali tiada pelindung bagi mereka selain Dia. 11)

Ini adalah inti QS. 13. ar-Ra’d 8-15 terutama dalam membentuk diri; mulai mengambil sikap, menentukan cita-cita, membangun rumah tangga, masyarakat, bangsa dan negara, serta menyusun visi, misi dan melaksanakan aksi melalui strategi. Segala sesuatu bergantung kepada manusia atau kaum yang bersangkutan.

Menyangkut “definisi” Tuhan pun, Hadis Qudsi telah menyebutkan: “Aku seperti perkiraan hamba-hamba-Ku”. Ini amat menarik, karena memunculkan spekulasi apakah pernyataan itu dari Tuhan atau sekedar evolusi pemikiran manusia? Kata “perkiraan” akan sesuai dengan tingkat pemahaman atau maqam seseorang. Jika ia adalah seorang yang alim, maka nilai perkiraannya tentu sangat lain dari perkiraan orang awam.

Perkiraan orang alim pasti melalui analisa dan kaji ulang secara itteratif untuk mencapai kebenaran hakiki. Sehingga pemahamannya tentang hakikat Tuhan bisa dipertanggung-jawabkan berdasarkan kaidah ilmiah dan illahiah yang bisa diterima akal dan rasio orang yang berilmu.

Tuhan menghormati manusia ketika “menawarkan” perubahan nasib seperti ayat 11 di atas. Sehingga dengan demikian, tidak benarlah anggapan bahwa Tuhan bersifat otoriter. Setiap orang atau kaum haruslah berusaha dan berusaha sesuai kemampuan-kebutuhan, tidak kemauan-keserakahan. Tuhan membuka pintu lebar-lebar bagi manusia untuk memilih dan membentuk dirinya sendiri, menentukan jalan hidupnya seperti Firman Tuhan QS. 91. as-Syams (Matahari) 7-10 yang mengilhamkan jiwa pada jalan kefasikan dan ketaqwaan, dan beruntunglah jiwa yang memilih ketaqwaan.

Firman Tuhan pada QS. 41. Fush Shilat (Yang Dijelaskan) 46,

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh maka (pahalanya) untuk dirinya dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; Dan tidak sekali pun Tuhanmu menganiaya hamba-hamba(Nya)

Sifat demokrasi Tuhan memberi kesempatan bagi manusia untuk “membentuk” dirinya sendiri; dari manusia, oleh manusia, untuk manusia. Banyak ayat al-Qur’an yang mengesankan hubungan dekat bahkan seakan “manunggal” antara manusia dengan Tuhannya. Sehingga, ketika mengambil keputusan, ada batas sangat tipis, apakah yang menentukan adalah orang bersangkutan atau Tuhannya? Ia yang telah bisa mengetahui batasan tipis antara ia dan Tuhannya adalah mereka yang telah melalui proses panjang pencarian diri dan telah mengalami pencerahan.

“Siapa berbuat sesuai hidayah, sesungguhnya dia berbuat untuk dirinya; siapa sesat, sesungguhnya dia tersesat untuk dirinya. Dan seorang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul”
(QS. 17:15)

Sesungguhnya Tuhan tidak menganiaya seseorang walau sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Tuhan melipat-gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala besar (QS. 4:40). Demikianlah Keadilan Tuhan yang memberikan demokrasi utuh bagi manusia.

Pelajaran Alam Semesta

“Dia Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk timbulkan takut dan harapan dan Dia adakan awan mendung. 12) Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah (demikian pula) para malaikat karena takut pada-Nya dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya pada siapa yang Dia kehendaki dan mereka berbantah-bantahan soal Allah dan Dia Tuhan Mahakeras siksa-Nya.13)

Proses membentuk diri sering diilhami fenomena alam seperti di atas. Banyak ilmuwan legendaris terilhami fenomena alam, mulai Pythagoras, Archimedes, Galileo hingga Isaac Newton yang terilhami jatuhnya buah apel untuk merumuskan hukum gravitasi. Sedangkan dari tasawuf, ada seorang sufi belajar “konsentrasi” dari seekor kucing yang mengamati mangsanya untuk kemudian berhasil diterkamnya dengan cekatan secepat kilat. Ada pula sufi yang belajar dari menyapu halaman dan mencium harum bunga.

Ayat 12-13 di atas menjelaskan fenomena hujan karena dengan hujan banyak hikmah yang diambil; mulai penemuan listrik dari bola lampu hingga PLTA (pusat listrik tenaga air), pertanian dan cocok tanam yang mengharap hujan sebagai penunjang panen; hingga timbulnya rasa takut akibat hujan karena memungkinkan bencana seperti badai, banjir, longsor dan lain-lain.

Di awal ayat 13 disebutkan guruh itu bertasbih memuji Allah. Jadi, pupuslah anggapan bahwa di luar manusia, alam tercipta pasif, apa adanya untuk konsumsi manusia. Ternyata seluruh alam bertasbih memuji Tuhan. Seorang Ebiet G. Ade melantunkan syair lagu, “Dalam kepekatan mimpiku, Wajah-Mu tersembunyi. Alam semesta, matahari-bintang-rembulan… semua datang sujud buat-Mu, menikam cinta paling dalam…”

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih pada Allah. Dan tiada suatupun selain bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka…” (QS. 17:44)

Dengan merubah anggapan dari pasif-nya menjadi aktif-nya alam yang bertasbih memuji Tuhan, diharapkan manusia semakin tahu diri, introspeksi dan mawas diri sebagai bagian dari alam yang diciptakan fitrahnya mulia. Dengan persepsi baru ini, alam semakin membantu manusia membentuk dan menemukan dirinya kembali.

Hujan sebagai salah satu fenomena di antara banyak unsur alam yang membantu mendekatkan diri kepada-Nya. Mulai awan dan mendung berarak, menjadi hujan, turun ke bumi menembus tanah menyeruakkan aroma khas, petir dan halilintar mengguruh menggelegar… dan seterusnya.

Khusus bagi seniman atau penyair yang mampu menikmati kontemplasi mengembangkan imajinasi dalam kesendiriannya, yang menikmati guyuran air hujan beserta guruh dan halilintar; mungkin ia terinspirasi berpuisi.

Selain itu, ada ayat lain tentang hujan yang cukup menyentuh, seperti Firman Tuhan, “Dia menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan segala buah-buahan sebagai rejeki untukmu; karena itu jangan kamu adakan sekutu bagi Tuhan padahal kamu mengetahui.” (QS. 2:21-22)

Berdoa yang Benar, Bentuk Diri yang Benar

“Hanya bagi Allah (mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan suatu pun bagi mereka, selain seperti orang yang membuka kedua telapak tangannya ke dalam air berusaha sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir sia-sia belaka. 14)

Kesan pada ayat 14 mengenai doa yang benar, membersitkan pengertian ada doa yang belum atau tidak benar. Seperti halnya hakikat sabar; bahwa ada sabar yang baik, ada sabar yang belum atau tidak baik. Lalu bagaimana membentuk diri yang benar? Apakah berambisi menjadi orang suci termasuk usaha yang benar? Berusaha membersihkan diri dan mensucikan hati adalah benar, tetapi berambisi merupakan hambatan untuk itu.

Pada akhir ayat digambarkan bahwa doa (ibadat) orang-orang ingkar akan sia-sia belaka. Berarti, makna ingkar di sini bukan saja orang yang (beragama) di luar Islam. Tetapi tidak sedikit orang yang beragama, termasuk mereka yang beragama Islam tetapi belum menghayati inti ajarannya secara haq. Mereka juga sholat dan berdoa, tetapi tidak ikhlas. Sehingga secara sadar atau tidak mereka disusupi oleh sifat ingkar akan nikmat Tuhan. Keingkaran yang semakin lama semakin mengendap akan mengaburkan pandangan terhadap realita tauhid sebenarnya.

Berambisi menjadi suci dengan mengucilkan diri, menganggap dirinya paling benar dan yang lain salah, membalut tubuh berjubah, bersurban, berjilbab, bercadar – tanpa paham ilmu dan inti kebijakan yang bersemayam di balik alam – maka sia-sia ibadatnya karena mengingkari keragaman sebagai suatu kenyataan.

Ada kisah guru-murid dalam perjalanan. Di tengah jalan, ada gadis sedang pingsan. Bajunya basah kuyup dan bawahannya tersingkap sehingga menampakkan pahanya yang mulus. Guru menyuruh murid membopongnya, tetapi murid mengelak dengan mengatakan gadis itu bukan muhrim-nya dan lebih baik menunggu wanita lewat untuk menolong. Tanpa banyak bicara gurunya membopong gadis itu, dan merebahkannya di bawah pohon. Guru membuat ramuan seraya memeriksa tubuhnya jikalau ada luka atau berdarah. Setelah siuman, si gadis berterima kasih lalu pulang. Murid agak berang melihat gurunya seenaknya meraba-raba tubuh gadis itu, lalu berkata, “Guru telah berdosa besar, meraba-raba gadis bukan yang muhrim-nya.” Gurunya dengan tenang menjawab, “Kamu yang berdosa. Selain tak segera menolong, pikiranmu hingga kini masih dipenuhi nafsu. Apakah kamu melihat selama menyelamatkan gadis itu aku ada nafsu?” Si murid hanya terdiam.

Al-Qur’an menganjurkan ‘aslama secara kaffah, konsekuensinya harus total menyelimuti diri dalam ‘aslama, bukan dengan materialistis termasuk eksklusivisme besifat fisik-jasmaniah. Jika ada bisikan di luar sikap ‘aslama, maka ia sudah termasuk ingkar meskipun sedikit, mekipun agamanya Islam. Jika lambat-laun semakin menumpuk keingkarannya, sedikit demi sedikit, ia takkan bisa merasakan dan mengetahui apakah doanya benar atau salah; dan Tuhan tidak akan mengabulkan doa yang tidak benar.

Untuk memenuhi doa yang benar, selain orangnya juga harus benar, berikut ini disampaikan beberapa upayanya, yaitu:

(1) Bersuci (berwudhu),

(2) Sholat (wajib / sunnah), ditunjang dengan ibadat lain seperti puasa,

(3) Mencari waktu afdol, misalnya pertengahan atau sepertiga malam,

(4) Diam merenung, kontemplasi melihat jauh ke dalam diri, hati nurani,

(5) Bertasbih-tahmid-tahlil-takbir-istighfar dll doa, berulang kali,

(6) Membaca al-Qur’an yang berkenaan dengan substansi doanya,

(7) Zikir al-Asmaaul Husna berkaitan dengan permintaan doanya,

(8) Kembali diam merenung, kontemplasi jauh ke dalam diri, hati nurani,

(9) Memohon akan kebutuhannya, demi kemaslahatan pribadi dan umat,

(10) Sujud untuk menutup doanya.

(Pada nomor 5-6-7 jumlah bacaannya tidak ditentukan, tergantung kesesuaian, kebutuhan, situasi dan kondisi…

Inti doa yang benar adalah kemaslahatan. Jika ada rasa benci harus dilebur menjadi cinta kasih. Jika ada rasa iri harus dilebur menjadi qonaah dan istiqomah. Demikian latihan batin untuk menjadi bening hati, bersih dan suci jiwa dalam rangka berdoa yang benar. Seorang ulama sufi yang telah bergayut mahabbah pada Tuhan, maka adab doanya seperti di atas tetapi dengan frekuensi lebih besar dan dengan mereduksi nomor 9; karena ia sudah tidak banyak meminta untuk kebutuhannya karena ia hanya butuh Allahnya, Tuhannya, lain tidak!

 

Puisi 15.

Pemandangan

 

Cobalah menyimak dan menghayati fragmentasi alam

Lalu kembalilah ke diri sendiri di mana jiwa bersemayam

Endapkan pikiran dan tadzakkur suntuk semalam

Sejenak terasa hakikat jiwa di dalam diam

 

Ketika bumi gonjang-ganjing dan jagat bertabur kemelut

Ketika halilintar menyambar menyobek langit menembus kabut

Ketika gelombang badai membelah laut

Petir guruh menggelegar seakan membawa maut

Semua orang pada takut

 

Ketika pada gilirannya bumi berhenti gonjang-ganjing

Dan pada waktunya jagat pun enggan bergeming

Alam sedang bersemadi di dalam hening

Binatang dan tumbuhan berselingkuh bertabur cahaya kemuning

Menyaksikan hidup manusia yang pada bising…

 

Puisi 16.

Antara Air dan Udara

 

Dalam gejolak semesta alam,

Air bergolak udarapun bergolak karenanya

(di sini entah siapa mendahului siapa)

Air itu tampak, tetapi udara tidak tampak

Keberadaan air semua orang pada tahu

Keberadaan udara karena logika di ilmu

 

Dalam hening air bening

Air tenang, udara pun tenang

Pada air ada udara, pun sebaliknya

Air dan udara memberikan kehidupan di sekelilingnya

 

Walau air-udara terkontaminasi polutan manusia

Tetapi kedua fragmen alam ini tetap setia

Hakikatnya ia sekedar memenuhi Panggilan-Nya

Hingga kelak berakhirnya masa

Entah kapan dan di mana

 

Puisi 17.

Antara Raga dan Jiwa

 

Dalam gejolak kehidupan dunia,

Raga berkembang jiwa berkembang

(di sini raga mendahului jiwa)

Raga itu tampak, tetapi jiwa tidak tampak

Keberadaan raga semua orang pada tahu

Keberadaan jiwa karena rasa di kalbu

 

Raga itu fana, jiwa itu baka

Raga mati, jiwa abadi

Raga kembali ke tanah, jiwa kembali ke Allah

Entah di surga atau neraka

 

Raga dan jiwa memberi dimensi hakikat manusia

Raga dan jiwa harus ‘terpisah’ adanya

Raga bebas melalang buana, jiwa terjaga fitrahnya

Raga tiada berharap harta, jiwa tiada berharap surga

Jiwa hanya berharap senantiasa di dalam Pelukan-Nya

 

“Hanya pada Allah-lah sujud (patuh) segala yang di langit dan di bumi, dengan kemauan sendiri atau terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. 15)

Pada ayat 15 sebagai akhir QS. 13. ar-R’ad (Guruh) 8-15, disebutkan segala yang di langit dan bumi sujud pada Tuhan. Demikian pula 10 adab berdoa yang ditutup dengan sebenar-benarnya sujud dengan kemauan sendiri karena matahari dan bayang-bayangnya itu pun sujud pada-Nya di waktu pagi dan petang hari. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: