Bacalah 13. Waliyullah

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Kamu tidak berada dalam keadaan

dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur’an

dan kamu tak kerjakan suatu pekerjaan,

selain Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.

Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu

biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi atau di langit.

Tiada lebih kecil dan tidak (pula) lebih besar daripada itu,

selain (semua tercatat) dalam suatu Kitab Nyata (Lauh Mahfuzh). 61)

 

Ingat, sesungguhnya wali-wali Allah itu,

tiada kekhawatiran terhadap mereka

dan tidak (pula) mereka bersedih hati. 62)

 

(Yaitu) orang-orang beriman dan mereka selalu bertaqwa. 63)

 

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah.

yang demikian itu adalah kemenangan besar. 64)

 

Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka.

Sesungguhnya kekuasaan seluruhnya adalah kepunyaan Allah.

Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 65)

 

QS. 10. Yunus 61-65


Kesaksian Tuhan atas Segala Sesuatu

“Kamu tidak berada dalam keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur’an dan kamu tidak kerjakan suatu pekerjaan, selain Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarrah (atom) di bumi atau di langit. Tiada yang lebih kecil dan tidak (pula) lebih besar daripada itu, selain (semua tercatat) dalam Kitab Nyata (Lauh Mahfuzh). 61)

Dengan keyakinan bahwa seorang hamba membaca atau mempelajari tafsir suatu ayat al-Qur’an hingga menzikirkan dan merenungi maknanya, Tuhan pasti akan menyaksikan. Demikian pula dengan sikap, bisikan hati, pikiran, perbuatan dan pekerjaan lainnya dari manusia, pastilah Tuhan itu Maha Menyaksikan.

Membaca al-Qur’an sebagai salah satu bentuk ibadat adalah salah satu proses interaksi batin antara hamba dengan Tuhannya. Keyakinan bahwa ibadatnya pasti disaksikan Tuhan akan menambah khusyu’ dan konsentrasi. Dengan semakin khusyu’ dan konsentrasi seorang hamba beribadat, akan semakin cepat dan nikmat proses “pemagnetan diri” melalui ibadatnya, terutama di malam hari, seperti Firman Tuhan pada QS. 73. al-Muzzammil (Orang yang Berselimut) 6-7, “Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih tepat dan bacaannya di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu di siang hari mempunyai urusan yang panjang.”

Manusia sebagai mahluk hidup ciptaan Tuhan yang terdiri dari sekian milyar sel-sel penyusun tubuhnya, maka sel-sel sekecil zarrah juga mahluk Tuhan yang selalu dalam pengawasan-Nya. Zarrah atau atom sebagai pertikel terkecil unsur materi dan sel sebagai unsur terkecil dari mahluk hidup semuanya bergerak atas seijin Tuhan.

Semua tercatat di Kitab Nyata atau Lauh Mahfuzh. Suatu Kitab Nyata yang unreal, unvisible tetapi tersurat dan tersirat di bentangan realita alam semesta baik yang sudah tercatat dalam berbagai penemuan spektakuler ilmu pengetahuan atau masih sedang dalam penelitian, atau yang belum terjangkau manusia hingga yang tak mungkin terjangkau ilmu manusia.

Mereka yang Ditinggikan Derajatnya

Sebelum membahas sifat mulia wali-wali Tuhan (the holy man), sebagai orang lebih atau diistimewakan Tuhan dengan ilmu (agama) khusus yang memang tidak bisa dikuasai orang awam umumnya, ada ayat al-Qur’an yang menyebutkan sebagian orang yang dilebihkan ilmunya itu, di antaranya ;

Firman Tuhan pada QS. 8. al-Anfaal (Rampasan Perang) 2-4,

“Sesungguhnya orang-orang beriman jika disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan jika dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah keimanan mereka dan pada Tuhan mereka tawakkal 2) (yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan pada mereka.3) Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia. 4)

Seorang yang mencapai maqam waliyullah setidak-tidaknya melampaui batas keimanan orang awam. Keimanan itu kemudian naik melampaui batas keimanan seorang ulama umumnya, yaitu orang yang mengetahui terutama ilmu-ilmu agama. Sehingga, waliyullah benar-benar menghayati agamanya yang telah “menyatu” dengan ruh mereka pada saat ayat tersebut dibacakan dan masuk ke dalam lubuk hati. Lalu hatiya benar-benar bergetar karena merasa “disapa” Tuhan dengan sapaan Kasih Sayang dan Rindu mendalam. Mereka, waliyullah, memperoleh maqam beberapa derajat di sisi Tuhannya.

Seorang yang benar-benar beriman pasti hatinya telah “halus”, bening dan peka melihat segala perkara, apalagi menyangkut kemurnian ibadat. Para waliyullah akan berhati-hati di dalam menjaga nilai ibadatnya agar tidak tercemari sifat-sifat syirik sekecil apa pun agar ia mendapat keamanan dan petunjuk langsung dari Tuhan. Itulah hujjah yang diberikan, misalnya kepada Ibrahim yang diikuti hingga Nabi Muhammad, para sahabat hingga auliya’ atau wali-wali pewaris para nabi.

Orang-orang beriman, tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka orang yang dapat keamanan dan petunjuk. Dan itu hujjah yang Tuhan berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:82-83)

Itulah keterangan beberapa orang yang mendapat ketinggian beberapa derajat atau keistimewaan di sisi Tuhannya. Sikap dan perilaku mereka jelas menunjukkan sikap-sikap yang mulia sebagai teladan bagi manusia lainnya. Bergaul dengan mereka sangat menyenangkan dan menenteramkan hati. Selain keimanannya “melewati batas” keimanan manusia pada umumnya; pergaulan, gurauan dan banyolan-nya pun sering “melewati batas” banyolan umumnya. Hatinya ikhlas, tiada ganjalan, tiada prasangka, menjadi cermin bagi teman bicaranya karena ia mampu mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain. Bergaul dengan orang-orang semacam ini akan membantu meningkatkan keimanan umat pada umumnya.

Menjadi Waliyullah

“Ingat, sesungguhnya wali-wali Allah, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. 62)

Wali-wali Tuhan bisa disebut sebagai orang-orang ma’rifatullah – yang telah mengenal Tuhannya. Dengan mengenal Tuhan sepenuhnya ia berharap memandang suatu dengan Mata Tuhan yang pasti tidak terhalang segala macam hijab, ia mendengar bisikan yang paling halus dengan Telinga Tuhan yang menembus dimensi batas ruang dan waktu; serta ia menjangkau dengan Tangan Tuhan yang tidak terhingga meliputi arah timur-barat-utara-selatan. Ia pun meyakini sepenuhnya bahwa bisikan paling lembut di dalam hatinya sekecil atom (zarrah) atau apa pun, Tuhan pasti mengetahuinya. Maka ia pun “tahu” dengan izin Tuhan yang mencatat semuanya dalam Lauh Mahfuzh.

Point of view kajian waliyullah terletak pada akhir ayat 62, laa khaufun alaihim walaahum yahzanuun
– tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Alangkah bahagianya jika sudah mencapai suasana hati dan jiwa demikian, “tiada khawatir dan tidak bersedih hati.”

“Wali” bisa diartikan “yang mewakili” atau “kekasih” Tuhan, karena status “kekasih” Tuhan relatif lebih dekat dan lebih besar cintanya kepada Tuhan dibandingkan dengan yang lain. Maka dengan Cinta-Nya pula, Tuhan bersedia melimpahkan authority-Nya untuk menyebar-luaskan “kekuasaan” kepada mahluk lainnya sesuai dengan kemampuan “kekasih”-Nya itu.

Para waliyullah bisa “mewakili” Tuhan karena tahu sebagian skenario Tuhan yang “dibisikkan”-Nya padanya. Suatu hal yang pasti bahwa skenario Tuhan pasti bernilai baik bagi manusia. Apapun kejadian yang menimpa seseorang, pasti ada hikmah yang menuntut manusia agar belajar, berpikir, bersabar serta berusaha melatih batin untuk memahami dan menghayati apa hikmah di balik skenario Tuhan atau kalamullah itu. Secara itteratif, caranya dengan mempraktekkan ‘aslama atau menghayati Sifat-Sifat Tuhan yang tersirat dalam al-Asmaul Husna. Jika memahami skenario Tuhan pasti baik, maka tiada khawatir terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Itulah waliullah yang jiwanya mencapai pencerahan dan kebijakan.

Ketika “Pertunjukan” Usai

Apalah yang dikuatirkan bagi seorang waliyullah terhadap kehidupan fana dunia dengan segala hiuk-pikuknya. Ia melihat kehidupan ini bagaikan;

Pertama, film bioskop di layar lebar. Ia tidak terlena filmnya yang memikat hingga penontonnya terbius larut asyik mengikuti alur cerita film. Tetapi para waliyullah menyadari sepenuhnya bahwa ada layar putih di balik bayangan maya film yang diputar kamera yang ada di belakang penonton. Orang akan bersorak, sedih, tegang, gembira, tertawa, bersorak dan lain-lain ekspresi akibat menonton film itu. Setelah film usai, yang tampak hanyalah layar putih kosong dan penonton bubar membawa sisa-sisa perasaan semu, lalu kembali pulang ke rumah masing-masing.

Kedua, pesta perayaan suatu acara yang penuh kegembiraan, makanan dan minuman berlimpah, hiburan yang menyenangkan dan lain-lain selayaknya acara pesta kaum borjuis. Acara demi acara berlangsung tetapi pada akhirnya pesta itu harus selesai, meskipun berlangsung 7 hari 7 malam seperti cerita kerajaan dalam dongeng. Ketika pesta usai, para undangan pasti pulang kembali ke rumahnya masing-masing meninggalkan bekas pesta berupa kursi-meja yang berserakan dan piring-gelas kotor.

Ketiga, opera yang memainkan lakon legenda, drama musik, sendratari, dan lain-lain. Setiap pemain melakonkan peran yang dikuasai dengan baik sesuai skenario sutradara. Para waliyullah bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pemain yang menikmati peranan atau memainkan alat musiknya yang dikuasainya dengan piawai. Penonton terhibur dan sutradara pun puas karena pagelaran opera berlangsung sukses. Ketika opera selesai, semuanya merasa puas mulai dari pemain, penonton hingga sutradara.

Keempat, wayang sebagai tontonan sekaligus tuntunan dari seni tradisional yang sarat nilai kemanusiaan, kehidupan dan ketuhanan. Berbagai macam tokoh wayang mewakili berbagai karakter manusia dengan dandanan dan polesan make-up wajah mewakili mereka yang ambisius, kejam, bijaksana hingga yang sabar. Penonton harus serius mengikuti lakon wayang yang digelar oleh dalang. Di mana posisi para waliyullah? Sebagai penonton, wayang ataukah sebagai dalang? Para waliyullah bisa ada di semua posisi.

Seorang waliyullah tidak akan terbius oleh film, pesta, opera dan wayang yang sedang ditayangkan. Ia menyadari bahwa di balik film ada layar putih kosong; di balik pesta usai ada perangkat berserakan yang harus dibersihkan; di balik opera hanya ada panggung tanpa siapa-siapa di sana; begitu pula apa yang di balik wayang-wayang dan lakon yang sedang dimainkan hanya ada hamparan kain layar putih.

Seorang waliyullah yang telah matang juga emotional quotient-nya akan mampu membuat film sendiri di dalam imajinasinya, selain semua yang ada di depan matanya adalah film baginya. Sedangkan pestanya para waliyullah ada dalam hati nuraninya. Masing-masing waliyullah juga bisa mengadakan opera dalam qolbunya, melenggang seirama putaran zikir dan bernyanyi sefrekuensi nyanyian ngajinya. Seorang waliyullah pun mampu memainkan wayang dengan amat baik ketika ia harus berperan sebagai apa atau siapa.

Itulah seorang waliyullah yang memahami hakikat hidup sebenarnya. Waliyullah – biasanya ulama sufi – telah mantap keimanan dan ketaqwaan, tak pernah kesepian karena selalu bersama dirinya dan Tuhannya, tak pernah sedih karena selalu gembira oleh dirinya dan Tuhannya, tak pernah takut karena selalu berani oleh dirinya dan Tuhannya, serta tak kuatir dan tak ragu karena telah dipastikan oleh dirinya dan Tuhannya…

“(Yaitu) orang-orang beriman dan mereka selalu bertaqwa. 63) Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah, yang demikian itu adalah kemenangan besar. 64)

Di sini dijelaskan bahwa untuk menjadi Wali Tuhan haruslah mereka yang beriman dan bertaqwa. Konsep iman dan taqwa ini luas dan bertingkat maknanya. Salah satunya adalah meyakini bahwa “tiada perubahan” bagi kalimat-kalimat Tuhan. Jika sementara terkesan kalimat atau takdir Tuhan tidak konsisten, maka konsistensi tidak bisa diukur sepenggal waktu yang dikehendaki manusia. Bahkan sepanjang umur manusia hidup di dunia, mungkin konsistensi Tuhan takkan mampu dicernanya. Hanya Wali Tuhan yang mampu memahaminya. Itulah berita gembira baginya dalam kehidupan di dunia dan akhirat.

Saling mencintai, mempercayai dan menyayangi antara para waliyullah dengan Tuhannya adalah kasih sayang abadi antara kawula dan Gusti, antara dirinya dan Tuhannya. Dan bagi para waliyullah yang telah meraih cinta atau mahabbah di dalam Genggaman-Nya, situasi dan kondisi seperti itu sudah merupakan kemenangan besar baginya.

Jadi, kesan inkonsistensi Kalimat Tuhan bagi para waliyullah, sudah tidak berlaku. Kesan hanya berlaku bagi yang masih bimbang. Rasa senang dan susah hanyalah permainan perasaan. Jika senang dirasakan susah atau sebaliknya, itu hanya permainan perasaan. Demikian pula rasa sakit dan sehat secara biologis. Seseorang jika digigit nyamuk jika tidak dirasakan, maka gatalnya gigitan nyamuk takkan terasa. Ini hanya contoh kecil.

Sedangkan contoh yang lebih besar; jika seorang waliyullah menderita sakit lever dan menjelang ajal, maka keadaan itu diterimanya dengan tenang. Bahkan ia gembira karena akan segera bertemu Kekasihnya yang telah lama dirindukannya. Putaran tasbihnya akan mengantarkan memenuhi Panggilan Kekasihnya yang menyapa, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. 89. al-Fajr 27-30). Sehingga di dalam segala keadaan apa pun, para waliyullah ini membuat dirinya sendiri dengan perasaan gembira. Tidak ada susah, sedih, kuatir, takut dan berkecil hati. Ia telah “membangun surga” dalam dirinya.

‘Amalan’ Setiap Ulama Berbeda

“Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 65)

Segala perkataan orang yang tidak mengerti apalagi orang yang membencinya takkan mempengaruhi apalagi menyedihkan hatinya dan tidak dibalas dengan kebencian tetapi dengan kasih sayangnya. Kalbunya sibuk “bercengkerama” dengan Tuhannya. Semua kekuasaan adalah milik Tuhan. Dengan “memiliki-Nya” akan memiliki segalanya.

Firman Tuhan QS. 19. Maryam 96,

“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan tanamkan di dalam (hati) mereka
kasih sayang
.”

Kekuasaan Tuhan yang dihibahkan sebagian kepada para waliyullah, itu tergantung amalan mereka sebagai ulama sufi yang kerap mengamalkan ajaran atau perilaku khusus. Biasanya ajaran ini turun-temurun dari guru yang telah mengalami pengalaman lahir-batin yang juga diturunkan dari guru dan gurunya lagi. Setiap amalan ulama pasti berbeda-beda sebagai khazanah kekayaan spiritualisme Islam. Tetapi ujung-ujungnya tetap kepada “laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun…”

Dari macam zikir, sholawat, wasilah, macam puasa dan perilaku yang khusus banyak diajarkan dalam komunitas tarekat. Semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tetapi perbedaan itu hanya terletak pada strategi atau cara, sementara visi dan misi tetap sama.

Ada banyak amalan zikir A-B-C, wirid X-Y-Z, sholawat P-Q-R dan lain-lain yang jumlahnya sekian puluh-ratus-ribu kali. Dibaca pada malam hari, dibatin atau dilafalkan. Ada yang menzikirkan penggalan surat tertentu dalam al-Qur’an sekian kali. Ada berbagai macam sholawat disampaikan pada para nabi terutama Muhammad. Ada wasilah yang ditujukan pada para waliyullah terdahulu. Ada berbagai macam puasa (sunnah) yang dilakukan. Ada perilaku khusus seperti diam, khalwat, meditasi, semadi dan lain-lain. Semuanya sah-sah saja bahkan ada baiknya, jika dan hanya jika, diawali dengan niat tauhid yang benar dan diakhiri tauhid yang benar pula, yaitu bermuara kepada “laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun…”

Seorang waliyullah relatif menjadi bagian kebenaran Tuhan. Karena, kata Jalaluddin Rumi,
“Hanya dengan menjadi kebenaran saja yang bisa memahami dan menghayati adanya hakikat Kebenaran itu sendiri”.

Ma’rifatullah sebagai manifestasi Kebenaran Hakiki yang esa, tunggal, tidak harus ditempuh melalui satu jalan/aliran tarekat. Jalan yang benar tidak hanya satu, yang penting sampai ke tujuan. Selama berjalan meniti di atas jalan yang benar, hati selalu tenang dan teguh dalam kesabaran, kebijakan dan kebenaran. Tauhid memang satu, tetapi banyak cara menuju tauhid. Kebenaran hanya satu, tetapi cara menghayati banyak metodenya. Tuhan hanya satu, tetapi banyak sifat-Nya. Jumlah al-Asmaaul Husna “hanya” 99, officially, tetapi maknanya tak berhingga dan tak berkata.

Ma’rifatullah mengajar keyakinan pada Tuhan Sang Pencipta, Pemberi Rejeki dan lain-lain. Banyak orang bingung mencari rejeki untuk sekedar menyambung hidupnya. Bahkan mereka yang mampu menumpuk harta, takut anak cucunya kekurangan makan, sehingga merajalela mengeruk harta yang belum tentu halal. Orang ma’rifatullah
(waliyullah), ia memikirkan Tuhannya, karena dengan demikian Tuhan pun akan memikirkannya. ***

 

Ibnu Farid, seorang sufi yang sekaligus penyair dengan bijak berujar, “Seandainya tubuhku dibentangkan di dalam satu hamparan, niscaya kamu akan melihat kebaikan-kebaikan yang terselip. Dan, hati yang tersembunyi di dalam tubuh ini hanya berisi cinta kepada Allah”.

HR Abu Ya’la, “Seseorang di antara mereka (aulia) lebih senang dapat musibah daripada memperoleh nikmat”

 

Puisi 13.

Hujan

Kilat putih silau membelah langit,

dalam sekejap… tak lebih lama dari mata berkedip.

Awan mendung berarak bagai kapas kelabu penuhi angkasa,

angin bertiup menghembus ke pelosok penjuru bola dunia,

 

Guruh gemuruh…

ternyata mahluk-Mu itu bertasbih memuji-Mu, Yaa Allah…

Malaikat pun takut pada halilintar-Mu,

Tapi entah mengapa banyak manusia tak gentar pada-Mu.

 

Tetesan air hujan jatuh dari langit,… hingga deras,

Bau tanah di bumi memberi aroma khas.

Kulit basah oleh tetesan-tetesan air yang dingin itu,

Sejumlah tetesan itu pula aku ingin memuji nama-Mu….

 

Jakarta, 06.09.2001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: