Bacalah 14. Soal Rejeki

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Dan tiada suatu binatang melata di bumi

selain Allah beri rejekinya

dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang dan tempat penyimpanannya.

Semua tertulis dalam Kitab Nyata (Lauh Mahfuzh). 6)

 

Dan Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa

dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air,

agar Dia uji siapa di antaramu yang lebih baik amalnya

dan jika kamu berkata (pada penduduk Mekah):

“Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”,

niscaya orang-orang yang kafir akan berkata:

“Ini tidak lain hanya sihir yang nyata”. 7)

 

QS. 11. Huud 6-7

 

Macam-Macam Rejeki

REJEKI berasal dari Bahasa Arab rizqi yaitu segala sesuatu pemberian Tuhan untuk manusia. Berdasarkan definisi itu, rejeki dapat dibagi lima, yaitu: (1) Hikmah atau Ilmu, (2) Kesehatan, baik Fisis, Biologis maupun Psikis, (3) Keturunan yang mulia, (4) Persaudaraan atau Persahabatan, dan (5) Hasil Bumi seperti hasil-hasil hutan, pertanian, perikanan, peternakan, pertambangan dll.

Dari kelima macam rejeki yang berdasarkan prioritas itu tidak termasuk berupa uang (money), karena uang hanya “alat tukar” dan nilai dari jual-beli antara kelima macam rejeki di atas. Dan fungsi uang pada saat ini tidak lagi sebagai alat tukar atau membuat tatanan nilai yang memudahkan interaksi kehidupan sosial. Secara filosofis, uang justru menjadi simbol keterasingan (alienasi) karena segala sesuatu telah diukur dengan uang.

Hikmah atau ilmu adalah rejeki dari Tuhan yang sangat mulia. Hikmah atau ilmu yang paling tinggi adalah ilmu agama atau tepatnya ilmu ma’rifat karena ia sama sekali steril dari uang. Sedangkan ilmu yang relatif rendah nilainya adalah yang bisa ditukar dengan uang atau sebagai mata pencarian. Ilmu yang tergolong seperti ini adalah ilmu pengetahuan, ketrampilan, profesi atau untuk pekerjaan sehari-hari.

Kesehatan fisik adalah keutamaan tubuh untuk mencari rejeki lainnya. Adapun prioritas kesehatan secara berurutan nilainya adalah kesehatan jiwa, intelektual, mental dan fisik termasuk kecantikan, ketampanan dan kekuatan.

Keturunan juga sebagai modal rejeki dari Tuhan. Keturunan yang mulia adalah anak-cucu yang saleh. Kesalahan mendidik yang ditekankan hanya pada pendidikan sekuler tanpa memperhatikan akhlaq, pada saatnya nanti akan menjadi azab atau bumerang bagi orang tuanya.

Persaudaraan atau persahabatan, dan percintaan karena Tuhan, sifatnya akan abadi. Dengan banyak saudara dan sahabat yang baik akan membuka sumber rejeki lain. Tetapi persaudaraan, persahabatan dan percintaan yang tidak dilandasi karena Tuhan, misalnya karena pekerjaan, uang dan nafsu, maka cepat atau lampat hubungan antar manusia akan berbalik menjadi pemunafikan, pemusuhan dan pengkhianatan.

Hasil bumi seperti hasil-hasil hutan, pertanian, ternak, pertambangan dan lain-lain adalah wujud kongkrit di luar manusia yang berfungsi rejeki bagi manusia. Mahluk Tuhan selain manusia bersifat pasif. Satu sama lain bisa saling menjadi rejeki. Tetapi ternyata banyak hikmah yang diberikan Tuhan kepada manusia melalui hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Dan di bumi terdapat bagian berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma bercabang disiram air yang sama. Tuhan melebihkan sebagian tanaman atas yang lain soal rasa. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. 13:4)

Rejeki bagi Semua Mahluk

Pada kajian ini, QS. 11. Huud 6 disebutkan, “dan tiada suatu binatang melata di bumi selain Allah memberi rejekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang dan tempat penyimpanan-nya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).6)

Rejeki manusia, binatang, tumbuhan dan seluruh isi alam diatur Tuhan. Hanya manusia tampak bingung mencari rejeki-Nya; serba kuatir, takut jika tidak bisa memenuhi kebutuhan sehingga memaksa diri mencari rejeki dan lupa “mencari” Tuhan yang memberi rejeki. Orang modern mencari rejeki atau nafkah dengan cara yang berlebihan, bahkan untuk alasan ibadat seperti untuk kelengkapan ibadat, asesoris pengajian eksklusif, ONH Plus, anak belajar di sekolah Islam (sekuler) yang mahal dan lain-lain. Pola modernisasi agama yang meninggalkan “esensi nilai” agama akan menjerumuskan pada “perdagangan” agama. Banyak orang modern tertipu bisikan hawa nafsu yang berusaha mensucikan diri secara berlebihan dengan ibadat eksklusif dan berusaha tampak alim, tetapi tersekuleri berbiaya finansial tinggi karena tidak mengetahui hakikatnya.

Ayat-ayat, ilmu atau rejeki Tuhan bagi mereka yang teliti mengkajinya sebenarnya banyak, murah dan gratis. Tetapi “hikmah” dari Tuhan nilainya sangat mahal. Akan terlalu mahal dinilai dengan materi sehingga tidak bisa dijual dengan harga “rendah” secara finansial. Di mana manusia berada selalu terdapat ayat, ilmu atau rejeki Tuhan; jika manusia memakai akalnya. Pada Kajian 4: Perhitungan Tuhan, terutama proses masuknya pelajaran, pemikiran dan pertimbangan melalui mata, otak dan hati, menjelaskan cara memperoleh ilmu sebenarnya sangat mudah karena manusia dibekali logika.

Seluruh isi langit dan bumi sebenarnya bernilai sebagai ilmu dan rejeki. Jika kekayaan bumi dimanfaatkan menghidupi seluruh manusia dan seluruh mahluk sesuai kebutuhannya, pasti ia tidak akan pernah habis. Ironinya, kekayaan bumi tidak akan pernah cukup bagi kelompok kecil manusia untuk memenuhi keserakahan ambisi sesuai kemauannya.

Manusia telah dibekali dua jalan kefasikan dan ketaqwaan. Tuhan pun banyak memberi teguran, peringatan dan ancaman bagi mereka yang kikir, serakah menumpuk harta berlebihan. Sadar atau tidak, tergantung manusia, karena Tuhan takkan merubah nasib kaum jika kaum itu tidak merubahnya?

Bermegah-megahan telah melalaikanmu sampai kamu masuk kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui. Dan jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui. Jangan begitu jika kau tahu dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahannam, dan sesungguhnya kamu akan melihat ‘ainul yakin, lalu kamu pasti ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megahkan di dunia).” (QS. 102:1-8)

Firman Tuhan pada QS. 13. ar-Ra’d (Guruh) 11,

“…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan diri mereka sendiri…”

Manusia berakal relatif mudah merubah keadaan menjadi lebih baik. Banyak kaum sekuler (yang biasanya ingkar) bekerja sangat keras dan lebih makmur secara materi. Rejeki orang ingkar pun Tuhan mengaturnya dengan ar-Rahmaan. Apa yang mereka usahakan akan memperoleh sesuai usahanya. Tetapi bagi orang beriman yang bekerja keras, Tuhan menambahkan rejeki selain ar-Rahmaan akan memperoleh Kasih Sayang-Nya melalui ar-Rahiim.

“Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala suatu menurut ukuran.19)
Dan Kami menjadikan untukmu di bumi keperluan hidup dan makhluk-mahluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rejekinya kepadanya.20) Dan tiada suatupun selain di sisi Kami khazanahnya. Kami tidak menurunkannya selain dengan ukuran tertentu.21) Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali-kali bukan kamu yang menyimpan-nya.22) Sesungguhnya benar-benar Kami menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.23) Dan sesungguhnya Kami mengetahui orang-orang yang terdulu daripadamu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (daripada-mu).24) (QS. 15:19-24)

Rejeki Tuhan tanpa Batas

“dan Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air…,”

‘Arsy adalah “persemayaman” Tuhan dan simbol kekuasaan absolut; sedangkan air simbol kehidupan. Tiada mahluk bisa hidup tanpa air. Jadi, penggalan ayat itu merupakan pengejawantahan bahwa rejeki Tuhan yang ada di langit dan di bumi adalah bagian sangat kecil dari ciptaan Tuhan dibandingkan ‘Arsy-Nya. Jadi tiadalah kuatir bagi orang beriman soal rejeki.

“Dan Dia telah memberikanmu (keperluanmu) dari segala yang kamu mohonkan padanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Tuhan, tidaklah kamu dapat menghinggakan. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Tuhan).” (QS. 14:34)

Beberapa ayat al-Qur’an mengungkapkan rejeki Tuhan sangat banyak dan tanpa batas di antaranya, “Tuhan memberi rejeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”. (QS 2:212, QS. 3:27, QS. 24:38), dan “Barangsiapa hijrah di jalan Allah, niscaya mereka dapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rejeki yang sangat banyak”. (QS. 4:100)

Tuhan memberikan bumi dan seisinya kepada manusia secara gratis. Tetapi ketika berada di tangan manusia atau penguasa di bumi, semuanya dihargai dengan uang berikut segala pajak dan pungutan lainnya dengan alasan demi negara dan pembangunan. Petani dan nelayan menjadi tidak bisa memperoleh jatah tanah, bibit, tanaman, hewan ternak, perangkat nelayan dan kebutuhan lain akibat korupsi-kolusi-nepotisme penguasa-pengusaha. Sehingga rejeki Tuhan yang sangat banyak tidak terbatas itu hanya dikuasai oleh keserakahan sekelompok kecil manusia. Sebagian besar rakyat kecil, umat atau kaum dhuafa lainnya tidak bisa menikmati rejeki dari Tuhan. Kekuasaan politik, dan ambisi telah memudarkan kebeningan hati nurani.

Tetapi Tuhan Mahaadil jika hamba-Nya tetap ikhtiar, istighfar, tafakkur dan tadzakkur. Di antara belukar kemunafikan dan keserakahan, masih ada sela rejeki dan hidayah Tuhan. Justru ini adalah seni mencari rejeki karena dituntut ulet, berpikir, berzikir dan berusaha. Kemampuan tiap-tiap manusia pasti berbeda dalam mencari rejeki Tuhan. Karenanya, harus digali potensi yang diberikan Tuhan guna menyambung hidup di dunia. Dengan berusaha keras disertai zikir al-Asmaul Husna
Yaa Rozaq, Yaa Fatah,
atau ayat-ayat al-Qur’an terkait, kebutuhannya pasti akan terpenuhi, bukan ambisinya!

Penetapan Hukum suatu Rejeki

Bagi orang-orang yang beriman, berilmu dan berpikir kritis, tentunya akan mempertanyakan keabsahan rejeki yang diperolehnya dari sisi hukum halal-haram. Jika perolehan rejeki bisa dilihat secara nyata halal-haramnya dengan mudah dapat ditetapkan hukumnya.

Tetapi jika sudah melalui sistem rumit akan membutuhkan kepekaan untuk menentukan hukumnya. Misalnya; bagaimana hukum gaji dari hasil kerja di tempat sekuler bahkan haram seperti pub, bar, nite-club, pabrik bir dan lain-lain meskipun ia menjalankan syariah agamanya?. Demikian pula penghasilan bukan gaji pegawai negeri, bunga bank, antara pajak dan zakat, pemberian atau hibah dan lain-lain.

“Hai orang-orang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik yang Kami berikan padamu dan syukurlah pada Tuhan, jika hanya pada-Nya kamu menyembah.172) Sesungguhnya Tuhan mengharamkanmu bangkai, darah, daging babi dan binatang (disembelih) disebut (nama) selain Tuhan. Tetapi siapa dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tiada dosa baginya. Sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.173)” (QS. 2:172-173)

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rejeki yang telah diberikan Tuhan padamu, syukurilah nikmat Tuhan, jika kamu hanya pada-Nya menyembah.114) Sesungguhnya Tuhan hanya mengharamkanmu bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Tuhan; tetapi siapa terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.115) Dan jangan kamu katakan apa yang disebut lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Tuhan. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Tuhan tiada beruntung.116)
(Itu adalah) kesenangan sedikit, bagi mereka azab pedih.117)” (QS. 16:114-117)

Ternyata tidak mudah menentukan hukum halal-haram suatu rejeki. Dan fatwa ulama yang berlaku umum belum tentu sesuai dengan suatu kasus yang tergantung situasi-kondisi dan masalah khusus lainnya. Sehingga upaya pribadi menentukan kasus khusus itu kembali pada kekhusyu’an peribadatan terutama sholat dan puasa untuk menentukan benar dan salah, hak dan batil seperti Kajian 36: Tentang Puasa dan Kajian 40: Khusyu’ dalam Sholat. Dengan memurnikan ibadat secara khusyu’, rejeki Tuhan secara khusus diturunkan padanya melalui mata batin yang mampu melihat secara bening, jernih dan halus terhadap berbagai persoalan termasuk melihat hukumnya.

“…agar Dia uji siapa di antaramu yang lebih baik amalnya…”

Ada sirkulasi antara rejeki yang masuk dan keluar berkaitan dengan rejeki yang harus diamalkan. Diamanatkan al-Qur’an bahwa yang dimakan harus dari rejeki yang baik-baik atau halal. Demikian pula yang diamalkan. Ulama tempo doeloe banyak yang berprofesi sebagai petani, peternak atau nelayan karena perolehan rejekinya lebih jelas hukumnya. Karena usaha yang baik-baik (halal) akan menghasilkan rejeki yang baik-baik (halal) pula.

“Hai orang-orang beriman, nafkahkan (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan jangan kau pilih yang buruk lalu kau nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tak mau mengambilnya selain dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, Tuhan Mahakaya lagi Maha Terpuji.267) Setan menjanjikanmu kemiskinan dan menyuruhmu berbuat jahat (kikir); sedangkan Tuhan menjanjikanmu ampunan-Nya dan karunia. Dan Tuhan Mahaluas lagi Maha Mengetahui.268) Tuhan menganugerahkan al-hikmah (pemahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari Firman Tuhan).269) Apa saja yang kamu nafkahkan atau kamu nazarkan, maka sesungguhnya Tuhan mengetahuinya. Orang-orang yang zalim, maka tiada seorang penolongpun baginya.270) Jika kamu menampakkan sedekah, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikan pada orang-orang yang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Tuhan akan menghapuskan darimu sebagian kesalahan-kesalahanmu. Tuhan mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.271)” (QS. 2:267-271).

Proses perolehan rejeki, memakannya, untuk menghidupi keluarga dan masa depannya hingga mengamalkannya, ternyata melalui proses yang teliti dan hati-hati untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan seseorang, yaitu: (1) Perolehan dari rejeki baik-benar, (2) Pengamalan dari yang baik-benar, (3) Pengamalan harus ikhlas, dan (4) Pembelanjaan yang bermanfaat

Firman Tuhan pada QS. 3. Ali ‘Imran 92,

“Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

“Memiskinkan Diri”

“Dan Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia uji siapa di antaramu yang lebih baik amalnya dan jika kamu berkata (pada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanya sihir yang nyata”. 7)

Meskipun soal rejeki, Tuhan mengaitkannya dengan penciptaan langit dan bumi hingga ‘Arsy. Lalu disambung lagi dengan, “…Dia uji siapa diantaramu yang lebih baik amalnya…” dan “…kamu akan dibangkitkan sesudah mati….”

Kejadian yang tercatat di dalam al-Qur’an memang terjadi pada zaman Nabi Muhammad dan nabi-rasul terdahulu. Tetapi pesan moral dan religi yang disampaikan masih relevan hingga kini dan masa mendatang; apalagi ayat tasawuf
(mutasyabihat) yang kaya tafsir dan tidak sembarang orang mampu menafsirkannya dan menguak hikmah di dalamnya.

Setelah mengetahui kemampuan diri meraih rejeki secara halal, dan jika Tuhan melebihkan rejekinya, maka Dia uji di antara mereka siapa yang lebih baik amalnya. Secara syari’at, perhitungan rejeki ini ada zakatnya dengan angka sekian persen kekayaannya. Tetapi bagi mereka yang cintanya kepada Tuhan melebihi dari yang lain dan ia sudah melangkah dari syari’at, tarekat, hakikat dan ma’rifatullah; perhitungannya sudah seperti perhitungan Tuhan. Dengan kata lain, semuanya untuk Tuhan, zakatnya tidak 2.5% tetapi 100%!

Suatu kisah di kampung, ada anak mendengarkan khotbah Jum’at yang menyampaikan doa sufi yang ingin hidup miskin, bersama orang miskin dan mati di dalam kemiskinan. Si anak kecil dengan keluguan dan kepolosannya tidak bisa memahaminya. Setelah menjalani proses “metamorfose batin”, ia mulai sangat memahami, menghayati bahkan ikut hanyut pula berkeinginan seperti ulama sufi tersebut. Ulama sufi yang berdoa seperti itu tidak harus dipahami harfiah, karena pasti mempunyai riwayat sendiri. Secara khusus, “kemiskinan” yang dimaksud ulama sufi itu bisa dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, ia pasti berikhtiar, berusaha mencari rejeki halal untuk dirinya yang membutuhkan makan-minum, pakaian dan tempat berteduh.

Kedua, setelah mendapatkan rejeki halal dan cukup, ulama sufi belum “bahagia” karena ia melihat tetangganya miskin, lapar kekurangan makan, atap gubug bocor jika hujan. Ulama sufi itu membantu tetangga terdekatnya. Tetapi ketika ia melangkah keluar kampung, ternyata banyak tuna wisma hidup tidak layak di bawah jembatan. Ada anak-anak kecil tanpa dosa dan tanpa tahu makna kehidupan. tubuhnya dekil hitam dan potensi berpenyakit. Hati ulama sufi itu menangis. Jadilah ia mendermakan hartanya, menampung tuna wisma, menyekolahkan anak-anak dekil, mempekerjakan tuna karya dan seterusnya amal ibadat yang tidak terhitung.

Ketiga, kemiskinan harta bagi ulama sufi adalah bersifat sangat pribadi. Kepemilikannya adalah kepemilikan umat, kebahagiaannya juga harus milik kebahagiaan umat. Memperkaya jiwa, menjernihkan hati dan mempertajam pikiran adalah kekayaan yang lebih hakiki. Kesederhanaannya hanya visual raga-jasad-fisik-jasmani-duniawi; tetapi kekayaannya kekal pada qolbu-jiwa-mental-ruhani-ukhrowi; karena “Semua yang ada di bumi akan binasa. 26) Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang punya kebesaran dan kemuliaan.27) Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan.28)(QS. 55:26-28).

Rejeki bagi ulama sufi tidak sekedar berupa materi duniawi, jauh lebih berharga berupa hikmah illahi melalui ayat-ayat-Nya yang telah disampaikan para nabi dan rasul. Sedemikian mahal tidak ternilai ayat-ayat-Nya sehingga ia tidak menghargainya secara materialistis, tetapi gratis bagi umat yang sedang membutuhkan pencerahan.

Firman Tuhan pada QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 41,

“… Dan jangan kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus taqwa.41)

Adalah ironi bagi “ulama kontemporer” yang menghargai ayat Tuhan dengan harga rendah yaitu secara meterialistis. Dakwahnya dibayar dengan uang dan kekuasaan dunia. Semakin mahal dibayar uang dan kekuasaan itu, justru semakin ia menjual ayat-ayat Tuhan dengan harga sangat rendah.

Ironi, banyak dakwah bergeser orientasi dari keikhlasan menyampaikan kebenaran menjadi mata pencarian memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Banyak dai, ulama atau ustadz menerima honor atas ayat yang disampaikan. Banyak dai, ulama atau ustadz menjadi kaya karena dakwah, termasuk isu komersialisasi ibadat haji. Dakwah lebih entertainment daripada kebaktian dan pengabdian kepada Tuhan, lebih menjadi tontonan daripada tuntutan, lebih ucapan daripada teladan. Akibatnya, dai, ulama atau ustadz sekarang fatwanya meragukan karena pola ucapan, pikiran dan tindakan tidak lebih dari masyarakat awam dan tidak sakral lagi doa-doanya. Bahkan secara sinisme dikatakan ia telah melakukan “pemunafikan”. Inilah beda ulama sufi tempo doeloe dengan kebanyakan ulama kontemporer saat ini.

Firman Tuhan pada QS. 6. al-An’aam (Binatang Ternak) 90,

“Mereka orang yang telah diberi petunjuk Allah, maka ikutilah mereka. Katakan: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam sampaikan (al-Qur’an)”. Al-Qur’an tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.”

Memiskinkan diri seharusnya tidak saja bagi ulama sufi, tetapi juga berlaku pada umara sufi. Meskipun pengetahuan agamanya relatif sedikit, umara sufi yang berhati nurani pasti mengemban amanat rakyat atau umat. Sehingga prioritas pertama dan utama adalah kepentingan rakyat atau umat.

Hierarki memiskinkan diri bagi umara sufi misalnya:

Pertama, seorang yang berilmu (‘ulama) apa pun ilmunya, jika ia menghayati kebenaran dan kemutlakan ilmu, pasti mengakui bahwa ujung atau induk dari segala ilmu adalah pada ilmu agama. Dan ujung atau puncak ilmu agama adalah tasawuf
(ma’rifat) yang tentunya berangkat dari fiqih
(syari’at) terlebih dahulu.

Kedua, seorang ‘umara harus berilmu formal di bidang pemerintahan, sosial-politik, ekonomi yang selaras kebutuhan negara. Sistem demokrasi yang dinilai sebagai yang terbaik jika didasarkan musyawarah untuk mufakat atau atas suara terbanyak, ternyata mengaburkan kebenaran hakiki jika mufakat untuk kedholiman terselubung, atau suara terbanyak yang ternyata komitmen para petualang politik dengan money politics.

Ketiga, seorang ‘umara yang mengemban amanat demi kemaslahatan sudah pasti mengacu pada pola kepemimpinan Nabi Muhammad beserta Khulafaur Rasyidiin (Sayyidina Abu Bakar, Umar, Usman, Ali). Dalam sejarah kepemimpinan Nabi Muhammad, tidak dijumpai catatan bahwa beliau bergelimang kekayaan atas kekuasaannya. Bahkan dari segi ekonomi, Nabi Muhammad terkategori miskin untuk ukuran seorang pemimpin.

Keempat, ‘umara yang telah mencapai kesadaran penuh, menghayati inti kebijakan sebagai pemimpin, maka prinsipnya seperti Nabi Muhammad yakni (1) maju paling depan ke medan perang terlebih dahulu disusul oleh para panglima perang dan bala tentara lainnya, (2) memenuhi kebutuhan ekonomi paling belakang setelah kebutuhan rakyat atau umat terpenuhi. Tetapi, pola kepemimpinan politik di zaman sekarang justru sebaliknya.

Kelima, teladan moderat oleh Ki Hajar Dewantara sangat menunjukkan nilai luhur kepribadian Bangsa Indonesia, yakni: (1)
Ing ngarso sung tulada, di depan memberi teladan positif, (2)
Ing madyo mangun karso, di tengah memberikan ide-ide, inisiatif, dorongan positif, dan (3)
Tut wuri handayani, di belakang ikut berpartisipasi.

Dengan bergesernya nilai luhur kemanusiaan dan ketuhanan akibat peradaban yang dibangun manusia sendiri, manusia justru menjadi terasing di dalam dirinya sendiri. Sesuatu yang haram menjadi pemandangan umum, yang halal justru aneh mengalami banyak rintangan dan tantangan. Apalagi anjuran untuk melakukan pengajian tasawuf secara murni dan perilaku sufistik pasti dipandang sebelah mata, cibiran bibir seakan mengejek dan penilaian aneh-aneh lainnya, termasuk anjuran tasawuf “memiskinkan diri” di tengah sekularisasi, materialisasi dan hedonisasi yang tengah merajalela sebagian besar masyarakat modern.***

 

Puisi 14.

Jasadku Meminta

Tuhanku,

Yaa Allah…

Yaa Rozaaq …

jika terpaksa jasadku meminta, inilah permintaannya…

 

untuk ibadah: cukup tasbih, qur’an dan selembar sajadah,

untuk sandang: pakaian dua atau tiga saja agar tidak dingin dan gerah,

untuk pangan: karena ia sering puasa, sedikit saja makan agar ia kuat ibadah,

untuk papan: cukup tidur beralas bumi beratap langit di mana mata tengadah,

untuk tanah: hanya butuh sepetak tanah…

untuk mengubur jasadnya yang fana,.. rebah…

 

Jakarta, 06.09.01

 

Katakan: “Sesungguhnya Tuhan-ku melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya dan Dia Pemberi rejeki yang sebaik-baiknya. (QS. 34:39)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: