Bacalah 10. Mencari Jalan Tuhan

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Siapa yang Allah kehendaki berikan padanya petunjuk,

Dia lapangkan dadanya untuk Islam

Dan siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya,

niscaya Allah jadikan dadanya sesak lagi sempit,

seolah ia sedang mendaki ke langit

Begitulah Allah timpakan siksaan pada orang-orang yang tidak beriman. 125)

 

Ini jalan Tuhanmu (jalan) yang lurus.

Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami)

pada orang-orang yang mengambil pelajaran. 126)

 

Bagi mereka ada Darussalam pada sisi Tuhannya

dan Dia Pelindung mereka

disebabkan amal saleh yang selalu mereka kerjakan. 127)

 

QS. 6. al-An’aam (Binatang Ternak) 125-127

 

 

KESAN penuturan di atas seakan-akan Tuhan sangat otoriter, karena Tuhan memang Mahakuasa atas segalanya sehingga Dia berhak menyandang otoriterisme di dalam Keadilan-Nya. Ayat itu juga terkesan kurang adil dan mendorong pesimisme, bahkan apatisme, ketika manusia ingin berusaha menjadi lebih baik. Karena dengan alasan jika Tuhan menghendaki seorang beriman maka berimanlah dia. Mengapa harus berusaha? Kalau takdirnya iman pasti akan beriman. Percuma saja berusaha beriman jika takdirnya sudah menjadi ingkar.

Demikianlah contoh ungkapan polosnya,

“Siapa yang Allah kehendaki berikan padanya petunjuk, Dia lapangkan dadanya untuk Islam….”

Logika ketuhanan harus dipahami menyeluruh, eksternal dan internal; tidak parsial harus integral; global dan universal meskipun pada akhirnya tidak bisa disepadankan dengan logika manusia umumnya. Secara eksternal, kajian harus dilakukan seluruh isi Kitab Tuhan. Tidak hanya Kitab Tersurat tetapi juga harus Kitab Nyata Lauh Mahfuzh sebagai Kitab Tersirat.

Secara fitrah semua manusia bahkan semua mahluk pada saat lahir pasti dalam keadaan suci. Sewaktu masih di alam ruh, jiwanya telah bersaksi atas ke-esa-an Tuhan. Setelah ditiupkan ruh ke rahim ibunya, sejak itu mulai terjadi proses psikis-biologis membentuk sifat-sifat manusia yang sangat dipengaruhi perilaku orang tuanya terutama oleh ibunya.

Perjalanan manusia sejak lahir, bisikan setan yang dimanifestasikan oleh hawa nafsu, menganjurkan ambisi yang senantiasa kontradiksi dengan bisikan nurani yang menganjurkan ke Jalan Illahiah atau jalan kebenaran. Karena mempunyai sifat-sifat ketuhanan yang ditiupkan Tuhan ke dalam ruh maka di lubuk hatinya yang terdalam ia selalu ingat perjanjian tauhid-nya dengan Tuhan. Masalahnya, sejauh mana lingkungannya dan pergaulannya membentuk karakter dirinya menjadi orang yang iman atau ingkar. Inilah “proses menjadi” atau being process. Jika keingkaran dominan, maka sulit bagi manusia menggali kembali fitrah yang ditanamkan Tuhan kepadanya.

Tetapi setiap saat Tuhan selalu mengingatkan manusia akan dirinya dan diri-Nya. Kasih Sayang Tuhan tersebut sewaktu-waktu siap menggayutnya kembali saat hamba mengharap kehadiran-Nya. Jika interaksi ini terpelihara, yang dimulai dari niat para hamba-Nya, maka Tuhan lapangkan dadanya untuk “berserah diri” atau ‘aslama. Tamsil kelapangan dada untuk ‘aslama seperti menghirup udara pagi yang masih segar dan belum tercemari oleh polusi udara. Menghirup udara sedalam-dalamnya melalui lobang hidung, masuk ke dalam paru-paru, membuat dada terasa lega dan sangat lapang.

“…dan siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah jadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah timpakan siksaan pada orang-orang yang tidak beriman.125)

Ini bedanya dengan orang ingkar yang disesatkan Tuhan disebabkan perbuatannya sendiri. Bisa dibayangkan dada sesak lagi sempit ditambah seolah-olah ia mendaki ke langit yang ditafsirkan mengejar angan belaka. Kehidupan orang ingkar yang dipenuhi kemunafikan demi kemunafikan, secara sadar atau tidak, pasti mereka merasakannya. Arti kebahagiaan bagi mereka hanyalah sebatas kesenangan fisik dan materi yang diperoleh secara tidak halal pula. Menduga-duga bahwa dirinya telah beramal, beribadah kemudian masuk surga, ternyata semua sia-sia. Harta benda yang diamalkan diperoleh dari kesengsaraan dan mematikan orang lain. Ibadatnya pamrih dan tergesa-gesa. Layakkah amal ibadat seperti itu masuk surga?

Sepanjang hidup orang ingkar yang ingkar pada fitrah, hatinya dipenuhi jelaga hitam ambisi dan emosi nafsu setani. Riwayat hidupnya berisi cerita getir yang menyiksanya lahir batin. Bahkan orang lain yang mendengar dan melihatnya pun ikut terimbas rasa penat di kepala dan sesak di dada.

Jalan Kefasikan dan Ketaqwaan

“Ini jalan Tuhanmu (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah jelaskan ayat-ayat (Kami) pada orang-orang yang mengambil pelajaran.126)

Inilah jalan Tuhanmu yang lurus, yang benar. Pengertian jalan yang benar meliputi seluruh sikap yang benar; mulai dari diam, berdoa, berpikir, berucap, bersikap… semuanya dilakukan dengan benar seusai petunjuk-Nya.

Sementara itu pada ayat lain dijelaskan bahwa Tuhan mengilhamkan dua jalan bagi jiwa manusia. Sesungguhnya, semua jalan dalam genggaman Tuhan sebagaimana Kuasa-Nya atas setan dan malaikat, surga dan neraka dan atas semua mahluk-Nya. Tetapi beruntunglah mereka yang memilih mensucikan jiwanya.

Firman Tuhan pada QS 91. as-Syams (Matahari) 7-10,

“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan pada jiwa kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Dengan berbekal fitrah, perjanjian tauhid dan sifat ketuhanan yang telah ‘dititipkan’ pada manusia; Tuhan telah mengingatkan kembali keberadaan manusia bagi mereka yang mau re-introspeksi, mau mengambil pelajaran dari segala apa yang ada di depan matanya, karena “Sesungguhnya Kami telah jelaskan ayat-ayat (Kami) pada orang-orang yang mengambil pelajaran 126)

Tuhan “menitipkan” sebagian terkecil dari sifat-sifat-Nya pada manusia. Kajian ini maksudkan untuk mencari salah satu sifat Tuhan yang dominan dalam diri manusia. Mencari Jalan Tuhan, mencari karakter diri bersesuaian dengan satu atau beberapa sifat Tuhan. Pada Kajian 4: Perhitungan Tuhan terutama ungkapan yang menjelaskan awal pelajaran, prosesi pemikiran dan pertimbangan hingga keputusan diambil hati, semua diperhitungkan. Terjadi pergulatan (struggling) mencari Jalan Tuhan. Jika hati memutuskan ke jalan ketaqwaan dan mensucikan jiwanya, ia akan menemukan inti-inti kebijakan, kebaikan dan kebenaran salah satu sifat Tuhan yang dominan dalam dirinya. Itu pun dengan prosentase sangat kecil dan keterbatasannya pada dimensi ragawi-duniawi. Dan meskipun prosentasenya relatif sangat kecil, itu pun sudah sangat memuaskan jiwanya yang telah mencapai pencerahan, pendewasaan, kematangan dan ketenangan yang tidak terwakili kata-kata.

Jalan Seorang Pelukis

Sulit mengungkapkan berbagai usaha mencari Jalan Tuhan dan upaya mewujudkannya melalui berbagai potensi yang dimiliki manusia. Ibaratnya seperti batang pohon dengan akar menghujam ke bumi yang ujung-ujung akarnya jumlahnya tidak terhitung; tetapi ke atas pun pohon itu mempunyai ranting dan daun yang jumlahnya tidak terhitung pula, seakan tangan-tangan yang menggapai ke langit. Dari banyak pohon yang tak terhingga, salah satu di antaranya adalah “pohon” bernama seniman. Komunitas pohon seniman mempunyai akar sebagai sumber inspirasi yang jumlahnya tidak terhitung dan menghasilkan buah-buahan dari berbagai cabang dan ranting kesenian yang tak terhitung di atas dari hasil pembakaran klorofil atau hijau daun.

Paparan berikut di bawah hanya tinjauan dari satu ranting kecil seorang pelukis sebagai bagian dari dahan pelaku seni. Sedangkan pelaku seni bagian dari cabang pemilik bakat. Belum lagi paparan pohon profesi lainnya yang (seharusnya) disertai ketaqwaan menjulang tinggi ke langit.

Sifat al-Baari’u
atau Maha Pembuat (12) dan al-Mushawwiru
atau Maha Pembentuk (13): Pelukis harus mampu membuat sketsa, gambar dan lukisan dari yang tergambarkan di dalam idenya. Realisasi keindahan dari dunia ide di atas kanvas atau media lukis lainnya merupakan keasyikan dan kenikmatan tersendiri bagi mereka yang mampu merasakannya.

Sifat al-Lathiifu
atau Maha Lemah Lembut (30), al-Khabiiru
atau Mahawaspada (31), ar-Raqiibu atau Maha Peneliti (43),
al-Baathinu

atau Maha Tersembunyi (76): Pelukis ada yang beraliran ekspresionisme dengan gerakan ekspresif dan agresif. Tidak semua orang mampu memahaminya. Sehingga pelukis yang bisa diterima semua orang biasanya bersifat realisme. Contoh ini pun bisa mewakili figur ulama atau sufi yang juga harus realistis. Seorang pelukis yang realisme harus menggerakkan tangannya, menorehkan sarana lukisnya (pena, tinta, cat air/minyak) dengan lemah lembut, waspada dan teliti terhadap garis dan warna. Setiap tarikan, goresan garis dan warna mewakili satu segmen dari sejuta kenikmatan dan keindahan yang utuh setelah lukisannya selesai. Dipandangi lukisannya seakan ia tidak percaya bahwa itu hasil karyanya, maka dikembalikan rasa syukur itu kepada Dia Yang Mahaindah, Tuhan. Itulah pelukis yang bertaqwa. Bagi semua pelukis, pasti selalu ada pesan yang ingin disampaikannya dari lukisannya. Kadang ada yang tersembunyi di dalamnya dan perlu telaah lebih dalam dari kurator untuk memahami lukisan. Pelukis yang demikian, ditambah rasa taqwanya, biasanya mampu mencerna Hikmah dan Keindahan Tuhan yang tersembunyi di balik realita. Ia semakin yakin Tuhan al-Baathinu
itu ada!

Sifat
al-Adlu

atau Mahaadil (29): Seorang pelukis yang bertaqwa harus mampu berbuat adil terhadap dirinya sendiri sebagai hamba Tuhan, terhadap lingkungan dan orang sekitarnya, serta terhadap karya lukisnya sendiri. Sehingga sebagai hamba, waktunya tidak dihabiskan untuk melukis belaka; tetapi ada waktu untuk “berdialog” dengan Tuhan, serta menyempatkan “bercengkerama” dengan lingkungannya. Karya lukisnya bukan untuk diagung-agungkan seperti berhala, tetapi “sekedar” mewujudkan keindahan “wajah” Tuhan yang mampu dituangkannya di media lukis.

Sifat an-Nuuru
atau Maha Cahaya (93), al-Haadi
atau Maha Pemberi Petunjuk (94): Seorang pelukis mempunyai “cahaya” sebagaimana manusia yang lainnya; apalagi setelah ia menemukan hakikat dirinya maka cahayanya akan lebih bersinar karena mampu mengungkapkan dan merasakan adanya keindahan-keindahan Tuhan. Di dalam setiap berkarya, seorang pelukis yang saleh akan meminta petunjuk dari Sang Mahaindah agar karya-karya lukisnya memenuhi syarat estetika bahkan memuat unsur religi.

Sifat ar-Rasyidu
atau Mahacendekia (98),
ash-Shabuuru

atau Maha Penyabar (99): Seorang pelukis yang bertaqwa ternyata seorang yang cerdik pandai cendekia, karena sifatnya yang mempunyai keindahan, teliti, memberikan kenyamanan hati bagi orang yang menikmati lukisannya. Selama melakukan aktifitas melukisnya, dan karena dijiwai dan dirasakan sepenuhnya, maka pelukis tersebut juga harus memiliki sifat sabar untuk menghasilkan sesuatu yang indah.

Jika manusia yang memiliki potensi seni, ilmu, olahraga, budaya, sastra, bisnis, ekonomi hingga politik; semuanya berusaha mewujudkan idealisme di Jalan Tuhan, Jalan Taqwa, Jalan Kebenaran, alangkah indah hidup ini. Penuh kedamaian, keindahan dan kebahagiaan. Setiap insan berlomba dalam kebaikan, menciptakan surga pribadi dalam Ridho Illahi.

Sebagai contoh kecil dijelaskan jalan seniman yang beriman. Sebagai hamba yang telah memilih jalan ketaqwaan, maka ia harus profesional di bidang seni dengan mengemukakan syukur tauhid yang dianugerahkan melalui bakatnya. Sifat-sifat yang terkandung di dalam seni beragam jumlahnya; mulai dari seni rupa (pahat, patung), seni lukis (banyak aliran), seni sastra (puisi, prosa, essay), seni gerak (tari, pantomim) dan seterusnya.

“Bagi mereka ada Darussalam di sisi Tuhannya dan Dia Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.127)

Seorang pelukis yang bertaqwa seperti digambarkan di atas sudah memiliki Darussalam pada sisi Tuhannya pada saat itu, saat ia menikmati melukisnya dan memandangi berbagai karyanya. Rugria berkata, “Tak ada sesuatu pun yang mempunyai makna di dalam dunia yang tanpa rasa. Tetapi seniman itulah yang memberi arti baik atau buruk.”

Jalan ketaqwaan seharusnya mengiringi setiap insan yang selalu mendampingi aktifitasnya ketika ia akan memberikan amal saleh sesuai bakat dan kemampuan yang dimilikinya kepada orang lain dan lingkungan. Itu pun bisa disebut jihad di jalan-Nya. ***

Firman Tuhan pada QS. 5. al-Maa-idah (Hidangan) 35,

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah pada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri pada-Nya dan jihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu dapat keberuntungan.”

 

Puisi 10.

Seniman Berzikir

Tuhan,…

Lihatlah lukisanku di sana,

Setiap titik tak terhingga membentuk garis berwarna,

Garis tak terhitung membentuk sejumlah sketsa,

Sketsa menampakkan wajah suka dan duka,

 

Tuhan,…

Dengarlah sastraku bicara,

Huruf demi huruf menyusun kata,

Kata demi kata tersusun membentuk makna,

Makna mengungkapkan bersitan jiwa,

 

Tuhan,…

Mungkin logikaku sudah kaku, beku atau mungkin layu…

Karena di sana aku terjebak salah-benar yang tampak semu…

Kini, ijinkan aku tidak lagi berpikir dengan logika…

Biarlah aku berzikir dengan rasa…

 

Jakarta, 15.Oktober 2001 M

(27 Rajab 1422 H – 14.56 WIB)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: