Bacalah 12. S. Muntaha, L. Mahfuzh, ‘Arsy

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Sesungguhnya Tuhanmu, Allah menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa

lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.

Tak seorangpun yang memberi syafa’at kecuali ada izin-Nya.

Yang demikian itu Allah, Tuhanmu, maka sembah Dia.

Maka apa kamu tidak mengambil pelajaran. 3)

 

Hanya kepada-Nya kamu semua akan kembali;

sebagai janji benar dari Allah,

sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya

lalu mengulanginya (menghidupkan) kembali,

agar Dia beri pembalasan pada orang-orang beriman

dan kerjakan amal saleh dengan adil.

Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas

dan azab pedih disebabkan kekafiran mereka. 4)

 

QS. 10. Yunus 3-4

 

 

“Sesungguhnya Tuhanmu, Allah, menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan…”

Kembali secara simbolis, manusia sebenarnya miniatur langit-bumi dan Tuhan bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Jika ‘Arsy ingin dipahami harfiah, selalu saja terbentur pada keterbatasan dimensi yang unlimited. Misalnya asumsi berapa tahun cahaya jarak dimensi ‘Arsy dari tepi ke tepi, bagaimana mengungkapkan energi ‘Arsy, dan lain-lain hal yang mahaghoib menyelubungi ‘Arsy jika dipahami harfiah.

Makna ‘Arsy terkesan seolah-olah suatu dimensi tempat, tetapi entah dimensi ke berapa. Merujuk dimensi tempat, ada beberapa “tempat” lain disinggung al-Qur’an yakni Sidratul Muntaha, Lauh Mahfuzh. Prioritas tempat ghoib tersebut bukan berdasarkan esensi, tetapi semata-mata jumlah sedikit-banyaknya ayat al-Qur’an menyinggungnya. Sidratul Muntaha paling sedikit disebut, kemudian Lauh Mahfuzh dan paling banyak adalah ‘Arsy. Jadi uraiannya dimulai dari Sidratul Muntaha.

Sidratul Muntaha

Dimensi “tempat” paling ghoib yang pernah disebut al-Qur’an adalah Sidratul Muntaha karena sangat sedikit keterangan mengenainya.

Demi bintang saat terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru dan tiada yang diucapkan (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain wahyu yang diwahyukan (padanya), yang diajarkan padanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang punya akal cerdas; dan (Jibril) menampakkan diri dengan rupa asli. Sedang dia berada di ufuk tinggi. Lalu dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) 2 ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia sampaikan pada hambanya (Muhammad) yang telah Tuhan wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya. Maka apa kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya dan sesungguhnya Muhammad melihat Jibril (dalam rupa asli) di waktu lain di Sidratul Muntaha. Di dekatnya surga tempat tinggal ketika Sidratul Muntaha diliputi sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihat dan tidak melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar…” (QS. 53:1-23)

“Sidratul Muntaha” di dua kali oleh al-Qur’an. Itu pun penjelasannya abstrak sehingga menambah misterius “tempat” itu. Untuk menghampirinya adalah dengan sholat seperti Nabi Muhammad memperoleh perintah sholat di sana. Dengan sholat khusyu’ Tuhan akan “memperlihatkan” kepada hamba-Nya sebagian tanda-tanda ketuhanan yang paling besar baginya..

Ambisi manusia yang ingin bisa menjelaskan segalanya secara rasional justru menjebaknya pada irrasionalisme. Ada lahan bagi manusia dan Tuhan. Ketika sudah menyinggung hal keghoiban dan ketuhanan, manusia harus mengembalikan sebagai hak itu sebagai hak prerogatif Tuhan.

Lauh Mahfuzh

Ayat al-Qur’an yang menyinggung Lauh Mahfuzh sering mengaitkan dengan fenomena alam seperti alam manusia, hewan, tumbuhan dan proses alamiah lainnya. Ia merupakan Kitab Nyata Tersirat dalam bentuk apa pun, nyata maupun ghoib, segala ciptaan yang bisa dan tidak bisa direngkuh oleh seluruh mahluk dengan segala kecerdasannya, baik melalui energi teknologi (energy by technology) atau energi ruhani (energy by spiritualism). Beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan Lauh Mahfuzh di antaranya:

Soal Lauh Mahfuzh yang terkait dengan ketaqwaan dan kejahatan yang diwakili oleh sifat dusta, sombong dan zalim; Siapa yang lebih zalim dari orang yang dusta pada Tuhan atau dustakan ayat-ayat-Nya. Orang-orang itu akan peroleh bagian yang ditentukan untuknya dalam Kitab
(Lauh Mahfuzh) … Orang-orang yang mendustakan ayat Tuhan dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak dibukakan pintu-pintu langit dan mereka tidak masuk surga hingga unta masuk ke dalam lobang jarum. Demikianlah Tuhan memberi balasan pada orang-orang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atasnya ada selimut (api). Demikian Tuhan memberi balasan kepada orang-orang yang zalim. (QS. 7:36-40)

Soal Lauh Mahfuzh yang terkait dengan hak-hak kerasulan; Dan tiada hak bagi Rasul mendatangkan ayat selain izin Tuhan. Bagi tiap-tiap masa ada kitabnya. Tuhan menghapuskan yang Dia kehendaki dan tetapkan, dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab
(Lauh Mahfuzh). Jika Tuhan perlihatkan pada manusia sebagian yang diancamkan pada mereka atau diwafatkannya, sebab sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan, Tuhan yang menghisab amalan mereka.” (QS. 13:39-40)

Soal Lauh Mahfuzh terkait dengan Kekuasaan Tuhan menghidupkan orang mati dan hisab; Sesungguhnya Tuhan menghidupkan orang-orang mati dan menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Tuhan kumpulkan dalam Kitab Induk
(Lauh Mahfuzh).” (QS. 36:12)

Soal Lauh Mahfuzh terkait dengan musibah, bencana dan akhlaq; Tiada bencana menimpa bumi dan pada diri manusia selain telah tertulis di dalam Kitab
(Lauh Mahfuzh) sebelum Tuhan menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian mudah bagi Tuhan, agar manusia jangan duka terhadap yang luput darinya dan supaya jangan terlalu gembira terhadap yang diberikan-Nya padamu (soal rejeki). Dan Tuhan tidak suka setiap orang yang sombong lagi bangga diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh berbuat kikir. Dan siapa berpaling sesungguhnya Tuhan Dia Mahakaya lagi Terpuji.” (QS. 57:22-24)

Kesimpulan sementara terkait Lauh Mahfuzh dengan manusia meliputi:

(1) Catatan induk mengenai ketaqwaan dan kejahatan,

(2) Catatan induk mengenai hak kerasulan,

(3) Catatan induk mengenai hisab manusia selama hidupnya,

(4) Catatan induk mengenai bencana dan akhlaq.

Proses alamiah di bumi, yang bagi manusia adalah hal lazim sehari-hari, tetapi Tuhan mengingatkan ada ghoibnya. Bukan pada kejadiannya, tetapi pada Dzat yang Mahatahu kejadian sekecil apa pun di bumi. Semua kejadian tertulis dalam Lauh Mahfuzh; Dan pada sisi Tuhan kunci-kunci yang ghoib; tiada yang tahu kecuali Dia dan Dia tahu yang di darat dan di laut dan tiada sehelai daun pun gugur selain Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu pun basah atau kering, selain tertulis di dalam Kitab Nyata
(Lauh Mahfuzh). (QS. 6:59)

Soal kegiatan sekecil dan sehalus apa pun, Tuhan pun memperhatikan; Orang yang beriman tidak dalam keadaan dan tidak baca ayat al-Qur’an dan tidak mengerjakan suatu pekerjaan, selain Tuhan menjadi saksi di waktu ia melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar sebesar zarrah di bumi atau di langit. Tiada lebih kecil dan lebih besar dari itu selain dalam Kitab Nyata
(Lauh Mahfuzh) (QS. 10:61)
; Tiada yang tersembunyi dari-Nya seberat zarrah yang ada di langit dan di bumi dan tidak ada yang lebih kecil dari itu dan lebih besar, selain tersebut dalam Kitab Nyata
(Lauh Mahfuzh), supaya Tuhan beri balasan orang-orang beriman dan beramal saleh. Mereka orang-orang yang baginya ampunan dan rejeki mulia. (QS:3-4)

Soal rejeki binatang dan tempat kediaman binatang itu ternyata Tuhan telah mengatur di dalam Lauh Mahfuzh; Dan tiada suatu binatang yang melata di bumi selain Tuhan memberi rejekinya dan Dia mengetahui tempat berdiamnya binatang itu dan tempat simpanannya. Semua telah tertulis dalam Kitab Nyata
(Lauh Mahfuzh).”
(QS. 11:6)

Kekuasaan Tuhan menggambarkan proses alam, mengatur ciptaan-Nya sangat teliti dan lengkap; Siapakah yang menciptakan langit, bumi dan menurunkan air untuk manusia dari langit, menumbuhkan kebun-kebun yang berpemandangan indah yang manusia sekali-kali tak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apa selain Allah ada ilah? … Siapakah yang menjadikan bumi sebagai tempat berdiam dan sungai-sungai di celah-celahnya dan gunung-gunung dan pemisah antara dua laut? Apa selain Allah ada ilah? … Siapakah yang memperkenankan orang yang kesulitan jika ia doa pada-Nya, dan hilangkan kesusahan dan menjadikanmu khalifah di bumi? Apa selain Allah ada ilah? … Siapakah yang memimpin manusia dalam kegelapan di darat dan laut, siapa yang datangkan angin sebagai kabar gembira sebelum rahmat-Nya? Apa di samping Allah ada ilah? … Siapa yang menciptakan manusia dari permulaannya lalu mengulangi dan siapa beri rejeki dari langit dan bumi. Apa di samping Allah ada ilah?… Tuhan benar-benar mempunyai kurnia besar pada manusia, tetapi banyak mereka tidak mensyukuri. Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar tahu apa-apa yang disembunyikan hatinya dan yang mereka nyatakan. Tiada sesuatu yang ghoib di langit dan di bumi, selain ada dalam Kitab Nyata
(Lauhul Mahfuzh). (QS. 27:60-75)

Kelengkapan proses alam termasuk penciptaan dan kejadian manusia; Dan Tuhan menciptakanmu dari tanah, lalu dari air mani, lalu Dia menjadikannya berpasangan. Dan tak seorang perempuan pun mengandung dan tidak pula melahirkan selain dengan pengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang panjang dan tidak pula dikurangi, selain (sudah ditetapkan) dalam Kitab
(Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian bagi Tuhan adalah mudah. (QS. 35:11-12)

Kitab al-Qur’an dan Zabur sebagai kitab samawi tersurat (expressive) adalah bagian Kitab Nyata Lauh Mahfuzh yang tersirat (impressive); Dan sesungguhnya al-Qur’an
di dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Tuhan adalah benar-benar sangat tinggi (nilainya) dan banyak mengandung hikmah. Maka apa Tuhan berhenti menurunkan al-Qur’an pada manusia, karena mereka melampaui batas? (QS. 43:4-5); Sesungguhnya al-Qur’an adalah bacaan sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan Semesta Alam. Maka, apa manusia menganggap remeh al-Qur’an,” (QS. 56:77-81); Sesungguhnya orang-orang ingkar selalu berdusta, padahal Tuhan mengepung dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan mereka al-Qur’an yang mulia tersimpan di dalam Lauh Mahfuzh. (QS. 85:17-22); Tuhan telah menulis di dalam Zabur sesudah Lauh Mahfuzh, bahwa bumi dipusakai hamba-hamba Tuhan yang saleh. Sesungguhnya telah disebutkan di dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah Tuhan. (QS. 21:105-106)

Dari beberapa ayat di atas, pendekatan makna Lauh Mahfuzh, adalah: (1) Kitab Induk terhampar dan tertulis sebelum diciptakan semua mahluk, termasuk langit dan bumi, (2) Kitab Nyata bagi Tuhan yang meliputi segala yang nyata dan yang ghoib bagi manusia, (3) Tidak bergantung dimensi tempat dan waktu, (4) Terjaga dari campur tangan setan, jin, iblis, (5) Kitab yang akan ditutup pada kiamat kelak, sedang kiamat tertulis didalamnya.

‘Arsy

Arsy termasuk hal ghoib yang bertendensi ruang transendental. Jadi, menjelaskan hal ghoib (unreal) tidak mungkin dengan kata kongkrit (real). Seperti kata pepatah, “Menjelaskan kebenaran harus menjadi kebenaran”. Lain halnya dengan Lauh Mahfuzh yang terkait dengan alam semesta, bumi termasuk partikel zarrah, manusia mulai awal kejadian hingga akhlaq, hewan dan tumbuhan; maka ‘Arsy lebih terkait dengan Sifat Eksekutif Tuhan yang Mahaesa sebagai Penguasa Tunggal.

Arsy bisa terkait dengan:

(1) Tauhid,

(2) Malaikat,

(3) Langit dan Bumi,

(4) Kiamat, dan

(5) Kitab (al-Qur’an).

“Cukuplah Tuhan bagiku; tiada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku tawakal dan Dia Tuhan memiliki ‘Arsy yang agung”. (Tauhid – QS. 9:129)

Katakan: “Jika ada ilah-ilah di samping-Nya sebagaimana yang mereka katakan, niscaya ilah-ilah itu mencari jalan pada (Tuhan) yang punya ‘Arsy“. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. (Tauhid – QS. 17:42-43)

Mahatinggi Allah, Raja Sebenarnya; tiada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang punya) ‘Arsy mulia. Siapa menyembah ilah selain Allah, padahal tiada suatu dalil pun baginya… (Tauhid – QS. 23:116-117)

Muhammad akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhan-nya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Tuhan dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. (Malaikat – QS. 39:75)

Malaikat-malaikat yang memikul ‘Arsy dan berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka iman pada-Nya, serta memintakan ampun bagi orang-orang beriman…” (Malaikat – QS. 40:7-9)

Dia Mahatinggi derajat-Nya, yang punya ‘Arsy, mengutus Jibril dengan membawa perintah-Nya pada siapa dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya, agar dia peringatkan tentang hari pertemuan. (Malaikat – QS. 40:15)

Malaikat-malaikat ada di penjuru langit. Dan pada hari itu 8 malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka.” (Malaikat – QS. 69:17)

Sesungguhnya Tuhanmu yang telah menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia tutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat dan matahari, bulan dan bintang tunduk pada perintah-Nya. Ingat, mencipta, memerintah hanya hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam. Do’alah pada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara lembut. Sesungguhnya Tuhan tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Langit-Bumi – QS. 7:54-55)

Dan tiada suatu binatang melata di bumi selain Tuhan beri rejekinya dan Dia tahu tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab nyata (Lauh Mahfuzh). Dan Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia uji siapa di antaramu yang lebih baik amalnya… (Langit-Bumi – QS. 11:6-7)

Tuhan yang meninggikan langit tanpa tiang sebagaimana terlihat, lalu Dia semayam di atas ‘Arsy dan tundukkan matahari-bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Tuhan mengatur urusan makhluk-Nya, menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, supaya manuia meyakini pertemuannya dengan Tuhan. (Langit-Bumi – QS. 13:2)

Sekiranya ada di langit dan bumi ilah-ilah selain Allah, tentu keduanya sudah rusak binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan. Dan ia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (QS. 21:22-23)

Siapa yang punya 7 langit dan ‘Arsy yang besar? (Langit – QS 23:86)

Menciptakan langit-bumi dan yang ada di antaranya dalam 6 masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy, Dia yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) pada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. (Langit-Bumi – QS. 25:59)

Agar mereka tidak menyembah Tuhan yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan nyatakan. Allah, tiada tuhan yang disembah kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang besar. (Langit-Bumi – QS. 27:25-26)

Tuhan menciptakan langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya dalam 6 masa, lalu Dia semayam di atas ‘Arsy. Ttidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apa kamu tidak perhatikan?” (Langit-Bumi – QS. 32:4)

Mahasuci Tuhan yang mempunyai langit-bumi, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan itu. (Langit-Bumi – QS. 43:82)

Sesungguhnya al-Qur’an benar-benar Firman Tuhan yang bibawa oleh utusan mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang punya kedudukan tinggi di sisi Tuhan yang mempunyai ‘Arsy, yang dita’ati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) bukanlah sekali-kali orang gila. Dan sesungguhnya Muhammad melihat Jibril di ufuk terang. Dan Dia (Muhammad) bukan orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghoib. Dan al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk,” (Langit-Bumi – QS. 81:19-25)

Tuhan tidak menurunkan al-Qur’an pada manusia agar menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi yang takut (pada Tuhan), diturunkan dari Tuhan yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya semua yang di langit dan bumi, semua yang di antaranya dan yang di bawah tanah… sesungguhnya Dia tahu rahasia yang tersembunyi. Dia-lah Allah, tiada tuhan selain Dia, mempunyai al-Asmaaul Husna. (Langit-Bumi – QS. 20:2-8)

Sesungguhnya Tuhan bersumpah dengan bintang-bintang yang beredar dan terbenam, demi malam jika telah hampir meninggalkan gelap, dan demi subuh jika fajarnya menyingsing, sesungguhnya al-Qur’an benar-benar Firman (Tuhan yang dibawa) utusan mulia (Jibril), yang punya kekuatan, yang punya kedudukan tinggi di sisi Tuhan yang punya ‘Arsy, yang dita’ati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (Langit-Bumi – QS. 81:15-21)

Singgasana Tuhan memberi Kekuasaan Mutlak Dari-Nya, Oleh-Nya dan Kepada-Nya termasuk hal memberikan eksekusi pada hari kiamat kelak:

Jika sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadi kiamat dan terbelahlah langit, karena hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru langit. Dan pada hari itu 8 malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka. Hari itu kamu dihadapkan (pada Tuhanmu), tiada suatupun keadaanmu yang tersembunyi… (QS. 69:13-19)

Membayangkan kiamat kubro’ di mana jagat raya hancur seluruhnya masih bisa terbayangkan dan terasakan dasyatnya. Tetapi ketika sampai pada kalimat “8 malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas mereka” sudah tidak terbayangkan lagi bagaimana bentuknya. Pertama, jumlah 8 malaikat apakah angka itu sama dengan angka manusia? Kedua, menjunjung ‘Arsy di atas (kepala) mereka apakah bermaksud untuk melindungi ‘Arsy dari kiamat yang dasyat itu? These questions will be questions forever…

Beberapa Alternatif Kesimpulan

Manusia berusaha mengambil beberapa kesimpulan yang bersifat fisis maupun metafisis untuk mendeskripsikan beberapa “tempat” yang ghoib itu:

Pertama,
Sidratul Muntaha adalah tempat paling dekat dengan Tuhan. Segala kepalsuan atau jelmaan Jibril tidak berlaku karena Nabi Muhammad bisa melihat wajah asli Jibril di sana. Di Sidratul Muntaha ada sesuatu yang menyelimutinya dan Nabi Muhammad tidak berpaling dari yang dilihatnya dan tidak melampauinya. Bisa jadi di balik itu “Wajah” Tuhan. Sedangkan Lauh Mahfuzh adalah segala suatu ciptaan Tuhan, apa pun bentuknya, di luar Singgasana Eksekutif ‘Arsy dan Wujud Dzat Tuhan sendiri.

Kedua,
Sidratul Muntaha bisa mewakili suatu tempat dalam hati nurani, di dalam diri di mana “keakuannya” telah melihat azali dirinya sebagai ruh insan yang suci. Tidak ada kepalsuan dan kemunafikan di sana. Ketakjuban yang dilihat di sana ternyata terbentur “sesuatu” yang menyelimuti. Bisa jadi di balik ruh yang disemayamkan di sana, ada lingkungan ‘Arsy. Tidak ada penjelasan akurat apakah manusia bisa memandang menembus “sesuatu” itu atau bahkan memasukinya? Sedangkan makna filosofi Lauh Mahfuzh adalah segala suatu yang ada selain “ruh Tuhan” yang bersemayam di ‘Arsy di hati. Lauh Mahfuzh termasuk anggota tubuh, sel dan syaraf, darah dan lain-lain seperti organ potensi pemicu IQ, EQ, SQ.

Sebagaimana secara simbolis ‘Arsy ditafsirkan sebagai hati dan Tuhan mengatur urusan di atas ‘Arsy, maka demikian pula manusia dengan sifat ketuhanannya. Segala sesuatu bersumber dan berawal dari hati. Apa yang dibisikkan hati dikirim ke otak. Dari otak melalui syaraf motorik dikirim ke berbagai organ tubuh untuk melaksanakannya.

Tuhan sesungguhnya Mahabijaksana. Tuhan telah menjelaskan dimensi ciptaan-Nya berupa langit-bumi yang tidak terhingga. Tetapi manakala hamba-Nya sholat, zikir, berdoa, ia tidak perlu berteriak atau mengeraskan ucapannya karena Tuhan bahkan lebih dekat dari urat lehernya.

Simbolisme ini menyatakan bahwa :

Jika manusia memandang dengan mata kepala, menerawang jauh ke luar dirinya (outer space), ke langit, galaksi, lauh mahfuzh, ‘arsy hingga Sidratul muntaha, akan dijumpainya jarak tidak terhingga jika diukur dari kulitnya (+ ¥)

Jika manusia memandang dengan mata hati, menerawang jauh ke dalam dirinya (inner space), ke langit ide-ide, galaksi jiwa, lauh mahfuzh kalbu, ‘Arsy hati hingga intinya Sidratul muntaha hati nurani, akan dijumpai jarak yang tidak terhingga pula jika diukur dari kulit manusia (- ¥)

Kebutuhan akan Syafa’at

Penekanan ayat ini disebutkan pada kalimat berikutnya;

“Tiada seorangpun yang akan beri syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. Yang demikian itu Allah Tuhanmu, maka sembah Dia. Maka apa kamu tak ambil pelajaran” (ayat 3).

Untuk menjelajah Sidratul Muntaha, ‘Arsy dan Lauh Mahfuzh pastilah membutuhkan bantuan atau syafa’at dari Pemilik semua itu. Ada beberapa istilah yang agak tipis perbedaannya yaitu syafa’at, wasilah dan sholawat. Syafa’at adalah usaha perantara dalam memberikan suatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan suatu mudharat bagi orang lain. Syafa’at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa’at bagi orang-orang yang ingkar. Jika syafa’at langsung datang dari Tuhan maka kekuatannya tidak ada yang menandinginya dari seluruh mahluk di langit dan di bumi. Wasilah adalah hubungan, pertalian (keturunan). Jika seorang mempunyai hubungan atau pertalian (keturunan) orang suci misalnya ulama atau kyai atau waliyullah maka hal itu sedikit banyak membantu upaya mengenal Tuhan. Sholawat adalah doa yang selalu dikumandangkan agar tidak lepas hubungan dengan Tuhan, biasanya dikaitkan dengan menyertakan para nabi dan rasul.

Alam nyata dan ghoib adalah ayat nyata yang membuktikan Ada-Nya. Ada baik-buruk, manfaat-mudarat, sukses-gagal, sehat-sakit, kaya-miskin dan lain-lain sebagai pasangan abadi (eternity-unity). Jika manusia hanya hidup menginginkan baik, manfaat, sukses, sehat, kaya dan lain-lain yang menurutnya enak, maka ia takkan siap menerima sebaliknya dan dipastikan ia dilanda stress dan puncaknya bisa stroke. Tetapi jika manusia “sempat” mengaji, memahami, menghayati Tuhan di antara hidupnya – apalagi mengenal Tuhan (ma’rifatullah), maka ia tiada berharap yang baik atau tidak menolak yang buruk menurut ukuran manusia umumnya (common sense).

Ia hanya berharap Ridho-Nya… ***

 

Puisi 12.

Mengembara.. Entah di Mana

Ketika aku terdiam di sofa, setelah jengah seharian kerja

Pikiranku masih mengembara ,.. entah di mana

 

Ketika aku terlelap di sofa, jiwaku ternyata masih mengembara,.. entah di mana

Bahkan lalu kujumpa di alam sana,.. entah di mana

Seorang gadis muda-belia,.. jelita

Lalu kami pun bercinta,.. cinta membara

 

Ketika aku tergugah, terbangun dari sofa

Cinta itu masih membekas di dada dan jiwa

Aku pun terdiam menikmati sisa-sisa rasa

Ternyata pikiranku masih membara dan ingin mengembara

 

Di alam sana,.. entah di mana,..

 

Bandung, 09.03.2004

(Selasa, 17 Muharam 1425 H, 13.08 WIB, hari ke-17)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: